
"Eumm.." Suara erangan Tristan saat tiba dipelepasannya.
Tristan ambruk diatas Jessi dengan satu tangan menahan tubuhnya agar tidak memberatkan perut Jessi.
"Bang..." Lirih Jessi sambil mengusap kepala Tristan yang berada di ceruk lehernya.
"Hmm.."
"Maaf.." Ucap Jessi.
Tristan mengangkat wajahnya dan mensejajarkannya dengan wajah Jessi.
"Maaf kenapa?" Tristan memindahkan dirinya kesisi Jessi dan memiringkannya untuk menghadap Jessi.
"Aku terlalu kekanak-kanakan, padahal kamu dan Ghea itu hanya masa lalu yang gak ada kaitannya sama aku."
Tangan Tristan terulur merapihkan anak rambut Jessi yang sedikit berantakan dan menutupi pipi mulus Jessi.
"Itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku Bee." Tristan mencium pipi Jessi.
"Bee.. Aku tidak mungkin bisa menghapus masa lalu ku dengan Ghea, tapi aku bisa mengubur semua itu, meredam nya dan membuat kenangan baru bersamamu di masa depan ku."
"Iya Bang.. Maaf.."
"Gapapa Bee.. Mungkin karna hormon kehamilanmu membuatmu jadi sensitif."
Jessi mengangguk.
"Mau temanin aku mandi?" Tanya Tristan menggoda.
"Hanya mandi?"
Tristan tertawa, "Tergantung nanti." Tristan berdiri dan segera menggendong Jessi kekamar mandi.
***
"Hari yang melelahkan." Fariz duduk dan bersandar pada sofa didalam kamarnya.
"Pap, tadi itu pelatih tim basket kamu ya? kayaknya tau banget soal Tristan sama Ghea." Ucap Stevi penasaran.
"Iya Yank, Pak Anas dan anak-anak tim basket dulu, semua tau soal Tristan dan Ghea. Dimana ada Ghea, pasti ada Tristan."
"Kalo mereka dulu satu agama dan satu keyakinan, mungkin mereka udah menikah ya Pap?"
"Belum tentu Yank, kalo bukan jodoh mau sekuat apapun tetap ga jodoh Yank."
"Kita gak pernah tau takdir seperti apa ya Pap. Aku juga gak nyangka nikah sama kamu dan bisa lahirin Aldrich."
"Tapi yang penting sekarang semua udah bahagia sama pilihan masing-masing. Ghea sama Mas Fadhil dan Tristan sama Jessi."
Fariz mengusap pipi Aldrich yang baru saja selesai diberi asi oleh Stevi. "Anak Papap semoga jadi anak yang sholeh ya Nak." Fariz mencium lembut kening Aldrich kemudian beralih mencium pipi Stevi.
***
"By.. Ayah bilang Apartemen yang Ayah kasih untuk kita, dijual aja. Uangnya untuk tambah-tambah beli rumah. Tadinya Ayah mau nambahin beli rumah, tapi aku tau kamu gak akan setuju, jadi aku tolak." Ucap Ghea sambil menidurkan Zayn.
"Apartemen dijual untuk dibelikan rumah sih gapapa, toh diberikan barang lagi, karna kita juga jarang nengokin kesana. Tapi kalo Ayah mau nambahin lagi untuk kita beli rumah, menurutku jangan. Kasih rumah untuk kamu dan anak-anak kita itu tanggung jawab aku."
"Iya By, aku tau. Makanya aku udah tolak."
Fadhil memeluk Ghea, istrinya sangat memahami karakter suaminya. Tidak pernah memaksakan dan menuntut. Sungguh Fadhil sangat mencintai Ghea.
***
__ADS_1
"Jadi lo mau beli rumah Ghe? tapi gak pindah kan?" Tanya Fariz.
"Pindah apa engga masih belum tau Riz, tapi kemungkinan karna anak gue udah dua nanti, ya kayaknya pindah." Jawab ghea.
"Kalo lo pindah, gue juga ajak Stevi balik lagi aja kerumah kakek."
"Lho koq gitu Riz? terus Ayah dan Mama gimana? lo tau sendiri sekarang kak Bry udah jarang nginep disini kecuali week end."
"Ya masa lo anak pemilik rumah keluar, sedangkan gue disini."
"Riz kita ini sama disini, ini rumah orang tua kita."
"Padahal maksud gue tinggal disini tuh biar Stevi gak jenuh klo gue lagi kerja, ada lo, ada Mama, ada Jessi juga disebrang."
"Ini kan baru rencana Riz."
"Rencana apa?" Tabya Erick yang berjalan kearah Ghea, Fariz dan Stevi.
"Rencana beli rumah Yah, kemungkinan nanti pindah juga." Jawab Ghea.
"Ayah mengijinkan kamu untuk punya rumah Ghe, tapi tidak untuk keluar dari rumah ini. Ayah sama Mama bagaimana nanti, jauh dari Zayn dan calon adiknya."
"Tapi kan kalo week end bisa nginep disini Yah, seperti Kak Bry.."
"Terus hari-hari siapa yang menemani Mama mu Ghe? dan kamu disana nanti pasti kesepian juga kalo ditinggal Fadhil kerja."
Ghea diam nampak berfikir.
"Zayn juga dilingkungan baru nanti belum tentu ada temannya. sedangkan disini, ada Aldrich Damian juga sering menginap disini."
"Iya Ghe, pikirin lagi deh." Bujuk Stevi.
Ghea mengangguk, "Iya Yah nanti Ghea pikirkan lagi."
"Iya Ayah, Ayah jangan khawatir, saat ini Ayah dan Mama ini udah jadi tanggung jawab Ghea, Kak Bry, dan Fariz juga."
"Ayah tidak minta apa-apa Ghe, hanya ingin berkumpul dan menghabiskan waktu bersama kalian dimasa tua Ayah."
"Ayah belum tua." Sahut Bryan yang baru saja datang dengan menggendong Damian.
"Ck, nyamber aja kamu Bry." Ucap Erick.
"Kenyataannya begitu Yah. Ayah kan masih kuat bikin adik buat Ghea." ledek Bry.
Ghea, Stevi dan Fariz menahan tawanya mendengar ceplas ceplos Bryan, sementara Erick terlihat kesal dengan Bryan.
***
"Jess.. Mana Tristan?" Tanya Fariz.
Saat ini mereka sedang quality time dirumah Ghea.
"Tadi bilangnya mau nyusul kesini Riz. Coba gue telpon." Jessi meraih ponselnya dan mencoba menelpon Tristan.
"Gak aktif Riz.."
"Jangan-jangan ketiduran." Sahut Stevi.
"Iya, Tristan kan Pel-Lor, asal nempel pasti molor." Ucap Ghea sambil tertawa.
"Bener banget Ghe, apa lagi semenjak kerja, cape dikit, langsung Pel-Lor."
"Untung istrinya sabar banget ini.." ucap Ghea.
__ADS_1
Jessi tersenyum, "Mau punya anak, harus banyakin sabar Ghe."
"Iya, setuju, Sabar demi anak." Sahut Stevi.
"Ya udah gue susul dulu deh." Jessi beranjak dari duduknya.
"Gue aja Jess, lo lagi hamil besar gitu, mana diluar panas, lumayan kan walopun nyebrang doang, panasnya cetar." Ucap Fariz.
"Makasih Papapnya Aldrich.. Baik banget deh."
"Jangan sok manis sama gue, nanti Stevi cemburu." Ledek Fariz.
"Aku sih sih anti cemburu Pap kalo sama Jessi dan Ghea."
"Cakepp.. itu baru istri Papap.." Fariz mengecup kening Stevi kemudian menyusul Tristan.
Fariz langsung masuk kerumah Tristan begitu dipersilahkan oleh ART dirumah Tristan, dan menghampiri Tristan yang sedang berada dihalaman belakang.
"Malah anteng disini, semua udah pada nungguin lo." Ucap Fariz pada Tristan yang sedang memainkan laptopnya.
"Eh lo Riz, Jessi masih disana?"
"Ya masih lah, kita kan mau mulai suki-sukian.. Nungguin lo belum datang-datang."
Tristan menghela nafas kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kenapa Tan?" Tanya Fariz yang peka.
"Gue gak kesana Riz, Sory.. Bilang aja gue tidur kek atau apa."
Fariz mengernyitkan dahinya. "Lo berantem sama Jessi?"
Tristan menggelengkan kepalanya. "Engga."
"So.. What?" Tanya Fariz penasaran.
Tristan menghela nafas. "Jessi masih cemburu sama Ghea, kemarin pas Aqiqah Aldrich dan ada Pak Anas yang sedikit bahas masa lalu gue sama Ghea, Ternyata bikin Jessi cemburu."
"Masa sih? lo ribut sama Jessi?" Tanya Fariz mendalam.
"Engga, gue masih bisa kasih Jessi pengertian, tapi gue mikir Riz, gue mau jaga perasaan Jessi, apa lagi Jessi lagi hamil, gue gak mau bikin mood dia berantakan. Jadi sebisa mungkin gue jaga jarak sama Ghea, gue takut ada kelakuan yang gue gak sadar dan nyakitin Jessi.
Fariz mengangguk. "Hormon ibu hamil begitu Tan, tapi menurut gue lo kayak begini itu salah."
"Gue cuma mau jaga hati Jessi Riz."
"Gue tau Tan.. tapi lo lihat Jessi sendiri kan deket sama Ghea."
Tristan nampak terdiam.
"Ayo kerumah Ghea, tepis perasaan lo yang seperti itu. Dengan lo seperti ini, malah bikin orang melihat lo masih ada rasa sama Ghea."
Tristan mengangguk, apa yang dikatakan Fariz ada benarnya juga.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1