
Jessi mengajak Stevi jalan-jalan malam untuk mencari makanan. Kebetulan disekitar apartemen Jessi sedang ada festival aneka kuliner, mereka cukup berjalan kaki untuk menjangkau tempat tersebut.
Hal ini dijadikan kesempatan untuk Stevi menghubungi Fariz untuk mengajak Tristan juga datang ketempat yang sama.
Disebrang sana Fariz yang menerima pesan dari Stevi pun langsung mengajak Tristan untuk keluar. Selain ingin segera mendekatkan kembali Tristan dengan Jessica, Fariz pun ingin bertemu dengan Stevi. Tanpa rasa curiga, Tristan pun mengikuti Fariz.
"Ini sih deket Apartemen Jessi Riz." Ucap Tristan saat memperhatikan jalanan.
"Kali aja ketemu Jessi dan Stevi disana, mana tau kan? Emang lo gak kangen sama Jessi?" Fariz berbicara dengan santai.
"Gak enak kalo kita ngumpul gak ada Ghea. Bumil sensitif, nanti ngambek gak diajak ngumpul." Tristan tertawa.
Fariz berdecak, "Ck, masih aja mikirin Ghea, hati lo tuh sekarang Ghea apa Jessi sih?"
"Ghea tetep harus gue jaga sampai kapanpun Riz, tapi bukan berarti gue masih cinta sama Ghea. Jujur gue udah jatuh cinta sama Jessi, terlebih gue pernah lakuin hal lebih sama dia, dan dia pernah mengandung anak gue."
"Ya.. ya.. yaa... Semoga gak ada istilah cinta lama belum kelar ya Tan. Lagian bukan gak mau ngajak Ghea, lo sendiri tau, Pak Fadhil itu over protektif sama Ghea, apa lagi Ghea sekarang lagi hamil, mana boleh keluyuran malam."
"Gak ada lah, istilah dari mana itu cinta belum kelar, yang ada gue lagi mikirin gimana menata masa depan sama Jessi. Pak Fadhil sayang banget sama Ghea, klihatan banget kasih sayangnya. Gue udah tulus melepas Ghea di orang yang tepat."
Jessi dan stevi keluar dari area apartemen, mereka asik mengobrol sambil menelusuri trotoar, hingga ada seseorang yang menarik tangan Stevi dan membuat Stevi terkesiap.
"Dad...dy.." Lirihnya.
"Hai Sayang? mengapa pindah tidak bilang pada Daddy?" Tanya Danu.
Stevi mencoba menghempaskan tangan Danu namun tidak bisa karna Danu mencengkramnya dengan kuat.
"Hei lepaskan!!" Seru Jessi.
"Diam kau anak kecil, kau pasti yang sudah menghasut putriku." Bentak Danu pada Jessi.
"Dadd lepas.." Lirih Stevi.
"Diam Sayang, ayo kita pulang." Danu menarik paksa Stev.
"Dadd.. Stevi gak mau." Stevi terus berontak.
Jessi mengejar Danu dan Stevi lalu menarik satu tangan Stevi juga hingga membuat Danu dan Stevi menghentikan langkahnya.
"Saya bisa laporkan anda jika anda terus memaksa Stevi." Tegas Jessi.
Danu tertawa, "Silahkan saja. Stevi putriku, tidak ada yang salah seorang ayah membawa pulang putrinya yang tlah kabur."
"Aku bukan anakmu!!" Teriak Stevi.
"Hai sayang, kenapa berbicara keras pada Daddy, ayo kita pulang, bukankah kau ingin melihat ibumu?"
"Ibu sudah meninggal. Jangan bohongi aku lagi, jangan peralat aku lagi, aku sudah tau semuanya." Stevi mulai histeris.
Danu terkesiap, dia berfikir dari mana Stevi tau semua ini.
Bughh.. Bughh.. Bughhh
Fariz mendaratkan beberapa bogem diwajah Danu sehingga membuat Danu melepaskan cengkramannya dari Stevi. Danu yang tidak siap menerima bogeman itupun tersungkur sambil memegang hidung dan sudut bibirnya yang berdarah.
"Anj*ng lo, masih berani lo deketin Stevi." Fariz sudah diluar kendali, ia ingin menghajar Danu kembali namun dicegah oleh Tristan.
__ADS_1
Danu berdiri sambil memegang salah satu pipinya.
"Jadi kau yang menghasut Stevi hah?" Tanya Danu geram.
"IYA.. GUE YANG NYURUH STEVI BUAT NINGGALIN PRIA TUA BANGKA KAYAK LO." Bentak Fariz.
"Bagus.. lihat saja besok, saya akan menjebloskan kamu kepenjara atas tuduhan penculikan anak saya dan penganiayaan terhadap saya."
"SILAHKAN, LO PIKIR GUE TAKUT."
Danu pergi meninggalkan Stevi, Jessi, Fariz dan Tristan masuk kedalam mobil, lalu menghubungin pengacara untuk memproses hukum Fariz. Ia tidak terima karna Fariz berhasil menghasut Stevi.
"Lo gapapa Stev?" Tanya Jessi.
Stevi menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik balik lagi aja ke apartemen, beli makanan di food online aja." Saran Tristan.
Mereka semua mengangguk, Jessi merangkul Stevi untuk kembali ke apartemen. Tristan menatap punggung Jessi yang berjalan didepannya, sungguh ia merindukan Jessi dan ingin sekali memeluknya.
"Tan, lo anter Jessi dan Stevi kedalam dulu, gue beli makanan di drive thrue aja." ucap Fariz.
"Gue temenin Riz?" Tanya Tristan.
"Jangan, takutnya tua bangka tadi datang lagi kesini. Gue bentaran koq." Fariz segera bergegas menuju mobilnya.
Selain untuk membeli makanan, Fariz juga menelpon Kakek Tara untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Kakek Tara menyarankan kepada Fariz untuk tidak dulu pulang dan menginap dihotel, khawatir akan ada polisi yang akan mendatangi rumahnya dan menahannya.
"Gue kekamar dulu bentar ya." ucap Stevi yang meninggalkan Tristan bersama Jessi diruang tamu.
Stevi sengaja melakukan hal itu karna ingin memberi ruang lebih untuk Jessi dan Tristan.
Tristan tersenyum. "Makasih Bee."
Mereka kembali diam dan canggung seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Tristan beranjak dari duduknya dan berdiri dibalkon, merasakan angin malam yang berhembus. Tristan juga bingung ingin memulai pembicaraan darimana.
Jessi menatap Tristan yang berdiri dibalkon apartemennya, sungguh ia tidak bisa menahan lagi rasa rindunya terhadap Tristan, Jessi mendekat pada Tristan, ia ingin memeluknya, tidak perduli jika nanti Tristan menolaknya.
Selangkah demi selangkah Jessi mendekat kearah Tristan, ia memeluk Tristan dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar Tristan.
Deg..
"Jessi meluk gue? kenapa gue bisa sebahagia ini?" Batin Tristan.
Tristan hendak membalikan tubuhnya, namun pelukan Jessi sangatlah erat.
"Jangan dilepas Bang, biarkan sperti ini dulu sebentar aja." Lirihnya.
"Bee.." Panggil Tristan lembut.
"Jangan diamkan aku lagi Bang, jangan abaikan aku lagi, rasanya dada aku sakit, aku lebih milih kamu marahin aku dari pada kamu harus mendiamkan aku Bang, Please Maafkan aku." Tubuh Jessi bergetar menandakan dirinya sedang menangis.
Tristan melepaskan pelukan Jessi dan segera membalikan tubuhnya dan kembali memeluk Jessi dengan sangat erat, menciumi puncak kepala Jessi dan tak hentinya menciumi wajah Jessi yang basah karna air matanya.
"Maafkan aku Bee, maaf.. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih, aku sangat mencintaimu Bee, aku juga sangat merindukanmu." Tristan pun meluapkan kerinduannya pada jessi.
Pada akhirnya baik Tristan mupun Jessi mengakui perasaanya masing-masing. Tentang kerinduan yang begitu menyiksa bagi keduanya. Jessi mengakui kesalahannya dan benar-benar menyesal. Tristan pun sama ia menyesal karna kurang peka dan mendiamkan Jessi.
__ADS_1
Tristan membawa Jessi duduk disofa, tangannya mendekap tubuh Jessi yang duduk disebelahnya.
"Apa aku menyebalkan?" Tanya Jessi.
"Ya.. Tapi aku mencintai wanita menyebalkan ini." Jawab Tristan.
"Perasaanmu tidak berubah?"
"Tidak ada yang berubah Bee, kamu tujuan akhir hidup aku." Tangan Tristan terus membelai rambut Jessi.
"Aku kira kamu ilfeel sama aku Bang." Lirih Jessi.
Tristan mengendurkan pelukannya kemudian menangkup wajah Jessi dengan kedua tangannya. "Hei kenapa bisa berfikir seperti itu?"
"Karna kamu terus mendiamiku dan mengabaikanku Bang."
Tristan mendekatkan wajahnya pada wajah Jessi, kemudian mulai menciumnya, mel*mat nya dengan lembut sehingga Jessi pun terbawa suasana dan membalas ciuman Tristan.
Tristan melepas pagutannya dan mengelap bibir ranum Jessi yang basah akibat ulahnya. "Maaf, aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi."
Jessi tersenyum kemudian kembali memeluk Tristan.
Ting tong..
Suara bel apartemen berbunyi.
"Biar aku yang buka Bee." Ucap Tristan saat melihat Jessi hendak berdiri.
Tristan membuka pintu dan ternyata Fariz yang datang sambil membawa makanan untuk mereka semua.
"Bentar gue panggil dulu Stevi." Ucap Jessi yang memanggil Stevi ke dalam kamar.
"Lama Riz, kemana dulu?" Tanya Tristan.
Fariz menghela nafas. "Gue nginep dirumah lo beberapa hari bisa Tan?" Tanya Fariz serius.
Jessi dan Stevi tiba dan duduk bersama Fariz juga Tristan.
"Ada masalah?" Tanya Jessi.
"Kakek nyuruh gue jangan dulu pulang, Kakek mau ngurusin masalah tadi dulu."
"Kakek lo udah tua masih lo repotin masalah bgini Riz. Kenapa gak minta tolong Bang Freddy aja?" Sahut Jessi.
Mereka tidak tau jika Kakek Tara bukan orang biasa dan mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas didunia bisnis.
"Maaf Riz, gegara gue lo jadi susah." Lirih Stevi.
Fariz berpindah posisi duduk disebelah Stevi, "Gue gapapa Stev, gue cowok dan udah sewajarnya gue jagain lo yang sekarang cuma sebatang kara."
"Iya Stev, bukan cuma Fariz, gue sama Jessi dan Ghea juga akan bela lo dan masuk ke masalah lo juga." Sahut Tristan.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....