
"Karin ...!"
Pagi itu suara Ibu memenuhi ruangan .
Karin yang lagi memanjakan diri di kamarnya dengan merias wajahnya tersentak mendengar suara Ibu.
Dengan tergesa-gesa Karin menemui Ibunya.
"Ada apa Bu, apa Ibu sakit, apa yang terasa Bu?"Karin menatap Ibu cemas.
"Ibu tidak kenapa napa Rin."
"Lalu kenapa Ibu berteriak? Karin 'kan jadi panik."
"Liat itu 'nak!" Ibu menunjukan keluar.
Buket bunga memenuhi ruang tamu Karin, seketika ruang tamu Karin seperti taman bunga.
Karin melangkah menuju buket bunga tersebut.
Melihat siapa yang mengirimkan bunga bunga itu.
Karin mengambilnya dan melihat nama dan kartu ucapannya.
...Selamat pagi Karin semoga senyuman mengawali hari mu yang indah....
...Bunga bunga ini adalah gambaran hati ku yang bisa bertemu lagi denganmu....
...Aku ingin kamu mempertimbangkan lagi ucapan mu Rin....
...Rafa yang luar biasa mencintaimu....
Membaca tulisan itu Karin tersenyum lalu menghirup wangi bunga itu.
"Deh aduh dari siapa tuh?" Ledek Ibu pada Karin.
Karin memeluk Ibu.
"Bu aku ga mau kalau sekarang aku berharap lagi pada Rafa Bu, aku takut kecewa."
"Yang terbaik menunggu mu sayang."
"Bi...tata bunga bunga ini di ruangan ya." perintah Ibu pada pegawainya.
Setelah di tata semua ruangan terlihat indah.Wangi bunga memenuhi ruangan.
Karin keluar dari kamar mau berangkat kerja disuguhkan dengan dekorasi yang indah.Senyumannya mengembang sempurna.
"Bu Karin kerja dulu ya," pamit Karin pada Ibu lalu ia mencium tangan Ibunya.
Karin baru juga berbalik dari luar ada seseorang mengucap salam.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Karin dan Ibu melihat keluar dan di sana sudah ada Rafa yang berdiri.
"Nak Rafa ."
Lalu Rafa mengulurkan tangan ya salam pada Ibu.
"Nak Rafa mau anterin Karin kerja?"
"Kalau boleh Bu, aku ingin tahu perusahaan nya Karin." Rafa melirik ke arah Karin.
"Boleh ga Rin?"
"Ia tapi aku bawa mobil sendiri saja ."
"Ga mau bareng aku" tawar Rafa.
"Ga Raf, nanti aku susah kalau mau kemana mana." Karin mencari alasan .Padahal mana bisa susah mobil di kantornya juga banyak.
__ADS_1
"Ish Rin, biar aku yang nemenin kamu , aku sengaja free hari ini." Kekeh Rafa.
"Aku kerja Raf, bukan main."
"Aku tahu dan aku sabar menunggu." Rafa mengedipkan matanya pada Karin.
Ibu menyela Karin yang mau bicara lagi.
"Rin hargain dong 'nak Rafa, dia 'kan ga setiap hari juga ."
"Mendengar Ibu sudah ikut campur akhirnya Karin mengalah."Ayo Raf nanti aku telat ada meeting."
Karin berlalu setelah mengucapkan salam.
Rafa melihat itu tersenyum pada Ibu setelah pamit pada Ibunya Karin Rafa berlari menyusul Karin.
Rafa membukakan pintu mobil untuk Karin.
"Silahkan masuk Karin nya Rafa."
Mendengar itu Karin tersipu malu.
Rafa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Rin abis kamu kerja aku mau mengajak kamu ke suatu tempat."
"Mau apa?" Jawaban Karin simpel.
"Ih kamu Rin, yang jelas aku kangen aku ingin bersama kamu terus."
"Maaf Raf aku ga bisa , aku ga halal untukmu jadi aku ga mau berduaan terus dengan mu."
"Kalau aku halalin mau ga?"
Mendengar itu Karin menoleh ke Rafa.
"Maaf Rin, ga usah liat kaya gitu serem ih."
"Lihat saja dia ga serius dengan omongan ya, sekarang aku bener bener ga mau berharap lagi."
Disepanjang perjalanan Karin menjadi pendiam .Kekesalan pada ucapan Rafa membuat dia lebih menutup diri lagi.
"Rin kamu kenapa?aku berbuat salah ya?"Melihat Karin yang dari tadi diam saja.
"Ga Raf, oh ia kamu abis nganterin aku pulang saja ya, soalnya aku ada banyak meeting.Dan satu lagi soal ajakan kamu tadi maaf aku ga bisa."
Rafa mendadak bingung dengan sikap Karin.Ada rasa yang entahlah Rafa rasakan dihatinya.
Karin hendak turun dari mobil Rafa.Tapi Rafa mencengkram tangan Karin.
"Rin...kamu kenapa 'sih ?"
Karin tidak menghiraukan Rafa. Dia turun begitu saja meninggalkan Rafa yang mematung di dalam mobil.
Karin memasuki perusahaan nya.Sementara Rafa sibuk memikirkan kesalahannya.
"Kenapa Rin, aku salah lagi ya, ko kamu mendadak begitu sama aku."Rafa bermonolog sendiri.
Tiba tiba disaat Rafa lagi galau dia melihat Sifa lewat.
"Sifa.." Itu 'kan Sifa .Rafa kembali memastikan penglihatannya.Setelah yakin dia segera turun dan memanggil Sifa.
"Sifa...!" Teriak Rafa.
Merasa ada yang memanggil namanya Sifa menengok.
Sifa mengerutkan, "keningnya itu 'kan Rafa.Darimana coba Rafa tahu kalau aku ada di sini?"
Sifa mendadak panik soalnya jelas jelas Karin meminta dia menutupi keberadaanya dari Rafa.
Rafa mendekati Sifa.
__ADS_1
"Assalamualaikum Sifa."
"Wa'alaikumsalam Raf." Sifa menjadi agak gugup.
"Kamu apa kabarnya?" Sifa basa basi.
"Alhamdulillah aku baik Raf.Ko bisa kamu disini?"
"Ia aku abis nganterin Karin Sif."
"Apa?" Sifa menutup mulutnya karena berteriak.
"Jadi kamu sudah bertemu Karin?" Sifa kembali memastikan.
"Ia Sif, alhamdulillah setelah sekian lama aku berusaha mencarinya ketemu juga."
"Terus terus ..."Sifa penasaran.
"Ih kamu terus terus aku kali yang penasaran kenapa kamu ada di sini?" Rafa bertanya pada Sifa.
"Eh ia aku kerja sama Karin Raf, Karin sudah banyak bantu aku." Jujur Sifa pada Rafa.
"Alhamdulillah, itu salah satunya yang aku selalu suka dari Karin, Karin ga pernah lupa akan orang orang disekitarnya."
"Ia Raf kamu bener, aku bersyukur bisa menjadi teman Karin.
"Eh Raf aku masuk dulu ya ga enak hati nih."
"Nanti ketemu ya." Pinta Rafa sebelum Sifa pergi.
"Ok"
Rafa menatap Sifa.
"Semoga aku bisa mencari tahu lagi tentang kamu dari Sifa, sungguh aku ingin bersama mu Rin." Ucap Rafa dalam hatinya.
Rafa akan berusaha sekuatnya, tak ingin kembali melepaskan orang yang berarti di hidupnya yang kedua kalinya lagi.
Rafa memasuki perusahaan Karin.Dia menunggu Karin di sana sambil menunggu dia meneliti perusahan Karin.Hati Rafa di buat semakin kagum pada Karin.
"Kamu hebat Rin!" Guman Rafa .
Sementara Karin yang dibikin kecewa sama ucapannya Rafa sekarang lagi uring-uringan sendiri.
"Karin Karin kamu sih salah jangan berharap jangan berharap sekarang lihat 'kan belum juga mulai kamu sudah kecewa." Karin bermonolog sendiri.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Karin.
"Masuk!" Perintah Karin .
Ternyata Sifa yang datang.
"Ia ada apa Sifa?"
"Maaf Bu, ini jadwal meeting hari ini." Sifa melaporkan.
"Oh ia." Karin melihatnya.Dia mendesah."Ada lagi jadwal meeting sama Tuan Hamdan ya."
"Ia Bu.Nanti dia minta sambil makan siang."
Jawab Sifa.
Kini komplit sudah kekesalan Karin.
Tiba tiba dering telepon berbunyi.
Karin mengangkatnya.
"Ia ada apa?"
"Maaf Bu, di sini ada orang yang ngaku namanya Rafa dia dari tadi nunggu Ibu.Saya bertanya apa perlu membuat janji dengan Ibu dia hanya berkata dia akan di sini menunggu sampai Ibu pulang katanya."
__ADS_1
"Apa?"