
Selesai menerima telepon dari bundanya Adit ada perasaan lega di hati Karin. Setidaknya Adit mau bertanggung jawab itu lebih dari cukup, dan kemungkinan Adit terus mengharapkan dirinya akan segera terhapus dengan bergilir nya waktu.
Pagi ini sangat cerah matahari pagi membiaskan hangatnya lewat celah celah jendela kamar Karin.
Karin yang sudah bersiap untuk pergi sekolah 'pun tersenyum menyambut pagi yang cerah. Kaki Karin melangkah ringan kini Karin tidak ingin lagi mengingat semua hal buruk semalam yang telah dia lewati, 'ya ujian sekolah tinggal menghitung hari.
Karin lebih memfokuskan dirinya pada ujian.
"Hey...Rin" Sapa Sifa tiba tiba datang di sebelah Karin dengan menghempaskan tubuhnya ke bangku sekolah.
"Sifa kamu kenapa ?" Karin memperhatikan Sifa yang terlihat pucat.
"Aku pusing Rin." Keluh Sifa pada Karin.
"Pusing kenapa sih? kamu sakit ? kenapa sekolah sih kalai sakit?" Karin merasa cemas dengan keadaan sahabatnya itu.
"Aku semalam bergadang Rin ,menghapal materi ujian tapi yang ada___" Sifa kembali menjatuhkan tubuhnya ke bangku.
"Ih 'kan bener kata aku juga belajarnya jangan di sekaligusin jadi nya susah nampungnya 'kan, ujung ujungnya kamu sendiri 'kan yang susah." Karin berkata sambil nyengir pada Sifa.
"Ah aku galau Rin, cerita sama kamu malah di ceramahin.Tau ah." Sifa membuang muka malas pada Karin.
Karin terkekeh dengan kemanjaan temanya itu,"Ya udah sarapan dulu yuk masih ada lima belas menit lagi deh sebelum masuk, sepertinya kamu belum sarapan ya?" Karin sengaja perhatian pada sahabatnya itu.
Sifa menggangukan kepalanya tanda setuju.
Karin akhirnya mengantar Sifa buat sarapan.
"Pelan pelan dong makanya Sif.Kamu ga ada manis manisnya padahal kamu tuh perempuan." Karin merasa ngeri dengan sikat makan Sifa.
"Ah bodo amat , nanti keburu masuk lagi."
Karin hanya tersenyum melihat tingkah Sifa.
"Nanti mau ga belajar bareng aku , 'kan masih ada dua hari lagi 'kan buat belajar."
"Bener Rin aku sekarang mau belajar sama kamu soalnya kalau sendiri pusing." Sifa berkata sambil menguyah makanan di mulutnya.
Rafa yang kebetulan melewati kantin tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu.
Sejenak dia memperhatikan Karin yang terlihat cantik pagi ini.
Karin yang merasa ada orang memperhatikannya mengalihkan pandangannya dia menemukan Rafa yang berdiri sambil menatap nya lembut.Sejenak Karin 'pun melemparkan senyumannya pada Rafa.Rafa 'pun tak kalah dia melempar senyuman pada Karin.
"Tumben dia senyum balik." Karin bermonolog sendiri setelah mendapatkan senyum balasan dari Rafa.
__ADS_1
"Ayo Rin, aku sudah selesai ." Ajakan dari Sifa membuyarkan atensi Karin.
"Oh sudah selesai." Karin kebingungan sendiri.
"Ih kamu kenapa sih kesambet apa sih?" Sifa memperhatikan Karin dan sepintas dia melihat Rafa.
"Oh kamu jangan bilang ya kamu kesambet cintanya Rafa?" Sifa menggoda Karin.
"Ih kamu." Karin menarik lengan Sifa menuju ke kelas.
***
Hari ujian sekolah 'pun sudah di mulai semua siswa siswi mengerahkan semua kemampuan ya untuk mendapatkan nilai yang bagus.Tidak terkecuali Karin dan Rafa.
Karin dan Rafa terlihat sangat sungguh sungguh dalam menjawab pertanyaan.Meskipun mereka tidak bersama lagi tapi baik Karin atau 'pun Rafa masih mengingat komitmen mereka agar lulus dengan nilai yang tinggi.Itu salah satu dasar Karin dan Rafa berjuang sekarang.
Selama tiga hari itu mereka tidak memikirkan hal lainya selain dari menghapal dan menghapal.
"Alhamdulillah...." Ucap Karin begitu keluar dari ruang ujiannya.Ini adalah hari terakhir untuk ujian kelulusan sekolah.Karin bernapas lega setelah beberapa hari ini semua waktu dan perhatiannya tertuju pada ujian.
Tiba tiba Sifa dan teman teman yang lain pada keluar dari ruangan mungkin saking lelahnya mereka menghempaskan tubuh mereka di teras sekolah.
"Rin kepala ku rasanya mau meledak." Sifa mendramatisir.
"Kamu Happy nah aku kepala ku saja hampir mau meledak."
Sesaat kemudian mereka tertawa bersama saling meledek soal kelakuan mereka saat ujian tadi.
Sesekali mereka memperagakan gestur tubuh pengawas di ruangan yang membuat mereka merasa tegang tadi.
Semua rasa bercampur jadi satu.
"Kini Karin bersama teman temanya kini berada di kedai bakso, setelah ujian selesai mereka menghabiskan waktu hari itu untuk makan bersama merasakan momen momen yang sebentar lagi akan berakhir.
"Rin kamu kuliah dimana?" Celetuk Gani yang pindah posisi duduknya mendekati Karin.
"Jangan di jawab Rin, nanti kamu repot lagi di ikutin makhluk satu ini." Ucap Sifa.
Gani mendelik pada Sifa.
"Kamu Sif, aku salah apa sih sama kamu hingga kamu sesensi ini sama aku?" Gani tak kalah mendramatisir keadaan menjawab omongan Sifa.
"Ih kalian cocok deh, aku dukung deh kalau kalian jadian.Kalian kaya tom and jerry." Karin mengedipkan matanya pada Sifa dan Gani.
Sementara Sifa dan Gani saling pandang.
__ADS_1
Sifa memuntahkan udara sementara Gani cukup berkata "Aamiin...semoga saja Rin, nenek sihir ini jatuh cinta secinta cintanya pada seorang Gani."
Sifa yang mendengar dikatain nenek sihir mencubit Gani.
"Aww...sakit!"
"Rasain itu cubitan nenek sihir."Sifa mencibirkan bibirnya.
Karin yang menyaksikan kedua insan yang saling berantem hanya bisa menggelengkan kepalanya.Dia bangkit dari kursi dan keluar ingin mencari angin segar diluar.
Di pinggir kedai terdapat kolam ikan koi,Karin mendekat kearah kolam itu dan memberikan pakan ikan itu.Senyum Karin mekar melihat pemandangan segar di depan matanya.
Dia memperhatikan ikan itu tak berasa dia membentur pinggir kolam itu.
Sesaat tubuh Karin melayang ingin terjatuh.Tetapi tangan Karin di tarik sama seseorang dari belakang.
Karin spontan melirik kebelakang siapa orang yang telah menolongnya tadi.
"Rafa ."
Rafa hanya tersenyum pada Karin.
"Hati hati Rin ! Kolam nya dalem."
Setelah berucap itu Rafa pergi begitu saja meninggalkan Karin yang masih merasa kaget.
Karin tersentak dari rasa kaget nya lalu dia mengejar Rafa.
"Tunggu Raf...tunggu aku dulu."
Merasa namanya dipanggil Karin Rafa malah mempercepat jalanya.
Karin menatap punggung Rafa yang menghilang.Ada rasa sedih di hati Karin melihat Rafa yang terus menghindari dirinya.
Sementara Rafa yang bersembunyi di sebuah pot besar memperhatikan gerak gerik Karin dengan mata yang sendu.
"Aku ingin sekali mengucapkan selamat pada mu Rin, karena hari ini kita telah berhasil melewati ujian yang sangat menguras waktu dan pikiran.Tapi nyatanya aku tak mampu Rin, saat ini aku terlalu pengecut."
Kepala Rafa tertunduk.
Karin kembalikan badannya menuju ke dalam kedai.
Terlihat Gani dan Sifa masih belum selesai dengan perdebatan mereka.
"Ayo Sif kita pulang." Karin menarik tangan Sifa.
__ADS_1