
"Kamu malu ya Rin___?"
Rafa sepintas melihat wajah Karin dari kaca spion motornya.
"Malu kenapa lagi sih," Karin pura pura ga ngerti .
"Itu mukanya merah."
Karin yang awas langsung melihat ke arah spion motor .Jarak beberapa detik mata keduanya saling bertemu lewat pantulan kaca spion.
Sampai akhirnya Rafa memutus pandangnya karena harus fokus mengendari motor .
"Udah dong Raf, berhenti deh godain terus aku."
"Kamu seharusnya ga usah nanya nanya gitu , Raf." Karin kini protes.
"Aku juga kan pingin tahu kalau kamu sering mikirin aku apa tidaknya ?"
"Ga usah bahas itu lagi deh."Karin memalingkan muka juteknya.
Sebenarnya bukan jutek asli tapi lebih ke manja.
"Ya ...udah ga bahas itu lagi, kita bahasanya kira kira siapa aja yang diajak buat grup belajar?"
"Kalau aku sih lebih ke Sifa deh, "ucap Karin.
"Aku bawa Alan ya."
"Kamu ga ajak Neta ma Gani ?"
"Ga ..usahlah aku ga e___"
"Kenapa ga enak hati ya ?"
" Itu kamu tahu, nanti disangkanya kita pamer lagi."
"Pamer apa Rin, orang ngajak belajar ko bilang pamer."
"Ya udah aku ajak nanti, tapi__"
"Ya kamu Rin, ngomong nya yang bener dong keputusan- putus gitu." Rafa mulai protes
"Tapi harus kuat- kuatin hati takut kamu cemburu."
"Haha...kamu mau bikin aku cemburu Rin."
" Ga juga sih, tapi kan aku ga bisa melarang kalau nanti Gani caper lagi sama aku."
"Nanti kamu cemburu kaya waktu di rumah sakit."
"Haha...masih ingat kamu Rin."
"Sumpah Rin, waktu itu aku ingin bilang kalau aku ini pacar kamu ."
Rafa bicara apa adanya. Saat mengingat Gani begitu ingin di suapin sama Karin.Rafa mengepalkan tangannya sendiri.
"Ia makanya lebih baik jangan mancing mancing masalah."
"Lebih baik ga usah ajak mereka."
Usul Karin diterima Rafa.
"Ok, cantik."
"Lalu kapan , dan dimana nih rencananya?"
"Kalau di rumah aku gimana?"
"Ga..ah." Karin langsung menolak.
"Ga enak nanti sama bunda kamu." jawab Karin jujur.
" Lo...emang bunda aku kenapa? kemarin juga dia welcome sama kamu kan?"
" Ia sih, bunda kamu baik tapi kan pasti anaknya ngotot tuh pingin nganterin aku pulang."
__ADS_1
"Haha...oh karena itu toh ."
"Ya pasti di anterin lah , masa waktu bersama kamu aku lepas begitu aja ." Rafa kembali menggoda Karin .
"Ih...kamu." Karin kembali mencubit pinggang Rafa.
"Awww..."
"Pinggang aku nanti bengkak di cubit terus ."
"Ia kali bengkak " Karin mengerlingkan matanya.
"Ya udah di rumah kamu aja belajarnya ."
"Kalau harinya mending ngambil hari libur sekolah," usul Rafa.
"Ok...siap, " jawab Karin.
Tak terasa mereka ngobrol, motor yang mereka tumpangi telah masuk ke pekarangan rumah Karin.
"Alhamdulillah...dah nyampai Rin." Rafa melirik ke belakang
"Alhamdulillah..." ucap Karin . Dia beranjak turun dari motor Rafa.
"Mau mampir ga,minum dulu gitu ?"
"Ga usah Rin."
"Aku langsung pulang ya."
"Ia.."
Rafa celingukan melihat ke kanan ke kiri.
"Ada apa Raf?"
"Hehe...boleh dong sun salam dulu sebelum pergi."
Rafa mengulurkan tangannya kananya ke Karin .
Kini Karin yang celingukan , setelah merasa aman Karin meraih tangan Rafa dan menciumnya dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam..." ucap Karin . Dia melambaikan tangannya seiring dengan Rafa yang berlalu dengan motornya .
Tiba tiba dari arah belakang ibu memegang bahu Karin.
Sontak Karin merasa kaget dengan kehadiran ibu yang tiba tiba.
"Eeeh...ibu."
Karin menjadi salah tingkah sendiri.
"Apa ibu lihat ya kalau aku sun tangan sama Rafa?" Karin bermonolog sendiri dihatinya.
Sini sayang masuk.Ibu memapah Karin ke dalam rumah .
Sini duduk dulu yah , ibu menepuk kursi di sampingnya.
Karin udah merasa was- was , "ah ini mah yakin dimarahin deh.." pikir Karin dalam hati.
" Ia Bu." Karin duduk di samping ibu .
"Tegang amat Rin, kaya mau ujian ." Ibu sengaja menggoda Karin biar lebih rileks.
Alih alih ibu mengatakan itu agar Karin rileks tapi kenyataan yang ada Karin semakin tegang sendiri.
"Rin..kamu pacaran dengan Rafa?"
"Deg ," hati Karin tersetrum dengan perkataan ibu barusan.
"Ia Bu" Karin menundukkan pandanganya.
"Sejauh ini ibu liat Rafa emang anak yang soleh Rin, tapi ketika kamu hanya berdua dengan Rafa ada yang ketiga di sana yaitu setan."
"Ibu percaya sama Karin dan Rafa kalau kalian tahu pacaran yang sehat itu seperti apa."Ibu menatap lekat wajah anaknya .
__ADS_1
"Ibu tadi lihat kamu sun salam sama Rafa."
"Sebenarnya dalam Islam itu ga boleh lawan jenis bersentuhan seperti itu Rin."
"Kalau ibu boleh memberi saran lebih baik Karin belajar ya tentang syariat dalam Islam gimana caranya berpacaran."
"Kamu sama Rafa sama sama belajar ."
"Insyaallah ada berkahnya."
"Semua butuh proses semua ada tahapannya."
"Tapi jujur sih ibu suka sama kepribadiannya Rafa."
Mendengar kalimat terakhir yang ibu ucapkan hati Karin bernapas lega.Kemungkinan ibu ga akan menyuruh dia putus dengan Rafa.
"Ia Bu nanti Karin sama Rafa akan terus belajar," ucap Karin sendu.
"Maaf ya Bu , " ucap Karin .
Dia memandang ibu dengan rasa sayangnya.
Karin bersyukur punya ibu yang selalu berkata lembut padanya, meskipun dirinya berbuat salah.
"Ga sayangnya ibu, ga usah minta maaf, ibu tahu sekarang jiwa Karin lagi dalam masa puber."
" Tapi masih boleh kan kalau Rafa nganterin Karin pulang ?"
"Ia boleh sayang, ibu cuma minta bersikaplah selayaknya."
"Oh ...ia nanti ada grup belajar buat memantapkan pelajaran biar lebih bisa di mengerti."
" lebih tepatnya kita saling sering Bu, rencana nya mau belajarnya di rumah Karin."
"Apa boleh Bu?"
"Ya boleh dong.."
"Ibu dukung semua hal yang positif."
Ibu mengelus gelus pucuk kepala Karin dengan penuh kasih sayang.
"Ibu sayang sama Karin." Ibu mencium kepala Karin.
"Karin juga sama ibu," ucap Karin dengan mata yang berkaca kaca.
"Ya udah sana kamu mau istirahat dulu, pasti capek kan abis pulang dari sekolah." Ibu mengintruksi Karin.
"Ia Bu."
Karin beranjak dari kursi dan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Karin membaringkan badannya.Menatap ke langit langit kamarnya.
Sekilas perkataan ibu meruak hati Karin.
"Pacaran dalam Islam itu seperti apa sih sebenarnya?"
"Kayanya aku harus banyak cari tahu nih."
Sementara Rafa sudah sampai ke rumahnya.
Dia disambut sama bunda dan nenek yang dari tadi sudah pulang dari rumah sakit.
"Liat nih bocah kecil kita udah gede lagi."
"Dia abis nganterin pujaan hatinya ."
"Liat tuh mukanya berseri seri ."
"Senyum senyum sendiri lagi."
Nenek terus meledek Rafa.
"Nenek kaya ga pernah muda saja."
__ADS_1
Rafa membalas ledekan neneknya itu.Kemudian keduanya tertawa nyaring.
"Yang penting Rafa tahu batasan ya, fokus sama pelajaran." Nenek berpesan pada Rafa.