Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Galau Raina


__ADS_3

Begitu sampai di perusahaan Karin seperti biasanya Rafa membukakan pintu mobil buat Karin.


"I love you..." Bisik Rafa ketika Karin turun dari mobil.


Karin tersenyum.


"Kamu langsung berangkat apa masuk dulu?"


"Kayanya langsung berangkat deh, ga apa apa kan?"


"Ia ga apa apa." Angguk Karin.


"Kamu hati hati ya." Karin mengulurkan tangannya menyalami tangan Rafa.


Rafa dengan senang hati menyambutnya dan menyematkan sebuah kecupan di kening Karin.


"Kamu hati hati juga ya Rin....nanti insya Allah pas pulang aku usahakan menjemput."


"Siap...tapi kalau ga keburu juga ga apa apa santai saja." Karin tak ingin egois karena tahu hari ini Rafa banyak agenda yang harus di lalui.


"Terima kasih Rin ...buat pengertiannya."


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah memastikan Karin masuk ke perusahaannya Rafa menjalankan mobilnya lagi.


Begitu sampai di rumah sakit Rafa di sambut dengan Raina yang dari tadi sudah menunggu dirinya di lobby.


"Selamat pagi Dokter Rafa..." Sapa Raina dengan senyuman manisnya.


"Pagi..." Jawab Rafa datar.


Rafa berjalan melewati Raina.


Tetapi Raina ga tinggal diam di mengejar Rafa.


"Dok...Dok...tunggu dulu." Pinta Raina berteriak memanggil Rafa yang sudah agak jauh.


Rafa merasa namanya di panggil menghentikan langkahnya tanpa berbalik.


Raina mendekat.


"Ya ada apa Raina ?"


"Hari ini jadi kan Dokter mau mengajak aku dan ayah ke suatu tempat itu ? Seperti kata Dokter kemarin ." Raina mengingatkan lagi kata kata Dokter Rafa.


"Ia Raina...kita akan pergi tapi tunggu dulu sampai saya selesai bekerja. Nanti saya kabari lewat ayah kamu ." Jawab Rafa singkat tak ingin berlama lama berdua dengan Raina.


"Oh gitu ya Dok ... ya sudah aku tunggu Dokter di kamar rawat aku saja."


"Itu lebih baik." Jawab datar Rafa. Terlihat tidak ada basa basi.


Setelah itu Rafa meninggalkan Raina yang masih berdiri di tempat yang sama.


Raina menatap kepergian Rafa yang berubah sikap pada dirinya.


Dia berbalik menuju kamarnya dengan muka ditekuk menahan kesal di hatinya.

__ADS_1


Raina menghempaskan tubuhnya ke ranjang setelah dia sampai di kamarnya.


"Kamu kenapa Raina sepertinya kamu lagi kesal ?" Tanya sang ayah begitu melihat putrinya seperti lagi merajuk.


"Aku tak mengerti ayah kenapa Dokter Rafa sikapnya berubah menjadi seperti itu, aku sungguh tak mengerti letak salah aku dimana?" Raina mengeluarkan kekesalannya.


"Dokter Rafa bersikap seperti apa memangnya, apa dia mengucapkan kata kata yang menyakiti hati kamu?" Tanya sang ayah merasa penasaran.


"Dia tak mengatakan kata kata yang menyakiti hatiku yah, tetapi dia bersikap sangat sangat dingin sepertinya sangat menjaga jarak dengan aku yah." Jelas Raina.


"Haha...haha...karena itu kamu menjadi marah marah tak jelas seperti ini ?"


"Ga lucu ayah, kenapa juga harus tertawa. Ayah meledek aku ya?" Kesal Raina makin bertambah kadar marahnya melihat sikap ayahnya yang dia rasa tak mengerti dengan perasaan dirinya.


"Bukan begitu sayang, Dokter Rafa sekarang sudah berubah statusnya dia mempunyai seorang istri sekarang. Ya jelas dia menjaga jarak karena dia pun menjaga perasaan istrinya."


"Ayah...ga usah di perjelas seperti itu juga kali." Raina mendelik kepada ayahnya.


"Sayang jangan bilang kamu suka sama Dokter Rafa?" Tanya Ayahnya Raina. Jujur sebagai seorang Ayah dia merasa cemas dengan anaknya yang sepertinya menyukai Dokter Rafa.


Rana terdiam tak menjawab mendengar pertanyaannya sang Ayah. Dalam hati kecilnya dia tak dapat memungkiri dia memiliki kekaguman pada sosok Dokter Rafa.


"Sayang....ayah tahu kamu masih dilema dengan perasaan kamu sendiri. Tetapi kamu harus belajar untuk menutup rapat rasa kamu pada Dokter Rafa. Kamu memiliki banyak waktu untuk bisa memilih laki laki yang masih free." Ucap sang ayah sambil mengusap kepalanya Raina.


Raina makin terdiam tak mampu tuk menjawab kata kata sang ayah.


Sementara Rafa di dalam ruangan dinasnya sedang memeriksa pasien pasien yang lumayan banyak. Dia disibukan dengan keluhan keluhan dari pasien pasiennya.


Sekitar tiga jam lamanya Rafa berkutat dengan pekerjaan. Rafa berjalan menuju ruangan pribadinya untuk istirahat. Sejenak ada rasa kangen pada Karin.


Dia melihat ke arah ponsel yang terletak di atas bupet.


Karin yang telah selesai meeting merasakan ponselnya bergetar.


Wajah Karin berbinar melihat layar ponsel yang tertera nama suamiku.


"Assalamualaikum..."Karin langsung mengangkat ponselnya.


"Wa'alaikumsalam...hmmm....terdengar sudah kangen nih."


"Apa sih....langsung angkat langsung di ledek nih." Karin pura pura merajuk.


"Haha ....bukan begitu sayang aku dengar suara kamu beda banget . Kamu nungguin telepon aku ya? maaf telat ya teleponnya soalnya ini juga abis periksa banyak pasien baru selesai ."


"Kamu capek Raf ? "


"Dikit....tapi denger suara kamu capeknya ilang."


"Kamu Raf...modus saja. Sehat sehat ya....sudah makan belom ?"


"Ini baru mau pesan makanan, cuma akunya kepikiran kamu, kamu sudah makan siang?" Rafa terdengar perhatian.


"Aku baru selesai meeting Raf. Masih di ruangan meeting ini juga."


"Jangan telat makan dong..."


"Ia ini juga mau makan. Bareng makanya yu....sambil Vidio call an." Ajak Karin.


"Ok...nanti kalau maknanya sudah datang aku vidio call ya."

__ADS_1


"Ok... sekarang tutup dulu ya."


"Ga mau masih kangen." Rengek Rafa manja di ujung telepon.


"Rafa...stop dong modus terus..."


"Ih serius kamu ga percaya? mau aku buktiin?"


"Apa sih....ga perlu aku percaya banget. Oh ia jam berapa kamu sama Raina pergi ?"


"Kayanya abis makan siang deh....aku langsung pergi ga apa apa kan?"


"Ia....ga apa apa hati hati ya...jaga hati dan diri."


"Ia sayang insyaallah..."


"Ya sudah aku cari dulu makanan nih."


"Ga pesan saja?"


"Ga ah ....lagi pingin makan diluar ga apa apa kan?"


"Sama siapa kamu perginya Rin ?"


"Sam Sifa Raf...."


"Ok...berdua saja kan?"


"Ia berdua emang sama siapa lagi."


"Ok..."


"Cuma ok saja." Tanya Karin.


"Ia sayang ku istrinya Rafa aku izinkan kamu pergi makan siang...hati hati ya...kalau sudah siap makna telepon aku saja."


"Terima kasih suamiku atas izinnya."


"Kayanya ga cukup terima kasih saja nih, harus ada bayarannya."


"Apa sih ..." Karin tersipu malu di ujung telepon.


"Haha ...bayar ya nanti malam."


"Sudah ah ... assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Rafa menutup teleponnya dengan tertawa sangat nyaring karena senang menggoda Karin yang masih malu malu pada dirinya.


Sementara di sisi lain Karin pun tersenyum sambil melihat layar ponsel yang terdapat foto dirinya dan Rafa.


"Kamu selalu bikin aku bahagia Raf." Ucap Karin sambil mengusap wajah Rafa di ponselnya.


Sifa masuk ke dalam memperhatikan Karin yang berbicara sendiri sambil menatap foto Rafa.


"Dasar bucin terus..." Ucap Sifa dalam hatinya.


Lalu Sifa mendekati Karin. Karin tak menyadari kehadiran Sifa yang sudah berdiri agak lama di belakang dirinya.


"Hmmmm...hmmmm...." Sifa mengangetkan Karin.

__ADS_1


"Astagfirullah...Sifa kamu ngagetin aku saja."Lirik Karin pada Sifa.


__ADS_2