
"Nak Karin..."
Seketika Karin dan Rafa menoleh ke asal suara , netra Karin awas menyorot seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arahnya.
"Kamu kenal Rin ?" Rafa melirik ke arah Karin.
Karin hanya mampu menganggukan kepalanya saja.
"Nak Karin lagi apa di sini ?" ucap wanita yang tak lain adalah bundanya Adit.
"Assalamualaikum bun, " Karin mengulurkan tangannya memberi salam pada bunda Adit.
Melihat Karin memberi salam Rafa pun reflek mengikuti Karin.
Mata bunda memperhatikan Rafa.
"Pria yang bersama Karin ini siapa ?" dalam benak bunda bertanya sendiri.
"Oh...ini bun Karin lagi menjenguk temen sama nenek nya Rafa" ucap Karin menjawab pertanyaan dari bunda tadi.
"Kalau bunda lagi apa di sini? apa bunda sakit..?"Karin balik bertanya pada bunda.
"Ga..sayang , bunda lagi konsul aja..."
"Konsul apa bun ?"Karin penasaran.
Tapi bunda hanya terdiam , melihat Karin dengan tatapan penuh makna, kemudian beralih menatap ke arah Rafa.
"Andai saja pria ini tidak ada disini rasanya aku sudah ingin mengatakan kalau Adit lah yang konsul sekarang" ucap hati bunda.
Rasanya beban yang selama ini di rasa berat akan berkurang , dengan bercerita pada Karin.
"Bun, kenapa..?" Karin yang melihat mata bunda yang berkaca kaca mendekati dan merangkul bunda .
"Ga..apa apa Rin ? bunda hanya kangen aja udah lama ga ketemu sama Karin." Bunda mengalihkan fokus pembicaraan.
Karin tersenyum .
"Maaf ya bun, Karin sama sekali ga berniat memutus silaturahmi"
"Ia...nanti kapan kapan main ya...,bunda seneng kalau Karin bisa main ke rumah ." Ucap bunda sendu.
"Insyaallah....ya bun"
"Ehmmm..." Rafa mengagetkan kedua perempuan itu.
"Maaf Rin boleh kita pergi sekarang soalnya udah sore, takut ibu kamu nanti nyariin"
"Ia Raf.."Karin melihat bunda Adit.
"Bun..Karin sama Rafa pamit dulu ya...kapan kapan ngobrolnya dilanjut lagi ."
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam..." ucap bunda disertai tatapan nanar begitu Rafa dan Karin berlalu.
Sebagai seorang ibu , bunda melihat jelas Karin sudah melupakan perasaannya pada anaknya Adit.
Walaupun bunda tidak menyalahkan Karin , tapi bunda sangat menyayangkan berakhirnya hubungan anaknya Adit dan Karin .
Keadaan Adit yang semakin sini semakin tidak terkontrol, dia selalu mabuk mabukan dan yang lebih dari itu tidak mau mencari kerja, dan tak mau mendengarkan perkataan dirinya. kesibukan Adit sekarang hanya bermain cinta dan mabuk, membuat bunda pergi ke konsultan.
Air mata lolos dari pipinya, sebagai seorang ibu dia ingin yang terbaik buat anaknya.
Sebelum menaiki motornya seperti biasa Rafa selalu memakaikan helm ke kepala Karin.
"Siapa bunda itu Rin..?" Rafa bertanya sambil tangannya memakaikan helm ke kepala Karin.
"Bundanya mantan Raf..!"
__ADS_1
Tangan Rafa terhenti dan matanya menyorot Karin.
"Apa...Rin? berapa banyak sih mantan nya kamu?" Rafa menatap Karin penuh tanya.
"Ih..ko ngomongnya gitu sih..!"
"Abisnya ketemu orang ini bunda mantan , ketemu orang ini ternyata orang yang suka sama kamu, rasanya duniaku sempit "
"Haha ....udah dong jangan ledekin terus , tapi satu hal yang harus kamu pahami ....saat aku menyatakan cinta sama kamu.Aku ga terikat dalam suatu hubungan sama orang lain."
"Alias aku lagi jomblo..."
Karin berkata sambil mencubit pelan pipi kanan kiri Rafa.Jujur Karin merasa gemes dengan mode Rafa yang berubah.
"Yakin...?" Rafa menajamkan kata.
"Yakin lah..udah ya Raf...percaya sama aku..." ucap Karin, dia males berdebat lagi.
Rafa menarik gas motornya agak kencang, mungkin karena suasana hati yang lagi berubah.
"Ckitt..." Rafa menarik rem di tangannya.
Tubuh Karin terbentur ke punggung Rafa.
"Astagfirullah..." ucap keduanya.
Kamu ga apa apa Rin ? Rafa melirik ke belakang.
"Ga apa Raf.. emang tadi ada apa pakai ngerem mendadak segala?"
"Tuh.." Rafa menunjuk seorang anak kecil yang berlari masuk ke arah gang kecil.
"Dia main nyebrang ga liat kanan kiri."
"Ya...udah kita jalan lagi yu...tapi kamu hati hati jalanin motornya."
"Bismillah..."
Angin sepoi sepoi menerpa wajah keduanya.
"Rin .."
"Kita kan udah komitmen tadi ya..."
"Kalau kita akan ..."
Rafa tidak melanjutkan lagi omongannya.
"Ia Raf...kamu percaya sama aku ya...setelah kita lulus dengan nilai bagus kita akan tetap bersama, melanjutkan kisah ini , semoga yang kuasa tidak berkehendak lain"
"Aku sangat sayang sama kamu Raf."
Karin memegang tangan Rafa , ingin ia menyandarkan tubuhnya ke punggung Rafa tapi urung Karin lakukan karena takut memancing nafsu yang lebih.
Karin menyadari kecemasan Rafa .
Mendengar Karin berbicara seperti itu membuat hati Rafa sedikit merasa lega.
Sampai di rumah Karin ,Rafa memasukan motor ke pekarangan rumah Karin .
Terlihat ibu yang lagi menyiram tanaman.
Ibu tersenyum melihat kedatangan Karin dan Rafa.
Setelah memastikan Karin turun dengan benar Rafa pun segera menghampiri ibu.
"Assalamualaikum..." tutur Rafa sambil mengecup tangan ibu.
"Makasih bu, sudah mengijinkan Karin buat pergi sama aku dan nengok nenek"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam...nak Rafa"
"Gimana keadaan nenek sekarang nak Rafa?"
"Alhamdulilah sudah mulai membaik bu"
"Salam ya dari ibu, semoga cepat sembuh".
"Ia...bu nanti Rafa sampaikan "
"Nak Rafa masuk dulu !"
"Ibu udah masak lo..."
"Ga usah bu, Rafa mau pulang , mau bersih bersih "
"Ya..udah kalau mau pulang mah, ibu kedalam dulu ya.."
Ibu beranjak masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau langsung pulang Raf...?"
"Ia Rin, ga enak badan aku gerah"
"Oh..."
"Boleh kan aku pulang ?"
"Boleh lah masa ga boleh.."
"Awas nanti kangen."
Rafa mengedipkan kedua alisnya .
"Ih..udah deh jangan mulai.. "
"Haha..., ya udah pulang dulu ya.."
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam..." Karin melambaikan tangannya ke arah Rafa.
Tangan Rafa seolah menangkap lambaian tangan Karin , dan memasukannya ke saku jaketnya.
"Udah ku simpan Rin"
"Apa sih, kamu ga jelas deh." Karin tersipu malu.
Kamu tahu Rafa hari hariku bahagia bersama mu, aku sangat berharap impian kita akan jadi nyata, dan Tuhan memberikan ridho Nya pada kita.
Jangan pernah lagi kamu ragukan aku Raf.
Karena cintaku untukmu tulus.
Karin memandangi kepergian Rafa dengan hati yang terus berbicara. Sampai Rafa tidak kelihatan lagi .Karin tetap di sana.
"Masuk..Rin.., bersih bersih dulu udah sore."
Suara ibu menarik Karin dari lamunannya.
"Eh...ia bu.."
Karin segera masuk ke kamar nya hendak membersihkan diri .
Karin mengambil handuk yang tergantung di sana, melangkah dengan hati yang penuh bunga, ritual mandi yang mengasikan tentunya Karin lewati, dengan senyuman yang tak kunjung hilang dari bibirnya.
Karin melangkah keluar dari kamar mandi dengan muka yang sangat segar sekali.
"Kring..Kring..."
__ADS_1
Suara telepon mengagetkan Karin yang hendak melangkah ke meja rias.
Karin mengambil ponsel dari tasnya, dan dia kaget melihat nama orang yang menelepon.