Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Membuat Karin cemburu.


__ADS_3

Mendengar penuturan Karin Rafa malah tertawa.


"Kamu semakin cantik kalau lagi malu gini !" Puji Rafa pada Karin.


"Rafa sudah deh... jangan terus bikin aku malu." Pinta Karin tak kuat menahan semrawut merah di pipinya.


"Ayo kita pulang." Ajak Karin mencoba mencari celah agar Rafa ga terus merayu nya.


"Ayo..."


****


Ditempat lain Ayahnya Tuan Hamdan sedang merayu anaknya untuk mau menandatangani surat perjanjian yang diberikan Rafa.


"Ayah...aku tak ingin menandatanganinya." Ucap Tuan Hamdan setelah membaca surat perjanjian itu.


"Tapi Hamdan ini satu satunya cara agar kamu bisa bebas!" Ayah Tuan Hamdan terlihat kesal.


"Apa Ayah tidak bisa membebaskan aku dengan kekuasaan Ayah?" Ucap Tuan Hamdan sinis.


"Jika Ayah bisa dari semenjak kamu masuk ke sini tentu sudah Ayah keluarkan.Tapi sayangnya pengaruh Tuan Rafa sangat besar Hamdan." Jelas Ayahnya Tuan Hamdan.


"Apa sebesar itu kekuasaannya? sehingga Ayah tidak bisa berbuat apa-apa?" Tuan Hamdan memastikan.


"Benar Hamdan Tuan Rafa bukan orang sembarangan dia mempunyai pengaruh sangat besar."


Mendengar penuturan sang ayah Tuan Hamdan terdiam.


Dia banyak berpikir jika dia menandatangani perjanjian itu sama saja dia menutup jalan untuk bisa memiliki Karin tetapi kalau dia tidak menandatangani surat perjanjian itu dia akan mendekam dipenjara.Pasalnya semua bukti yang telah rapi dia hilangkan ternyata dengan mudah Rafa dapatkan lewat orang suruhannya.


"Hamdan Ayah harap kamu bisa melupakan perasaan kamu terhadap Bu Karin." Pinta sang Ayah pada Tuan Hamdan.


"Sulit Yah !" Tuan Hamdan menarik napas kasar.


Hatinya masih terpaut pada wajah Karin yang memenuhi hati dan pikirannya.


"Sulit bukan berarti kamu tidak bisa !" Tekan Ayahnya Tuan Hamdan.


"Baiklah Ayah memberikan waktu untuk kamu berpikir, besok Ayah akan kesini, tetapi yang harus kamu ingat kamu ga akan bisa bebas dari sini tanpa menandatangani surat perjanjian ini.Ayah sudah tidak bisa membantu kamu dengan cara lain lagi!"Tekan Ayahnya Tuan Hamdan pada Tuan Hamdan.


Mendengar ucapannya sang ayah sangat terlihat jelas Tuan Hamdan sekarang dalam posisi terpojok.


"Baiklah Ayah tak usah menunggu besok aku akan menandatangani surat perjanjian itu sekarang." Ucap Tuan Hamdan dengan rasa kecewa yang dalam.


Mendengar ucapan sang anak Ayahnya Tuan Hamdan menepuk bahu Tuan Hamdan.


"Ayah mengerti akan kekecewaan kamu Hamdan, tetapi Ayah yakin nanti kamu akan menemukan sosok lain pengganti Karin."


Ayahnya Tuan Hamdan mencoba menguatkan hati anaknya itu.


Tuan Hamdan mengambil surat perjanjian itu dan langsung menandatangani nya.


Melihat hal itu sang ayah terlihat lega, setidaknya anaknya tak mendekam di penjara.

__ADS_1


Tetapi tentunya tugas barunya baru di mulai untuk menjaga Hamdan agar tidak melakukan perbuatan yang membuat keluarga Karin terancam lagi.


Setelah mendapatkan tanda tangan anaknya, Ayahnya Tuan Hamdan segera menghubungi pengacaranya Rafa untuk segera mengurus kebebasan anaknya.


****


Rafa yang berada di dalam mobil bersama Karin tersenyum mendapatkan pesan dari pengacaranya.


"Kenapa senyum gitu mendapatkan pesan dari siapa?" Karin terlihat curiga.


Melihat tatapan curiga dari Karin malah timbul ide jail dari Rafa.


"Ga ko...cuma dari teman." Rafa segera memasukkan ponselnya ke saku.


"Ia ..dari teman tapi dia beri pesan apa sampai wajah kamu senang gitu?" Tanya Karin masih mode curiga.


"Ah kepo..." Rafa merasa geli dengan raut wajah Karin.


"Temennya cewek apa cowok ?"


"Cowok." Rafa tersenyum geli mendengar pertanyaan Karin.


Karin melihat ponsel yang ada disaku baju Rafa.


"Sini coba aku lihat.." Karin hendak melihat ponsel Rafa.


"Ga boleh Rin..." cegah Rafa.


Karin memalingkan wajahnya segera terlihat kesal dengan Rafa.


Rafa tersenyum dengan tingkah Karin.


"Kamu lagi cemburu ya...?" Ledek Rafa pada Karin.


Karin hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Rafa.


Sampai di rumah Rafa yang hendak membuka 'kan pintu mobil untuk Karin tertegun karena Karin lebih dulu turun dan masuk kedalam rumah sendiri.


"Assalamualaikum..." Ucap Karin begitu memasuki rumahnya.


Dia segera berlari menuju kamarnya.


Rafa hanya mengikuti Karin dan membiarkan Karin membisu dengan muka kesalnya.


Lama Rafa menikmati muka jutek Karin.


"Raf...sana kenapa di sini 'sih? kamu lupa ya kita 'kan ___"


"Kita 'kan ...apa hmmm?" Rafa memotong ucapan Karin.


Dia melangkah mendekati Karin yang lagi mode merajuk.


"Kamu mau apa?" Karin mundur kebelakang melihat Rafa yang terus maju ke arahnya.

__ADS_1


"Aku senang kamu merajuk seperti ini berarti kamu cinta banget sama aku." Ucap Rafa setengah berbisik pada Karin.


"Kamu pede abis." Karin mendorong Rafa mundur lalu segera mengambil handuk masuk ke kamar mandi.


Rafa tertawa renyah melihat tingkah Karin yang menurut dia terasa lucu.


Lama Rafa menunggu Karin mandi.Sementara Karin yang baru selesai mandi baru sadar kalau dia hanya membawa handuk ke dalam kamar mandinya.


"Astagfirullah...ko aku bisa lupa 'sih." Karin menjadi bingung sendiri.


Lama Karin terdiam di kamar mandi karena merasa dingin akhirnya Karin memutuskan untuk memangil Rafa.


"Raf...Raf ..Raf...Raf..." Berkali-kali Karin memangil Rafa tetapi tidak ada sahutan.


"Apa dia sudah keluar ?" Guman Karin di dalam hatinya.Akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi.


Kepala Karin menyembul keluar menengok ke kanan dan ke kiri setelah merasa aman baru Karin keluar dengan perasaan cemas.


Baru tiga langkah keluar dari kamar mandi suara Rafa menggema di telinga Karin.


"Sudah mandinya?"


"Deg..." Karin mematung ditempat suara Rafa menggema di telinganya.


Karin berlari menuju keruang ganti pakaian tanpa menoleh ke belakang.


Segera Karin memakai pakaiannya.Dengan rasa malu Karin terpaksa keluar.


Wajah merah meronanya terlihat jelas, ini kali pertama untuk dirinya seorang laki laki melihat dirinya dengan hanya memakai handuk yang melingkar di dadanya.


Meskipun Karin sadar Rafa halal untuk melihat dirinya dalam posisi seperti itu tetapi Karin masih belum terbiasa.


Rafa mendekati Karin yang hendak mendekati meja riasnya.


"Hmmm...ga usah malu seperti itu kali Rin ..nantinya juga aku akan melihat semuanya." Rafa mengedipkan mata menggoda.


Karin hanya bisa acuh tak menjawab antara malu dan masih kesal akan kejadian tadi menjadi satu.


Rafa menyadari sikap cuek Karin padanya.


"Mau lihat ini hmmm..." Ucap Rafa memberikan ponselnya ke Karin.


"Ga usah..." Karin berjalan menuju meja riasnya.Dia pura pura menyisir rambutnya.


"Jangan merajuk begitu dong...coba lihat sini." Rafa menarik lembut dagu Karin lalu dia berjongkok menatap Karin lembut.


"Kamu satu satunya wanita yang aku cintai sebagai istriku insyaallah sampai aku menghembuskan napas terakhirku hanya kamu yang menemaniku sebagai belahan hati ."


Karin terdiam tak bersua padahal hatinya begitu bahagia mendengar ucapan Rafa.


"Lihat ini..." Rafa memperlihatkan pesan yang tadi bikin Karin cemburu.


Karin melihat dan membacanya.

__ADS_1


"Rafa.....!"


__ADS_2