
Hari ini jadwal operasi secar Jessi.
Tristan setia menemani Jessi didalam ruangan operasi.
"Bee.. sejak kapan mencintaiku?" Tanya Tristan pelan saat diruang operasi.
Dokter menyuruh Tristan terus mengajak Jessi berbicara agar kesadarannya tetap terjaga.
"Sejak melihatmu dipantai, dengan putus asa. Entah kenapa aku begitu ingin memelukmu saat melihatmu disana."
"Benarkah?"
"He'em.. Kamu? sejak kapan kamu mencintaiku?"
"Saat malam itu, tapi sepertinya aku mulai mencintaimu saat kamu membantuku mengganti ban mobilku yang pecah."
"Apa penyeselan terbesarmu Bang?" Tanya Jessi.
"Tidak bisa menyelamatkan anak pertama kita. Kamu apa penyesalanmu Bee?"
"Cemburu tidak beralasan kepada Ghea, padahal Ghea sangat baik dan tulus. Dan aku lebih menyesal karna kini kamu menjauhi Ghea Bang.." Lirih Jessi.
"Bee..." Lirih Tristan.
"Aku tau semua Bang.. Aku mohon berdamailah dengan hatimu Bang, kembalilah menjadi sahabat Ghea."
Oweekkk.. Oweekkk..
Suara Bayi terlahir memecah suasana mencekam diruangan operasi.
"Perempuan ya Pak, Bu.." Ucap Dokter.
"Putri kita Bee.." Ucap Tristan haru dan mengecupi kening Jessi berulang kali.
Jessi tersenyum. "Lihatlah Bang.. apa dia cantik?" Tanya Jessi.
Tristan mengangguk. Pasti sangat cantik sepertimu.
Setelah dua jam diruangan operasi dan observasi, akhirnya Jessi dipindahkan keruangan perawatan VVIP.
Mama Monica begitu antusias menyambut bayi cantik pertama dikeluarganya itu, pasalnya kedua anak krisna semua berjenis kel*min laki-laki, begitupun dengan Anak Ghea dan Anak Fariz.
"Cantik sekali.. Makasih Jessi, udah lahiran cucu yang begitu cantik." Ucap Monica penuh haru sambil menatap bayi mungil berpipikan merah didalam gendongannya.
"Siapa namanya Jess?" Tanya Daniel.
"Chelsea Nathaniel artinya kedamaian yang abadi dan karunia tuhan." Sahut Tristan.
"Bagus, maknanya pun bagus." Ucap Daniel.
Keesokan harinya Fariz dan Stevi juga Ghea datang untuk menjenguk Jessi dan bayinya.
"Cantikknya.." Ucap Ghea yang menimang baby Chelsea dalam gendongannya.
"Maminya cantik, Papinya ganteng, jelas anaknya juga cantik." Sahut Tristan yang kini mencoba bersikap biasa kembali dengan Ghea.
Jessi dan Fariz tersenyum melihat Tristan yang kini bisa bersikap sewajarnya kembali.
"Ini 99% Jessi dan 1% nya lo Tan." Ucap Ghea asal.
"Iya bener, lo cuma 1% doang Tan, miripnya." Sahut Fariz yang juga memperhatikan Baby Chelsea.
"Gak usah pake takar-takaran deh, Baby Checi fix cantik banget.. Jadi mau punya Baby girl." Ucap Stevi.
Fariz merangkul pundak Stevi. "Gas Yank, nanti buat adik untuk Aldrich." Fariz menaik turunkan halisnya.
"Gila lo, Aldrich masih belum tiga bulan udah mau lo kasih adik aja." Ujar Ghea.
"Ya kan biar dapet yang cantik kayak baby Checi." Jawab Fariz tanpa beban.
Mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Bang, makan dulu gih, mumpung disini ada yang nemenin aku." Ucap Jessi pada Tristan.
"Ayo gue anter. Gue juga mau cari minum." Fariz beranjak dari duduknya.
Tristan dan Fariz keluar untuk mencari makan. Sementara Jessi ditemani oleh Ghea dan Stevi.
"Mas Fadhil kerja Ghe?" Tanya Jessi.
"Iya.. soalnya sekarang selain ngajar juga kerja diperusahaan Papanya bantu Mas Fathan." Jawab Ghea.
"Makin sibuk Mas Fadhil, lo gak pernah komplain Ghe?" Tanya Stevi.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Ada sih rasa ingin komplain, tapi gue lihat dari sisi Mas Fadhilnya. Cita-cita Mas Fadhil itu ingin berada didunia pendidikan, tapi disisi lain keluarganya juga membutuhkannya untuk mengembangkan perusahaannya. Jadi klo gue komplain, itu cuma nambah beban Mas Fadhil aja. Lebih baik gue dukung slama Mas Fadhil masih dijalan yang benar. Cita-cita dia dapat, dia juga membantu orang tuanya."
"Gue salut sama lo Ghe.." Ucap Jessi.
"Mas Fadhil kayak begitu apa gak cape Ghe? lo masih kebagian waktu sama Mas Fadhil?" Tanya Stevi mendalam.
"Ya masih lah Stev, nih buktinya." Ghea mengusap perutnya yang kini membuncit.
"Hebat dong staminanya." Ledek Stevi.
"Cowok kalo lagi capek malah seneng begituan Stev. Kata Mas Fadhil berasa enteng udahnya." Ghea tertawa.
Jessi juga tertawa pelan sambil menahan sakit diarea perutnya.
"Iya bener, Cowok kalo lagi capek malah gila-gilaan." Ujar Stevi.
"Nah lo ngalamin kan? udah ini sih bentar lagi Aldrich punya adik." Ledek Jessi.
Di kafetaria rumah sakit, Fariz tengah menemani Tristan makan siang.
"Gue seneng lo biasa lagi sama Ghea." Ucap Fariz.
"Iya Riz, sikap gue slama ini salah." Jawab Tristan.
"Lo sama Ghea kan udah sama-sama bahagia, bersikap lah biasa Tan. Jangan putus persahabatan. Lo harus belajar dari Mas Fadhil, dia begitu percaya sama Ghea, padahal dia sendiri tau masa lalu lo sama Ghea. Kalo misal Jessi cemburu, lo kasih pengertian."
"Nah tuh bagus, pikiran Jessi kebuka."
***
Ghea menemani Zayn yang sedang asik mewarnai dikamar.
Fadhil keluar dari kamar mandi baru selesai membersihkan diri.
"Sebentar Mama urus Papa dulu ya Kak." Ucap Ghea lembut pada Zayn yang kini memanggilnya Kakak.
"Iya Ma.." jawab Zayn patuh.
Ghea memberikan secangkir teh hangat pada Fadhil. "Diminum By, mumpung hangat." Ucap Ghea.
"Terimakasih Sayang.." Fadhil mencium lembut kening Ghea.
"Tadi kekampus By?" Tanya Ghea.
"Iya, tapi cuma ngajar di satu kelas aja. Aku udah kurangin jadwal dikampus, soalnya Papa udah jarang kekantor, jadi kerjaan dikantor juga banyak."
"Kamu pasti lelah sekali By.." Ghea mulai memijat pundak Fadhil.
"Tidak apa, Sayang.. sudah kewajibanku mencari nafkah untuk keluarga kita. Dan juga kewajibanku sebagai anak laki-laki membantu orang tuaku."
"Hmm.. Aku bangga banget sama kamu By, kelak Zayn akan sepertimu nanti."
"Ini semua karna kamu. Sebagai istri, kamu tak hentinya slalu mendukung semua kerjaan aku. Terimakasih tlah memahamiku Ghe." Ucap Fadhil dengan ketulusannya.
"Papaaa.." Zayn berlari kearah sofa, tempat dimana Fadhil dan Ghea sedang duduk.
"Anak Papaa, sudah selesai gambarnya?" Tanya Fadhil.
"Sudah Pa.. Bagus gak?" Tanya Zayn sambil memperlihatkan hasil mewarnainya.
__ADS_1
"Wah rapih sekali.." Puji Fadhil.
"Zayn mau sekolah?"
"Iya Pa.. Mau cekolah, baleng sama Dami."
"Baiklah, Insya Allah tahun ini Zayn masuk sekolah ya. Tunggu ade bayi lahir dulu."
"Holeee, Zayn cekolahhh.. Telimakacih Papa, Mama." Zayn mengecup pipi Fadhil berulang kali.
"Kita tidak jadi pindah?" Tanya Ghea pada Fadhil.
"Tidak sekarang, Ayah mu masih ingin menebus kesalahannya kepadamu. Biarlah kita masih disini dulu."
"Ayah yang bicara padamu By?" Tanya Ghea.
"Ayah bilang tidak ingin kesepian dimasa tuanya. Aku mengijinkanmu jika masih ingin tinggal disini, karna membahagiakan orang tua, adalah tanggung jawab anak-anaknya."
"Terimakasih By.. Aku makin cinta sama kamu." Ucap Ghea.
Fadhil memeriksa Email yang dikirim oleh asisten pribadinya sambil mengerjakan pekerjaan yang belum selesai dilaptopnya. Sementara Ghea, menidurkan Zayn hingga tertidur.
Ghea menyelimuti Zayn yang sudah tertidur nyenyak, kemudian menghampiri Fadhil dan duduk disebelahnya.
"Belum selesai By?" Tanya Ghea.
"Dikit lagi, Sayang." Jawabnya.
Ghea beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Sayang?" Tanya Fadhil.
"Ambil minum kebawah, Zayn suka bangun tengah malam minta minum." Jawab ghea.
"Biar aku aja." Fadhil meraih botol minum milik Zayn.
"By, sekalian cemilan diatas meja bar ya. Aku mulai lapar dimalam hari." ucap Ghea.
"Oke Sayang, tunggu ya." Fadhil bergegas keluar dari kamar menuju dapur.
Ghea melihat pekerjaan Fadhil, ia membantu menyelesaikan pekerjaan Fadhil, Ghea yang mempunyai pendidikan dibidang ekonomi bisnis bisa menguasai apa yang dikerjakan oleh Fadhil.
Hingga satu jam, Fadhil baru kembali masuk kedalam kamar Ghea.
"By.. Koq lama?" Tanya Ghea.
Fadhil meletakan botol air minum dan cemilan diatas meja. "Tadi ketemu Ayah dibawah, ngajak ngobrol. Gak enak kalo ditinggal, untung Mama Diana nyusulin minta ditemenin tidur." Jawab Fadhil.
Fadhil duduk dan melihat laptopnya. "Kamu yang menyelesaikannya?"
Ghea mengangguk. "Ada yang salah gak By?"
Fadhil memeriksa pekerjaanya. "Engga, ini bener."
Fadhil mematikan laptopnya, membawa Ghea duduk dipangkuannya. "Apa kamu ingin bekerja?" Tanya Fadhil.
"Ada sih By, rasa ingin bekerja, tapi prioritasku sekarang kamu, Zayn dan calon adik Zayn." Jawab ghea tulus.
"Kamu banyak mengorbankan masa mudamu untukku, Sayang."
Ghea mengecup sekilas bibir Fadhil. "Aku tidak menyesal By, sedikitpun tidak menyesal."
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1