Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Cemburunya Rafa


__ADS_3

Obrolan mereka mendadak terhenti karena ada dokter yang memeriksa Gani.


"Gimana dok keadaannya ?" tanya Neta pada dokter yang memeriksa.


"Perkembangannya sejauh ini baik, cuma dek Gani harus makan makan yang lembek lembek dulu ya ! seperti bubur, sereal, dan ini ada vitamin yang harus dibeli di apotek."


Dokter memberikan sebuah resep kepada Neta.


Setelah dokter pergi ,Neta minta ijin untuk menebus resep ke apotek.


"Aku ke apotek dulu ya..." ucap Neta.


" Biar aku aja Net...!" ucap Karin, dia mengambil resep dari tangan Neta.


Neta melihat ke arah Gani dia awas kalau Gani menginginkan dirinya yang pergi, Neta mengambil napas dalam berusaha untuk ikhlas akan hati yang belum ikhlas.


Neta merebut kembali resep yang ada di tangan Karin.


"Biar aku aja Rin, kamu tolong jagain Gani dulu !" ucap Neta sambil berlalu.


Karin melihat punggung Neta menghilang dibalik pintu, kemudian beralih melihat Gani.


Gani tersenyum pada Karin.


"Rin...boleh minta tolong..?"


" Ia...Gan mau di tolongin apa..?"


"Ambilin bubur yang ada di sana"


Gani menunjukan ke arah meja yang ada di samping, ranjang Gani.


Karin menuangkan bungkusan bubur yang masih terasa anget ke mangkok, dan memberikannya pada Gani.


Gani menerimanya tapi entah Gani sengaja atau memang dia mencari perhatian Karin dia menumpahkan bubur nya , tangannya seperti nya ga ada tenaga untuk memegang mangkoknya.


Karin yang awas cepat menahan mangkok bubur yang belum tumpah sepenuhnya.


"Mau aku suapin?" Karin terpaksa menawarkan dirinya yang ga enak hati melihat ke adaan Gani.


" Emang mau..?Gani balik bertanya.."


Karin hanya menggangkun kepalanya pelan , karena sesungguhnya Karin merasa ga enak hati.


Karin meraih mangkok dan mau menyuapi Gani.


Tiba tiba terdengar suara pintu terbuka.


Mata Karin menatap ke arah pintu, hatinya berdetak kencang takut, takut akan ada kesalahpahaman lagi.


Rafa melangkah masuk dan menghampiri Karin dan Gani.


"Assalamualaikum..." ucap Rafa.


"Wa'alaikumsalam" jawab Gani.


Karin menundukkan kepalanya.


"Boleh aku aja yang suapin ?" Rafa mengambil mangkok yang ada di tangan Karin.


"Kamu...siapa ?" tanya Gani kepada Rafa.


"Aku temen kamu juga kita satu sekolahan , tadi aku yang antar Karin ke sini " tutur Rafa penuh ketegasan .


Rafa mengulurkan tangannya mau menyuapi Gani .


Tapi Gani dengan sigap mengambil mangkok yang ada ditangan Rafa.


" Ga..usah aku bisa sendiri." tutur Gani.

__ADS_1


Melihat itu Rafa tersenyum simpul.Mata Rafa beralih melihat ke Karin yang nampak kaget dengan ulah Gani.


Flashback


Melihat Neta keluar dari kamar Gani, Rafa merasa senang berarti Karin juga keluar dari kamar itu.


Tapi Rafa melihat hanya Neta yang keluar.


Rafa menghampiri Neta di dekat pintu ,Rafa awas dengan mata Neta yang berkaca kaca seperti menahan tangis.


"Mana Karin Net..?"


"Karin masih di dalam Raf, aku keluar mau nebus resep dulu" jawab Neta sambil berlalu. dengan meneteskan air mata .


Rafa merasa ada yang janggal, dia mengintip di balik pintu, mata Rafa awas, dengan sikat Gani yang agak berlebih pada Karin.


Begitu Gani pura pura menumpahkan bubur, Rafa mengerti dengan modus Gani .


Tanpa pikir panjang Rafa masuk ke kamar Gani.


Dia merasa cemburu melihat orang lain mencari perhatian Karin.


Flashback selesai.


Ibu Gani masuk ke ruangan, ia yang mendapatkan Karin dan Rafa yang lagi menemani anaknya.


"Eh...alhamdulillah Gani ada yang nemenin " ucap ibu dari deket pintu.


Rafa dan Karin melirik, kemudian mereka salam dan mencium tangan ibu , sebagai tanda hormat pada orang yang lebih tua.


"Udah..lama?"


"Agak lama bu ..!" jawab Karin.


" Maaf ya jadi ngerepotin ,ibu tadi pulang dulu bawa baju ganti buat Gani "


"Kalau gitu Karin sama Rafa pamit dulu ya..!"


Karin melirik ke arah Gani.


" Gan...cepat sembuh ya, bentar lagi banyak pemantapan kan !"


"Ia Rin, pasti aku akan cepat sembuh, kamu kan udah nengokin aku."


Rafa memalingkan mukanya merasa jengah dengan jawaban Gani.


"Ayo ...Rin ! " Rafa memegang tangan Karin .


Setelah berpamitan mereka pergi di sertai tatapan ga suka Gani.


Mereka berjalan di koridor rumah sakit.


Tangan Karin di pegang erat sama Rafa.


"Raf..." lirih Karin, dia merasa tangan Rafa memegangnya sangat kuat.


Rafa hanya melirik ga menjawab apa apa.


"Raf...boleh aku bicara?"


Rafa menarik Karin ke taman rumah sakit, setelah melihat tempat duduk yang nyaman mereka pergi ke sana.


"Bukkk..." Rafa duduk di bangku dengan sedikit agak kasar , dia melepaskan genggamannya.


Karin duduk disebelah Rafa, ditatapnya wajah Rafa dengan lekat .


"Kamu...cemburu Raf...?"


Rafa membuang napas kasar.

__ADS_1


"Kamu hutang banyak penjelasan Rin ! dari tadi siang aku merasa aneh saat melihat kamu berada di kelas bersama Neta, terus sekarang sikap Gani tadi menunjukan ada hal yang berbeda."


"Aku butuh kejelasan Rin , jangan bikin aku salah paham sama kamu !"


"Boleh aku bilang sesuatu ?"Karin malah bertanya balik ke Rafa.


Rafa mengerutkan keningnya.


"Aku butuh penjelasan Karin, bukan pertanyaan."


"Ia sebelum aku jelasin aku mau bilang aku sayang kamu Raf.." tegas Karin malu malu.


Rafa tersenyum .


"Jangan bilang kamu sekarang lagi nyogok aku ya..."


Karin tertawa .


"Nah...gitu dong senyum, ga enak Raf ngejelasinnya kalau kamu mode merenggut kaya gitu"


"Kamu memang si paling bisa.."


Karin menarik napas sepenuh dada.


"Raf....aku ga mau kamu berpikiran lain terhadapku."


"Aku mencintaimu mungkin jauh sebelum kamu juga cinta sama aku Raf"


"Jadi..aku mohon banget tatap aku dengan kasih jangan menatap aku dengan tatapan curiga seperti ini." ucap Karin sendu.


Rafa menatap Karin, gadis yang beberapa hari ini mengisi harinya dengan senyum, gadis yang selalu membuatnya merindu.


"Maaf..Rin" tutur Rafa melembut.


"Jika aku tadi terbawa perasaan, aku hanya takut kamu berpaling Rin"


"Aku...cemburu melihat kelakuan Gani terhadapmu tadi"


"Aku..."


Rafa tidak meneruskan kata, dia terdiam dengan tangan terkepal.


Karin menyadari Rafa terlalu sesak untuk mengungkap rasa.


Netra lembut Karin membawa Rafa terhanyut di sana.


"Aku ingin kamu menjelaskan sejelas jelasnya Rin "


"Aku...melihat Neta menangis dikelas tadi siang, lalu aku liat Neta menangis pas keluar dari kamar Gani, dan aku melihat Gani modusin kamu"


"Ayo .... .. Rin kasih aku kejelasan ,agar hati aku tenang !"


Rafa mengeluarkan segala ke penasarannya.


Karin memegang tangan Rafa.


"Sebenarnya Gani nembak aku Raf..."


Rafa menatap Karin .


"Lalu..."


"Gani nembak aku satu hari sebelum kita jadian, aku udah nolak Gani waktu itu juga karena aku hanya menganggap Gani hanya teman dan Neta adalah kekasihnya Gani"


"Kemarin kemarin Neta salah paham sama aku Raf.."


"Neta berpikir akulah penyebab hubungannya dengan Gani kandas."


Karin menghentikan ceritanya menatap Rafa , ingin tahu respon Rafa selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2