Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Eposide 99


__ADS_3

Karin terus meloloskan dirinya sendiri dari tangkapan Rafa.


Rafa sepertinya ga mau kalah terus mengejar Karin. Sampai akhirnya Karin berhasil dia peluk.


Rafa langsung saja mengunci pergerakan Karin.


"Kamu ga akan bisa lepas dari aku sekarang." Ucap Rafa.


"Raf lepas..."


"Kamu lincah sekali sih....jadi bikin aku gemes pingin ..."


"Raf..." Lirih Karin tak tahan ketika Rafa semakin merusuh di lehernya.


Rafa menggendong tubuh Karin ke atas kasur . Nyatanya Karin yang masih menggunakan handuk se dadanya kini mulai terbuai dengan sentuhan Rafa.


"Boleh ya...?" Rafa masih saja ga berani memulai sebelum meminta izin pada pemiliknya.


Karin memejamkan mata tanda memberikan jawaban ia pada Rafa.


Rafa tersenyum kemudian keduanya membaca doa sebelum memulai petualangan nirwana mereka. Memohon agar segera di berikan keturunan yang soleh dan solehah.


Benar saja yang Rafa bilang menjelang tengah malam Rafa masih bersemangat untuk menggempur Karin. Karin yang merasa sudah tak berdaya membiarkan saja Rafa berfantasi akan tubuhnya.


"Raf..."lirih Karin membuka mata sayu.


Sementara wajah Rafa terlihat sangat segar sekali.Dia memeluk Karin begitu posesif.


"Ia sayang..."Mengelus gelus rambut sang istri dengan manja.


"Badan aku sakit semua akibat kamu Raf...kamu tanggung jawab ."


"Haha...mau aku gendong buat bersih bersih?"


"Masih kuat emangnya?"


"Kuat dong...tenaganya juga lebih full sekarang." Sombong Rafa menggoda Karin.


"Ya sudah gendong."


Rafa menggendong Karin untuk membersihkan diri.


Memang kebiasaan mereka tentunya kalau sehabis bercinta harus segera membersihkan diri.


Menjaga agar organ vital tetap sehat dan bersih.


"Raf...mana kunci lemari baju aku ?masa aku ga pakai baju terus sih." Protes Karin.


"Ia ini sayang...pakai saja baju ini."Rafa kekeh menyerahkan lingerie berwana merah marun yang tadi dia pilih kan.

__ADS_1


"Raf...sama saja ga pakai baju kalau baju itu mah. Aku nanti masuk angin . Kamu mau tanggung jawab."


"Aku tanggung jawab.Bahkan aku mau beli lagi banyak baju kaya gini. Biar tiap malem kamu pakai yang gini terus."


"Astagfirullah...tiap malam katanya , bisa bisa tiap malam juga badan ku seperti ini sakit terus." Ucap Karin dalam hatinya.


"Hey kenapa bengong sih. Ayo pakai atau aku pakaikan?"Rafa mengangetkan Karin.


"Ia...ia ga usah kamu pakaikan aku bisa sendiri." Ucap Karin sambil terpaksa mengambil baju pemberian Rafa.


"Wow...cantiknya...kenapa aku lihat kamu pakai baju itu jadi mau lagi ya..." Rafa menggoda Karin yang keluar dari ruang ganti.


"Rafa...kamu bercandanya ga lucu...aku capek Raf...mau bobo."


"Hehe...canda sayang. Serius amat."Rafa terkekeh.


"Lagian ya aku bener benar ga nyangka kamu mesum tingkat dewa...perasaan pas SMA kamu ga gitu."


"Ga gitu gimana maksudnya?"


"Ia waktu kamu dulu sama aku pacaran kamu ga suka ngegombal. Aku pikir kamu ga mesum kaya gini?"


"Ya beda lah Rin...kita dulu cuma pacaran kalau sekarang kita sudah nikah...ya...menurut aku wajar ya aku gombal sama kamu....kamu tuh sekarang halal buat aku. Kalau aku dulu kaya gitu sama kamu tandanya aku ga sayang sama kamu. Buat aku kamu adalah intan ,berlian, permata...pokoknya perhiasan termahal milik ku.....dan insyaallah akan selamanya milikku."


Karin menatap Rafa kemudian dengan senang hati memeluk Rafa.


"Setiap jawaban darimu ini kenapa selalu membuat aku bahagia Raf...kamu ...ah pokoknya yang paling bisa lah." Karin ga bisa mengungkapkan kata kata lagi.


"Rin ...abis resepsi pernikahan kamu mau bulan madu kemana..?"


"Aku mau kemana ya...? kalau kamu ada kepikiran gitu kemana...?" Karin malah balik bertanya.


"Kalau aku sih maunya di negara A saja, maksudnya ga usah ya keluar negri. Di sini juga kan masih ada ya...tempat tempat yang romantis. Tapi kalau kamu pingin keluar negri juga aku sih ayo ayo saja."


"Ya aku pikir juga mending di sini saja sih...aku lebih suka main di alam sih Raf...kamu punya ide ga kemana?"


"Seru...ya kali kalau kita ke pantai saja."


"Boleh juga..." Jawab Karin sambil tersenyum.


"Ya sudah sekarang mendingan kamu tidur udah mau pagi nih ." Rafa melihat jam sudah setengah dua dini hari.


"Pasangin alarm Raf...takutnya nanti subuh kesiangan. Kayanya hari ini aku ga kemana mana deh Raf...aku absen ga ke perusahaan rasanya capek banget dan kebetulan ada Ibu sama Bunda kan ga enak juga kalau aku tinggal." Ucap Karin sebelum tidur.


"Emangnya lagi nyantai ga banyak kerjaan?"


"Santai sih ga...cuman alhamdulillah ada Sifa yang bisa banget aku percaya dan siap bantu kapan saja. Jujur aku terbantu dengan kehadiran dia."


"Kalau aku sih kayanya sih kerja Rin..kebetulan ada seminar juga buat adik adik koas."

__ADS_1


"Oh...ya banyak anak anak baru dong nanti. Awas ya kalau ada yang bening."


"Awas...ko awas sih...ga perlu khawatir soalnya aku sudah punya yang bening lebih dari bening di rumah. Yang bening di luar mah lewat deh."


"Hmmm...paling bisa dasar..."


"Rin...makasih ya..."


"Untuk ?"


"Untuk malam ini.. . I love you."


"Love you too.."


Mereka memejamkan mata setelah saling melempar senyuman. Tak lupa doa mereka panjatkan pada Sang Pencipta. Sebuah kecupan di kening Karin mendarat setelah itu mereka berdua tertidur begitu nyenyak dan damai.


Rasanya baru saja mereka terlelap tetapi alarm mereka yang tadi mereka pasang nyatanya menarik mereka dari tidur nyamannya.


Dan baru saja Rafa membuka matanya hendak membangunkan Karin sebuah


ketukan pintu menggema di telinganya.


"Astagfirullah siapa sih yang pagi pagi gini sudah rusuh."


Rafa tanpa membangunkan Karin bangkit dari kasur dan membuka pintu.


"Hay...sayang...selamat pagi." Ternyata Bunda sudah berada di depan pintu dengan senyuman khasnya.


"Astagfirullah Bunda...tumben sudah ke sini , ini masih subuh lo Bun." Ucap Rafa sambil mengucek ngucek matanya.


"Bunda mau ngajak kamu dan Karin solat berjamaah subuh bareng Raf. Tapi ...."Bunda meneliti penampilan Rafa.


" Kamu baru bangun? Karin ?"


"Shut...Bun...please jangan sampai Karin bangun karena dengar suara Bunda, biar Rafa saja yang bangunin nanti dia malu lagi." Rafa menatap memohon.


"Kamu sih Raf ga tahu waktu kasihan kan Karin sampai kesiangan gitu. Cepat bangunin nanti waktu subuh nya keburu abis." Ucap Bunda sambil melempar senyum lalu berlalu pergi.


Rafa segera menutup pintu kamarnya. Bergerak mendekati Karin yang terlihat masih nyaman di balik selimut tebalnya.


Rasanya tak tega harus membangunkannya tetapi kewajiban tetap kewajiban.


"Sayang....: Tangan Karin terulur mengelus pucuk kepala Karin.


Karin menggeliat merasakan belain lembut sang suami.


"Raf...aku masih ngantuk please jangan rusuh."


"Maaf Rin...tapi ini sudah subuh..."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2