
Fariz menyelimuti tubuh polos istrinya, ia mengecup kening dan pipi Stevi yang terlihat lelah dan mulai memejamkan matanya kembali tertidur.
Fariz tersenyum, tangannya membelai pipi mulus Stevi, ia tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada Stevi, membawanya menjadi pria yang penuh percaya diri dan diterima apa adanya.
Fariz kembali memakai pakaiannya kembali, ia kembali meraih laptop dan menyelesaikan sisa pekerjaanya.
Pandangannya tertuju pada ponsel yang tergeletak diatas meja, ponsel milik Stevi.
Fariz terdorong untuk melihat isinya, membuka isi sosmed Stevi yang dipenuhi oleh foto-fotonya. Ada juga foto saat Stevi SMA, tidak ada yang aneh di sosmed istrinya itu.
Fariz membuka aplikasi chat milik Stevi, membuka satu persatu, Stevi lebih intens bertukar pesan dengan Ghea dan Jessi.
Pandangannya tertuju pada satu nama yang Stevi beri nama My Hero, Fariz sedikit mengerutkan keningnya, dan perlahan membukanya, ternyata itu adalah nomer ponselnya yang Stevi beri nama My Hero, Fariz menarik sudut bibirnya tersenyum, ia langsung mematikan laptop dan menaruh kembali ponsel milik Stevi.
Fariz merangkak naik keatas tempat tidur dan masuk kedalam selimut bersama Stevi, ia memeluk Stevi lalu mengecup dengan sayang ke seluruh wajah Stevi dan tak lama ikut tertidur memejamkan matanya.
***
Keluarga Tristan tengah bersiap menuju kota Semarang, kota dimana keluarga Jessi tinggal.
Ghea dan Fadhil membawa Zayn dengan mobil pribadi mereka, sementara Fariz dan Stevi juga berada dalam satu mobil yang biasa Fariz bawa.
Mereka akan tinggal di salah satu hotel milik Erick yang berada di kota ini.
"Pak Erick sudah banyak berubah ya Pa.." Ucap Monica pada Daniel, suaminya dan terdengar oleh Tristan yang sedang mengemudi.
"Iya.. Papa bersyukur akhirnya Ghea bisa merasakan kasih sayang keluarga yang sesungguhnya."
"Iya.. Papa benar, Mama juga ikut seneng, terlebih saat Pak Erick sudah menikah kembali dengan ibu Diana, hidupnya seperti terlahir kembali."
Tristan tersenyum tipis sambil mengemudikan mobilnya, sebentar lagi ia akan menentukan tanggal pemberkatan pernikahannya dengan Jessi, wanita yang tanpa sengaja masuk begitu saja kedalam kehidupannya, yang perlahan menggeser nama Ghea dari relung hatinya.
***
"Rumah sepi Mas.." Ucap Diana saat makan siang bersama Erick dirumahnya.
"Dulu bahkan aku slalu sendiri dirumah ini Di.."
"Sekarang?" Tanya Diana iseng.
"Sekarang, ada kamu yang menemani masa tua aku."
"Kamu belum tua Mas, masih sanggup tiga kali semalam belum tambah pagi dan terkadang siang, mungkin melebihi anak muda." Diana tertawa.
"Kamu mulai berani meledek aku ya, mau aku bawa kekamar sekarang? hem?"
Diana tertawa, "Curang, main ancam terus."
Erick juga tertawa, "Kamu lucu sekali, aku menikah denganmu merasa seperti dua puluh tahun lebih muda."
"Kenyataannya kamu memang seperti itu Mas, dua puluh tahun lebih muda."
"Karna seumur Ghea, tepatnya setelah meninggalnya istriku Sofia, aku tidak pernah menyentuh wanita lagi Di.."
"Termasuk istri siri mu itu?"
__ADS_1
Erick mengangguk, "Apa kamu tidak percaya?"
"Tentu tidak percaya, istri sirimu cantik, mana ada wanita cantik kamu cuekin begitu saja, terlebih kalian satu rumah."
Erick menghela nafas, "Satu rumah bukan berarti satu ranjang kan Di? bahkan dia aku larang masuk kedalam kamar pribadiku yang sekarang kita tempatin."
"Benarkah?"
"Entah pikiran dari mana aku bisa sampai membawanya kesini, saat itu aku hanya berfikir butuh seseorang yang bisa merawat Bryan dan Ghea, juga tanggung jawabku terhadap Yasmin yang saat itu aku kira adalah anakku."
"Apa Mas tidak pernah tergoda dengan dia?"
"Dia sering menggodaku, hanya saja aku abai terhadapnya, rasanya aku tidak berhasrat untuk menyentuh dia setelah istriku meninggal, mungkin karna perasaan bersalahku kepada Sofia."
Diana hanya mengangguk tanda paham, membuat Erick menatapnya dengan perasaan gemash.
"Habis makan temani aku tidur ya Di.."
"Hanya tidur?"
"Olah raga sebentar."
"Kebiasaan slalu siang-siang sih Mas."
"Mumpung sepi dirumah."
"Ah alesan kamu Mas, saat ramai ada anak-anak juga kamu hayo aja gak ada pantangan."
Erick tertawa, "Aku tidak bisa melewatkanmu walaupun satu hari aja Di."
"Iya.. iya.. kamu kan kelamaan puasa, jadi berbukanya tanpa henti." Diana meledek Erick.
Diana hanya tertawa, hari-hari setelah menikah membuat Diana slalu bahagia.
***
Pemberkatan pernikahan Tristan dan Jessica akan digelar dua bulan lagi dijakarta, sesuai impian pernikahan Tristan, ia ingin pemberkatan digereja yang biasa di gunakan untuk ibadah. Keluarga Jessi pun menyetujui.
Resepsi pernikahan akan digelar dihotel milik keluarga Erick, sebagai hadiah pernikahan kepada Tristan dan Jessi juga sebagai tanda terimakasih pada keluarga Tristan yang dulu begitu menjaga dan menyayangi Ghea disaat dirinya malah mengabaikan anak bungsunya itu.
Niat baik Erick disambut oleh keluarga Tristan.
Ghea sedang menemani Zayn dan Fadhil yang sedang berenang di Hotel milik Ayahnya itu. Dia memandangi dua pria yang kini menjadi prioritasnya.
"Ngelamun aja." Suara Fariz membuyarkan lamunan Ghea.
"Eh lo Riz, Stevi mana?"
"Balik kekamar, ambil powerbank." Jawab Fariz.
"Kenapa ngelamun?" Tanya nya penasaran.
"Gue seneng Riz, Tristan akhirnya akan happy ending sama Jessi. Impian menikah Tristan bisa teewujud, dulu dia slalu bilang, ingin menikah digereja tempat biasa dia suka beribadah."
"Ghee.. " Lirih Fariz saat melihat mata Ghea berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lo tau Riz, beban gue berasa terangkat, Tristan bisa menerima takdirnya."
"Ikatan batin lo sama Tristan masih kuat Ghe, meski kalian bukan pasangan tapi yang gue lihat lo sama Tristan masih punya perasaan yang kalian tepis sendiri."
"Mau bagaimana lagi Riz? mau dipaksain juga sedari awal kita beda, dan lagi gue udah ada Mas Fadhil juga Zayn. Tapi jujur gue ikhlas Riz." Ghea tersenyum.
"Allah tau yang terbaik untuk hambanya Ghe."
Ghea mengangguk. "Gue udah bahagia sama Mas Fadhil dan Zayn. Sebisa mungkin gue jadi istri yang baik buat Mas Fadhil dan Mama yang sempurna untuk Zayn."
"Lo pernah nyesel Ghe?" Tanya Fariz mendalam.
"Apa yang harus gue sesalin Riz? dari awal gue sama Tristan gue tau, cepat atau lambat akan berpisah, hubungan yang hanya tinggal menunggu perpisahan, karna tujuan kita berbeda. Tristan dan gue memiliki keyakinan yang berbeda, kita gak akan bisa sama.
"So...??" Fariz semakin ingin tau perasaan Ghea.
"Gue bersyukur dengan apa yang terjadi dihidup gue saat ini. Mas Fadhil yang begitu mencintai gue, menjaga gue, gak pernah ngekang gue bahkan slalu mengerti gue, dan juga Zayn, anugrah dari Allah yang tak ternilai."
"Gue bangga sama lo Ghe, lo bisa nempatin hati lo sesuai posisinya."
"Dan gue juga bersyukur, seengganya lo sama Tristan masih sama-sama gue, dan Mas Fadhil gak pernah ngekang gue. Dia percaya banget sama gue."
"Mama.." Zayn berjalan cepat kearah Ghea.
Ghea segera mengambil handuk kemudian menutup tubuh Zayn dengan handuk.
"Masih mau berenang atau sudah?" Tanya Ghea lembut.
"Belenang Ma.. sama om Aiz." Tunjuk Zayn pada Fariz.
Fariz memangku Zayn, "Yuk Om Fariz temenin berenang." Kemudian Fariz membuka handuk yang dipakai Zayn dan membawanya kembali masuk kekolam renang.
"Fariz nyebur?" Tanya Stevi yang kemudian duduk disebelah Ghea.
"Diajak Zayn berenang, akhirnya nyebur juga."
"Fariz bilang mau cepet punya anak Ghe." Bisik Stevi.
Ghea menyipitkan matanya, "Udah Stev?"
Stevi tau maksud pertanyaan Ghea, "Udah." jawabnya berbisik.
"Gercep juga Fariz." Ledek Ghea.
"Nunda tiga minggu doang dari pas akad Ghe. kan masih berduka."
Ghea tersenyum, bahkan dirinya dulu hingga enam bulan menunda malam pertamanya dengan Fadhil.
Tapi tidak disangka, dengan kesabaran Fadhil membuat hati Ghea luluh dan mencoba menerima takdirnya.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....