
Disebuah restoran bintang lima kini Karin dan Rafa berada.
Sebelumnya Rafa sudah memesan tempat khusus untuk mereka berdua.Tempat itu sengaja Rafa dekorasi dulu untuk membuat kejutan untuk Karin.
"Raf....sampai kapan 'sih ditutup? " Karin yang matanya ditutup oleh Rafa kini digandeng Rafa menuju meja.
"Bentar lagi Rin." Ucap Rafa sambil tersenyum.
"Kamu nanti jangan aneh aneh ya." Curiga Karin.
"Aku ga aneh aneh ko, aku anehnya cuma satu, yaitu kamu !" Ucap Rafa penuh penekanan berbisik di telinga Karin.
Karin menyikut perut Rafa pelan, tanda dia lagi gemas.
Rafa terus menggandeng Karin sampai pada tempat yang di tuju.
"Ko berhenti Raf? sudah sampai ya?" Tanya Karin penasaran.
Rafa membuka pelan ikatan yang di gunakan untuk menutupi mata Karin.
Karin membuka matanya pelan pelan dan begitu mata Karin terbuka.Karin di disuguhkan dengan pemandangan sebuket bunga cantik yang dipersembahkan Rafa kepadanya.
"Cantik banget bunganya terima kasih." Karin mengambil bunga pemberian Rafa dengan senyuman menghiasi bibir mungil nya.
Setelah bunga itu diambil terlihat ruangan yang di dekor indah dan makanan yang terlihat tertata rapi.Tak kalah pemandangannya yang indah membuat Karin sedikit termenung.
"Hai..." Rafa mengagetkan Karin.
"Kamu suka Rin ?" Rafa bertanya pada Karin.
"Raf...kamu yang menyiapkan kejutan ini?" Tanya Karin dengan penuh rasa haru.
"Ini untuk pacar dunia dan akhiratku Karin Anastasya !" Ucap Rafa dengan nada penuh keyakinan.
"Terimakasih Raf...." Karin sudah berkaca kaca.Bagaimana tidak ini adalah hal pertama dalam hidupnya diperlakukan spesial seperti ini.
"Ih...ko malah mau nangis 'sih, ini 'kan kencan kita, pacar!" Rafa berkedip menggoda.
Karin terkekeh mendengar ucapannya Rafa.
"Kamu tuh istimewa buat hidupku, ini adalah permulaan untuk kita dan untuk seterusnya aku ingin selalu melihatmu tersenyum dan bahagia seperti ini." Rafa berkata sambil memeluk Karin dari belakang.
Karin membalikan tubuhnya menghadap Rafa.
"Raf...aku sangat bahagia sekali. Kamu selalu bisa membuat aku seperti satu satunya perempuan di dunia ini."Ucap Karin penuh haru.
"Kamu salah Rin, kamu bukan perempuan satu satunya dalam hidup aku."
Sontak ucapannya Rafa membuat Karin menatap Rafa penuh arti.
"Maksud kamu apa Raf?" Karin terlihat merenggut.
__ADS_1
"Kan ada Bunda ada Nenek ada Ibu mereka juga berarti dalam hidup aku."Ucap Rafa sambil berkedip nakal.
"Ih...kirain." Karin kembali tersenyum.
"Jangan pernah berpikir lain Rin, kamu satu satunya perempuan yang selalu mengisi ini." Rafa menunjukan dadanya.
Mendengar hal itu Karin tanpa ragu memeluk Rafa erat.
"Aku harus melakukan apa biar kamu bisa merasa bahagia hidup bersamaku?"
"Cukup menjadi Istri yang sholehah untukku dan Ibu yang baik buat anak anak kita nantinya." Ucap Rafa sambil mencium kening Karin.
Keduanya saling berpelukan mesra.Kebahagiaan yang seakan baru dimulai ini seakan membuat hidup keduanya terlihat sangat sempurna.
Rafa menggandeng Karin menuju meja dia membuka kan satu kursi untuk Karin.
"Silahkan duduk bidadariku." Rafa tersenyum pada Karin.
"Terima kasih."
"Ayo makan Rin, lihat semuanya menu kesukaan mu."
" Ko kamu bisa tahu 'sih ? Karin meneliti semua makanan yang di hidangkan adalah makanan kesukaan ya.
"Kamu masih nanya sama aku kenapa aku bisa tahu? Karin....Karin semua tentang kamu aku tahu ." Ucap Rafa penuh rasa percaya diri tinggi.
"Oh...ya, aku tidak percaya? Ada buktinya tidak?" Ucap Karin menantang Rafa.
"Sini aku bisikan." Rafa mendekati Karin.
"Aku tahu di paha sebelah kanan ada tahi lalat yang ukuran ya lumayan sedang." Rafa tersenyum penuh arti pada Karin.
"Apa? dari mana kamu tahu?" Karin seakan tak percaya. Pasalnya sampai sekarang semua orang ga ada yang tahu selain Ibunya.
"Ih ...kamu Rin masih nanya saja, aku 'kan tadi sudah bilang semua tentang kamu aku tahu."
"Ih ga bisa gitu dong, kamu ngintip aku ya." Karin merasa ga terima.
"Ga lah kamu sendiri yang memperlihatkan nya."
"Ih kapan? perasaan ..."Karin terlihat berpikir.
"Sudah ga usah di bahas.Toh nantinya juga luar dalam kamu aku akan tahu." Ucap Rafa terlihat enteng.
Mendengar ucapannya Rafa Karin terdiam wajahnya kini seperti kepiting rebus memanas dan merah.
Melihat itu Rafa hanya tersenyum.
"Ayo kita makan dulu...aku sudah lapar 'nih." Ucap Rafa mengalihkan topik pembicaraannya.
"Ia..."
__ADS_1
Mereka makan bersama disela sela makan Rafa melihat Karin.
"Kenapa liatin saja katanya lapar."
"Kamu Rin ga peka banget ya?"
"Peka? apanya 'sih aku ga ngerti?"Karin terlihat tak mengerti maksudnya Rafa.
"Dari tadi aku ingin di suapin kamu, kayanya makan di piring kamu enak banget." Rafa terlihat modus.
"Oh bilang dong dari tadi kalau mau disuapin." Karin tersenyum melihat tingkah manja Rafa.
"Lain kali kamu harus lebih peka ya sama kode kodenya aku." Rafa berbicara sambil menerima suapan dari Karin.
"Kode kode...berarti banyak dong, hah aku harus belajar banyak ini mah."
"Itu pasti...soalnya mulai sekarang kalau makan aku maunya disuapin kamu, tentunya kalau kamu ga lagi repot." Rafa mengedipkan mata nakalnya.
"Ih manja nya, aku berasa punya bayi gede dong."Ucap Karin merasa geli sendiri.
"Aku ingin selalu menghabiskan waktu bersama kamu Rin." Manja Rafa.
Suapan demi suapan kini Karin berikan pada Rafa.Begitu 'pun Rafa dengan telaten dia menyuapi Karin.Walau sempat Karin menolaknya tapi Rafa memaksanya.
"Aku ga terbiasa di suapi Raf." Ucap Karin.
"Mulai hari ini kamu harus terbiasa akan hadirnya aku." Ucap Rafa menegaskan.
"Nanti aku ketergantungan sama kehadiran kamu gimana?" Karin merasa kalau sikap Rafa seperti ini dia akan merasa sangat tergantung nantinya pada Rafa.
"Justru itu yang ingin aku rasakan, Karin yang sangat mandiri akan selalu menginginkan Rafa untuk berada terus di sampingnya.Karena asal kamu tahu ya Rin, aku selalu ingin merasakan manjanya kamu sama aku."
"Rafa...kamu ada ada saja,orang mah mau istrinya mandiri tapi kamu malah mau istrinya manja.Nanti kamu repot lo." Goda Karin. Walaupun tak dapat Karin sembunyikan dia merasa bahagia dengan ucapannya Rafa barusan.
"Justru itu bedanya Rafa dengan yang lain."
Rafa menjawab Karin dengan menatap dalam manik mata yang penuh binar kebahagiaan itu.
"Terima kasih Raf, selalu membuat aku melayang dengan kebahagian."
"Itu kewajiban ku Karin." Rafa menggenggam tangannya Karin.
Karin tersipu malu dengan perlakuan Rafa.
Tak terasa isi di piring makan mereka telah berpindah semua ke perut mereka.
"Kamu sudah kenyang Rin?" Tanya Rafa.
"Sudah kenyang alhamdulillah, lahir dan batin kenyang." Ucap Karin.
"Alhamdulillah..."
__ADS_1