
Hati Karin merasa ga nyaman dengan ucapannya Rafa ada semacam rasa yang entahlah sangat sulit untuk di jelaskan.
Karin memutar mata jengahnya pada Rafa.
Ini untuk yang pertama kalinya Karin merasa kesal pada Rafa.
Tapi meskipun Karin merasa kesal dia tetap menjelaskan kejadian yang tadi terjadi di tempat konsultasinya Adit.
Rafa yang mendengarnya merasa semakin khawatir, " berarti kemungkinan kamu akan menemani Adit sampai dia sembuh, tapi bagaimana kalau dia tidak sembuh?"
Pertanyaan dari Rafa membuat Karin menatap lama wajah pria yang sangat dikaguminya itu.
"Kamu ga baik Raf ngomong seperti itu!" Tekan Karin pada Rafa.
"Rin .." lirih Rafa.
"Stop Raf ..hentikan semua ini ! kamu ga percaya sama aku? lantas apa yang kemarin kamu ucapkan, komitmen hubungan kita sekarang kemana?"
"Kamu salah sangka Rin, maksud aku tidak seperti itu!"
Karin memalingkan mukanya.
"Mana katanya kamu akan selalu percaya dan mendukung aku, tapi sekarang kamu malah seperti orang yang sangat cemburu."Ucap Karin penuh dengan rasa kesal.
Rafa tersenyum menatap Karin, "untuk dirimu aku sangatlah percaya Karin, tapi__ aku ga bisa mengabaikan kejadian di malam itu."
"Terus kamu pikir aku___." Karin merasa bingung harus bagaimana dalam berucap.
"Rin..."Lirih Rafa.
"Sudahlah Raf, aku capek aku mau istirahat! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Rafa.
Rafa memperhatikan Karin yang begitu saja masuk ke dalam rumahnya.
Setelah melihat Karin menghilang di balik pintu Rafa langsung pergi.
Sementara Karin mengintip di balik gordennya.
Dia mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Aku butuh di mengerti Raf, kenapa kamu bersikap seperti itu? aku hanya ingin menolong Bundanya Adit ga lebih."
Karin melangkah kakinya masuk ke kamarnya sambil terus mencerna kejadian yang barusan terjadi.
"Apa aku bersikap terlalu egois ya?"Karin merasa sangat dilema sekarang.
Sementara Rafa menjalankan motornya sangat lambat sekali karena mendengar suara adzan berkumandang dia singgah dulu di sebuah mesjid untuk menunaikan ibadah sholat.
Rafa mencari ketenangan dalam sujudnya.Meminta sebuah petunjuk pada sang Maha Kuasa.
Selesai menunaikan sholat niat hati Rafa ingin pulang tapi baru saja di menginjakan kakinya di teras luar masjid netra Rafa menangkap seseorang yang tidak asing di pojok mesjid.
"Dini ?"
__ADS_1
Rafa menghampiri Dini yang duduk di pojokan sana.Terlihat sekali dia seperti orang bingung.
"Din kamu sedang apa ?" tanya Rafa pada Dini.
Sontak Dini menoleh pada Rafa.
Melihat Rafa dia langsung berdiri niat hatinya ingin menghindar.
"Tunggu...!" Tegas Rafa menghentikan langkah Dini.
Tapi Dini tetap saja berjalan tak menghiraukan seruan dari Rafa sehingga Rafa mengejarnya.
"Din , aku mohon tunggu dulu, aku ingin sekali bicara sama kamu."
Akhirnya karena Rafa terus saja mengikuti langkahnya Dini berhenti .
"Apa 'sih kenapa terus saja kamu mengikuti aku ? aku risi tahu melihat kamu disini."
"Aku mohon Din, aku mau bicara sama kamu."
"Ya sudah kamu mau bicara apa sama aku?' Akhirnya Dini mengalah dan melangkahkan kaki menuju bangku yang tak jauh dari sana.
Ketika mereka sudah duduk berdua. Rafa menarik napas sangat dalam karena dia menyadari hal yang akan ditanyakan pada Dini mungkin hal yang sangatlah pribadi.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau apa yang ingin aku tanyakan akan membuat kamu tidak nyaman."
Dini menatap Rafa." Ga usah basa basi ngomong saja langsung !"
"Sejauh mana hubungan kamu dengan Adit ?"
"Ga ada urusannya kali sama kamu, aku ga ada kewajiban untuk menjawabnya." Ketus Dini.
"Kamu benar hubungan kamu dengan Adit memang tidak ada urusannya dengan ku, tapi Adit melibatkan Karin dalam urusanya , sementara Karin terhubung denganku !" Tegas Rafa.
Mendengar nama Karin , Dini meras semakin kesal."Lagi lagi Karin, kenapa dia ga menghilang saja dari dunia ini."
"Jaga bicaramu Dini !" Teriak Rafa.
Dini menatap tajam Rafa, "kamu adalah orang yang akan merasakan bucin akut kedua setelah Adit." Dini berucap asal.
"Kamu akan mengalami nasib yang sama seperti Adit setelah di tinggal Karin."
"Kamu sepertinya sangat membenci Karin, Din?"
"Haha...aku sangat benci dia , dia membuat hidupku berantakan."
"Kamu salah Din, bukan Karin yang membuat hidupmu berantakan tapi dirimu sendiri dan juga Adit yang sudah membuat hidupmu sangat dan sangat berantakan."Tekan Rafa pada Dini.
"Maksud kamu apa?"
"Aku tahu semuanya Din, aku melihat malam itu kamu dan Adit ___."
"Stop ! jangan diteruskan." Dini menjeda ucapan Rafa.
Dia terisak dalam kemarahannya.
__ADS_1
"Din aku ga berniat untuk membuatmu malu tapi aku minta kamu jangan biarkan Karin mengalami nasib yang sama seperti dirimu."
"Maksud kamu apa?"
"Jauhkan Karin dari Adit!"
"Tapi aku tidak mampu ?"
"Kamu mampu Din, kamu perjuangin hak kamu yang sudah direnggut Adit ."
"Tapi ___."
"Bangkit Din ....!"Rafa menyemangati Dini.
Dini melihat ke arah Rafa.
"Kenapa Karin selalu beruntung di kelilingi sama orang orang yang sayang sama dia sedangkan aku?"
Kini air mata Dini sudah tak tertahankan lagi.Dia terisak dalam pilu.
"Aku takut Din , Adit akan berbuat hal yang nekad pada Karin aku ga bisa membayangkannya, sementara sekarang posisi Karin yang sudah menyatakan kesiapannya pada Bundanya Adit dalam membantu Adit, akan terus membuat dia semakin dekat dengan Karin." Sambil berkata pandangan Rafa menatap lurus ke depan .
"Aku mengerti !" Tegas Dini.
"Aku mohon bantu aku."
"Ya aku akan berusaha mendekati Adit dan Bundanya, tapi kamu harus ingat aku melakukan semua ini bukan untuk Karin tapi untuk diriku sendiri.
"Terserah kamu !" Tegas Rafa .
Tanpa mereka sadari Adit yang berada di tempat itu mendengar percakapan antara Dini dan Rafa.
Sebenarnya Adit berniat mencari Dini dan setelah menemukan lokasi Dini berada dari GPS HP Dini yang tersambung ke HP Adit dia bergegas ke lokasi.
Tapi tanpa diduga Adit menemukan Dini dan Rafa yang sedang berbicara.
Mendengar ucapan Rafa pada Dini, Adit dapat menyimpulkan kalau Rafa sekarang berada pada tingkat kekhawatiran paling atas sehingga muncul ide yang sebenarnya tidak direncanakan oleh Adit.
Kini dalam benak Adit sudah tersusun sebuah rencana yang dapat membuat hubungan Karin dengan Rafa berakhir.
"Kamu ga akan mampu menepisnya Raf, siap siaplah kamu kehilangan Karin.
Karena kalau aku tidak bisa mendapatkan Karin kamu 'pun tidak akan bisa." Ucap hati Adit.
Senyuman di bibir itu terlihat merekah menandakan rencananya kemungkinan besar akan berhasil.
Sementara Rafa dan Dini sudah sepakat.Sekarang mereka lagi memikirkan bagaimana caranya melakukan semua itu tapi tidak membuat semua pihak tersakiti.
"Titik penentunya adalah Adit harus bisa move on dari Karin, dan dari minum minuman kerasnya."Ucap Dini.
"Ia aku setuju sama kamu, makanya kamu harus bersama Adit di saat Adit nanti konsul." Tegas Rafa.
"Ia pasti aku akan hadir nanti di sana."
.
__ADS_1