
"Apa kamu bilang, sudah putusin Dini, kalau boleh tahu kapan kamu putusin dia?" Karin merasa penasaran apalagi pembelaan yang akan Adit katakan.
Adit tampak berpikir , dengan suara agak gugup dia menjawab pertanyaan Karin .
"Eemmm...itu Rin, waktu kamu melihat aku bersama Dini di kedai bakso , waktu itu aku putusin dia,Rin ! tapi Dini tidak menerimanya sehingga dia memberi tahu semua nya padamu tentang hubungan kita, aku menyesal Rin, melakukan ini."
Adit menatap Karin penuh harap.
Perasaan Karin mulai jengah dengan kebohongan dan kebohongan dari mulut Adit.
"Adit, stop kamu terus berbohong ! setiap kebohongan yang kamu sembunyikan akan menimbulkan kebohongan lainya ," cerca Karin pada Adit.
Belum Adit menanyakan maksud dari ucapan Karin, Karin sudah lebih dulu bicara.
"Aku melihat kamu berciuman dengan Dini waktu itu !" Tekan Karin pada Adit.
"Deg..."ucapan Karin begitu menusuk pada hati Adit. "Bagaimana ini ,apalagi pembelaan ku sekarang ?" dalam hati Adit berbicara.
"Dit, aku ingin putus !"
Karin menatap tajam Adit terlihat tak ada keraguan dari pandangan Karin.
"Tapi Rin, aku tidak mau putus. "
Karin memalingkan mukanya.
"Beri aku kesempatan Rin ," pinta Adit kepada Karin.
Karin tersenyum pada Adit.
"Maaf Dit, kita harus putus bukan hanya karena kamu telah membohongiku tapi lebih karena pandangan kita tentang cinta berbeda."
Adit menatap tajam Karin, "apa maksudmu, Rin ?"
Karin menghela napasnya.
"Karena buat kamu cinta adalah fantasi sedangkan menurut aku cinta adalah menghargai memahami dan menerima dengan ikhlas apapun pasangan kita, cinta adalah titipan rasa yang harus di jaga...itu yang membuat kita berbeda".
Adit dibuat diam dengan ucapan Karin. Jelas dan nyata memang benar dia suka sekali berfantasi dengan cinta.
Itu juga salah satu alasannya dia bisa bersama Dini.
Karin sosok kekasih yang tak pernah mau dia sentuh,hanya tangan ya saja yang bisa Adit pegang membuat Adit memilih Dini menjadi tempat fantasi cintanya.
Karena menurut Adit itu adalah hal yang biasa buat sepasang kekasih.Tapi Karin begitu kuat dengan pendiriannya, membuat Adit merasa jenuh dengan hubungannya dengan Karin.
Itu yang membuat dia mengkhianati Karin.
Mereka terdiam mendalami hati masing masing.
"Aku harap kamu mengerti,Adit !"
Karin melihat sendu Adit.
Adit sudah tidak bisa melakukan pembelaan lagi.
Walaupun hatinya tidak bisa ikhlas melepas Karin lidahnya sudah keluh, tak ada lagi kata yang bisa terucap.
__ADS_1
"Aku pamit Adit"
Karin berdiri dari kursinya dan memasukan surat yang tadi dia genggam kedalam tasnya, kemudian dia pergi dari taman itu.
Adit menatap nanar kepergian Karin, dia benar benar tidak ikhlas dengan berakhirnya hubungan mereka.
"Bugg...buggg.."Adit meninju kursi yang dia duduki, terlihat dia meringgis memegang tangannya yang terasa berdenyut karena memukul kursi tadi.
"Aku tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja Karin dari aku." Sambil mengepalkan kedua tangannya Adit ngomong sendiri.
Lain Adit lain Karin, remaja itu terlihat lebih tenang telah mengeluarkan beban di hatinya. "Alhamdulillah ya Allah Engkau mempermudah semuanya" sukur Karin dalam hatinya.
Semoga semuanya akan baik baik saja.
"Hari hari kini Karin lewati tanpa beban lagi.Tak terasa satu bulan lamanya waktu telah berlalu .
Seperti sekarang Karin sedang asik ngobrol bersama Sifa disebuah kantin sekolah mereka sedang asik membicarakan teman mereka yang tadi ditegur sama pak guru karena tertidur saat jam istirahat.
"Rin...sumpah deh aku masih kepikiran muka Dika saat tadi ketahuan lagi tidur , kocak banget deh...pingin tuh aku foto tadi , tapi ga tega juga."
"Ah ...kamu Sifa kasihan tahu."
"Eh...Rin mau tahu ga?" setengah berbisik Sifa ngomong sama Karin .
"Apa?"
"Dika tadi ileuran...sumpah deh kayanya agak banyak, cuma aku yang liat , soalnya dia langsung menutup muka gosok gosok gitu."
"Wahhh.."
"Ushhh...jangan berisik ...kasian." Karin Mengintruksikan. Biarlah jadi rahasia kita berdua saja.
Mereka tertawa kecil.
****
Lain halnya dengan kehidupan Adit sekarang.Setelah putus dari Karin ,Adit makin suka berfantasi.
Pengalaman cinta nya dengan Karin tidak membuat Adit sadar .
Dia tetap jadi seorang playboy .
Adit semakin ga terarah selain punya banyak pacar dia semakin suka mabuk mabukan.
Hanya Dini yang sabar dengan Adit , dia tidak pernah mau meninggalkan Adit.
Seperti halnya sekarang di sebuah taman terlihat dua insan yang lagi berbincang asyik . Mereka adalah Adit dan Dini .
Setelah kejadian waktu itu hubungan Adit dan Dini makin dekat mereka tak lagi main sembunyi sembunyi lagi sekarang.
"Adit aku boleh tanya ?" tanya Dini pada Adit.
Adit menoleh pada Dini ,"kamu mau tanya apa, Din?"
"Apa kamu tahu ,sekarang Karin sepertinya sangat bahagia putus dengan kamu?"
Pancing Dini pada Adit ,dia ingin tahu ekspresi muka Adit .
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya balik Adit.
"Emmmm...kayanya Karin dulu cuma mainin kamu deh !"
Adit masih ga ngerti dengan ucapan Dini.
"Apa maksud kamu Karin punya pacar ? " selidik Adit pada Dini.
"Ga ,maksudnya bukan gitu cuma aku lihat kalau disekolah Karin tuh ga kaya orang abis putus"Dini menjelaskan.
" Memangnya kalau Karin punya pacar gimana?" pancing Dini pada Adit.
Adit terdiam dalam hatinya dia berbicara, " tak akan aku biarkan kamu bersama yang lain Rin."
"Hey..."Dini membuyarkan lamunan Adit.
"Dit, aku harap kamu tak lagi mengharapkan Karin , "pinta Dini kepada Adit.
Adit menarik napas panjang lalu tersenyum, "kita lihat saja , biarkan waktu yang bicara ."
Dini mendelik , perkataan Adit barusan membuat Dini merasa kecewa.
****
Cahaya matahari perlahan muncul dari sela-sela tirai kamar Karin, hari ini hari libur sekolah dan karena Karin lagi berhalangan membuat Karin berleha-leha pagi ini.
Karin bangkit dari tempat tidur ternyaman ya, pergi ke kamar mandi hanya untuk mencuci muka setelah itu dia menyalakan musik kesayangannya.
Alunan lagu nya membuat remaja itu begitu bahagia.
"Tok_tok "terdengar pintu kamar di ketuk.
Karin menoleh ke arah pintu, selang beberapa saat terdengar suara Sifa memanggil.
"Rin...Rin..,buka dong pintunya!" Karin melangkah menghampiri pintu kamar dan membukanya.
"Kenapa pagi pagi gini kamu udah berkunjung ? kamu rusak mut aku hari ini deh ." Karin menggoda Sifa.
"Kita lari pagi yu !" Ajak Sifa pada Karin.
"Gimana ya...aku lagi nyaman dengerin lagu Sif."
"Ayolah sebentar saja,udaranya segar sekali pagi ini !"
"Ya oke lah...tunggu aku ganti baju dulu tapi.."
Setelah sepuluh menit menunggu ,Karin udah siap untuk pergi. Mereka berlari pagi ke taman.
"Lumayan udah keringetan nih Rin ,"ucap Sifa.
"Istirahat dulu yu...!"
Akhirnya mereka duduk di kursi taman.
Saat Karin dan Sifa lagi ngobrol tanpa sengaja netra Sifa melihat Adit dan Dini sedang lari pagi, terlihat tangan keduanya saling genggam.
"Rin...coba lihat deh.....!" Sifa menunjuk ke arah Karin dan Dini.
__ADS_1