
"Neta berpikir akulah penyebabnya hubungannya dengan Gani kandas."
Karin menghentikan ceritanya menatap Rafa, ingin tahu respon Rafa selanjutnya.
"Lalu...apa Rin...?"
"Sampai akhirnya ke salah pahaman itu membawa Gani yang lagi sakit untuk ke sekolah dalam keadaan sakit, dan membuat kondisinya sampai dirawat seperti ini."
"Terus sekarang kamu dan Neta...?"
"Aku dan Gani ga ada hubungan selain teman , kalau Gani ingin meminta lebih dari itu aku ga bisa, aku udah jelasin itu ke Neta dan alhamdulillah Neta mengerti."
"Kalau masalah hati ga bisa di paksa itu hak Gani untuk memilikinya, tapi aku pun punya hak untuk hati aku sendiri."
"Aku hanya bisa berdoa mereka akan baik baik saja, tapi jikalau harus berakhir , berakhirlah dengan baik."
"Itu yang terus aku usahakan sekarang...!"
Rafa menarik sudut bibirnya.
"Kamu bilang kamu pun punya hak atas hati kamu, kalau boleh tahu hati kamu emangnya untuk siapa...?"
Karin yang lagi mode serius mendadak berkeling.
"Rafa...ih...!"
"Jawab Rin..?"
"Haruskah aku mengulanginya lagi, Rafa adi pratama..? kamu tahu betul hati aku sekarang ada siapa !"
"Buat pernyataannya dong biar semua orang tahu..."
"Hah...maksud kamu aku harus nempel kertas di dada aku ini kalau aku cinta..."
Karin menghentikan ucapannya , menyadari dirinya lagi di kerjain sama Rafa.
Rafa terkekeh.
"Lanjutin Rin, kamu cinta sama siapa...?"
"Ih...kamu Rafa...aku cubit ya....!" Karin mencubit pinggang Rafa.
"Awww...sakit Rin, ko malah di cubit sih ? harusnya di sayang kan cinta !" Rafa mengedipkan matanya.
Karin pun memalingkan muka malunya, sambil tertawa geli.
"Terima kasih ya..."
"Untuk..?"
"Untuk hati yang telah kamu jaga , aku bersyukur bisa memiliki status ini dengan kamu."
"Semoga bunda benar , kalau kita berjodoh.."
"Aamiin..."
Ucap Rafa sambil menyapu mukanya dengan tangan.
"Ih...kamu...yang ngomong kamu yang aamiin in juga kamu." ucap Karin.
"Abis nunggu kamu lama."
"Kamu emang ga mau gitu berjodoh dengan aku ?"
"Ih..bukanya gitu Raf, kita kan masih SMA, ga asyik mikir terlalu jauh."
"Nikmati dan jalani saja..."
"Berarti..."
Tutur Rafa terhenti, telunjuk tangan Karin sudah menempel di mulut Rafa.
"Usss ! jangan mikir yang aneh aneh deh."
"Aku...harap kita akan bersama Raf,cinta aku bukan candaan yang menghiasi masa puber kita."
__ADS_1
"Tapi kita juga harus realistis , serius dulu belajar, kuliah, setelah itu kita kerja buat masa depan cerah, untuk bekal menua bersama."
Senyum dibibir kedua insan itu merekah.
"Semangat ya...berarti."
"Ia dong...kan bentar lagi mau UAN...biar lulus dengan nilai bangus"
"Komitmen kita dong ini, lulus dengan nilai bangus..."
"Siiip...apapun yang terjadi nilainya harus bangus..."
"Yey...semangat.. "
Keduanya tertawa bersama.
Ekor mata Neta menangkap kedua orang yang lagi tertawa bersama itu, Neta ga sengaja melihat mereka, Neta tersenyum kecut.
"Semoga kamu bahagia Rin..."
Lalu berlalu tanpa menyapa .
Sampai di depan kamar rawat Gani, Neta berdiri sejenak sambil memegang gagang pintu,Neta menetralkan hati yang mendadak was-was tak karuan.
Lama dia menunggu sampai hati nya memberanikan diri mendorong pintu, dan dia mendapatkan ibu Rafa tengah menyuapi bubur ke mulut Rafa.
Ibu melirik ke arah Neta.
"Eh...nak Neta sini masuk "
Neta melangkahkan kakinya menuju ke ranjang Gani.
Dia memberikan plastik yang berisi obat Gani.
"Makasih ya...maaf udah bikin nak Neta repot " ucap ibu.
" Ga apa apa bu, Neta senang bisa bantu."
"Oh...ia Neta tadi ke sini sama Karin , tapi mana Karin nya, bu?"
"Oh ia nak Neta, tadi dia pulang duluan sama temen cowoknya"
"Temen...cowok..? siapa ya..?"
Neta melihat ke arah Gani, dia mengamati wajah Gani yang terlihat agak kusut.
"Anak IPA "jawab Gani dengan muka masam.
"Oh.."
Tiba tiba telepon ibu berbunyi, ibu melihat ponselnya, kemudian ibu melihat ke arah Gani dan Neta.
"Ibu..angkat dulu telepon ya..." lalu keluar dari kamar.
Sekarang di kamar rawat tinggal hanya Gani dan Neta.
"Gan...kamu marah...Karin pulang sama cowok lain ?"
"Ga, usah di bahas Net "
"Ga , maksud aku hanya ingin kamu tahu kalau kamu mau perjuangin Karin juga ga apa apa ko!"
"Aku sudah bisa rela kalau kamu dan aku ga bisa nerusin lagi hubungan kita."tutur Neta sendu.
Gani melihat Neta.
"Apa yang membuat kamu bisa berpikir sedewasa itu Net?"
"Kayanya ada yang berubah deh..."
Neta terkekeh
"Aku sadar Gan, kemarin aku ini terlalu egois tapi sekarang aku akan belajar untuk lebih sabar lagi."
"Ga semua yang kita mau bisa kita miliki kan...?"
__ADS_1
"Kamu benar Net, ga semua yang kita mau kita miliki, kita hanya perlu bersabar, akan hal yang mungkin akan lebih indah dari ini."
"Sekarang kita hanya akan fokus pada kelulusan Net, kita lulus sama sama dengan nilai bagus ya...!"
" Kamu mau kan merubah status kita menjadi teman sekarang..?"
Ucap Gani penuh pengharapan Neta bisa lapang dengan keputusannya, terlebih dia tak ingin Karin mendapatkan lagi masalah karena nya.
"Ia...Gan, aku mau jadi temen kamu, tapi boleh ga kalau aku minta lebih..?"
"Minta lebih apa...?" Gani penasaran.
"Kita jadi teman , teman tapi mesra.." Neta terkekeh dengan ucapan ya sendiri.
"Ih...kamu Net..ada. ada aja istilahnya ."
"Ya udah aku pulang dulu ya, udah sore" Neta melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kamu cepat sembuh biar ga banyak ketinggalan pelajaran " Neta memberikan perhatiannya.
"Ok, TTM ku..."
Mendengar kata itu Neta dan Gani terkekeh bersama.
"Bye..." Neta melambaikan tangannya , dan menghilang di balik pintu.
Setelah kepergian Neta , Gani menarik napas lega setidaknya satu masalah sudah selesai dengan baik.
****
"Rin...kita pulang yu...!"
Karin mengangukan kepalanya, Karin beranjak dari kursinya.
Tiba tiba tas Karin terjatuh dan mengeluarkan sedikit isi di dalamnya.
Rafa awas dengan kotak makanan berwarna merah muda.
"Itu apa Rin, kamu suka bawa bekal ke sekolah ?"
"Oh...ia " Karin menepuk keningnya.
"Aku lupa Raf ..tadi aku bawa bekel buat kamu sarapan , tapi lupa ngasih " sambil nyengir kuda Karin berkata.
"Ih...Karinnya aku perhatian deh , makasih ya...tapi lain kali jangan sampai lupa"
Rafa mengambil kotak makanannya,lalu membuka dan mau memakannya.
Karin menahan tangan Rafa , "jangan Raf...udah dingin ga enak.. " Karin menggelengkan kepalanya.
"Mubazir Rin...! lagian dibawanya dengan rasa sayang, masa harus aku anggurin."
Tak butuh waktu lama Rafa sudah memasukan roti bakar bawa Karin ke mulut nya.
Rafa memakannya sampai habis .
"Liat...nih Rin abis kan? makasih ya , enak !"
"Sama sama Rafa..."
"Lain kali bawain lagi ya..."
"Ih...keterusan..."kekeh Karin.
Mereka pergi dari taman rumah sakit , dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya.
"Kamu cantik Rin , kalau senyum kaya gini.."
"Ih...kamu lagi berjalan juga sempet ya merayu..."
" Bukan merayu Rin...tapi memuji anugrah Tuhan yang indah."
Karin malu malu menundukkan pandangan ya dari sorot mata Rafa.
Tiba tiba dari arah belakang ada yang memanggil.
__ADS_1
"Nak...Karin..."