Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Cemburunya Karin


__ADS_3

"Dok...dua hari yang lalu ada perawat yang menyamar dia hendak membunuh saya Dok."Raina menangis karena mengingat kejadian yang membuat dirinya ketakutan.


"Jadi sebabnya kamu berpura pura histeris seperti ini."


"Deg .."Raina menatap Rafa dengan perasaan yang kacau dia tidak menyangka kalau Dokter Rafa akan peka seperti ini.


Raina menundukkan kepalanya dalam diam dia berharap Dokter Rafa tidak akan memarahi dirinya.


"Maaf Dok...aku hanya ingin Dokter datang.Jujur aku merasa aman kalau ada Dokter di sini." Jujur Raina pada Rafa.


Mendengar ucapan Raina jujur hati Karin makin merasa resah. Entah apa yang dipikirkan gadis itu sehingga bisa seberani itu mengatakannya pada Rafa.


Rasa resah Karin makin bertambah ketika melihat Rafa hanya tersenyum mendengar ucapannya Raina.


"Dokter...tolong saya, saya bersedia ikut sama Dokter kemana saja.Saya takut di sini kalau tidak ada Dokter." Jelas Raina.


"Kamu tenang Raina ...saya akan memperketat penjagaan untuk kamu." Dokter Rafa berusaha menenangkan.


"Maksud Dokter apa? apa benar ada orang orang yang menginginkan nyawa saya Dok?"


"Nanti akan ku jelaskan ! sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu.Saya akan keruangan saya ."


"Saya ...."Raina tidak melanjutkan perkataannya ketika baru sadar ada seorang perempuan di belakang Rafa.


Dia melihat Rafa tersenyum pada perempuan itu.


"Maaf Dokter dia siapa?" Tanya Raina dengan nada penasaran.


"Oh...ia perkenalkan ini istri saya." Rafa memperkenalkan Karin pada Raina.


Karin mengulurkan tangannya pada Raina.


"Saya Karin....senang bertemu dengan anda."Karin tersenyum.


Beda halnya dengan Raina mendengar ucapan Rafa kalau perempuan itu adalah istrinya dia merasa shock.


Uluran tangan Karin pun tidak segera Raina balas.


"Hay...kamu ok..." Tanya Karin mengangetkan Raina.


"Oh...ia ia...maaf saya Raina."Raina terlihat sekali dalam mode merenggut. Dia membalas uluran tangan Karin dengan rasa canggung.


"Ya sudah Raina ....kami permisi dulu ... sekarang kamu bisa beristirahat dengan tenang."


Rafa menggandeng tangan Karin dengan mesra keluar dari ruangan Raina.


Raina yang menatap itu terlihat sendu ada rasa ga rela dalam hatinya melihat Dokter yang sudah berjasa menolong dirinya ternyata telah memiliki seorang pendamping.


Sementara Karin dan Rafa masuk keruangan Rafa di dalam sana terdapat ruangan khusus untuk Rafa untuk beristirahat.

__ADS_1


"Rin....kamu istirahat dulu di ruangan aku. Kamu pasti capek."Rafa terlihat perhatian pada Karin.


Karin hanya merespon ucapan Rafa dengan anggukan kepalanya.


Melihat istrinya yang berubah menjadi pendiam Rafa mendekat ingin memeluk Karin.


"Hay...kamu kenapa?"


Karin bukanya menjawab dia malah melepas pelukannya Rafa.


"Lepasin aku Raf..."Karin berlalu menuju tempat pribadi Rafa.


Rafa mengikuti Karin masuk.


"Kamu kenapa Rin...ko jadi gitu sih sama aku.Aku salah apa?"


Karin mendelik pada Rafa.


..."Apa barusan dia bilang aku salah apa? ga sadar apa kalau aku lagi cemburu"...


Batin Karin mendramatisir sendiri.


Rafa kembali mendekati Karin dia hendak memeluk sang istri yang dia tidak mengerti kenapa sang istri menjadi merajuk seperti ini.


"Raf ...kata aku jangan peluk peluk ..lebih baik kamu bersih bersih baju kamu bau parfum wanita lain."


Ucapan Karin membuat Rafa baru sadar ternyata istrinya itu merajuk karena cemburu.


"Ada yang lucu pake ketawa seperti itu?" Tanya Karin semakin kesal.


"Ok....aku nurut nih mau kamu sebentar ya aku mandi dulu." Rafa bergegas menuju kamar mandi.


Setelah beberapa lama membersihkan diri Rafa terlihat segar.Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggang.


Rafa mendekati Karin.


"Pakai baju Raf....ini di rumah sakit Raf...." Tegur Karin merasa ga nyaman.


"Kamu lupa ya ini kan ruang pribadi aku ga akan ada yang berani masuk kalau aku tidak mengizinkannya."Rafa kembali mengingatkan Karin.


Karin hanya diam saja mendengar ucapannya Rafa.


Rafa hendak memeluk Karin tapi lagi lagi Karin menghindar.


Karin masih merasa kesal pada Rafa.


"Astagfirullah....Karin...sudah dong....jangan bersikap seperti ini. Aku kan ga salah apa apa." Rafa mencoba membujuk Karin.


"Ga salah apa apa? terus apa tadi kelihatannya nyaman nyaman saja tuh di peluk sama dia." Karin mengungkap rasa kesalnya.

__ADS_1


"Nyaman....bagaimana sih? yang bikin aku nyaman itu cuma kamu."


"Oh....ya....tapi tadi sepertinya kamu ga gitu."


"Astagfirullah...Karin. "


"Sebenarnya ada hubungan apa sih kamu sama yang namanya Raina itu, ko aku melihat dia menatap kamu beda banget?"


"Ga ada hubungan apa apa Rin...aku hanya membantunya. Bukan kah kemarin sudah aku jelaskan ya." Jujur Rafa.


"Ia sudah kamu jelaskan tetapi aku ga nyangka kamu Deket banget seperti itu." Karin masih terlihat kesal.


"Ya sudah sekarang mau kamu apa? Apa aku batalin saja niat aku buat bantu dia. Aku ga mau karena aku bantu dia kamu menjadi salah paham seperti ini."


Rafa mencoba mencari solusi.


Mendengar ucapannya Rafa Karin terdiam.Dia menjadi bingung sendiri. Jujur dia merasa cemas dengan sikap Raina pada Rafa yang sepertinya menaruh perasaan. Tetapi di sisi lain naluri sebagai manusia merasa tidak tega .Apa lagi dia tahu nyawa Raina pun menjadi incaran sekarang.


Rasanya ga adil banget mengedepankan egoisnya ini.


"Kamu benar kan ga ada hubungan apa apa dengan dia?"Tanya Karin penuh ketegasan.


"Ya ampun....bener Rin...aku hanya berniat membantunya saja. Sekarang semuanya atas izin dari kamu. Semua terserah sama kamu Rin.Aku hanya berharap kamu bisa percaya sama aku.Aku hanya cinta dan sayang sama kamu Rin."


Mendengar ucapannya Rafa Karin menekan rasa egonya yang menggebu.


"Ok...kalau begitu aku ijinkan kamu menolongnya tapi tolong jaga diri kamu jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi." Pinta Karin dengan nada sendu.


"Ia istriku ...terima kasih. Aku tahu kamu ga mungkin tega tidak menolong orang yang lagi kesusahan. Karena hati istriku ini sesungguhnya lembut sekali ."


Rafa memeluk istrinya yang kini hanya diam mendapatkan pelukan dari Rafa.


"Pakai baju Raf....nanti masuk angin." Lirih Karin lembut.


"Sini kasih dulu vitamin aku." Pinta Rafa pada Karin menarik Karin ke pangkuannya.


Karin hanya bisa pasrah saat sang suami menjalankan aksinya.Dia menerima ciuman Rafa yang menuntut untuk dibalas.


"Raf...."Lirih Karin menghentikan tangan Rafa yang menjalar.


"Haha....: "Rafa beranjak dari tempat duduk setelah berhasil menggoda istrinya.


"Terima kasih sayang. Untuk mengerti posisiku."


Karin tersenyum pada Rafa.Kemudian membawakan baju ganti untuk Rafa.


"Tolong dong."


"Astagfirullah...kamu bisa pakai baju sendiri kan?"

__ADS_1


"Pingin sama kamu ."Nada suara Rafa terdengar manja.


"Kamu Raf...kaya anak kecil saja." Walaupun mulut ngomel tetapi tangan Karin dengan telaten mengikuti kemauan Rafa.


__ADS_2