TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
KONTRAKSI


__ADS_3

Kandungan Ghea kini sudah memasuki usia hampir sembilan bulan. Melihat Ghea yang terlihat bersusah payah menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa dan ibu muda yang sedang mengandung, membuat Fadhil semakin merasa bersalah.


"Maaf..." Ucap Fadhil saat mereka berada didalam kamar, tangan Fadhil setia memijat kaki Ghea yang kini terlihat membengkak.


"Kenapa By? Maaf untuk apa?" Tanya Ghea sambil mengelus perutnya yang kian membuncit itu.


"Aku menyusahkanmu, kamu mengandung dan tetap menjalani kuliah." Lirih Fadhil.


Ghea tersenyum, "Aku gapapa By, jangan merasa bersalah seperti itu."


Ghea pun sudah mengajukan cuti untuk dua semester kedepan, Ghea juga memilih tinggal dirumah Erick karna permintaan Erick langsung, terlebih ada Monica yang juga slalu siaga menjaga Ghea.


Erick sengaja memperkerjakan asisten rumah tangga tambahan khusus untuk mengurusi segala kebutuhan Ghea.


Ghea merasa tersentuh dengan segala perlakuan Erick yang kini slalu memanjakannya.


Hari ini hari terakhir Ghea mendatangi kampus, Ghea merasa rindu terhadap teman-temannya, Ghea juga akan mengembalikan buku-buku yang tlah ia pinjam dari perpustakaan, tentunya Stevi dengan setia menemani Ghea.


"Yang lain masih ada kelas ya Stev?" Tanya Ghea yang kini duduk bersama Stevi dikantin.


"Fariz bilang ini kelas terakhir, kalo Jessi udah selesai, tapi dia lagi meeting dikelas sama teman komunitasnya, katanya sih bentar cuma bahas project selanjutnya." Jawab Stevi.


Ghea mengangguk sambil mengusap perutnya itu.


"Hubungan lo sama Fariz gimana Stev?" Tanya Ghea.


"Gak gimana-gimana Ghe, mengalir kayak air aja." Jawab Stevi santai sambil meminum juice jeruknya.


"Ada obrolan kejenjang lebih serius Stev?"


"Sesekali ada, apa lagi Fariz bilang kalo Kakek Tara mau cepet-cepet Fariz nikah."


"Ya bagus dong, terus?"


"Akhir-akhir ini Mama Diana menunjukan perubahan yang lebih baik Ghe, dia udah mulai bisa merespon setiap diajak ngobrol, kayaknya Fariz lagi fokus untuk kesehatan Mama Diana dulu deh Ghe dan gue slalu dukung apapun yang Fariz lakuin untuk kesembuhan Mamanya. Mungkin sebentar lagi Mama nya udah bisa dibawa pulang lagi."


Ghea mengangguk, "Lo pengertian banget sama Fariz Stev, Fariz beruntung dapetin lo."


"Lo salah Ghe, bukan Fariz yang beruntung, tapi gue yang beruntung dicintai sama Fariz."


"Ya.. kalian sama-sama beruntung."


"Hai guys, sory lama." Sapa Jessi sambil mendudukan dirinya disebelah Ghea.


"Makin banyak project nih Jess?" Tanya Ghea.


"Ya lumayan Ghe, buat nambah-nambah uang jajan." Jawab Jessi sambil tertawa.


***


Ghea mondar mandir diarea ruang tamu dengan gelisah sambil mengusap perut buncitnya dan sesekali mengusap pinggangnya, Fadhil belum pulang karna dirinya ada rapat kerja membahas program study diUniversitasnya.


"Non Ghea gapapa?" Tanya Bi Anih Asisten rumah tangga khusus untuk melayani kebutuhan Ghea.


"Duh Bi, perut Ghea koq gak enak ya." Ghea sedikit meringis.


"Sepertinya Non kontraksi." Ucap Bi Anih yang lebih berpengalaman karna pernah melahirkan enam orang anak.


"Bi, tolong panggilkan Mama Monica disebrang. Akhhh." Ghea semakin merasakan kesakitan dan kini duduk disofa.


Bi Anih langsung memanggilkan Bi Sumi untuk menjaga Ghea, sementara dia melesat kesebrang untuk memanggil Monica.


"Bi Anih kenapa lari-lari?" Tanya Tristan yang kebetulan sedang duduk diteras bersama Jessi.

__ADS_1


"Den Tristan, ada Ibu?"


"Ada didalam, ada apa Bi?" Tanya Tristan balik.


"Anu Den, Non Ghea, sepertinya kontraksi, udah mulai kesakitan."


Tristan tanpa pikir panjang dan mengabaikan Jessi langsung berlari kerumah Ghea, Jessi hanya terdiam melihat Tristan yang berlari tanpa memperdulikan Jessi.


"Haruskah aku cemburu dan marah? Abang.. apa kau masih mencintai Ghea? Sebegitunya paniknya dirimu ketika mendengar Ghea kesakitan tanpa melihat kearahku." Batin Jessi.


Jessi segera menepis perasaanya dan segera memanggil Mama Monica untuk memberitahunya kondisi Ghea.


"Siapkan mobil Pak." Titah Tristan pada supir keluarga Ghea saat memasuki gerbang rumah Ghea.


"Ghe, lo gapapa? mana yang sakit?" Tanya Tristan penuh kekhawatiran.


"Mama mana Tan? Perut Ghea sakit semua." Rintih Ghea.


"Kita kerumah sakit ya." Ajak Tristan.


Tidak lama kemudian, Monica dan Jessi tiba dirumah Ghea.


"Gheaa.." seru Monica.


"Ma... ini sakitt.." Ghea mulai mengeluarkan air mata.


"Sabar sayang, kita kerumah sakit sekarang ya."


Monica berusaha memapah Ghea, namun Ghea tidak mampu berdiri.


"Tristan gendong Ghea." Titah Monica.


Tristan langsung menggendong Ghea, seketika tangannya meraskaan sesuatu yang basah.


Monica melihat kearah sofa yang baru saja diduduki oleh Ghea, "Ketubannya pecah, ayo Tan segera bawa kerumah sakit."


Jessi melihat kepanikan diwajah Tristan, dengan penuh kasih sayang Tristan mengelap keringat didahi Ghea.


Didalam mobil, Monica segera menelpon Fadhil, dan Fadhil segera menuju rumah sakit. Monica juga menelpon Bryan untuk memberitahu Erick soal Ghea. Jessi juga memberitahu Stevi yang kini sedang bersama Fariz, dan merekapun segera menuju kerumah sakit.


Tiba dirumah sakit, Tristan kembali menggendong Ghea, disambut oleh beberapa suster yang sudah menyiapkan kursi roda untuk membawa Ghea keruang bersalin.


"Dimana Ghea Tan?" Tanya Fadhil pada Tristan yang baru saja selesai mencuci tangannya.


"Dibawa keruangan bersalin, ditemanin Mama. Ketubannya tadi pecah Pak." Ucap Tristan.


"Harusnya HPL nya masih sepuluh hari lagi." Gumam Fadhil.


Monica keluar dan memanggil Fadhil yang dipanggil oleh dokter.


"Pembukaannya masih delapan Pak, sedikit lagi passien baru bisa melahirkan."


Fadhil mengangguk kemudian segera menghampiri Ghea. Terlihat Ghea yang memejamkan matanya menahan kesakitan.


"Sayang..." Panggil Fadhil kemudian menggenggam tangan kanan Ghea.


"By.. sakit By.." Lirih Ghea.


"Sabar ya sayang.. banyak-banyak istigfar, memohon kepada Allah minta perlindungan dan kekuatannya." Fadhil dengan begitu sayang mengusap puncak kepala Ghea.


Ghea tersenyum dan mengangguk.


"Akhhh..." Lirih Ghea.

__ADS_1


Dokter kembali memeriksa Ghea.


"Pembukaannya sudah kumplit, Ibu Ghea kita mulai ya, jangan dulu mengejan sebelum saya memberikan aba-aba."


Ghea mengangguk.


"Tarik nafas, hembuskan perlahan ya Bu.."


"Ayo mulai dorong bu."


"Sakit Dok.." Lirih Ghea.


"Ayo bu sedikit lagi."


Ghea berusaha mengejan kembali, namun bayinya masih belum keluar.


"Ayo bu, sedikit lagi."


Dengan sekuat tenaga, Ghea mengerahkan tenaganya.


Oekk.. Oekkk


Suara bayi lelaki memecah ketegangan didalam ruang bersalin itu.


Ghea perlahan memejamkan matanya, terlihat buliran air mata keluar dari sudut mata Ghea.


"Sayang.. Sayang.. Bangun."


Fadhil terlihat panik.


"Dok istri saya dok.."


Dokter segera memeriksa kondisi Ghea.


"Tidak apa-apa Pak. Passien hanya mengalami kelelahan."


Fadhil memgangguk, tak hentinya ia memberikan kecupan diwajah Ghea.


"Pak bayi nya sudah dibersihkan, silahkan diadzani dulu sebelum dibawa keruangan khusus bayi."


Fadhil segera mendekati Bayi yang berjenis kelamin laki-laki tersebut, kemudian mengumandangkan adzan dan iqamat ditelinganya.


Ghea kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Kondisinyapun mulai stabil.


Diluar ruang perawatan, Jessi masih duduk termenung meskipun disebelahnya ada Fariz dan Stevi. Sementara Tristan, ia tak kalah paniknya dengan Fadhil yang begitu mengkhawatirkan kondisi keadaan Ghea, sedari tadi Tristan mondar mandir bak setrikaan didepan ruang bersalin.


"Lo sakit Jess?" Tanya Stevi.


Jessi menggelengkan kepalanya. "Engga Stev." Jessi tersenyum tipis.


Fariz menangkap sikap tak biasa Jessi, sedari tadi juga Fariz memperhatikan Jessi dan juga Tristan.


Stevi beranjak untuk ketoilet, Fariz mendekatkan diri untuk mengajak Jessi mengobrol.


"Lo kenapa?" Tanya Fariz.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2