
"Di.. apa kau lapar?" Tanya Erick pada Diana saat mengantarnya pulang.
"Hemm sedikit sih Mas.." Jawab Diana ragu.
Sebenarnya Diana tidak merasakan lapar, hanya saja ia ingin sekali Erick mengajaknya untuk sekedar makan bersama sebelum Erick mengantarnya pulang. Entah mengapa hatinya masih ingin bersama Erick.
"Kalau kita makan dulu gimana? kamu mau makan apa?" Tanya Erick lagi.
"Hmm.. boleh Mas, apa aja Terserah Mas."
"Bagaimana kalau kita mampir ke restoran steak?"
"Boleh." Jawabnya dengan menahan rasa senangnya.
Erick membukakan pintu mobil untuk Diana saat tiba di restoran Steak, tangannya begitu saja menggandeng tangan Diana sambil berjalan memasuki kedalam restoran Steak.
Diana terkesiap ketika jari-jari tangan mereka saling bertautan, sementara Erick terlihat cuek. Sungguh saat ini mereka terlihat layaknya pasangan suami istri.
Erick menarik kursi untuk diduduki oleh Diana.
"Terimakasih Mas." Ucap Diana tersenyum.
Kemudian Erick duduk didepan Diana dan memesan makanan kepada waiters.
"Di.. apa kau tidak memegang ponsel?" Tanya Erick.
Diana menggelengkan kepalanya, "Daddy belum memberikanku ponsel Mas, dan aku juga belum kepikiran untuk memiliki ponsel."
"Aku kesulitan jika ingin menghubungimu."
"Bukankah Mas bisa datang kerumahku?"
Erick menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa setiap hari kerumahmu Di, aku masih aktif bekerja mengelola perusahaanku bersama anak sulungku. Bahkan sesekali aku sering melakukan perjalanan bisnis jika anakku sedang tidak bisa mewakilkanku."
Diana hanya terdiam, memang benar dijaman sekarang ponsel membantu orang untuk berkomunikasi saat tidak bisa bertemu. Apa lagi jaman semakin canggih, bisa melakukan video call dan membuat jarak semakin tidak berarti.
"Jangan melamun, habiskan makanan mu Di.." Ucap Erick membuyarkan lamunan Diana.
Diana tersenyum manis, senyum paling manis yang membuat Erick menyukainya.
"Ayah.." Panggil seseorang yang kemudian menghampiri meja Erick dan Diana.
"Bryan.. Sedang apa kau disini?" Tanya Erick.
Bryan menatap Erick kemudian berganti kearah Diana. "Apa Ayah sedang kencan?" Tanya Bryan seolah menggoda Erick dan tidak menjawab pertanyaan Erick.
Bryan sedang berada direstoran yang sama, ia baru saja selesai bertemu dengan teman-teman lamanya.
"Bry.. sopan sedikit." Ucap Erick seperti salah tingkah.
__ADS_1
Bryan tertawa, "Baiklah Ayah, Bry tidak akan mengganggu lagi.."
Kemudian Bryan menatap Diana. "Maafkan saya Bu karna tlah mengganggu acara makan malamnya, saya Bryan anak sulung Pak Erick, kalau begitu saya permisi dulu." Bryan tersenyum penuh arti, merasa puas menangkap basah Ayahnya yang sedang berkencan.
"Maafkan anakku Di.. dia memang senang sekali menggodaku."
Diana sedikit tertawa, "Anakmu itu pasti humoris ya Mas, tapi sikapnya berbeda sekali dengan Ghea, Ghea terlihat lebih kaku."
Erick mengangguk, "Ghea seperti itu karna sikapku dulu yang tak menganggapnya sebagai anakku."
"Maksud Mas?" Tanya Diana tak mengerti.
"Saat istri tercintaku sedang mengandung Ghea, aku begitu bahagia. Saat itu aku juga merasa bersalah tlah mengkhianati cintanya dengan berselingkuh dan menikahi secara siri istri simpananku, dia Vika yang dulu melabrakmu Di.. Menjelang kelahiran Ghea, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Vika, dan tetap bertanggung jawab akan anak yang kukira slama ini adalah anakku dari Vika, tapi takdir berkata lain, Sofia meninggal setelah melahirkan Ghea, dia meninggalkanku tanpa tau kalau aku sudah mengkhianati cintanya, hal itu membuat aku merasa bersalah, hingga Vika mengambil kesempatan masuk lebih dalam kedalam kehidupanku dan tinggal bersama dirumahku, entah mengapa Vika slalu berbicara padaku bahwa penyebab kematian Sofia karna Ghea, membuatku merasa membenci Ghea dan berlaku tidak adil padanya, aku hanya memperhatikan Bryan, itupun dengan keras agar suatu saat Bryan bisa mengelola perusahaanku. Dan bodohnya aku malah mementingkan Yasmin, anak yang kukira adalah anakku bersama Vika yang nyatanya bukan sama sekali anakku."
"Tidak adil bagaimana maksudnya Mas?" Tanya Diana tak mengerti.
"Aku tidak memperlakukan Ghea layaknya anakku sendiri, Ghea tidak pernah aku berikan barang yang ia inginkan, lebih banyak memakai barang-barang bekas Yasmin dan slalu Yasmin yang mendapatkan barang baru, hal itu membuat Ghea lebih dekat dan sangat diperhatikan oleh tetanggaku dibanding aku sebagai Ayah kandungnya sendiri. Bahkan hingga Ghea lulus sekolah, tidak pernah sekalipun aku datang untuk sekedar mengambil rapot ataupun menghadiri acara kelulusannya, padahal Ghea adalah anak yang cerdas dan slalu jadi juara umum disekolahnya. Hingga puncaknya saat pernikahan Yasmin, ia pergi meninggalkan pernikahannya, dan membuat Ghea harus menggantikan pernikahan itu. Saat itu aku masih tetap egois dengan membuat Ghea terus dalam penderitaan karna membuat Sofia pergi.
Diana membulatkan matanya dan menutup mulutnya sebagai tanda tak percaya.
"Aku dulu begitu kejam terhadap Ghea Di, hingga aku sadar bahwa slama ini aku keliru dan banyak termakan omongan Vika. Dan akhirnya aku sadar, kekosonganku slama ini karna aku tidak mau berdamai dengan waktu dan tidak menerima kenyataan."
"Bagaimana dengan istri keduamu Mas?" Tanya Diana.
"Dia kini mendekam dipenjara bersama Yasmin. Aku menuntut Vika dengan tuduhan menipuku soal Yasmin yang ternyata bukan anakku, dan dia juga terjerat kasus ab*rsi karna memberikan obat pengg*g*r kandungan kepada Yasmin hingga membuat Yasmin keg*g*ran. Sementara Yasmin dia dipenjara karna menculik Ghea dan hendak menjual Ghea terhadap kekasih Yasmin sendiri. Beruntung hal itu bisa digagalkan oleh Tristan dan juga anakmu Di.."
Diana sungguh tidak menyangka kehidupan Erick begitu rumitnya.
"Jadi saat ini Mas..." Diana tidak meneruskan ucapannya namun Erick menangkap maksud omongan Diana.
"Aku tidak terikat oleh siapapun Di, bahkan sewaktu Vika tinggal dirumahku juga kami tidak tinggal satu kamar, aku membiarkannya tinggal dirumahku berharap dia bisa menerima anak-anakku tapi nyatanya dia malah menghasutku untuk keras terhadap anak-anakku."
Diana memggenggam tangan Erick. "Semua sudah berlalu Mas."
Erick mengangguk, "Alu menikmati masa tuaku bersama anak, menantu dan cucu-cucuku Di. Aku beruntung, Bryan dan Ghea menerima dan memaafkanku. Itu mengapa aku tidak ingin kamu merasakan yang dulu aku rasakan Di, aku bersyukur kini kamu bisa menerima Fariz."
Diana mengangguk, "Trimakasih Mas. Ini semua juga karna Mas, kalo Mas butuh teman bicara tidak usah ragu untuk menghubungiku Mas."
Erick menghela nafas, "Tapi sepertinya aku bukan hanya butuh teman bicara Di." Lirih Erick.
"Maksud Mas?"
"Mungkin aku juga butuh teman hidup yang menemani aku menua Di."
"Mas masih terlihat muda, pasti masih banyak wanita yang mau sama Mas."
Erick menaikan satu halisnya sambil menatap Diana, "Apa wanita itu termasuk kamu Di?"
"Hah?" Diana menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Hemm itu, maksudku wanita lain yang lebih terhormat Mas, aku sih tidak pantas untuk Mas Erick."
Erick tertawa, "Tapi hati aku mau kamu Di, aku ingin kamu mendampingi sisa usiaku Di, teman menua bersama."
"Mas, jangan bercanda." Diana semakin salah tingkah.
"Aku sedang tidak bercanda Di. Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak ingin memaksamu Di." Erick tersenyum.
Diana menunduk sambil meminum lemon tea nya, hatinya berdegup kencang, entah mengapa rasanya ia ingin berhambur memeluk Erick saat itu juga. Diana merutuk dirinya, jelas bahwa Erick sedang memintanya untuk jadi kekasihnya, mungkin bukan memintanya, tetapi sedang melamarnya untuk menjadi teman hidupnya, namun sepertinya pembicaraan ini terhenti begitu saja.
Sementara Erick, dia akan pelan-pelan meyakinkan Diana, dia akan memperjuangkan Diana dan berharap siatu saat Diana mau menerimanya.
***
Erick mengantar Diana pulang hingga kerumahnya, saat itu Kakek Tara sudah berada dirumah. Dia menyambut baik kedatangan Erick dan mengajaknya mengobrol sambil meminum teh.
Bahkan Kakek Tara membicarakan soal bisnis dan mengajaknya untuk bekerjasama. Namun hal itu Erick tolak secara halus karna Erick tidak ingin dikira memanfaatkan kedekatannya dengan Diana untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan besar dari DW group. Menurut Erick perusahaanya sendiri sudah cukup besar meski tidak sebesar DW Group, ia enggan melebarkan sayap lagi dengan alasan tidak ingin terlalu sibuk dimasa tua nya dan ingin menghabiskan waktu bersama keluarga terutama cucu-cucunya.
Kakek Tara merasa kagum akan pemikiran Erick, ia berfikir pantas saja dulu putrinya begitu mengagumi sosok Erick. Erick mungkin pernah salah karna tergoda oleh seorang wanita, namun kini ia belajar dari masa lalunya untuk memperbaiki hidup.
***
Kakek Tara menghampiri Diana yang sedang meminum air mineral didapur.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Kakek Tara.
"Maksud Daddy?" Tanya Diana tak mengerti.
"Apa kau masih menyukai Erick?"
"Dad.. apa aku masih pantas untuk jatuh cinta? apa aku masih pantas dicintai oleh seorang pria? Rasanya aku hanya ingin mengurusmu dan Fariz saja diusiaku yang tidak lagi muda ini."
"Jangan bicara seperti itu Di, kamu juga berhak bahagia, Daddy rasa Fariz pun akan setuju."
"Aku merasa tidak pantas untuk Mas Erick Dad. Aku takut Mas Erick merasa jijik terhadapku."
"Jangan bicara seperti itu Di, kamu berlian dimata orang yang tepat, dan Daddy yakin Erick menganggapmu berlian dimatanya."
Diana menghela nafas, sungguh ia pun menaruh hati pada Erick, namun rasa percaya dirinya belum tumbuh didirinya.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1