
Karin tidak menjawab ya ataupun tidak.
Dia hanya memalingkan muka malu dengan wajah yang merona merah.
"Ko diam sih..."Rafa memandangi wajah Karin yang benar benar merona.
"Aku makin gemas lihat kamu seperti ini Rin."Rafa mengikis jarak.
Baru saja Rafa mendekat dering telepon Rafa kembali berbunyi.
"Astagfirullah....apa lagi sih." Rafa melirik ponselnya dengan wajah yang lesu.
"Angkat dulu sebentar Raf, siapa tahu penting."Pinta Karin membujuk.
Rafa bergeming rasanya ingin melempar ponsel yang ga tahu waktu terus berdering mengganggu dirinya.
"Coba kita lihat siapa yang mengganggu kita sepagi ini, awas saja kalau ga penting." Gerutu Rafa sambil meraih ponselnya kembali.
Karin terkekeh."Sabar Raf...ini ujian."
"Asisten aku Rin yang telepon."Rafa menunjukan layar ponselnya pada Karin.
"Angkat Raf..!"
"Assalamualaikum...ada apa ?" Rafa langsung to the poin tanpa basa basi.
"Wa'alaikumsalam...maaf Dok mengganggu di pagi hari."Jawab asistennya sedikit merasa ga enak hati.
"Ya....ada masalah?"
"Ia Dok, barusan baru datang pasien gawat darurat kami tidak bisa menanganinya Dok. Kami butuh bantuan Dokter."
Terdengar helaan napas panjang."Baik saya segera ke sana sekarang, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Rafa langsung menutup teleponnya.Dia melihat ke arah Karin.
"Rin...maaf ya ...aku sekarang harus ke rumah sakit dulu.Ada pasien gawat darurat yang ga bisa mereka tangani.Mereka butuh bantuan aku." Jelas Rafa dengan wajah merasa agak bersalah pada istrinya itu.
Karin bangkit dan tersenyum."Ga apa apa Raf...ini lebih penting.Menyangkut nyawa orang. "
"Terima kasih Rin..."
Karin bangkit dan menyiapkan baju buat suaminya.
Sementara Rafa ke kamar mandi mencuci muka agar lebih segar.
Mendapatkan Karin yang sudah menyiapkan segala untuk dirinya Rafa merasa jadi pria yang sangat beruntung.
"Subhanallah enaknya punya istri. Semuanya ada yang nyiapin ada yang ngurusin."Ucap Rafa sambil memakai pakaiannya di sana tanpa ragu.
"Ih ....Raf...sana gantinya di ruang ganti ngapain di sini sih." Karin memalingkan muka karena malu.
"Haha...masih malu malu saja Rin , tanggung."
__ADS_1
"Gimana sudah rapi?" Tanya Rafa meneliti penampilannya sendiri.
"Sudah...ganteng banget." Puji Karin sambil mengacungkan jempolnya.
"Alhamdulillah...makin cinta dong kalau ganteng."
"Insyaallah semakin cinta."Karin menjawab sambil tersenyum.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya...kamu hati hati kalau nanti mau berangkat kerja."
"Ia Raf...kamu semangat ya...fokus ."
"Ia sayang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Raf...tunggu dulu. "Karin mencegah Rafa yang akan pergi.
"Ia ada apa?" Rafa berbalik badan.
"Mana tangannya belum salim?"
"Oh...kirain apa."Rafa memberikan tangannya pada Karin dan Karin meraih dan menciumnya.
"Cup..."Karin dengan malu malu mencium pipi Rafa.
Rafa termenung merasa kaget dengan sikap Karin yang agak berani.
"Sudah sana pergi." Ucap Karin yang sekaligus menarik rasa terkejut Rafa.
Mendengar itu Karin tersenyum membalas lambaian tangan Rafa sampai mobil Rafa melaju dan tak terlihat lagi.
Karin senyum sendiri membayangkan ke kekonyolan dirinya.
Sementara Rafa segera bergegas menuju rumah sakit.Begitu sampai dia langsung melakukan tindakan.
"Terima kasih Dok."Ucap asistennya.
Rafa hanya mengangguk dengan senyuman tanpa bicara sepatah kata pun.
Tiga jam Rafa berkutat dengan kerjaan nya.Kini dia menarik napas lega ketika melihat pasien dirinya telah melewati masa masa kritisnya.
Semua perawat dan Dokter lain pun memuji keterampilan dan cekatannya Rafa dalam menangani pasiennya.
"Untung ya Dokter Rafa segera datang, kalau tidak mungkin...."Ucap perawat tanpa meneruskan kata katanya.
"Ia Dokter Rafa selain tampan, mapan, dia juga pandai dalam segala hal.Idaman banget kaum hawa. Beruntung banget nanti istrinya." Ucap perawat yang satunya lagi.
Karin yang memutuskan untuk libur kerja dan menemani Rafa di rumah sakitnya tanpa sengaja mendengar ucapan dua perawat wanita itu.
Karin melirik ke arah perawat itu.
Dia tersenyum mendengar suaminya dipuji tapi dia juga kesal berarti para perawat itu otomatis mengagumi suaminya.
"Ini mah benar pernikahan kami harus segera di publikasikan biar tidak ada lagi orang yang mengira kalau Rafa masih singel." Ucap Karin dalam hatinya.
__ADS_1
Karin bergegas menuju ruangan kerja Rafa.Tetapi Rafa tidak ada. Mungkin Rafa ada di ruang pribadinya.Karena memiliki kodenya Karin dengan mudah masuk ke ruangan pribadinya Rafa.
Terdengar suara air dari dalam kamar mandi menandakan Rafa sedang mandi di sana.
Karin berinisiatif menyiapkan pakaian Rafa dia taro di atas kasur.Sementara dia cepat cepat sembunyi ketika mendengar Rafa mau keluar dari kamar mandinya.
Rafa keluar dengan hanya memakai handuk di pinggang nya. Rasanya sangat segar begitu sehabis mandi.
Netra Rafa melihat baju yang tersedia di atas kasur miliknya.
"Baju? perasaan aku tadi belum menyiapkan baju ganti." Rafa sambil melangkah menuju baju itu. Sambil otaknya mengingat ingat.
Pandangan matanya melihat ke sekeliling ruang.
Rafa meraih baju di atas kasurnya. Dan begitu memegang nya bibir Rafa tersenyum.
Netra miliknya meneliti ke penjuru ruangan pribadinya.
"Kira kira dia dimana ya sembunyi nya?"
Timbul niat iseng untuk mengerjai istrinya itu.
"Astagfirullah...kenapa tanganku jadi perih begini ya...mungkin karena terkena pisau di meja operasi tadi kali ya." Ucap Rafa sengaja di buat agak keras agar Karin mendengarnya.
"Aww...sakit aww..." Rafa pura pura meringis.
Karin yang mendengar ucapan Rafa mendadak jadi panik sendiri. Tanpa sadar dia lagi bersembunyi dia langsung menghampiri Rafa.
"Rafa... Rafa.... astagfirullah tangan kamu kenapa?" Karin langsung meneliti kedua tangan Rafa.
Karin membolak-balik tangan Rafa dan tak ada luka sedikitpun di sana.
"Raf...bagian mana sih yang sakit..?"Karin masih meneliti Rafa. Dia tidak menyadari kalau dirinya lagi dikerjain sama suaminya itu.
Karin melirik ke arah wajah Rafa dan mendapatkan Rafa yang lagi senyum senyum penuh arti.
"Deg..." Karin mematung. Dia kini baru sadar kalau dirinya sedang dikerjain sama suaminya itu.
"Puk...puk..."Karin memukul dada bidang Rafa .
"Ih...sebal deh...kenapa juga harus bohong."Kesal Karin bete sendiri.
"Haha ...abisnya kamu yang main kucing kucingan duluan sama aku."
"Ko bisa tahu ada aku?" Selidik Karin.
"Tahu lah...dimana pun kamu ngumpet aku pasti tahu. " Jawab Rafa begitu percaya diri.
"Ih ga kejutan lagi dong kalau gitu.Aku niatnya kan mau bikin kejutan buat kamu. Malah aku yang dikerjain sih . Jadi ga seru." Manyun Karin.
"Ini tetap kejutan Rin..."
"Oh...ya jelasin dulu kenapa bisa tahu kalau ada aku di sini?" Tanya Karin masih penasaran.
"Dari ini..." Rafa mengambil baju di atas kasur.
__ADS_1
"Nih coba cium wangi kamu nempel di baju yang kamu siapin buat aku."