TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
ISI PAPER BAG


__ADS_3

Fadhil mengantar Ghea hingga loby mall.


"Aku turun ya By." ucap Ghea sambil mencium punggung tangan Fadhil dan Fadhil mencium puncak kepala Ghea yang kini mulai tertutup hijab.


"Assalamualaikum." Ucap Ghea.


"Waalaikumsalam." Jawab Fadhil tersenyum.


Ghea masuk kedalam Mall dan langsung menuju restoran steak, sebelumnya Fariz sudah memberi kabar bahwa mereka menunggu Ghea di restoran steak tersebut.


"Itu kayak Ghea." Ucap Fariz kepada Stevi.


Stevi menoleh kearah yang dimaksud oleh Fariz. "Yang mana?" Tanyanya dengan masih mengedarkan pandangannya.


"Itu bukan sih, yang pake jilbab krem." Jawab Fariz.


Stevi baru menyadarinya setelah Ghea mulai mendekat kearah meja mereka.


"Ghea!!" Seru Stevi.


"Biasa aja kali Stev, seminggu gak ketemu, lo kaya lihat gue hantu aja." Jawab Ghea asal dan mendaratkan bokongnya duduk didepan Stevi dan Fariz.


"Sejak kapan lo pake hijab, gue sampe gak ngenalin." Ucap Stevi lagi.


"Sejak hati gue dapat hidayah." Jawab Ghea dengan tersenyum.


"Cantik Ghe." Sahut Fariz.


"Makasih Fariz.." Jawab Ghea. "By the way selamat ulang tahun ya." Ucap Ghea sambil tersenyum.


Fariz mengangguk.


"Jangan pandangin Ghea kaya gitu, nanti lo naksir." Stevi menyenggol Fariz.


"Jangan cemburu Stev, Ghea itu cuma cinta sama Tristan." Jawab Fariz.


"Cemburu? siapa juga yang cemburu." Stevi mengelak.


"Kalian jadian aja sih, ribut mulu kaya tom n jerry." sahut Ghea.


"Nanti Ghe, nunggu Stevi dapat hidayah dulu biar pake hijab kayak lo, soalnya dari dulu gue emang seneng sama cewek berhijab." jawab Fariz.


"Tuh Stev, udah ada lampu kuning dari Fariz tinggal lo berhijab aja terus jadi lampu ijo deh."


"Yeee apa sih kalian. Gue nyaman begini, sahabatan bertiga." Jawab Stevi.


Mereka bertiga tertawa, lalu memesan makanan saat waiters mendatangi meja mereka bertiga.


"Libur kuliah masih seminggu lagi nih." Ucap Fariz.


"Iya, rasanya mau cepet-cepet masuk kuliah lagi. Jenuh juga gue dirumah" Jawab Stevi.


Ghea hanya tersenyum, dia sama sekali tidak merasa jenuh, ada Fadhil yang kini mengisi hidupnya. Tidak bisa dibayangkan jika Ghea belum menikah dan ditinggal jauh oleh Tristan, mungkin hidupnya penuh kekosongan dan sudah dipastikan jenuh slalu melandanya.


***


"Fad, bantulah Fathan dikantor selagi kamu libur. Papa sudah tidak muda lagi, Fathan juga butuh bantuan kamu." Ucap Latif saat mereka kumpul bersama setelah makan malam.


"Pa.. Fadhil kan udah bilang kalau Fadhil gak minat ngurus perusahaan." Jawab Fadhil.


"Sekali-kali lah Fad, mumpung masih libur. Kamu juga bisa bawa Ghea kekantor biar Ghea gak jenuh dirumah terus." Kali ini Miranti yang berbicara.

__ADS_1


"Fad, gue gak bisa pegang perusahaan sendiri, bantulah sebisa lo." Bujuk Fathan.


"Iya nanti gue pikirin deh Mas."


"Fadhil pikirin dulu ya Pa, Ma.." jawab Fadhil.


Miranti mendekati Ghea yang sedang mengambil air minum didapur.


"Bantu bujuk Fadhil ya Ghe, inget pesan Mama dan mba Alya waktu itu." Bisik Miranti tepat ditelinga Ghea.


Alya pun mendekati Ghea sambil menyerahkan sebuah paper bag. "Ini Ghe untuk bantu kamu berhasil membujuk Fadhil." Bisik Alya juga.


"Apa ini mba?" Ghea membuka sedikit dan mengintip isi paper bagnya dan dirinya terkejut setelah sekilas melihat lingrie berwarna hitam.


Ghea langsung mengembalikan paper bag tersebut kepada Alya.


"Mba aku gak mau pake ini, malu." ucap Ghea.


Alya dan miranti tertawa, "Masa sama suami sendiri malu sih Ghe, pokonya kamu harus berhasil bujuk Fadhil untuk bantu Fathan diperusahaan." Ucap Miranti.


"Iya Ma, nanti aku bujuk Mas Fadhil. Tapi aku gak mau pake ini." wajah Ghea memerah menahan malunya.


"Kamu gak menghargai aku Ghe, aku udah beliin lho buat kamu." Sahut Alya.


"Ya ampun mba, bukan begitu." Jawab Ghea.


"Kalau gitu terima ya." Ucap Alya sambil mengedipkan satu matanya.


Ghea mau tak mau menerimanya, ia tak mau kakak iparnya itu tersinggung dengan menolak pemberiannya. Ghea berniat hanya menyimpannya saja dan tidak memakainya.


Ceklek..


Ghea dengan ragu membuka pintu kamarnya, Fadhil baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan selesai membasuh wajahnya.


"Kamu bawa apa sayang?" tanya Fadhil.


"Mampus gue." Batin Ghea.


"Bukan apa-apa By." Jawab Ghea.


Fadhil malah semakin penasaran. "Coba aku lihat." Fadhil mencoba meraih paper bag dari belakang tubuh Ghea


"Jangan By." Ghea memundurkan satu langkahnya.


Sikap Ghea malah semakin membuat Fadhil penasaran.


"Sini, aku mau lihat." Ucap Fadhil yang terus mendekatkan dirinya pada Ghea.


"By, please jangan." Ghea memelas.


Fadhil mengernyitkan dahinya, "Apa sih yang kamu bawa? hem?." Tanya Fadhil selembut mungkin.


"Ini..."


Happ..


Fadhil berhasil merampas paperbag tersebut.


"By.. Please jangan dilihat." Rengek Ghea.


Fadhil dengan isengnya malah membuka dan mengeluarkan isi paperbag tersebut.

__ADS_1


Fadhil menarik sudut bibirnya, menyimpulkan senyumnya ketika yang dilihatnya sebuah lingerie.


"Dapat dari mana kaya gini?" Hem?" Tanya Fadhil dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Dari mba Alya dan Mama." Jawab Ghea pelan.


"Mau dipake?" Tanya Fadhil menggoda.


Ghea yang terus menunduk lalu menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku mau kamu pake." Bisik Fadhil dengan nada sensual.


"By..!!" Ghea kesal dengan Fadhil yang terus saja menggodanya.


Fadhil menuntun tangan Ghea dan duduk disofa, tapi Ghea tidak duduk disofa melainkan dipangkuan Fadhil.


Mata Fadhil sudah menatap Ghea dengan penuh gairah. "Kenapa malu?" Tanya Fadhil dan tangannya mulai membuka jilbab yang menutupi kepala Ghea lalu membelai rambutnya.


Ghea yang sudah malu dengan wajah memerah itu hanya terus menunduk dan menggigit bibir bawahnya.


Fadhil meraih dagu Ghea dan mengangkat wajahnya kemudian mengecup bibir Ghea sekilas. Mata Ghea menatap mata Fadhil.


"Kamu istri aku, berpenampilan menarik bahkan sexy untuk membuat menarik perhatian suami sendiri itu pahalanya besar sekali." Ucap Fadhil.


"Mama dan Mba Alya hanya sedang mengajarimu untuk menjaga suamimu ini sayang." Ucapnya lagi.


"Bukan untuk menjaga By, kata mama sama Mba Alya untuk merayu dan membujuk kamu supaya mau bantu Mas Fathan dan Papa diperusahaan." Jawab Ghea dengan polos.


Fadhil merasa gemas dengan istri kecilnya itu yang masih berusia sembilan belas tahun.


Fadhil menggigit lembut dagu mungil Ghea.


"Kamu mau aku kembali keperusahaan Papa?" Tanya Fadhil.


"Aku kasian sama Papa, pasti Papa berharap lebih sama Anak-anak laki-lakinya. Tapi aku juga gak mau maksa kamu, aku mau kamu nyaman dengan apa yang kamu kerjakan By." Jawab Ghea.


Fadhil tersenyum. "Baiklah, aku akan bantu Papa dan Mas Fathan sebisa mungkin. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan pekerjaanku sebagai dosen."


Ghea tersenyum, "Aku akan slalu mendukungmu By."


Fadhil mendekatkan wajahnya pada wajah Ghea, "Puaskan aku malam ini ya sayang." Bisiknya.


"Tadi siang udah By.. Tiap malam juga slalu aku puasin By, mana pernah kamu lewatin aku tiap malam." Jawab Ghea sambil mengerucutkan bibirnya.


Fadhil tertawa, "Karna tubuh kamu seperti magnet untuk aku, aku merasa gak bisa jauh dari kamu sayang, dan slalu ingin menyentuh kamu."


Fadhil memulai aksinya, mengecap bibir Ghea, memainkan jari jemarinya didua buah gunung kembar Ghea, kemudian menggendong Ghea dan membawanya keatas tempat tidur.


Fadhil terus menjelajahi tubuh Ghea, tak ada yang terlewatkan, ia terus berada diatas Ghea dan membuat Ghea terus melenguh.


"Sempit banget sayang, kamu enak banget." Racau Fadhil disela-sela penyatuannya.


Entah karna Fadhil kelamaan melepas masa lajang, hingga membuatnya seperti kecanduan akan tubuh istrinya, dia terus menggempur Ghea hingga tiba dipelepasan. Membuat Ghea kelelahan dan sesudahnya hanya tertidur dalam dekapan Fadhil yang hangat. Fadhil tak hentinya mengecupi wajah Ghea, Ia sangat mencintai istri kecilnya itu.


"Aku mencintaimu istriku, selamat tidur." Bisik Fadhil dengan lembut.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2