Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Episode 100


__ADS_3

Karin langsung bangun dari tempat tidurnya.


"Astagfirullah...Rafa...aku kesiangan? kenapa ga dari tadi bangunin ."


"Hehe...aku juga baru bangun Rin."


"Yu...mandi dulu abis itu kita berjamaah ."


Karin dan Rafa segera mandi membersihkan diri. Setelah itu bergegas melakukan solat subuh.


Jam setengah enam pagi mereka baru keluar kamar mendapatkan Ibu dan Bunda yang lagi berbincang bincang sambil sarapan.


"Assalamualaikum..." Karin menyapa mertua dan Ibunya.


"Wa'alaikumsalam...Sini sayang sarapan dulu " Bunda menepuk kursi di sampingnya.


"Ia Bun..Karin dengan senang hati duduk di sebelah Bunda.


"Maaf Bu kami kesiangan ." Ucap Rafa sambil melirik mertuanya.


"Sini Raf...Ibu paham ko. Kamu mau sarapan apa?" Ibu sangat perhatian pada menantunya itu.


"Aku biasa dibikinin kopi sama roti bakar sama Karin Bu. Roti bakar buatan Karin enak lo Bu. Mau pada nyobain ga?" Rafa melirik ke arah Karin meminta agar Karin membuat sarapan untuknya.


"Ga usah...Ibu sama Bunda sudah sarapan tadi ."


Karin berdiri dan menuju dapur untuk membuat sarapan untuk suaminya.


Karin fokus dengan roti pagangnya tiba tiba ada tangan yang melingkar di pinggang nya.


"Astagfirullah...Rafa apa apaan ini, nanti ada orang lihat."


"Hehe...ia aku lepasin ya...cuma sedikit vitamin." Rafa melepas pelukannya.


"Rin...coba rasa baru boleh...tambahin selai kacang ya..." Pinta Rafa sambil merusuh roti yang sedang di buat Karin.


"Boleh...tapi kamu duduk saja sana. Ga usah di sini."


"Ga ah...disini saja melihat istriku lagi masak."


"Rin...kayanya enak banget deh..."


"Ia dong...enak kan aku masaknya juga dengan cinta plus plus hehe..." Karin tersenyum sambil menggoda Rafa.


"Terima kasih...istriku...atas cinta plus plusnya....Oh...ya Rin..nanti abis sarapan aku langsung berangkat ya...soalnya ada bimbingan dulu sama anak anak koas."


"Ia...Raf...aku juga kebetulan hari ini harus kerja. Ada meeting yang ga bisa aku wakilkan sama Sifa. Mungkin sekitar jam delapan aku perginya."


"Ya...kemungkinan kita ga bisa makan siang bareng dong."


"Kayanya...buat hari ini mungkin ga bisa. Tapi usahain ya kalau makan malam di rumah. Kasihan Bunda sama Ibu kita tinggal tinggal terus."


"Ia sayang..insyaallah aku usahakan pulang cepat."


"Sudah..?"

__ADS_1


"Ini...sudah.." Karin menenteng kopi dan roti di tangannya.


"Ayo bawa kemeja makan."


Bunda dan Ibu saling melempar senyum melihat anak anak mereka begitu dekat dan romantis.


"Lihat besan anak anak kita nempel terus seperti prangko..." ucap Bunda sambil tersenyum pada Karin.


"Ia Bun...tahu Rafa nih ngintil melulu." Karin melirik suaminya.


"Bismillah semoga kita segera menimang cucu ya besan."


"Aamiin.." Ucap semua yang ada di sana.


"Bun seandainya nenek, ayah sama bapak bisa ikut pasti suasananya akan semakin seru."


"Ia sayang insyaallah kalau resepsi ya kita ngumpul."


"Kalian ada rencana ga mau bulan madu kemana ?"


Rafa dan Karin saling lirik.


"Sebenarnya kalau untuk bulan madu ada rencana sih tapi kalau soal keman mananya belum tahu Bun."


"Gimana kalau kami yang siapin ibaratnya hadiah pernikahan gitu."


Rafa dan Karin saling lirik.


"Terima kasih Bun...sebelumnya."


"Oh...Ibu terima kasih...love you. " Karin memeluk ibunya dengan perasaan haru.


"Oh...ya Bun dan Ibu maaf nih Rafa sepertinya harus segera siap siap untuk berangkat." Rafa mendadak minta izin untuk pamit.


"Ko pagi pagi sekali sih...tumben?"


"Ia Bu ada bimbingan dulu but anak anak koas."


"Oh...gitu ya...tapi nanti Bunda tunggu buat makan malam, bisa kan..?"


"Insyaallah Bun..Rafa usahakan pulang cepat." Jawab Rafa.


"Ya sudah kami permisi dulu ya...aku juga mau siapin keperluan Rafa sebelum pergi." Pamit Karin.


Karin dan Rafa pergi ke kamarnya.


"Kamu mau pakai baju warna apa Raf...?"


"Baju apa ya ? kayanya baju yang kemarin kamu beli sudah kamu cuci belum ?kalau sudah yang itu saja."


"Bentar ya aku ambilin."


"Ini.."Karin menyerahkan baju untuk Rafa.


"Pasangin sayang."

__ADS_1


"Ehmmm...manja banget sih..." Karin meledek sambil tangannya tetap terulur memakaikan Rafa baju.


"Raf..." Karin seolah ragu.


"Ia...kenapa sayang..?"


"Aku mau cerita sesuatu tapi tolong kamu jangan pikir yang macem macem ya ?"


"Kamu mau cerita apa sih ? aku jadi penasaran."


"Sebenarnya hari ini aku mau meeting sama___" Karin menatap mata Rafa.


"Sama siapa sayang?"


"Hmmm..."


"Hey...ko diam sih sama siapa?"


"Sama Adit !"


"Apa ? Adit ! orang yang telah memisahkan kita dulu ?"


"Ia ...tapi kan..sekarang..."


"Sekarang apa Rin ?kenapa juga kamu baru bilangnya sekarang pas aku sudah mau pergi. Kenapa ga dari tadi atau dari semalem." Rafa terlihat menyorot Karin.


"Maaf Raf...semalam aku mau merusak suasana kita. Baru sekarang aku sempat cerita, malah tadinya aku ga mau cerita."


"Kamu ada niatan ga cerita soal sepenting ini sama aku ?" Rafa menggelengkan kepalanya.


"Ga gitu juga Rafa, lihat sekarang kamu segitu cemasnya baru juga mendengar namanya." Karin mencoba menjelaskan.


"Rin..kalau bisa jangan deh, kamu jangan ketemu sama dia. Lagian ko bisa sih kamu meeting nya sama Adit ? Jangan jangan kamu pernah ketemu sama dia lagi dibelakangnya aku ?"


"Astagfirullah sayang...aku juga baru tahu kalau Adit perwakilan dari perusahan yang ada di negara B. Aku belum pernah ketemu sama dia tetapi Sifa yang sudah pernah ketemu dan meeting sama Adit. Aku juga tahu soal Adit dari Sifa." Jelas Karin panjang lebar.


"Sayang...please aku khawatir banget sama kamu. Duh bahan ga fokus segala ini mah." Rafa terlihat sendu.


"Raf...sudah dong jangan berpikir buruk. Kita sudah nikah dia pun sudah berkeluarga ga harus lah masa lalu di bawa bawa." Ucap Karin sedikit ingin menenangkan.


"Rin..dia terobsesi sama kamu. Tak menutup kemungkinan kan ?"


"Istighfar sayang...ga usah mencemaskan sesuatu yang belum terjadi."


"Rin...aku..."


"Shut...aku tahu batasan aku sayang."


"Bukan kamu yang aku khawatir aku seratus persen percaya sama kamu. Tapi sama Adit aku sangat sangat ga percaya. Kamu bisa batalin kerja sama nya ga ? Biar aku yang tanggung semua kerugian dan dendanya." Pinta Rafa.


"Sayang bukan soal denda dan kerugian nya . Tapi Raf...ini soal tanggung jawab aku, perusahaan aku dan perusahan dia sudah tanda tangan kontrak. Dan aku rasa ga adil banget gara gara masalah dulu aku tiba tiba memutuskan sepihak."


"Tapi Rin.."


"Sayang ijinkan aku ya...sampai selesai kontrak kerja sama ini selesai, setelah itu aku ga akan ada kerja sama lagi dengan perusahaan itu." Karin mencoba agar Rafa bisa mengerti.

__ADS_1


"Tapi Rin..."


__ADS_2