
"Akhh kenapa pake pecah ban segala sih." Umpat Tristan saat menuju jalan pulang, mobilnya mengalami pecah ban dijalan yang cukup sepi.
Tristan mengeluarkan dongkrak dan ban serep, lalu mencoba menggantinya karna dia tidak tau dimana bengkel terdekat.
Sebuah motor berhenti tepat dibelakang mobil Tristan, dia turun dan membuka helm nya.
"Pecah ban?" Tanya nya yang ternyata seorang wanita.
Tristan menoleh kearah wanita itu sekilas dan kembali fokus mengerjakan pekerjaanya.
"Iya, udah tau nanya." Jawab Tristan cuek dan datar.
Begitulah Tristan, sedari dulu memang slalu cuek dan datar terhadap wanita lain terkecuali Ghea atau orang yang sudah dianggapnya dekat.
"Biasa aja dong Bang, jangan ketus gitu, ini jalanan sepi, banyak begal daerah sini. lo kliatan banget hal kayak begini aja gak bisa ngerjain. Minggir, sini gue bantuin."
Cuaca panas dan terik matahari membuat Tristan jadi emosi menanggapi ucapan wanita itu.
"Maksud lo apa? mending lo pergi aja deh, buang-buang waktu gue aja." Ketus Tristan.
"Ya elah Bang, gue kasian sama lo, lo pasang dongkrak aja kagak bisa, cowok atau setengah matang sih lo?" Ledek wanita itu.
"Emangnya lo bisa?" Tanya Tristan menantang.
"Kecil ini Bang.. Minggir deh." Wanita itu menggulung tangan kemejanya, lalu memakai topi dan menyelipkan rambut panjangnya ke dalam topi, dia mulai berjongkok dan memasang dongrak lalu mulai mengganti ban yang pecah dengan ban serep.
Tristan dengan teliti memperhatikan wanita itu, memang Tristan tidak bisa melakukan pekerjaan berat seperti memasang dongkrak apalagi jika harus mengganti ban.
"Selesai..!!!" Ucap wanita itu sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor karna pekerjaanya.
"Berapa?" Tanya Tristan santai.
Wanita itu menyipitkan matanya menatap sinis kearah Tristan, "Lo gak sekolah ya Bang? udah dibantu bukannya bilang terimakasih malah nanya berapa? lo kira gue cewek bayaran?"
"Lah bukan gitu, dari stelan lo aja, lo kelihatan kayak pegawai bengkel, celana jeans robek-robek, pake kemeja kotak-kotak, topi, itu ciri khas banget kayak disinetron-sinetron."
"Gini ya Bang, gue lihat lo mahasiswa, seengganya coba lo pake otak lo, jangan suka nilai segala sesuatu dari penampilan, mana lo tau kan ternyata gue seorang putri raja?" Ucap cewek itu sleyengan.
"Dih, putri raja dari mana? gak ada anggun-anggunnya sama sekali." Cibir Tristan.
"Ya udah lah terserah lo aja deh tuan muda yang sombong, mending lo cepet tinggalin daerah sini, disini banyak begal. See you." Ucap wanita itu sambil berjalan kearah motornya, membuka topinya dan menggantikan dengan helm full facenya.
"Tunggu.. Siapa nama lo? gue gak mau punya hutang sama lo."
Wanita itu membuka sedikit kaca helmnya, "Jessica, panggil gue Jessi. Mahasiswa fakultas teknik di Universitas XX. Kalo lo mau balas budi, belikan gue dua puluh nasi bungkus, diujung sana ada lampu merah, banyak pengamen dan anak jalanan, lo bagiin aja buat mereka, bilang dari Jessi. Mereka tau gue." Jessi melajukan motornya dan meninggalkan Tristan yang mematung disana.
Tristan membereskan perlengkapannya dan masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Fakultas Teknik di Universitas XX? lah sekampus sama gue dong?" Gumamnya dalam hati.
Tristan melajukan mobilnya, entah kenapa dia memberhentikan mobilnya disebuah warteg dan membeli dua puluh nasi bungkus lalu segera beranjak menuju lokasi yang tadi dimaksud oleh jessi.
Tristan menepikan mobilnya dan menenteng dua buah kantong plastik berisikan nasi bungkus, ia mendekati beberapa pengamen dan anak jalanan yang sedang berteduh dipinggir lampu merah.
"Maaf, ini ada titipan dari Jessi." Ucap Tristan ragu-ragu.
Salah seorang pengamen berdiri dan menerimanya, "Trimakasih Bang." Jawabnya.
"Woyy anak-anak ada makanan nih dari Jessi." Teriak pengamen itu kepada teman-temannya.
Tristan hanya mengamati, kemudian acuh dan pergi dari sana.
"Seengganya gue gak punya hutang balas budi." Gumam Tristan sambil melajukan kembali mobilnya.
(Kira-kira cewek tomboy seperti Jessi cocok gak ya buat jadi jodohnya si sad boy Tristan yang kelewat cuek sama cewek dan belum bisa move on dari Ghea?
Yang setuju Tristan di jodohin sama Jessi kasih koment nya dibawah ya.. Jodohnya Tristan masih OTW nih..) ðŸ¤
***
"Sayang, aku ada seminar tiga hari dibandung." Ucap Fadhil pada Ghea.
"Yahh pisah dong By.."
"Iya By, kuliah dan tugasku lagi padat, ditambah dua hari kemarin aku gak masuk kuliah juga karna sakit."
Fadhil membawa Ghea duduk dipangkuannya, entah kenapa Fadhil sangat menyukai posisi seperti ini dimana istri kecilnya itu berada diatas pangkuannya dan melingkarkan tangannya dileher Fadhil, lalu Fadhil mengecup sekilas bibir manis Ghea.
"Tiga hari aja ya Sayang, gapapa kan? Disini ada Alisha dan Anisha yang akan menemani, ada Mbak Alya juga Mama." Fadhil berbicara dengan selembut mungkin sambil mengusap rambut Ghea sebahu itu.
"Iya By, tapi kan tidurnya gak ada yang bisa aku peluk By, akhir-akhir ini aku slalu terbangun malam dan susah tidur lagi, aku bisa tidur kalo udah peluk kamu By."
Fadhil tersenyum, dirinya merasa senang dan sangat bersyukur karna Ghea kini slalu bergantung pada Fadhil. Meskipun hari-hari Ghea sering bertemu dengan Tristan, namun Ghea benar-benar sudah melupakan perasaannya terhadap cinta masa lalunya, kini sepenuh hatinya telah terisi oleh Fadhil dan hanya Fadhil yang menjadi tujuan hidupnya.
"Sekarang bisa puas-puasin peluk sayang, lebih dari peluk juga boleh." Bisik Fadhil ditelinga Ghea.
"Itu sih mau kamu By." Ghea memgerucutkan bibirnya.
"Emangnya kamu gak mau sayang, aku udah libur tiga hari slama kamu sakit."
"By.. baru juga tiga hari By." Ucap Ghea sambil tertawa, pasalnya suaminya itu memang tidak pernah melewatkan malam panjang tanpa menyentuh Ghea, terkecuali jika Ghea sedang berhalangan, itupun Fadhil masih meminta hanya bercumbu dengannya.
"Abisnya kamu itu enak banget sayang, bikin aku ketagihan." Jawabnya sedikit mesum.
"Ishh kamu By, mesum banget sih, orang diluaran sana pasti ga akan ada yang nyangka kalo orang sedingin kamu ternyata mesum begini." Ghea tertawa puas.
__ADS_1
"Kan mesumnya cuma sama kamu sayang, emangnya kamu ga suka? gak mau? hemm" Tangan Fadhil mulai masuk menjelajah kedalam baju tidur Ghea, bibirnya mulai menelusuri leher dan bibir Ghea.
Ghea yang masih duduk dipangkuan Fadhil sedari tadi merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah sana.
"Kalo gak tersalurkan apa rasanya By?" Tanya Ghea iseng.
"Kepala aku pusing sayang, ayolah sayang layani aku ya sayang." Ucap Fadhil parau dengan bibir masih menjelajahi leher Ghea.
Ghea menengadahkan kepalanya, memberi ruang lebih untuk Fadhil yang sedang bermain disekitar lehernya.
Tangannya kini mulai turun kebagian sensitif Ghea, "Kamu mudah sekali basah sayang." Ucap Fadhil.
"Akhh By.. geli By..." desah Ghea.
Fadhil menggendong Ghea seperti koala, kaki Ghea melingkar dipinggang Fadhil, Fadhil membawa Ghea menuju tempat tidur tanpa melepas pagutannya. Perlahan menidurkan Ghea diatas kasur.
"Aku sangat mencintaimu, sangat." Bisiknya ditelinga Ghea.
Fadhil melepas semua yang ada pada tubuh Ghea, Ghea pun kini mulai berani membantu sang suami membuka pakaiannya hingga boxernya. Fadhilpun mengarahkan tangan Ghea untuk menyentuh pusakanya.
"Akhh By.." ucap Ghea malu-malu.
"Mainkan sayang.. Pleasee..." Bisik Fadhil parau.
Dengan sedikit keberanian Ghea mulai memainkannya dengan tangannya, "Lebih cepat sayang, rasanya enak sekali." Bisik Fadhil lagi.
"Setelah sekian lama mereka hanya melakukan pemanasan, akhirnya Fadhil mulai menyatukan dirinya, menghentakan dengan lembut pusakanya dibagian sensitif Ghea, Ghea seakan dibuat terbang melayang oleh permainan Fadhil, permainan Fadhil begitu membuat Ghea terlena.
"Kamu nikmat sekali sayang." Racau Fadhil hingga tiba dipelepasannya dan Fadhil terus mengecupi wajah Ghea dengan sayang.
Fadhil menarik diri setelah mentuntaskan hasratnya, ia berbaring disamping Ghea, menarik selimut dan menutup tubuh polos mereka.
Ghea menatap wajah suaminya yang tertidur dan terlihat lelah setelah kegiatan panas mereka, tangan mungilnya membelai wajah Fadhil.
"Aku tidak pernah menyangka, kamu yang kukira akan jadi kakak iparku pada akhirnya ada disisi aku, menemani hari-hariku, dan membuatku sangat bahagia. Aku sangat mencintaimu By." Ucap Ghea pelan sambil mengecup sekilas bibir Fadhil.
Fadhil yang belum sepenuhnya tidurpun mendengar ucapan Ghea, hanya saja, dia tidak bangun karna tidak ingin membuat Ghea menjadi malu saat mengungkapkan perasaanya.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1