
**Lima belas tahun kemudian**
"Apa yang Kamu lakukan Aldrich?" Kesal Chelsea saat Aldrich tak sengaja merusak lukisan yang tengah Chelsea buat.
"Oh Checi, maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja, aku tidak menyangka bolaku mengenai lukisanmu." Aldrich berucap penuh sesal sambil membantu Chelsea merapihkan lukisan dan peralatannya berserakan itu.
Chelsea memasang muka masam, "Sia-sia apa yang aku buat." Gumamnya yang terdengar oleh Aldrich dan juga Davan.
"Jangan bersedih Checi, Kamu bisa menggambarnya lagi." Sahut Davan membantu menghibur Chelsea.
"Tidak bisa Dav, waktunya sudah mepet. Besok ulang tahun Kak Zayn." Chelsea menunduk dengan wajah sedihnya.
Davan dan Aldrich saling pandang, mereka akhirnya tau bahwa lukisan ini akan diberikan untuk Zayn.
"Checi, maafkan aku." Ucap Aldrich penuh ketulusan.
"Sudahlah Al, tidak apa." Jawab Chelsea.
"Bagaimana jika kita makan Ice cream ditaman kota?" Ajak Davan mengalihkan kesedihan Chelsea.
"Kamu yang teraktir?" Tanya Chelsea sinis.
"Tentu saja bukan, Aldrich lah yang akan mentraktir kita." Davan menaikan satu halisnya sambil menatap Aldrich.
Aldrich memutar malas bola matanya, "Ah baiklah, yang penting mood mu baik lagi Checi, dan berjanjilah Kamu tidak akan mengadu pada Mamaku, atau Mama akan menghukumku dengan lebay."
Chelsea tertawa, "Ahahaha, Baiklah Al, kali ini aku tidak akan mengadu pada Mama Stevi maupun Papap Fariz."
Ketiga sahabat itu pergi ketaman kota, Aldrich membelikan ice cream rasa coklat kesukaan Chelsea.
"Beri aku ide, aku harus memberikan kado apa untuk Kak Zayn besok?" Tanya Chelsea pada Davan dan Aldrich.
"Cukup doakan Kak Zayn yang baik-baik saja Chi." Jawab Davan.
"Aku slalu berdoa untuk Kak Zayn, supaya menjadi pacarku."
Aldrich mentoyor kepala Chelsea. "Hentikan doamu itu Chi, Kamu dan Kak Zayn beda keyakinan."
"Aku tidak perduli, saat besar nanti, aku dan Kak Zayn bisa menikah diluar negri, pernikahanan beda agama." Jawab Chelsea santai.
"Oh itu tidak mungkin Chi, aku tau betul Kak Zayn seperti apa." Sahut Davan.
"Sebelum hatimu telalu dalam Chi, menyerahlah." Kali ini Aldrich menasehati Chelsea.
"Andai menghentikan perasaan itu mudah, aku sudah lama menghentikannya Al, Dav.." Jawab Chelsea sendu.
"Kalian disini?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Damian.
"Kak Dami." Sapa Davan.
"Sedang apa kalian disini?" Tanya Dami.
"Kami hanya sedang menikmati sore sambil memakan ice cream Kak." Jawab aldrich.
Damian mengangguk.
__ADS_1
"Kakak sedang bersama Zayn dan teman kami disana, kalian mau ikut gabung?" Ajak Dami sambil menunjuk kearah bangku taman yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Davan bersama Aldrich dan Chelsea.
Chelsea tersenyum kala mendengar nama Zayn. "Boleh kita gabung Kak?" Tanya Chelsea penuh harap.
"Tentu saja Chel."
"Lebih baik kita pulang saja." Ucap Davan pada Chelsea.
"Ya, lebih baik kita pulang saja." Kali ini Aldrich mendukung ajakan Davan.
"Oh please Dav, Al.. Aku masih mau disini, Ayolah kita bergabung dengan Kak Dami dan Kak Zayn."
Davan dan Aldrich saling pandang, mereka slalu berusaha menghentikan perasaan Chelsea terhadap Zayn, perasaan yang mungkin tak terbalas, Davan dan Aldrich sangat tidak ingin membuat Chelsea bersedih.
Tak lama setelah itu Chelsea menarik tangan Aldrich yang kemudian diikuti oleh Davan.
Langkah Chelsea yang menggebu tiba-tiba perlahan melambat, saat pandangannya melihat Zayn yang tengah asik tertawa bersama seorang gadis berjilbab.
"Zayn, lihat siapa yang gue bawa." Ucap Damian sedikit berterial pada Zayn.
Zayn menoleh kesumber suara dan matanya tertuju pada Davan, Aldrich dan Chelsea.
"Kalian disni?" Tanya Zayn.
"Iya Kak, kami sedang disini menghibur Checi yang lagi kesal karna Aldrich merusak lukisannya."
Zayn tersenyum dan terlihat jelas lesung pipinya yang membuat Chelsea jatuh cinta.
"Kali ini melukis apa lagi Sea?" Tanya Zayn lembut.
Sea, begitulah Zayn memanggil Chelsea, diantara banyak teman, sahabat bahkan keluarganya yang memanggil dengan panggilan Checi, hanya Zayn yang memanggil Chelsea dengan nama Sea, hal itu membuat Chelsea meyakini diri, bahwa itu adalah panggilan kesayangan Zayn untuk Chelsea.
"Al, Dav, ayo kita pulang." Ajak Chelsea.
"Koq pulang Chel, nanti aja bareng Zayn dan aku." Ucap Dami.
"Iya Sea, nanti aja sama kita pulangnya."
"Tapi..." Pandangan Chelsea beralih kepada gadis disebelah Zayn.
Zayn melirik kepada gadis yang duduk disebelahnya.
"Oh ya kenalkan ini Nadira." Ucap Zayn memperkenalkan Nadira pada Davan, Aldrich dan Chelsea.
"Nad, ini Davan adik aku, ini Aldrich adik sepupuku dan ini Chelsea adikku juga." Zayn juga memperkenalkan ketiga sahabat itu pada Nadira.
Nadira tersenyum lalu menyalami tangan Aldrich, Davan dan Chelsea satu persatu.
"Sepertinya Itu ojeg online yang aku pesan, kalau begitu aku duluan ya Zayn, Dami. sampai ketemu nanti disekolah." Ucap Nadira dengan penuh keakraban.
"Hati-hati dijalan Nad, kasih tau aku jika sudah sampai, nanti malam aku telpon ya." Ucap Zayn.
Setelah Nadira pergi, tinggalah mereka berlima di taman.
"Sudah sore, ayo kita pulang." Ajak Dami.
__ADS_1
Chelsea masih terlihat tidak bersemangat, ditambah dirinya begitu penasaran tentang Nadira.
"Kamu sakit Sea? kenapa diam aja?" Tanya Zayn.
"Eh engga Kak."
"Terus kenapa dari tadi diam aja Chel?" Kali ini Damian yang bertanya.
"Gapapa Kak, aku cuma lagi gak percaya diri aja." Jawab Chelsea memberikan kode.
Davan dan Aldrich sangat mengetahui apa yang terjadi pada Chelsea, ya Chelsea tengah cemburu kepada Nadira yang begitu dekat dengan Zayn.
"Masa kamu bisa gak percaya diri sih Sea? biasanya tingkat percaya diri kamu tuh tinggi banget." Zayn tertawa sambil merangkul pundak Chelsea yang tingginya hanya sebahu Zayn.
***
"My sweety, kenapa? ada apa denganmu? Koq makanannya gak dimakan?" Tanya Tristan pada Chelsea saat makan malam.
"Checi gak mood Pi.." Chelsea mendorong piring didepannya, kemudian kepalanya menunduk diatas meja makan.
"Apa Kamu sakit?" Tanya Jessi denga nada khawatir.
"Tidak Mami, Checi hanya tidak mood aja."
"Kak Checi patah hati Mami." Sahut Yoda, anak kedua Tristan dan Jessi.
"Stop Yod, Kamu tau apa? hentikan omonganmu dan habiskan makan malam mu." Kesal Chelsea.
"Aku tau Kak, ayolah Kak, jangan kekanakan." Yoda tertawa.
Chelsea dan Yoda hanya berbeda umur dua tahun. Hal itu membuat Chelsea dan Yoda sering bertengkar khas kakak beradik.
"Patah hati dengan siapa?" Tanya Tristan.
"Oh Papi, hentikan pertanyaan Papi, Chelsea tidak.mood karna sedang datang bulan, tidak ada urusannya dengan hati. Jangan dengarkan omongan Yoda." Kilah Chelsea.
Tristan hanya mengangguk seraya mengusap puncak kepala Chelsea. "Istirahatlah, besok Kamu harus sekolah kan. Jangan berfikir macam-macam, ingat kalau sekarang ini Kamu sudah kelas tiga SMP, fokuslah pada pelajaran agar bisa masuk sekolah favorit seperti Zayn dan Damian. Jangan sampai Kamu tertinggal oleh Davan dan Aldrich, Papi tidak mau Kamu beda sekolah dengan Davan dan Aldrich, kalian harus terus satu sekolah."
"Baiklah Papi." Chelsea berdiri kemudian mencium pipi Tristan dan Jessica, lalu bergegas masuk kekamarnya.
.
.
.
Hai-hai Readers.. Apa kabar kalian? masih setiakah dinovelku ini.
Seperti janjiku saat Novel ini tamat, akan ada lanjutan dari cerita Takdir cinta, namun sepertinya akan dilanjut disini karna tidak begitu panjang lanjutannya, jadi akan dibuat seperti bonus chapter aja ya dengan beberapa bab.
Tapi mohon maaf karna Bonchap tidak menentu terbitnya ya, Author masih disibukan dengan kehadiran Baby, jadi agak selow ya Up nya.
Dan kebetulan hari ini hari senin, adakah yang berbaik hati dan masih punya jatah Vote, bolehlah bagi Vote nya untuk author agar novel takdir cinta ini kembali naik.
Terimakasih untuk kesetiaan Readers,
__ADS_1
insyaAllah setelah selesai Bonchap akan rilis novel baru.
Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat.