
Karin tersenyum mendengar penuturan Rafa.
Tapi baru saja dia mau mengetik balasan , Rafa udah ga online lagi.
"Eh...ini orang pasti sengaja nih.."
Pagi yang cerah secerah hati Karin yang bertaburan bunga karena mendapatkan booster pagi dari Rafa.
Karin datang lebih pagi dari biasanya ke sekolah.Walaupun lebih awal datang Karin tidak langsung masuk ke kelas, sekarang dia berada diparkiran sekolah menunggu Rafa datang.
"Rin..ayo !" ajak Sifa.
"Ia sok aja kamu duluan .."
" Dasar bucin " ucap Sifa pada Karin.
Tak selang berapa lama Rafa datang dengan motornya.Setelah memarkirkan motornya Rafa menghampiri Karin.
Rafa menatap Karin lembut.
"Assalamualaikum...Rin.." ucap Rafa.
"Kamu lagi apa nangkring di sini?" Rafa terlihat penasaran, karena ga biasanya Karin diam sendirian di parkiran seperti ini.
"Wa'alaikumsalam..."
"Lagi nungguin kamu atuh, lalu kamu pikir aku lagi apa coba?" Karin memanyunkan bibirnya sedikit.
"Udah lama?"
"Lumayan lah.."
"Maaf ...aku ga tahu kamu nungguin aku " Rafa menyatukan kedua telapak tangannya."
"Ada apa sih..kayanya penting banget ?"
Rafa terlihat khawatir.
"Mau bayar utang yang tadi pagi" jawab Karin sambil senyum senyum ga jelas.
"Hutang apa Rin? perasaan aku kamu ga punya hutang apa apa sama aku "Rafa mengerutkan keningnya.
Karin menarik napas dalam seolah mau menjawab soal yang begitu sulit.
"Hutang jawaban" tutur Karin.
"Apa..?"
"I love you to..."
Karin berlari setelah mengatakan itu menahan rasa malu di hatinya sendiri.
"Karin...Karin sekarang kamu bener bener ya..."
"Apa coba yang nanti Rafa pikir tentang kamu ?"
"Ah...."
Karin menggerutu dirinya dalam hatinya .
Karin masuk ke dalam kelas nya dan mendapatkan Sifa yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu.
Merasa terus di perhatikan Karin melirik ke arah Sifa.
"Ih...kamu liatin terus aku , ada apa sih ?"
Sifa terkekeh...
"Pede ya...diliatin...! siapa juga ?"
"Ga usah bohong deh !"
"Kenapa ada apa gitu dengan muka aku ? sampai kamu memandang aku kaya gitu."
"Aku cantik ya...?"
Karin berusaha menyembunyikan rasa.
"Haha...Karin ...Karin..."
"Ih...pake ketawa lagi..?"
"Mau tahu kenapa aku liatin kamu..?"ucap Sifa.
__ADS_1
Karin menganggukkan kepalanya.
"Muka kamu merah banget..."
"Waaah...kelihatan banget gitu ?"
Karin memegang mukanya sendiri.
"Hehe..."
"Abis apa emang kamu sama Rafa ? jangan jangan !" Sifa menggoda Karin.
"Ih...jangan suka berburuk sangka kamu teh.."
Karin menepis tatapan ga enak Sifa.
"Lalu...cerita dong aku udah kepo abis nih .."
"Kepo aja apa kepo banget nih..?" Karin mengedipkan matanya pada Sifa.
"Kepo bangeeeet.." setengah berteriak Sifa menjawab Karin.
Sontak Karin menutup mulut Sifa dengan tangannya.
"Shuuut...ih ga usah teriak teriak kali "Karin melihat ke kanan ke kiri.
Benar saja mata temen temen Karin yang lain lagi memperhatikan mereka berdua.
Karin menceritakan semuanya pada Sifa.
Sebagai temen dekatnya Sifa adalah orang yang Karin percaya untuk bisa selalu berbagi cerita.
Sifa selalu bisa diandalkan Karin .
Hubungan pertemanan yang mereka jalani sudah cukup lama .
Berawal dari kelas satu SMP sampai sekarang mereka udah kelas tiga SMA.
"Sumpah...Rin kamu sekarang berani banget..! aku ga nyangka deh.." ucap Sifa setelah mendengar cerita sahabatnya.
Karin menggaruk kepala yang tak gatal.
"Aku...juga ga ngerti ..."
" Mungkin ini kali ya ...jatuh cinta yang sesungguhnya..." Karin berucap sambil memandang kaca sekolah.
"Pasti dong itu mah..secinta apa pun aku, aku ga akan melanggar komitmen yang ku buat sendiri."
Sementara Rafa yang melihat Karin berlari , hanya bisa menatap kepergian Karin dengan senyuman.
Sungguh dia tidak menyangka Karin menunggu dirinya hanya untuk menjawab kata yang tadi subuh Rafa sampaikan pada Karin.
"Terima kasih Karin atas booster pagi nya "
"Gemes sendiri aku melihat tingkah laku kamu Rin...!"
Rafa melangkahkan kakinya menuju kelas dengan senyum yang menghias bibir munggil nya.
"Ih...kamu Raf pagi pagi udah kesurupan " ucap Alan temen sebangkunya Rafa.
Alan melihat Rafa dari tadi senyum senyum ga jelas.
"Abis dapat booster pagi Lan..." Rafa menjawab Alan asal.
" Maksudnya...sumpah ga ngerti.." Alan mengerutkan keningnya.
"Hehe...aku belum cerita ya...?"
"Aku dan Karin udah jadian..!" Rafa berbisik pada Alan.
"Yang bener kamu...?"
"Karin yang itu yang sering kamu ceritain bukan?"
Rafa hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ko bisa , gimana ceritanya sih bisa jadian ? "
Alan terus mencecar Rafa dengan kekepoan dirinya.
"Ah...kamu kepo maksimal.." jawab Rafa .
"Ya udah kalau ga mau cerita, tapi harus ada uang booster nih !"
__ADS_1
"Bisa dong nanti istirahat ditraktir.."
Alan mengangkat kedua alisnya.
"Tunggu hilalnya datang ya..."
" Ah...kamu ga seru "manyun Alan.
Mereka kedua sahabat terlibat obrolan seru , sampai bel masuk berbunyi.
Tak selang berapa lama guru mata pelajaran datang untuk mengajar.
Setelah bertemu tadi pagi Karin dan Rafa tidak bertemu lagi sampai pulang sekolah.
Mereka di sibukan dengan pelajaran dan tugas tugas masing masing.
Keduanya semangat menghadapi ujian yang sebentar lagi akan mereka hadapi.
Rafa dan Karin sama sama ingin lulus dengan nilai yang bangus.
"Kring....kring .."
Bel pulang sekolah berbunyi, Karin yang ada pemantapan masih melanjutkan pelajarannya di kelas.
Sementara Rafa dia bergegas pergi ke rumah sakit.
Hari ini ketika beres pemantapan sekitar pukul tiga sore.
Karin dan Sifa berjalan berdampingan , mereka rencananya akan pulang bersama.
Sampai diparkiran Karin mendapati Rafa yang menunggu dirinya.
Karin mengerutkan keningnya , pasalnya Rafa tadi udah bilang mau nungguin nenek nya di rumah sakit.
"Raf...ko ada si sini sih. ?"
"Mau jemput kamu lah.." jawab Rafa santai.
"Tadi katanya mau ke rumah sakit..?"
"Ini..baru pulang dari sana ."
"Nenek..?"
"Alhamdulillah udah boleh pulang, jadi lagi diurusin sama bunda "
"Alhamdulillah..." ucap Karin lega.
Karin menatap ke Sifa .
"Sif...ga apa apa ya aku pulang sama Rafa..?"
"Ok.."
"Duluan ya..assalamualaikum.." Sifa menarik pedal gas nya dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Sifa. Rafa dan Karin pun pergi.
"Makasih ya..." ucap Karin di sela sela perjalananan nya menuju pulang.
"Ga..usah makasih segala kali Rin, aku seneng bisa anterin kamu pulang " ucap Rafa jujur.
"Gimana tadi ngerti ga sama pemantapan nya?"
"Ada yang ga ngerti sih dikit, kenapa gitu..?"
"Ga...kalau ada yang ga ngerti kita nanti sering ya.."
"Ok.."jawab Karin.
"Tapi gimana kalau kita ajak temen yang lain, maksudnya ga berdua aja gitu"
"Boleh juga , lebih banyak temen lebih mudah kita sering nya."
"Ia sih, tapi kamu tahu ga kenapa aku belajarnya ga mau berdua aja sama kamu?" Rafa bertanya ke Karin sambil tetap melajukan motornya.
"Kenapa ?"
"Aku takut ga fokus liatin kamu terus"
Jawaban Rafa mampu membuat muka Karin memerah.
"Ih...kamu apaan sih.."
__ADS_1
Karin mencubit pinggang Rafa.
'