
Hati Karin begitu berbunga bunga dengan ucapannya Rafa.
Dia tersenyum menatap Rafa dengan penuh kasih.
"Rin kita solat dulu yu...." Ajak Rafa membangun Karin.
"Ia..." Karin menganggukkan kepalanya patuh.
Sepasang suami istri itu mengambil wudhu dan solat berjamaah bareng.
Hati Karin merasa tenang dan damai dikala menjadi makmum suaminya.
Hal yang sangat di dambakan Karin dari dulu menjadi makmum Rafa sebagai seorang istri.
Mereka solat dengan begitu khusu.Selesai salam mereka berdoa bersama.Begitu banyak doa yang mereka panjatkan pada Yang Maha Esa.
Meminta beribu ribu kebaikan yang akan menemani perjalanan pernikahan mereka.
Rafa melirik Karin yang masih setia dengan mukenanya.
Tangan Rafa terulur, dengan senang hati Karin menerimanya dan menciumnya dengan takzim.Setetes air mata Karin jatuh ke tangan Rafa.
"Hey...kenapa kamu menangis?"
Rafa mengangkat dagu Karin dengan lembut.
"Aku bahagia benget hari ini Raf..." Ungkapan yang keluar dari mulut Karin begitu jujur dan tulus.
Rafa tersenyum lalu mengecup kening Karin dengan penuh kasih sayang kemudian Rafa membawa Karin dalam pelukannya.
"Semoga kita selalu bahagia dan semoga aku bisa selalu membuat dirimu bahagia."
Mendengar ucapan Rafa Karin membalas pelukan suaminya itu dengan mesra.
"Aamiin...Raf...aamiin."
Mata Karin dan Rafa saling bertemu mereka saling pandang penuh dengan kasih sayang yang begitu tulus.Rafa membuka mukenanya Karin.
"Bolehkah aku lakukan kewajiban ku sekarang?"
Mendengar ucapannya Rafa wajah Karin menjadi bersemu merah.
Hal yang sangat dia anggap tabu kini harus dia jalani sebagai bentuk kewajibannya.
Karin tak bisa mengelak lagi ini adalah kewajiban dirinya sebagai seorang istri untuk memenuhi biologis suaminya.Dengan rasa malu Karin hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda dia mengijinkan Rafa untuk menyentuh seutuhnya dirinya.
Melihat Karin yang terlihat dilema Rafa membuai surai rambut Karin.
"Apa kamu tidak siap? Aku tak akan memaksa mu Rin...aku janji akan menunggu kamu sampai kamu siap untuk itu.Karena aku mengerti ini adalah hal yang sangat berharga untukmu."
Karin menatap manik mata Rafa terlihat sekali Rafa jujur dalam ucapannya.
Tetapi walau mau nanti atau sekarang tetap sama ini adalah hak Rafa sebagai seorang suami Karin tak berhak untuk menolaknya.
"Bukan itu Raf...aku hanya takut." Akhirnya Karin berkata jujur pada Rafa.
__ADS_1
"Kenapa harus takut apa yang kamu takutkan ? "
"Kata orang MP itu ____" Karin menghentikan omongannya tak sanggup meneruskan ucapannya karena malu.
"Aku janji Rin...aku akan hati hati kita sama sama belajar ... Bismillah semoga ini awal dari kesempurnaan pernikahan kita."
Rafa mengendong Karin membawa Karin ke tempat mereka akan saling berbagi.
Malam kian larut sepasang suami istri itu kini telah menjadi satu. Tak ada lagi yang mereka tutupi satu sama lain mereka saling berbagi kasih sayang yang tulus.
Meski awalnya keduanya sangat canggung tetapi ternyata naluri mereka membawa mereka kepuncak kebahagian dunia.
Suara adzan subuh mengusik pendengaran mereka yang semalam entah tertidur sampai jam berapa.Buktinya tak seperti biasanya mereka kesiangan begitu.
"Raf...." Lirih Karin sayup sayup membuka matanya.Yang sebenarnya masih terasa berat untuk di buka.Tetapi kewajiban sebagai insan yang beragama menuntunnya untuk bangun dan melakukan kewajibannya.
"Hmmm...." Guman Rafa setengah sadar dan tidak.
Karin tersenyum melihat dirinya yang tertidur di tangan kekar suaminya.
Nyaman satu kata itu yang Karin rasakan.
Karin menyentuh garis garis wajah Rafa dengan telunjuknya dengan lembut.Berharap sang belahan hati akan membuka matanya.Dan benar saja Rafa merasa terusik dengan sentuhan lembut Karin.
Rafa membuka matanya dan mendapatkan wajah yang semalam memberikan sepenuh jiwa raga nya tersenyum cantik di depannya.
Melihat itu Rafa malah mengeratkan pelukannya pada Karin.
"I Love You..." Bisik Rafa ditelinga Karin.
"Love You Too..." Jawab Karin.
Rafa langsung melonggarkan pelukannya.
"Astagfirullah...benarkah? kita kesiangan Rin .."
Karin dan Rafa terkekeh bersama. Merasa sangat lucu dengan kelakuan mereka.
"Kamu 'sih aku bilang semalam apa? Sudah dulu sudah dulu... lihat kan jadi kesiangan." Karin merenggut manja.
"Abis kamu bikin candu buat aku. Nanti abis solat lanjut lagi ya ..." Pinta Rafa menggoda.
Karin memalingkan muka malu.
"Tak usah malu malu seperti itu kamu harus terbiasa." Ucap Rafa mengecup kilas kening Karin.
"Ayo kita solat dulu..." Karin mengalihkan perbincangan mereka.
Karin beranjak hendak mandi.
"Aww .." Karin meringis sakit.
"Kenapa...? "
"Sakit Raf..."
__ADS_1
"Maaf ya ...tapi nanti juga kalau terbiasa ga akan sakit."
"Apa 'sih?" Karin bersemu malu.
Rafa tersenyum lalu mengendong Karin menuju kamar mandi.
"Ga usah di gendong Raf...aku bisa sendiri."
Tetapi Rafa hanya acuh dan membawa Karin masuk untuk sama sama membersihkan diri.
Mereka segera menyelesaikan ritual mandi wajibnya karena waktu subuh sudah agak telat.
Seperti biasanya pasangan suami istri itu menjalankan solat subuh dengan berjamaah.Momen indah di pagi hari yang terasa sangat berarti.
Setelah selai solat Rafa melirik Karin yang sedang membereskan mukenanya.
"Rin kamu lapar ga?" Tanya Rafa.
"Ia...lapar banget ." Jawab Karin.
"Mau sarapan apa hmmm..." Rafa memeluk Karin dari belakang.
"Kamu mau sarapan apa?"Karin malah bertanya balik.
"Ih jangan balik nanya dong, gimana kalau aku jawab aku mau sarapannya kamu?"
"Ih...serem banget sih." Karin bergeming ngeri.
"Haha ..haha .."Rafa malah tertawa renyah dengan sikap Karin.
"Raf...tapi maaf ya aku ga bisa bikin sarapan pagi ini, ga apa apa 'kan?"
" Ga apa apa nanti aku pesenin kamu mau sarapan apa hmmm?"
"Bubur ayam boleh deh, kayanya enak banget." Karin menghayal karena perutnya sudah terasa lapar.
Rafa bangkit dan memberikan pesan pada pengawalnya untuk membawa pesanan Karin.
Karin bangkit berniat ingin membereskan seprai yang acak acakan.
Rafa tersenyum melihat jalan Karin yang seperti pinguin.
"Kenapa ketawa...?" Karin merasa sebal dengan Rafa yang malah menertawakan dirinya.
"Kayanya acara jalan jalan kita hari ini batal deh...jalan kamu saja seperti itu.Mending aku kurung saja sampai jalan kamu normal lagi." Canda Rafa pada Karin.
Karin hanya merenggut pasrah bener yang dikatakan Rafa berjalan saja susah apalagi harus jalan jalan jauh kayanya memang harus di pending satu hari.
"Semuanya karena ulah mu." Cibir Karin sambil melangkah ingin membereskan kasur.
Rafa sambil tertawa menghampiri Karin.
"Biar aku saja yang beresin...kamu sekarang duduk manis saja nikmati menjadi ratuku."
Rafa berucap terus menggendong Karin menuju sofa.
__ADS_1
Setelah menurunkan Karin Rafa kembali berniat membereskan kasur.
Dia tersenyum melihat noda darah di seprai bekas mereka memadu kasih mereka semalam.