TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
S2-TAKDIR CINTA (Chelsea&Zayn) 13


__ADS_3

Fadhil menatap Zayn kembali. "Kamu sudah yakin dengan pilihanmu?" Tanya Fadhil.


Zayn mengangguk, "Bismillah, Zayn yakin Pa. Zayn sudah istikharah dan menemukan jawabannya."


"Zayn, kamu sudah dewasa dan umurmu sudah matang untuk menikah, kamu juga mempunyai pekerjaan tetap dan Papa yakin kamu bisa menghidupi istrimu nanti dengan layak, Papa mendukung dari segi itu semua." Fadhil menjeda kalimatnya kemudian berkata lagi, "Tapi Papa sedikit ragu dengan pilihanmu."


Zayn dan Ghea saling menatap dengan heran.


"Maksud kamu, By?" Tanya Ghea yang ingin tau alasan mengapa Fadhil meragukan pilihan Zayn.


Fadhil menghela nafas, "Seperti yang kita semua tau, Chelsea seorang mualaf, kita harus mendukung dan membantu kesulitan Chelsea dalam memahami keyakinannya kini. Yang Papa ragukan, apa kamu bisa bersabar dalam membimbing Chelsea untuk tetap istiqomah dalam keyakinanya kini? Bagaimana jika suatu saat Chelsea menyerah dan memilih kembali kedalam keyakinannya?" Kata Fadhil mengemukakan isi hatinya.


Zayn bersikap setenang mungkin. "Zayn akan membantu Chelsea untuk tetap istiqomah Pa. Bukankah kita harus berusaha dulu dan menjalani hidup dengan sebaik mungkin, Pa? Zayn yakin Chesea tetap istiqomah dan Zayn akan membimbing Chelsea karna nanti setelah menikah, Chelsea adalah tanggung Zayn sepenuhnya."


Fadhil mencoba mencerna semua ucapan Zayn dan melihat kesungguhan Zayn.


"Baiklah, Papa setuju dengan niatmu."


Ghea menghela nafas lalu mengusap wajahnya perlahan, "Alhamdulillah."


"Pa, boleh Davan ijin berbicara?" Sahut Davan.


"Bicaralah, Dav. Ada apa?" Tanya Fadhil.


Davan menatap kearah Zayn. "Apa Chelsea tau dan setuju soal ini Kak?" Tanya Davan.


"Belum, Kakak akan langsung mendatangi Papi Tristan untuk langsung meminta Chelsea." Jawab Zayn.


Davan mengernyitkan dahinya, "Bagaimana jika Chelsea tidak setuju dan menolak Kakak? Aku melihat Chelsea sudah mulai melupakan Kakak." Kata Davan.


"Bagaimana bisa tau jika tidak dicoba?" Ucap Zayn lagi.


Davan berdiri dan menatap Zayn, "Kak, Chelsea tuh sahabat aku, aku gak suka sama sikap kakak yang plin plan dan tarik ulur sama Chelsea."


"Davan, duduk. Sopanlah saat berbicara dengan orang yang lebih tua darimu." Ucap Fadhil.


Davan duduk tetapi matanya masih menatap wajah Zayn.


"Kakak akan mengejar Chelsea jika Chelsea memang sudah menyerah." Jawab Zayn pada adiknya itu.


"Tidak ada cinta yang terlambat, Dav. Jika memang Chelsea tidak menerima Zayn, itu pertanda mereka tidak berjodoh, bukan karna terlambat, dan Mama harap apapun keputusan Chelsea nanti, Zayn bisa menerimanya." Ucap Ghea dengan bijak.


"Zayn hanya butuh restu Papa dan Mama saja." Kata Zayn.


"Papa dan Mama merestui Zayn, semoga semua dipermudah." Jawab Ghea yang di Aamiini oleh Fadhil, Zayn dan Davan.


Keesokan harinya, bertepan dengan week end, Zayn mendatangi rumah Tristan seorang diri. Sementata Ghea, Fadhil dan Davan berkunjung kerumah orang tua mereka.


Zayn hanya cukup berjalan kaki, karna jarak rumah mereka hanya bersebrangan. Ghea memang masih menempati rumah Erick sesuai permintaan Erick karna Erick ingin mengikuti Diana yang masih ingin tinggal dirumah peninggalan Kakek Dewantara. Begitu pula dengan Tristan yang masih menempati rumah Monica karna Monica dan Daniel lebih memilih tinggal di apartemen menghabiskan masa tuanya berdua dengan lebih privasi.


Security penjaga rumah Tristan membuka gerbang pagar tatkala melihat Zayn.


"Terimakasih, Pak." Ucap Zayn yang diangguki dengan senyuman oleh security.


"Papi Tristan ada Pak?" Tanya Zayn.


"Ada, Den. Masuk aja biar saya telpon Bibi untuk bukakan pintu."


Zayn masuk, dan betul saja, Bibi membuka pintu dan mempersilahkan Zayn untuk masuk.

__ADS_1


"Bi, tolong panggilkan Chelsea juga ya." Kata Zayn dengan santun.


Tokk.. Tokk.. Tokk.


Bibi mengetuk pintu kamar Chelsea.


"Masuk." Jawab Chelsea.


Ceklekk..


"Non, ada tamu."


Chelsea menoleh, "Siapa Bi? Kayanya saya gak lagi nunggu tamu deh."


"Anu Non, Mas Zayn anaknya Ibu Ghea yang didepan rumah."


Chelsea terperanjat, "Kak Zayn?" Tanyanya meyakinkan yang diangguki oleh Bibi.


"Iya Non, Mas Zayn mau ketemu sama Non dan Bapak."


"Ketemu papi juga?" Chelsea merasa heran.


"Iya Non. Maaf Non, saya permisi, mau kasih tau dulu Bapak ya."


Tristan masuk kedalam kamar Chelsea.


"Ada apa? Mau kasih tau saya apa Bi?" Tanya Tristan yang kebetulan mendengar.


"Maaf Pak, dibawah ada Mas Zayn mau ketemu sama Bapak dan Non Chelsea." Jawab Bibi.


Tristan menatap Chelsea seolah ingin bertanya sementara Chelsea menggelengkan kepala dengan pelan.


"Ya sudah, Bi. Tolong panggilkan Ibu di ruang kerjanya. Bilang nyusul kebawah." Kata Tristan.


Zayn berdiri saat melihat Tristan dan mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat.


"Zayn, katanya mau ketemu Papi dan Chelsea. Ada apa?" Tanya Tristan yang kini duduk bersama Chelsea.


Jessi ikut menyusul dan duduk di single sofa.


"Iya Pi, Mi. Maaf sebelumnya kalau kedatangan Zayn tanpa memberi kabar dulu." Ucap Zayn santun.


Zayn menghela nafas sejenak, mengucapkan bismilah dalam hati kemudian menatap wajah Chelsea, lalu menatap wajah Tristan.


"Zayn datang kesini, memberanikan diri, untuk melamar Chelsea, meminta langsung Chelsea pada Papi dan Mami." Ucap Zayn yang membuat terkejut Chelsea, Tristan dan Jessi.


"Kak Zayn, ini gak lucu. Jangan bercanda." Kata Chelsea.


Zayn menatap wajah Chelsea. "Maaf Sea, Maaf kalau sebelumnya Kakak tidak membicarakan ini dulu sama kamu. Tapi Kakak memang tidak ada niat untu berpacaran, jika Kakak yakin maka Kakak akan datang untuk langsung melamar seperti saat ini." Jawab Zayn.


"Zayn, Mami sangat terkejut dengan hal ini. Apa yang membuatmu berani untuk melamar Chelsea? Apa kamu mencintai Chelsea?" Tanya Jessi.


Zayn menangguk, "Zayn yakin mencintai Chelsea, Mi. Dan Zayn janji akan menjaga Chelsea, mencintai dan melindungi Chelsea." Jawab Zayn mantap.


"Kak Zayn.." Lirih Chelsea.


Zayn tersenyum. "Semoga Kakak belum terlambat untuk menjadi imammu, Sea."


Ekheemmm.

__ADS_1


Tristan berdehem dan membuat semuanya melihat kearah Tristan.


"Dimana orang tuamu? mengapa kamu datang melamar sendirian?" Tanya Tristan.


"Maaf Pi, Mama dan Papa sedang mengunjungi Opa Latif kemudian kerumah Kakek Erick untuk memberitahu niat serius Zayn pada keluarga besar Papa dan Mama. Jika lamaran Zayn kepada Chelsea di terima, Insya Allah secepatnya Papa dan Mama berserta keluarga besar datang kesini untuk melamar Chelsea secara resmi." Kata Zayn menjelaskan.


"Apa tidak sebaiknya kalian saling mengenal?" Tanya Jessi lagi.


"Maafkan Zayn, Mi. Zayn merasa sudah mengenal Chelsea dan Zayn rasa Chelsea pun begitu. Zayn tidak ingin berpacaran dengan Chelsea."


Jessi menatap Tristan.


"Kak, kita harus bicara dulu." Sahut Chelsea.


Zayn tersenyum, "Sea, aku tau apa yang mau kamu bicarakan. Aku akan menjelaskan didepan orangtuamu." Zayn menjeda kalimatnya sejenak. "Aku dan Nadira tidak pernah memiliki hubungan, dari SMA aku sama Nadira hanya berteman, ketika kami kuliah bersama di Harvard, Nadira menjalin hubungan dengan Damian yang berarti Nadira adalah kekasih Damian." Zayn menghela nafas, "Sewaktu kamu mendengar candaanku dengan Nadira soal akan membawanya ke KUA, maksudnya aku akan membawa Nadira ke KUA untuk memaksa Nadira agar segera menikah dengan Damian, karna Damian sudah melamar Nadira namun Nadira belum siap untuk menikah. Itulah yang sebenarnya." Kata Zayn menjelaskan.


"Jadi, Kak Nadira kekasihnya Kak Dami?" Tanya Chelsea.


Zayn mengangguk, "Mereka sudah berpacaran slama empat tahun."


Chelsea terdiam, ia mengingat kejadian saat makan bersama juga nonton bersama, Nadira memang terlihat seperti sepasang kekasih dengan Damian.


"Kakak sama sekali belum pernah berpacaran dan tidak ada niat berpcaran, jika Kakak merasa cocok, kakak akan mendatangi langsung kedua orang tuanya seperti saat ini." Ucap Zayn meyakinkan.


"Chel, bagaimana?" Tanya Tristan pada Chelsea.


"Iya Chel, apa jawabanmu?" Sahut Jessi tak sabar.


"Bukankah Kakak hanya menganggapku sebagai adik?" Tanya Chelsea.


Zayn tersenyum, "Awalnya iya, dan seperti apa kata kamu, Allah maha membolak balikan hati manusia, ternyata Allah melabuhkan hati Kakak kepadamu, Sea."


"Sea, Seseorang yang tepat tidak slalu datang diwaktu yang tepat, terkadang kalian harus berpisah dulu lalu bertemu kembali setelah melewati waktu yang lama, dan disitulah waktu yang tepat itu berada." Ucap Tristan bijak.


"Papi..." Lirih Chelsea.


"Papi tau keraguanmu Chel, Papi tau kamu sudah menyukai Zayn dari remaja, dan Papi tau semua kesedihanmu untuk merelakan Zayn. Chel, Papi sangat percaya jika Zayn mampu menjagamu setelah Papi."


Chelsea menatap Jessi yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Mami..." Lirih Chelsea.


Jessi mengangguk, "Mami bahagia jika kamu bahagia, jangan merasa terpaksa. Mami ingin kamu benar-benar bahagia, Chel."


Tristan merangkul Chelsea, tetapi matanya menatap wajah Zayn.


"Zayn, jika suatu saat kamu sudah tidak mencintai Chelsea, kembalikan Chelsea padaku, jangan pernah kamu menyakitinya apa lagi memukulnya. Papi tidak rela jika tanganmu menyakiti Chelsea."


Zayn mengangguk. "Zayn akan menjaga dan menyayangi Chelsea, Pi."


Zayn menatap Chelsea, "Sea, apa jawabanmu? apa kamu menerima Kakak? Apa kamu siap menikah dengan Kakak dan membangun rumah tangga bersama Kakak?" Tanya Zayn.


Chelsea merubah posisi duduknya dengan tegap, "Bismillah, Chelsea menerima lamaran Kakak."


Zayn menghela nafas kemudian mengusap wajahnya, "Alhamdulillah." Gumamnya.


.


.

__ADS_1


Udah deket deket mau tamat ya..


di akhir ada special Bab Pov Ghea dan Pov Tristan.


__ADS_2