
Karin keluar dari ruangan anak. Setelah itu dia mengangkat telepon dari Rafa.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam...emmm...yang anteng banget jalan jalan keliling rumah sakitnya. Kamu lagi di mana Rin?" Tanya Rafa.
"Aku ragi di kamar rawat anak anak Raf."
"Oh...pantesan anteng. Aku sudah selesai nih . Jadi ga kita perginya?"
"Jadi dong. Bentar ya aku segera ke ruangan kamu."
"Ga usah Rin kejauhan kamu langsung ke lobby saja. Nanti kita ketemuan di sana ya."
"Oh gitu ya...ya sudah aku sekarang ke lobby."
"Ok. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menutup telepon Karin melirik ke arah petugas tadi.
"Hai kamu...sini dulu."
"Ia saya Bu."
"Kita belum kenalan ya...kamu siapa namanya?"
"Oh saya Sifa Bu."
"Ok...Sifa senang kenalan sama kamu. Kalau gitu saya permisi ya." Pamit Karin.
"Ia Bu." Sifa mengangguk hormat.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah itu Karin pergi menuju lobby rumah sakit.
"Beruntung kamu...Bu Karin orangnya baik dan bijak banget." Ucap asistennya Rafa.
"Ia Pak...jujur saya masih kaget dan merasa takut."
"Tenang saja kamu mode aman ko."
"Mudah mudahan ya pak."
Sementara Rafa sedikit menunggu Karin di lobby. Melihat Rafa yang sudah menunggu dirinya Karin berlari kecil mendekati ke arah Rafa.
"Assalamualaikum...maaf ya kamu nungguin lama ya."
"Wa'alaikumsalam...ga ko baru saja. Ayo berangkat sekarang."
"Ia.." Mereka beriringan menuju mobil. Seperti biasanya Rafa selalu membuka kan pintu mobil untuk Karin.
"Terima kasih ."Karin tersenyum.
Rafa mengendarai mobilnya setelah keluar dari area rumah sakit Rafa melirik Karin.
"Kira kira kita mau kemana dulu nih ?"
"Taman Cinta.." ucap Karin dengan semangat.
"Waw...semangat sekali. Kenapa mau ke taman cinta sih? Sepertinya kamu sudah memikirkannya."
"Hehe...aku dulu bermimpi ingin mengadakan resepsi pernikahan di sana terutama di dekat air mancur nya. " Karin berkata jujur pada Rafa.
__ADS_1
"Oh...ya kalau itu impianmu ayo...kita ke sana."Rafa sekarang bersemangat sekali.
"Raf...tadi aku kan main di ruangan anak , aku lihat dinding dindingnya sudah pudar. Aku punya sedikit ide siapa tahu kamu bisa pertimbangkan."Karin melirik ke arah Rafa.
"Idenya apa Rin ?"
"Gimana kalau di dinding dinding itu kamu tulis nama nama Allah. Seperti Asmaul husna. Kan lumayan buat mereka tahu sedikit demi sedikit."
"Boleh juga sih, insyaallah aku pertimbangkan lagi deh."
"Aku juga punya rekomendasi seseorang boleh?"
"Siapa Rin?"
"Namanya Sifa dia petugas di ruangan anak tadi.Kayanya kalau dia jadi kepala ruangan boleh deh , soalnya orangnya disiplin banget."
"Kok kamu bisa tahu ?"
Karin menceritakan kejadian tadi pada Rafa.
"Kamu ga marah emang diperlakukan seperti itu?"Selidik Rafa.
"Ga lah...aku malah suka sama cara dia kerja."
"Mantap, ternyata ini rahasianya yang bikin perusahaan kamu maju terus ya..." Puji Rafa.
"Apa sih Raf, aku kan hanya sedikit memberi ide saja. Kamu mau pakai atau tidak buat aku sih ga masalah."
"Ia....ia terima kasih istriku. Insyaallah aku pertimbangkan semua masukan dari kamu ya."
Karin mengangguk sambil tersenyum.
Tak terasa mobil mereka hampir sampai pada tempat yang di tuju yaitu taman cinta.
"Raf...kita parkirnya di sebelah sana lebih dekat ke inti taman." Tunjuk Karin ketika Rafa mau berhenti.
"Jelas hapal lah dulu aku sering main ke sini."
"Oh ya...sama siapa?" Rafa merasa penasaran.
"Ah kamu kepo."
"Sama siapa Rin, jangan bilang ini taman kamu sama mantan kamu ya, kita ga jadi ah resepsi di sini." Rafa terlihat cemberut.
"Ih...ko main simpulkan sendiri sih, orang aku habis putus sama kamu ga pernah pacaran lagi." Jelas Karin balas cemberut.
Rafa melihat ke arah Karin.
"Ih...ko jadi kamu yang ngambek sih."
"Habisnya kamu ngingetin aku, aku tuh sering ke sini agar aku bisa lupain kamu tahu. Sekedar mencari hiburan sendirian tanpa pasangan.Aku sering merenung di sini. Ngobrol sama foto kamu sendiri di sini. Kadang juga ngerjain tugas kuliah di sini.Taman ini selalu bikin aku nyaman Raf." Jelas Karin begitu panjang lebar pada Rafa.
"Astagfirullah...maaf ya kalau ucapan aku nyatanya membuka luka kamu Rin." Rafa menyesali ucapannya sendiri.
"Ga apa apa Raf...aku ingin banget di taman ini kita adakan resepsi soalnya taman ini saksi semua cerita cerita aku dulu."
"Siap deh...istriku. Disini ya parkirnya?"
"Ia..."
Rafa memarkirkan mobilnya. Setelah aman Rafa turun dan membuka kan pintu mobil untuk Karin.
"Raf...sebenarnya aku bisa lo buka mobil sendiri ga usah lah di bukain kaya gitu." Karin merasa ga enak hati.
"Ga apa dong sayang itu salah satu bentuk perhatian aku."
"Tapi kan..."
__ADS_1
"Shut...sudah jangan berdebat hal sepele.Ok."
"Raf boleh tunggu sebentar ya...aku ke toilet dulu."
"Ia boleh aku nunggu di kursi itu ya." Rafa menunjuk sebuah kursi.
"Ia..." Setelah itu Karin bergegas pergi.
Rafa duduk di kursi netranya melihat anak kecil adik kakak jualan bunga mawar yang terlihat masih segar.
Rafa memanggil anak itu."Dek...sini."
"Ia Om...Om mau beli bunga saya?" Terlihat anak itu berharap.
"Berapa?"
"Dua puluh lima ribuan om satunya."
"Boleh deh...om borong semuanya ya...tapi Om mau minta tolong boleh?"
"Borong Om? yang bener Om....?" Terlihat kedua anak itu bahagia sekali.
"Ia Om mau borong bunga kalian tapi Om minta tolong boleh?"
"Tolong apa Om...?"
"Di toilet sana kan istri om sekarang berada. Nah kalian kasih bunga ini bergantian dari mulai istri Om keluar sampai dia kesini ke dekat Om. Gimana bisa ga?"
Kedua anak itu saling melempar senyum."Bisa sekali Om..."
"Ini foto istri Om...kalian jangan sampai salah orang ya."Rafa memperlihatkan foto Karin.
"Cantik ya Om.." Puji salah satu anak itu.
"Pasti dong." Rafa bangga sendiri.
"Ini uangnya..."Rafa memberikan uang satu juta pada anak itu.
"Om ini kebanyakan."
"Ga apa apa anggap ini rezeki kalian ya..."
"Terima kasih banyak Om. Semoga Om dan istri selalu bahagia."
"Aamiin. Sudah cepatlah sana nanti keburu istri Om keluar lagi."
"Baik Om.." Kedua anak itu berlari dan saling membagi tugas.
Karin yang sudah selesai dari toilet keluar dan begitu dia keluar tiba tiba ada bunga tepat di hadapan dirinya.
"Astagfirullah...dek . "
"Ini bunga buat Tante."
"Cantik banget bunganya? Dari siapa..?"
Bocah itu tidak menjawab malah pergi berlari.
Sementara Karin melangkah lagi sambil membawa setangkai bunga mawar di tangan ya.
Tiba tiba seorang anak perempuan memanggil Karin.
"Tante..."
Karin melirik dan tepat di sampingnya anak itu memberikan bunga mawar lagi kepadanya.
"Ini buat Tante..." Dengan muka lucunya anak perempuan itu memberikan bunga buat Karin.
__ADS_1