Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Kangen


__ADS_3

"Deg...!"


Hati Karin seketika bergetar mendengar ucapannya Rafa pada Tuan Hamdan.


Ada rasa percaya dan tidak dengan apa yang dia dengar tadi.


Rafa berbalik ke arah Karin setelah memberi peringatan tadi.


Rafa semakin merasa cemas melihat Karin menatap kosong ke arahnya.


"Hey...Rin ." Rafa mengusap wajah Karin.


Karin 'pun tersentak."Eh ia....ia..." Karin menjadi salah tingkah.


Tuan Hamdan meringis memegangi bibirnya yang berdarah.Dia memperhatikan Karin dan Rafa.


"Hey kamu, saya tidak terima dengan perlakuan kamu terhadap saya ! lihat saja saya akan menuntut anda !" Teriak Tuan Hamdan.


Karin dan Rafa berbalik mendengar teriakan Tuan Hamdan.


"Saya tunggu !" jawab Rafa santai.


Sifa yang dari tadi terdiam di pojok , dia gemetar melihat kejadian yang barusan terjadi.


Dia merasa sangat bersalah karena kejadian ini akibat dirinya.


Sifa menangis dipojok.Seketika Karin dan Rafa yang baru tersadar segera menghampiri Sifa.


"Sifa , sudah dong kamu jangan menangis." Bujuk Karin pada Sifa.


"Tapi Rin, semuanya karena aku, kamu dan Rafa dapat masalah gara gara aku !" Sifa semakin terisak.


"Tidak Sif, Tuan Hamdan orang yang brengsek, dia pantas di perlakukan seperti tadi biar dia berpikir." Jawab Karin.


"Tapi Rin, kamu kehilangan partner besar sekarang karena aku." Sifa menatap Karin.


"Semuanya tak lebih berarti dari persahabatan kita Sifa.Lagian Tuhan akan menggantikan nya lebih lagi."Tegas Karin pada Sifa.


"Aamiin." Sifa melihat manik mata Karin.Kemudian dia memeluk Karin."Terimakasih Rin kamu selalu ada untuk aku."


Rafa melihat kedekatan antara dua sahabat 'pun makin merasa terharu.


"Aku di lupain 'nih ceritanya?" Canda Rafa pada keduanya.


Seketika Karin dan Sifa tersenyum.


"Ayo Rin, kita anterin Sifa pulang.Sepertinya hari ini Sifa harus istirahat." Ajak Rafa pada Karin.


"Ga usah ." Sifa menggelengkan kepalanya karena merasa ga enak.


Tapi tiba tiba Karin menarik Sifa."Ayo Raf."

__ADS_1


Mereka akhirnya pergi.


Rafa sebelumnya menghubungi orang suruhannya untuk mengurus Tuan Hamdan.Sekaligus mengamankan sisi tv.Berjaga jaga akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.Karena Rafa tak ingin hal buruk menimpa Karin.


Setelah mengantar Sifa kini tinggal Karin dan Rafa.Mereka sekarang seperti orang asing.Terlihat Karin sangat kaku.


Karin masih di posisi yang tidak mau banyak berharap.Sementara Rafa di posisi yang tidak mengerti akan perubahan sikap Karin.Dia sekarang sungguh takut akan salah ucap lagi.Yang bisa menyebabkan Karin nantinya semakin ga nyaman kalau dengannya.


Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya Karin membuka suara.


"Terima kasih Raf, karena kamu sudah menolong aku." Karin melihat ke arah Rafa.


Rafa yang tadinya fokus menyetir kemudian membalas menatap Karin.Sejenak pandangan mereka bertemu dan seperti biasanya debaran kuat itu selalu membuat jantung mereka berlomba disaat netra keduanya bertemu.


Cepat cepat Karin memalingkan wajahnya kemudian melihat ke depan.Rafa pun kembali fokus menyetir.


"Kamu ga usah berterima kasih padaku Rin, aku sudah ingin memukulnya dari tadi sebelum kejadian itu ."


"Maksud kamu apa?" Karin tak mengerti.


"Aku ga nyaman melihat cara dia melihatmu cara dia memperlakukan kamu dari awal !" Tegas Rafa terselip nada cemburu.


"Kamu dari tadi di sana." Karin pura pura tidak tahu.


Rafa tersenyum."Kamu tahu dari tadi aku ada di sana, aku menunggu mu."


Karin mendadak grogi."Maaf !"


"Lagian ya Rin, aku ga mau kamu deket deket orang seperti dia !" Tegas Rafa pada Karin.


"Ih ko kamu jadi ngatur aku 'sih Raf? ingat ya Raf, kamu bukan siapa siapa aku." Tegas Karin.


Seketika Rafa membelokan mobilnya ke tepi jalan.Dia berhenti di sana.


Karin yang merasa aneh."Ko berhenti 'sih?"


Rafa masih terdiam kemudian dia melihat Karin.


"Rin, apa ga ada lagi rasa kamu buat aku , apa ga ada lagi cinta kamu buat aku Rin?"Rafa menatap Karin.


Karin hanya diam saja.Dia merasa kelu untuk berucap.


"Rin apa kamu ga mau nerima aku lagi buat jadi pacar kamu?"


Akhirnya dengan suara berat Karin menjawab.


"Maaf Raf, aku telah menghapus pacaran dalam hidupku."


Setelah itu Karin turun dari mobil Rafa dan beralih pada taxi yang kebetulan lewat .Karin tidak memperdulikan lagi teriakan Rafa.


Rafa hanya diam saja melihat Karin pergi.Sejenak dia termenung penuh dengan pertanyaan.

__ADS_1


Sementara di dalam taxi Karin menggerutu.


"Tadi saja sama Tuan Hamdan bisa tegas , sekarang giliran sama aku kamu ngajak nya pacaran lagi pacaran lagi."


Sopir taxi melihat Karin."Kenapa neng berantem ya sama pacarnya?" Sang sopir


mendadak kepo.


"Dia bukan pacar saya pak!" Semprot Karin membuat sopir taxi itu terdiam.


Sementara Rafa terdiam di dalam mobil merenungi semua ucapan Karin.


"Menghapus kata pacaran ? apa coba maksudnya?"


Tiba tiba telepon Rafa berdering.Rafa melihat panggilan dari siapa ternyata dari asistennya Rafa.


"Assalamualaikum, ya ada apa?" ucap Rafa begitu menjawab telepon dari asistennya.


"Wa'alaikumsalam, Maaf Dok, disini ada pasien gawat darurat yang ga bisa kami tangani."Ucap asistennya.


"Ya saya akan segera ke sana kirim kan saja rekap medisnya." Tegas Rafa.


Dengan terpaksa Rafa harus meninggalkan kota A sekarang karena keadaan mendesak seperti ini, meskipun dia merasa belum selesai masalah nya dengan Karin.


"Kamu harus tunggu aku Rin."Ucap Rafa sambil menjalankan mobilnya.


****Seminggu telah berlalu Rafa masih disibukan dengan para pasien nya.


Sementara Karin kini harap harap cemas.Sebenarnya beragam pertanyaan ada di kepalanya sekarang.


"Apa Rafa marah padanya atau Rafa memang ingin menghindar darinya."


Karin kini dilema sendiri tak dapat dia pungkiri sekarang rasa kangen itu menguasai hati dan pikirannya.


"Rin kamu kenapa ?" Ibu yang memperhatikan anaknya seperti kurang semangat.


"Tidak Bu." Kali ini Karin memilih menyembunyikan perasaan hatinya.


"Sayang kamu ga bisa bohong, Ibu tahu anak ibu ini sekarang lagi ada masalah."


Tebakan Ibu memang selalu benar.


"Apa masalah nya di kerjaan?" Tanya Ibu meneliti.


Karin hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu ada apa sayang?"


Tetapi Karin lebih memilih diam saja.Dia bener bener tidak mengerti yang diinginkan oleh hati dan pikiran yang bertolak belakang.


Ibu kembali meneliti Karin.Dia cukup paham ada hal yang perlu di bicarakan dan ada hal yang ga harus di ungkapkan.Akhirnya Ibu cuma memeluk Karin.Sambil mengelus kepala Karin Ibu berkata."Setiap orang pasti ada masalah , tetapi jika terlalu sulit untuk memutuskan atau apapun itu sabar dan solat 'lah untuk mencari jalan keluar yang terbaik dan nantinya hati Karin akan tenang."

__ADS_1


"Ibu...."


__ADS_2