
"Sayang, tolong siapkan pakaianku ya." Ucap Fadhil pada Ghea.
"Baju kerja By? atau baju santai?" Tanya Ghea.
"Baju kerja sayang, hari ini aku coba kekantor Papa bantu Mas Fathan. Kamu ikut aku ya."
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul ya By, aku mau ketoko buku dulu baru ke kantor." Jawab Ghea.
Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama akhirnya Fadhil kembali ke perusahaan papanya. Fadhil membantu Fathan sang kakak untuk sementara dirinya libur mengajar.
"Berhasil Ghe?" Goda Alya sambil mengedipkan satu matanya.
"Ishh apa sih Mba." jawab Ghea dengan malu-malu.
Miranti merangkul pundak menantunya itu. "Fadhil tuh dulu keras kepala banget lho Ghe, pacaran sama Yasmin malah bikin Fadhil jauh dari agama juga keluarga, Mama dulu sempat sedih banget lihat Fadhil yang bukan jadi dirinya sendiri. Tapi pas Fadhil nikah sama kamu, Mama kaya lihat Fadhil kembali ke dirinya sendiri, Perhatian lagi sama keluarga dan terlihat jadi lebih baik lagi."
"Mama bisa aja. Mas Fadhil berubah karna dirinya sendiri Ma." Jawab Ghea.
"Yang dibilang Mama bener Ghe, bahkan Mba gak lihat wajah kecewa diwajah Fadhil waktu dia bilang Yasmin kabur sama cowok lain, dan pas Mama minta kamu untuk gantiin Yasmin, Fadhil gak nolak juga terlihat nerima banget." Sahut Alya.
"Iya Ghe, Mama minta maaf ya kalau dulu maksa kamu. Entah kenapa Mama sangat ingin Fadhil menikahimu, dari awal Mama bertemu denganmu di Mall, Mama sudah begitu menyayangimu sama seperti saat Mama pertama kali bertemu Alya." Ucap Miranti.
"Iya Ma, memang awalnya aku terpaksa, tapi lama kelamaan aku ngerti kalau ini udah jalanNya. Dan aku sama sekali tak menyangka, Mas Fadhil, Mama, Mba Alya dan seisi rumah ini sangat baik dan nerima aku banget. Aku terharu banget Ma, Mba.." Ujar Ghea yang kemudian menitikan air matanya.
Miranti mengusap lembut punggung Ghea, "Dirumah ini tidak boleh ada kesedihan, tidak boleh ada yang bersedih, semua yang tinggal disini harus bahagia Ghe. Makasih kamu udah mau jadi bagian keluarga Latif Salman."
Ghea tersenyum, "Iya Ma.. Trimakasih."
***
Ghea keluar dari toko buku dan melirik jam diponselnya, "Udah mau makan siang." Gumamnya.
Ghea memutuskan untuk membeli makanan untuk makan siang Fadhil dikantor. Setelahnya ia langsung mendatangi kantor Fadhil.
Ghea yang baru pertama kali masuk kedalam kantor milik keluarga Latif itu itu begitu bingung, pasalnya Ghea tidak tau dilantai mana suaminya itu berada. Ghea meraih ponsel didalam tasnya dan mendial no ponsel Fadhil, namun tidak ada jawaban.
Ghea mendatangin bagian resepsionis dan bertanya disana.
"Permisi Mba." sapa Ghea.
Salah satu resepsionis itu berdiri, "Iya mba silahkan, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya.
"Hmm Kalau ruangan Pak Fadhil dilantai berapa ya?" Tanya Ghea.
"Kalau boleh tau, divisi mana ya Mba?" resepsionis itu bertanya balik.
__ADS_1
"Hmm saya kurang tau mba, kalau ruangannya Pak Fathan dilantai berapa?" Ghea menanyakan keberadaan Fathan, mungkin pikirnya semua orang mengenal Fathan karna dia adalah direktur utama disini.
"Maaf apa yang dimaksud anda Bapak Fathan Salman?"
Ghea mengangguk, "Iya mba."
Resepsionis itu terlihat membisikkan sesuatu kepada rekannya. kemudian bertanya pada Ghea. "Maaf mba, Apa anda sudah memiliki janji? Jika belum, kami tidak bisa menunjukan dimana ruangan direktur utama, karna hanya orang penting yang sudah memiliki janji yang bisa bertemu dengan beliau."
Ghea menggelengkan kepalanya. "Ya sudah mba, gapapa. Terimakasih, maaf mengganggu waktunya." Jawab Ghea dengan sopan.
"Ghea..." panggil Latif yang baru saja keluar dari lift tak jauh disebelah resepsionis.
Ghea menoleh kearah sumber suara, "Papa." Lalu Ghea mencium punggung tangan Latif.
Terlihat wajah resepsionis menegang dan saling menyenggol sikut sesama rekannya.
"Kenapa gak langsung naik, ruangan Fadhil dilantai sembilan." Ucap Latif.
"Ghea gak tau Pa, tadi telpon Mas Fadhil tapi gak nyambung." Jawab Ghea.
Latif memandang kedua resepsionis itu, "Kalian lihat dan kenali wajah menantu saya ya, ini Ghea istrinya Fadhil Salman, putra kedua saya. Jangan biarkan dia menunggu, segera antarkan jika melihat menantu saya datang kesini lagi." Ucap Latif dengan nada tegas pada kedua resepsionis itu.
"Pa.. mereka gak tau. Gapapa koq." Sahut Ghea yang tidak ingin ada kesalahpahaman.
"Ya sudah Ghe, kamu langsung aja kelantai sembilan, nanti keluar lift belok kanan ada pintu bertuliskan wakil direktur, disana mungkin ada sekertarisnya, biar nanti resepsionis yang hubungi sekertaris Fadhil."
Ghea masuk kedalam lift khusus petinggi, dia langsung naik kelantai sembilan, didepan lift Ghea sudah disambut oleh sekertaris Fadhil yang ternyata seorang pria.
"Ibu Ghea, saya Tomy sekertaris Pak Fadhil. Mari saya antar keruangan Pak Fadhil."
Ghea diantar sampai depan pintu dan masuk sendiri keruangan Fadhil.
Fadhil menoleh saat pintu ruangannya terbuka dan melihat Ghea memasuki ruangannya.
"Sayang, nyampe juga kesini." Sapa Fadhil.
"Kan aku udah janji By, aku juga bawain kamu makan siang By." Ghea mengangkat satu tangannya yang membawa tentengan.
"Beginilah indahnya pernikahan, ada yang ngurusin dan ngingetin makan." Fadhil berucap sambil menciumi puncak kepala Ghea.
"By, ini kantor.. Stop!!" Ghea menahan dada bidang Fadhil.
Fadhil tertawa melihat tingkah laku Ghea yang slalu saja malu-malu itu.
Ghea duduk bersama Fadhil disofa, Fadhil dengan sabarnya menyuapi Ghea makan siang, karna ia ingin sekali memanjakan istri kecilnya itu, sementara Ghea, tangan dan matanya tengah asik membuka dan membaca berkas-berkas kerjaan Fadhil dikantor.
__ADS_1
"By, aku kenyang." Rengek Ghea.
"Baru sedikit sayang, ayo makan lagi." Fadhil terus saja menyuapi sendok berisi makanan ke mulut Ghea.
"By, ini koq aneh sih." Ucap Ghea yang matanya tertuju pada dua lembar berkas yang Fadhil periksa.
"Aneh kenapa sayang?" Tanya Fadhil.
"Lihat deh berkas yang asisten kamu kasih dan berkas yang kamu terima dari Mas Fathan berbeda, padahal kan sama tentang laporan penurunan kantor cabang yang hampir ditutup. Kayanya yang dari Mas Fathan sengaja dirubah, karna ada beberapa yang gak masuk akal penjumlahannya." Ghea masih terus memperhatikan isi berkas itu.
Fadhil mengernyitkan dahinya, sedari tadi ia pusing mencari dimana kesalahan yang membuat salah satu kantor cabang ditutup.
"Apa ada yang mau mengelabui Mas Fathan ya?" tanya Fadhil.
"Mungkin karna Mas Fathan terlalu banyak pegang kerjaan, jadinya Mas Fathan kurang teliti meriksa bagian ini By." Jawab Ghea.
"Kamu teliti banget sayang, dan kamu pintar sekali bisa meriksa semua berkas ini dengan cepat. Aku aja udah pusing dari tadi."
Fadhil mendatangi ruangan Fathan dan disana juga ada Latif yang sedang membahas kantor cabang yang akan ditutup karna mengalami kerugian besar.
"Pa, Mas.. ada yang mencoba memanipulasi laporan kantor cabang." Fadhil memberikan dua berkas yang tadi ditunjukan oleh Ghea tadi diruangannya.
Latif dan Fathan memeriksanya. "Ini berbeda, apa kamu tidak mengeceknya dan mencocokannya Fat?" Tanya Latif kepada Fathan.
"Fathan tidak menerima yang ini Pa, Fathan hanya menerima yang ini." jawab Fathan sambil meunjukan berkas yang diberikan oleh kantor cabang.
"Tim audit memberikan ini pada Tomy, dan Ghea melihat jelas perbedaan, laporan yang diberi kantor cabang seperti dimanipulasi Pa, Mas." Ujar Fadhil.
"Ghea?" Tanya Papa dan Fathan kompak.
Fadhil mengangguk. "Ghea iseng lihat-lihat berkas dimeja Fadhil, lalu dia yang bilang ini berbeda, dan pas Fadhil cek lagi jelas berbeda dan banyak kejanggalan." Jawab Fadhil.
Latif dan Fathan tersenyum lalu saling melirik. "Ghea yang akan gantiin posisi kamu diperusahaan ini Fad, Papa akan tarik Ghea untuk menempati jabatan kamu jika Ghea sudah lulus kuliah. Dia benar-benar pintar dan teliti." Ucap Latif.
"Masalah kantor cabang kita akan kerahkan orang-orang kita untuk menyelidikinya." Ucap Fathan.
"Apa kamu keberatan Fad, jika nanti Papa meminta Ghea untuk bekerja disini?" Tanya Fadhil.
"Ya Fadhil harus bicarakan dulu sama Ghea Pa, Fadhil gak mau maksa Ghea." Jawab Fadhil dengan yakin. Ia merasa bangga karna istri kecilnya itu sangat pintar, sehingga membuat keluarganya begitu menyayanginya.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....