
Area 21++
Bocil please skipp yaa
***
Fariz dan Stevi turun bersama untuk menemui Tristan dan Jessi.
Fariz mencoba bersikap biasa saja meski wajah Fariz masih terlihat badmood karna tidak mendapat pelepasan terlebih ini yang pertama kali untuknya.
"Tumben kesini gak ngabarin." Kesal Fariz.
"Lo kenapa? gak suka banget kayaknya gue kesini." Ucap Tristan.
"Bukan gak suka, waktunya gak tepat."
Tristan mengernyitkan dahinya lalu melirik kearah Stevi dan bertanya lewat kode namun Stevi hanya menjawab dengan senyum dan mengerdikan bahunya.
"Ghea bilang lo pindah kerumah nya hari ini, gue bantuin lo."
Fariz mengangguk, "Gue cuma bawa baju sama perlengkapan kuliah aja sih."
"Dan bawa istri kan?" Sahut Jessi.
"Iyalah, masa iya gue tinggal."
"By the way thanks ya Jess, slama ini Stevi boleh tinggal di apartemen lo. Gue banyak hutang budi sama lo." Ucap Fariz.
"Santai kali Riz, Stevi kan sahabat gue juga. Lagian gue seneng jadi ada temennya, sekarang gue kesepian deh."
"Hati-hati deh lo Jess, apa lagi sama nih anak satu." Ledek Fariz menunjuk Tristan.
"Gue udah insyaf Riz, lagian gue juga bentar lagi nikah sama Jessi, minggu depan gue ke Semarang mau nentuin tanggal pemberkatan. Nah lo bisa ikut kan."
"Boleh, sekalian jalan-jalan."
"Gitu dong, itu baru namanya sobat gue." Ucap Tristan.
"Ghea gimana?" Tanya Stevi.
"Ghea juga udah oke, dia juga mau sekalian jalan-jalan, kebetulan pak Fadhil juga lagi ada waktu."
"Wah rame dong, Ghea bawa Zayn juga?"
"Kayanya sih bawa."
"Wahh asik nihh liburan.." Seru Stevi.
"Hotelnya udah dapet Tan?" Tanya Fariz.
"Bokap lo kasih kita fasilitas hotelnya disana, udah gitu lokasi strategis dekat simpang lima."
"Ayah Erick?"
"Yoi.. gue gak nyangka Riz, Bokapnya Ghea bisa berubah drastis, padahal dulu gak begitu, dulu dingin sama kejam banget sama Ghea."
"Baguslah Tan, buah kesabaran Ghea, sekarang dia udah bahagaia."
"Iya.." Jawab Tristan.
***
Diana dan Ghea menyambut Kedatangan Fariz dan Stevi.
"Hai Abang.. Hai kakak ipar." Ledek Ghea.
"Haisshh, biasa aja Ghe." Jawab Fariz.
Ghea tertawa, Diana merasa senang keluarga suaminya begitu menerima dirinya dan juga anak serta menantunya dirumah ini.
Ghea mengantar Fariz dan Stevi kekamarnya.
"Dulu ini kamar Kak Yasmin, tapi pas Kak Yasmin gak disini lagi, Ayah ganti semua perabotan yang ada disini, jadi ini masih salah satu kamar utama Riz, Stev. Kalian bisa nyaman disini."
"Thanks Ghe." Ucap Fariz.
"Jangan sungkan Riz, kita sekarang saudara, gue seneng sahabat gue jadi sodara gue, udah gitu sahabat gue yang gue sayang ini nikah sama lo." Ghea merangkul Stevi.
"Gheaaa, gue jadi terharu.." Stevi balik memeluk Ghea.
"Kalian istirahat dulu, nanti kita makan malam bersama, Mama Diana lagi masak spesial lho."
"Lo bantuin Ghe?" Tanya Stevi.
Ghea mengangguk, "Mas Fadhil cocok sama masakan Mama Diana, jadi gue belajar masak sekalian."
"Kalo gitu gue ikut deh. Gue juga harus belajar masak buat suami gue kan." Ucap Stevi.
__ADS_1
"Istri Fariz emang terbaik." Sahut Fariz.
Ghea dan Stevi turun menuju dapur untuk membantu Mama Diana menyiapkan makan malam, sementara Fariz membereskan isi koper miliknya dan juga milik Stevi kedalam lemari, juga menyusun buku-buku kuliahnya di rak yang sudah tersedia.
"Bagaimana Riz dan Stevi, suka kamarnya?" Tanya Erick disela-sela makan malamnya.
"Suka Yah, kamarnya cukup luas." Jawab Fariz.
"Ini rumah kamu juga Riz, kamu harus biasa tinggal disini." Sahut Bryan.
"Iya Kak Bry, Terimakasih." Ucap Fariz dengan santun.
"Sekarang rumah Ayah Ramai." Ucap Ghea.
"Ramai dan hangat. Apa lagi kalo nanti Fariz dan Stevi punya anak, makin banyak cucu Ayah. Dan Zayn juga segera punya adik."
"Iya Ayah benar, apa lagi kalo Ayah kasih adik untuk Bryan, Ghea dan Fariz." Goda Bryan.
Uhukk.. Uhukk..
Erick tersedak makanan.
Diana dengan sigap memberikan air minum untuk Erick.
"Mas, jangan isengin Ayah." Bisik Maura.
Bryan hanya nyengir sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.
"Apa Ayah sama Mama ada rencana mau punya anak lagi?" Tanya Ghea polos.
"Sayang.. Sstttt.." Bisik Fadhil.
"Ah itu.. Mama sama Ayah hanya menyerahkan sama Allah, jika masih dipercaya ya Alhamdulillah." Jawab Diana kikuk.
***
Fariz tengah memeriksa berkas laporan yang ia terima dari Tomy asisten kepercayaan kakek Tara.
"Riz.." Panggil Stevi.
"Hem.." Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Belum selesai?" Tanya Stevi lembut.
Fariz menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Aku bingung Yank." Ucap Fariz sambil memejamkan matanya, menikmati belaian tangan Stevi dikepalanya yang begitu menenangkan.
"Ada apa?"
"Perusahaan Kakek. Aku bertanggung jawab penuh untuk meneruskan perusahaan Kakek."
"Apa tidak ada solusi lain Riz?"
Fariz menggelengkan kepalanya. " Solusi lain hanya menjual saham kakek dan melepasnya kepasaran, itu berarti aku melepas perusahaan Kakek, tapi aku tidak mau itu terjadi Stev, Kakek susah payah membangun perusahaan ini."
Fariz menghela nafas. "Menurutmu aku harus bagaimana Stev?"
"Jujur aku juga bingung Riz, disisi lain aku ingin kamu jadi diri kamu sendiri, kamu ingin jadi pengacara dan aku akan slalu dukung, tapi disisi lain kamu satu-satunya pewaris Kakek."
"Jika aku kembali ke perusahaan bagaimana Stev?"
"Apa hati kamu juga maunya seperti itu?" Tanya Stevi.
"Aku ingin meneruskan apa yang sudah Kakek tinggalkan." Lirih Fariz.
Stevi mengangguk. "Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu, asal kamu menjalaninya dengan sepenuh hati dan tidak terpaksa."
Fariz memeluk Stevi, "Terimakasi Stev, aku hanya butuh semangat dan dukungan darimu."
Stevi mengendurkan pelukannya, kemudian mengecup bibir Fariz sekilas.
Fariz langsung meraih tengkuk Stevi dan menahannya, menciumnya denga lembut, semakin lama ciumannya semakin menuntut, Tangannya kembali bergerilya menelusuri tubuh bagias atas Stevi.
"Riz..." Lirih Stevi saat ciuman Fariz turun leher jenjang Stevi.
"Aku ingin menyempurnakan pernikahan kita Stev." Ucap Fariz parau.
Stevi mengangguk patuh.
Fariz menggendong Stevi ke ranjang mereka, mendudukan Stevi dan melantunkan doa terbaik di puncak kepala Stevi.
Fariz kembali mencium kening Stevi, turun kehidung kemudian ke bibir Stevi.
Tangannya mulai membuka satu persatu pakaian Stevi, Fariz menidurkan Stevi dengan perlahan diatas bantal dan mulai menjelajahi tubuhnya dengan bibirnya.
Dua buah gunung Stevi yang masih terbungkus pun kini sudah terpampang jelas didepan Fariz.
__ADS_1
Tangan Stevi menggusar rambut Fariz dan menekannya yang masih betah dibagian dadanya.
Fariz membuka satu persatu pakaian miliknya juga, hingga tersisa boxer yang ia kenakan.
"Riz.. Ahh.." Des*h Stevi saat mulutnya menyesap satu bagian gunung Stevi.
Ciuman Fariz turun kebagian perut Stevi, meninggalkan jejak merah disana, sementara tangannya mulai memberanikan diri menyentuh bagian inti Fariz, bagian dimana membuat pria itu penasaran.
"Basah Yank.." Bisik Fariz.
Sementara Stevi tidak merespon ucapan Fariz, dia menikmati sentuhan Fariz.
Fariz menurunkan segitiga pengaman yang masih menutupi bagian inti Stevi, kemudian segera membuka boxer yang masih ia kenakan tadi.
"Stev, bolehkan aku melihatnya?" Tanya Fariz dengan anehnya.
Stevi mengangguk, Fariz kembali menurunkan wajahnya dan bermain dibagian inti Stevi.
"Rizz stopp, geli banget.. Akhhh.." Des*h Stevi.
Fariz kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Stevi.
Stevi menatap wajah Fariz dengan mata sayunya, tanganya terulur mengusap pipi Fariz.
"Boleh aku melakukan hal yang sama?" Tanya Stevi ragu.
Dulu Stevi sering dilecehkan oleh Danu, dengan memaksanya untuk memainkan pusakanya, kini Stevi ingin melakukannya untuk suaminya dan tanpa paksaan.
"Kamu tidak keberatan?" Tanya Fariz.
Stevi menggelengkan kepalanya.
"Lakukan lah Stev.." Ucap Fariz parau.
Fariz memposisikan dirinya terlentang, Stevi terkesiap melihat pusaka Fariz yang berdiri kokoh.
Perlahan stevi mendekatkan wajahnya dan memegang pusaka Fariz, memainkannya dengan memaju mundurkan dengan tangannya dan perlahan mulai menj*lat bagai ice cream sehingga membuat Fariz sedikit mengerang.
"Cukup Stev, aku takut keluar." Lirih Fariz.
Stevi duduk diatas Fariz, "Belum aku mainkan didalam mulut Riz."
"Jangan Yank, aku takut keluar, aku ingin keluar ditempatnya, biar segera jadi seorang anak." Jawab Fariz sambil memainkan satu tangannya diatas gunung Stevi.
Stevi tersenyum, "Mulailah Riz.. Smoga kita bisa segera dipercaya memiliki anak."
Fariz tersenyum, sejurus kemudian menjatuhkan Stevi disebelahnya dan mulai menindihnya, "Aku mulai ya Sayang." Ucapnya lembut.
Stevi mengangguk,
Fariz mulai mengarahkan pusakannya kebagian inti Stevi, sementara Stevi menahan pinggul Fariz.
"Kenapa?" Tanya Fariz lembut.
"Sakit Riz.."
Fariz tersenyum, ia sulit sekali menembus bagian inti Stevi.
Meski dulu Danu sering melecehkannya, namun Danu tidak sampai merenggut kesucian Stevi.
Fariz mencium kembali bibir ranum Stevi, ******* nya dengan lembut, membuat Stevi Rilex kemudian Fariz mengambil kesempatan untuk memasuki kembali bagian intinya.
Jari jemari Stevi mencengkram erat punggung Fariz, terlihat buliran bening keluar dari sudut mata Stevi, Fariz berhasil masuk menembus mahkota itu.
"Maaf Sayang.." Bisik Fariz sambil mengecupi Bagian wajah Stevi.
Stevi tersenyum, "Aku bangga bisa mempertahankannya untuk mu Riz."
Fariz mengecup bibir Stevi. "Terimakasih sudah berjuang mempertahankannya untukku."
Fariz kembali ketujuan semulanya, memainkan pusakanya didalam milik istrinya, memaju mundurkan dan menghentakkan pusakanya, membuat Stevi merasa nikmat tiada tara.
"Sayang, aku sampai..." Fariz semakin mempercepat gerakannya hingga tiba dipelepasan pertamanya, ia menabur benih dirahim Stevi berharap benihnya akan tumbuh dan menghasilkan seorang anak yang ia dambakan.
.
.
.
Fariz masih pemula, gak seHot Ayah Erick ðŸ¤
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....