Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Eposide 94


__ADS_3

"Oh... pantes kamu ngelarang aku ganti parfum."


"Ga gitu juga kali ini kan parfum kamu dari kamu masih masa masa SMA, jadi ini sudah jadi ciri khas kamu Rin."


"Kamu masih ingat kalau aku selalu pakai parfum ini dari dulu? ternyata sedetail itu ya kamu tahu tentang aku." Karin merasa tersanjung banget dengan kata kata Rafa ternyata Rafa begitu memperhatikan dirinya.


"Iya dong...semua tentang kamu aku tahu."Rafa membanggakan diri sendiri.


"Ehmmm...ia deh terimakasih ya...segitu perhatiannya sama aku. Semoga selamanya selalu perhatian. Aamiin."


"Aamiin... insyaallah sayangku."


Rafa mengambil baju ganti yang sudah di sediakan oleh istrinya itu dan langsung memakainya.


"Rin...tumben hari ini kamu nemuin aku.Ada apa ga biasanya?"Tanya Rafa.


"Ga apa apa sih, cuma aku di perusahaan lagi santai saja kepikiran kalau lagi santai gini aku pingin nemenin suaminya. Ga apa apa kan?"


"Ya Alhamdulillah...kalau kamu kepikiran kaya gitu. Aku bahkan senang."


"Serius ?"Karin menatap mata Rafa dengan tatapan menggoda.


"Ih ... serius banget sayang. Kalau boleh mah aku pinginnya kamu ga kerja fokus saja sama aku. Tapi apa daya yah itu kan perusahaan yang kamu rintis dari bawah rasanya ga enak juga ngelarang kamu yang sudah berjuang dari nol."


"Raf...!" Karin menatap Rafa mendengar ucapannya Rafa barusan. Antara percaya dan tak percaya itu keinginan suaminya.


"Ga Rin...ga usah banyak pikiran itu hanya angan aku saja. Tapi ga mungkin juga kan aku egois. Yang penting buat aku kita selalu bisa membagi waktu.Lagian aku sadar juga akhir akhir ini kerjaan aku benar benar menyita waktu.Maaf ya kita jadi jarang makan siang bareng."


Karin terdiam mendengar penuturan Rafa.Memang akhir akhir ini Rafa yang sibuk. Sementara dirinya sebagai seorang istri selalu menyempatkan waktu untuk bisa berdua dengan suaminya itu.


"Ya kita saling mengerti saja Raf... seperti sekarang kamu yang sibuk dan aku yang nyantai makanya aku datang kesini. Hanya untuk bisa makan siang sama kamu."


"Ia sayang aku ngerti. Aku g mungkin egois. Dan buat kamu tidak nyaman. Ga usah dipikirin ya." Rafa memeluk Karin.


Karin hanya menganggukkan kepalanya. Sementara hati kecilnya masih memikirkan apa yang Rafa inginkan itu.


"Hey... please jangan dipikirkan lagi. So kita happy ok..."Rafa mengangkat dagu Karin agar menatap matanya.


Karin tersenyum."Ia Raf..."


"Cup ..."Rafa mencium kening Karin.


"I love you Karin Anastasya.."


"Love you to..."Karin mencium tangan Rafa.


Keduanya saling menatap mesra penuh cinta. Tatapan yang rasanya tetap sama seperti awal mereka jatuh cinta.


"Kamu sumber kebahagian ku Rin..." Rafa merangkul Karin ke pelukannya.

__ADS_1


Rasanya baru kemarin mereka mengukir semua cerita begitu banyak perjuangan dan pengorbanan yang mereka lalui untuk saling bersama dalam ikatan yang halal.


"Udah ah...ko mendadak menjadi melow gini sih, aku pinginnya kan makan siang sama kamu." Karin mengalihkan obrolan mereka.


"Kamu sudah bawa makanan buat makan siangnya...?"


"Hehe...belum....tadinya aku pingin nyobain makanan di kantin rumah sakit kamu."


"Oh gitu...ya sudah ayo."


Karin diam saja di kursi ketika Rafa bangkit.


"Ih...ko diam saja sih, katanya mau nyobain makanan di kantin rumah sakit ?"


"Ga pesan saja Raf, nanti kamu jadi bahan obrolan seantero rumah sakit. "


"Astagfirullah ko kamu ngomongnya kaya gitu sih, kita sudah halal juga tinggal nanti kita resepsi maka publik akan tahu. " Rafa menatap Karin.


"Ia...tapi kasihan fans fansnya kamu harus menelan pil pahit kenyataan."


"Ah kamu Rin...makin ngelantur saja ngomongnya.Ayo...keburu lapar nih." Rafa menarik tangan Karin.


Sementara Karin terkekeh dengan ucapan suaminya." Sedikit mendrama ga apa apa kali."


"Ia...ia..istriku sudah yah dramanya. Perutku rasanya sudah perih."


"Lihat Raf..mata mata mereka sepertinya dari mulai kita keluar ruangan sampai ke sini disertai tatapan tajam terus."


" Biarkan saja Rin, sedikit buat orang kepo tak salah kali."


"Ah...kamu Raf.."Karin mencubit pinggang Rafa.


"Haha..."


"Kamu mau pesan makanan apa?"Tanya Rafa.


"Bentar aku lihat menunya dulu." Karin meneliti semua menu yang ada.


"Aku mau makan ini Raf." Karin menunjuk menu cumi bakar.


"Ok..."


Dokter Rafa mengacungkan tangan ya. Dan beberapa detik kemudian pelayan datang.


"Mau pesan apa Dok...?" Pelayan itu bertanya tetapi matanya menatap ke arah Karin.


"Kita pesan cumi bakar ya dengan sambal dan lalapnya. Pakai tahu tempe ya. Dua porsi."


"Baik...Dok." Setelah itu pelayan itu pergi.

__ADS_1


"Astagfirullah...Raf sampai pelayan juga melihat aku seperti itu." Ucap Karin selepas pelayan itu pergi.


"Haha...resiko sih duduk dekat orang terkenal. Tapi serius nih kamu ga nyaman ya...kalau ga nyaman aku tegur mereka deh nanti."


"Ga usah kali Raf...bukan salah mereka. Kita saja yang terlalu dekat sementara mereka kan ga tahu kita suami istri."


"Ini mah benar nih harus segera di publikasi statusnya kita. Biar tidak ada fitnah."


"Ia...Raf...kapan ya kita cari tempatnya.Kamu abis pulang kerja ada waktu ga?"


"Ia deh aku usahain kerjaan aku cepat selesai. Biar sore ini kita bisa cari tempatnya. Kamu nungguin aku saja di rumah sakit ga usah pulang lagi." Pinta Rafa.


"Siap..."


"Oh...ya biar ga terlalu pusing masalah catering dan undangan kita serahin saja sama Bunda dan Ibu ya...lagian mereka juga kan pingin terlibat di acara kita."Usul Rafa pada Karin.


"Boleh juga..."Karin tersenyum.


"Ya ampun jadi ga sabar menunggu hari H."


"Ia mudah mudahan di beri kelancaran. Aamiin."


"Aamiin."Balas Rafa.


Jarak beberapa saat pelayan datang membawa pesanan Rafa.


"Silahkan Dok.."


"Terima kasih." Jawab Rafa.


"Oh ya kenalin ini Karin. Istri saya." Ucap Rafa mengenalkan Karin pada pelayan yang dari tadi curi curi pandang.


"Istri Dokter Rafa ?"Pelayan itu kaget karena dia kira Dokter Rafa adalah Dokter yang masih singel.


"Ia istri saya..." Rafa kembali menekankan ucapannya.


"Oh...ia ia...maaf...senang bertemu dengan anda nyonya Rafa." Pelayan itu tersenyum sambil menggangukan kepalanya.


"Terima kasih...." Karin tersenyum.


"Saya permisi Dok..."


"Silahkan..."


"Alhamdulilah Raf...aku dipanggil nyonya Rafa." Karin merasa girang sekali.


"Sebentar lagi gelar nyonya Rafa akan semua orang sebutkan pada namamu Rin." Rafa tersenyum melihat binar kebahagian di wajah Karin.


"Aamiin..Raf. Ko aku bahagia banget dengan panggilan itu. Merasa di akui banget."

__ADS_1


__ADS_2