Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Hadiah pernikahan.


__ADS_3

"Deg..."


Begitu Karin mengangkat kepalanya dia bertemu dengan netra Rafa yang penuh dengan binar kebahagian.


"Raf...." Lirih Karin dengan bibir yang bergetar.


Ternyata ini bukan halusinasinya. Ini adalah kenyataan bahwa laki laki yang telah menjadi suaminya adalah Rafa.


Setetes air mata membasahi pipi Karin.


"Hey kenapa menangis hemm..." tangan Rafa terukur menghapus lelehan bening itu.


"Raf...ini kamu , aku ga mimpi 'kan?"ucap Karin sambil tak lepas menatap Rafa.


"Ya ini aku Rafa !"


"Ehmmmm....boleh di lanjutkan acaranya." Tanya penghulu.


"Ia pak maaf lanjutkan saja." Kata Ayahnya Karin.


Sementara sang ibu berbisik pada kedua mempelai pengantin itu.


"Sayang sayangnya Ibu nanti di lanjut ya ngobrolnya , acaranya 'kan belum selesai."


Ucapannya Ibu membuat Rafa dan Karin tersadar kalau mereka masih dalam acara pernikahan.


Akhirnya pak penghulu menyerahkan buku nikah yang harus ditanda tangani oleh Rafa dan Karin.Sebelum menanda tanganinya Rafa di minta membaca buku nikah itu dulu.Maksudnya agar semua yang hadir terutama Rafa dan Karin tahu dan paham dengan apa yang terkandung dalam buku nikah itu.


Akhirnya Karin dan Rafa menandatangani buku nikahnya masing masing.


Sambil menandatangani buku nikah itu Rafa tak henti henti melempar senyum pada Karin.


Sementara Karin yang merasa shock merasakan kepalanya agak berputar.


Karin memaksakan dirinya untuk terus mengikuti acara.


Sampai pada acara terakhir tukar cincin.


Rafa dengan senyum mengembang menyelipkan cincin pernikahan ke jari manis Karin. Dan begitu juga Karin menyelipkan cincin pernikahan ke jari manis Rafa.


Kemudian pak penghulu dengan suara menggoda menyuruh Rafa mencium kening Karin.


"Cup...." Bibir Rafa mendarat di kening Karin bersamaan dengan pingsannya Karin.


"Karin..."teriak semuanya menjadi panik melihat pengantin perempuan pingsan ke pelukan Rafa.


"Rin...Rin..." Rafa menepuk pelan pipi Karin.


Dengan segera Rafa menggendong Karin masuk ke kamar Karin.


Rafa langsung memeriksa keadaan Karin.Sementara yang lain menunggu dengan wajah wajah cemas.


Selesai Rafa memeriksa Karin dia melihat kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.


Rafa menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan menantu Bunda Raf?"


"Tidak apa apa Bun, dan semuanya mungkin Karin hanya merasa kaget saja soalnya dia ga tahu 'kan kalau Rafa adalah calon suaminya. Sebentar lagi juga siuman.Kalau boleh biar Rafa saja yang menjaga Karin."


Mereka semua saling tatap.


"Ia Bu, diluar juga masih banyak tamu ga enak kalau kita tinggalin."


Ibu mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Ia Yah, Ibu titip Karin ya." Ucap Ibu dengan nada cemas.


"Ia Bu, insyaallah Karin akan Rafa jaga .Ini juga sudah tanggung jawabnya Rafa." Ucap Rafa menenangkan Ibu.


Setelah mendengar ucapannya Rafa akhirnya semuanya berbalik keluar menuju ke tempat acara tadi.


Akhirnya tinggal lah Rafa dan Karin berdua di dalam kamar.Rafa mendekat menghampiri Karin yang terbaring.


Rafa memandang Karin dengan penuh rasa sayang.Tangan Rafa terulur mengusap lembut pipi Karin.


Karin sayup sayup membuka matanya pemandangan ketika Karin membuka matanya adalah wajah Rafa yang persis di depan wajahnya.


"Rafa...!" Teriak kaget.


"Usss..." jari Rafa menempel di bibir Karin.


"Raf...lagi apa kamu disini?"


"Kamu tadi pingsan." Jawab Rafa santai.


Karin mengingat kejadian tadi.


"Raf...ini bukan mimpi 'kan?"


"Tidak Karin ini bukan mimpi, ini kenyataan.Kamu telah menjadi nyonya Rafa adi pratama." Tegas Rafa sambil mengelus kepalanya Karin.


"Kamu dan aku ?"


"Ia Karin, sekarang kamu halal untuk aku sentuh."Rafa mengedipkan mata nakalnya.


Seketika Karin bersemu merah mendengar ucapannya Rafa.


"Masih pusing hmmm..."Tanya Rafa dengan suara manja.


Rafa bangun dia mengambil air minum dan obat buat Karin.


"Minum obatnya Rin, biar cepat sembuh."


Rafa membantu Karin bangun dia juga membantu Karin memakan obatnya.


Setelah makan obat Karin berbaring lagi.


"Rin," Rafa menggenggam tangan Karin.


"Apa?" lirik Karin.


"Apa kamu bahagia mengetahui kalau aku adalah suami mu?" dengan nada cemas Rafa bertanya.


Karin menatap Rafa lama, dia menatapnya tanpa menjawab pertanyaan Rafa.


"Rin jawab dong."


"Aku sebel sama kamu " Karin malah berbalik membelakangi Rafa.


"Ish...ko sebel 'sih?"


"Ya iyalah kamu ga peka dengan setiap ucapannya aku." Rengek Karin mengeluarkan beban hatinya dengan suara manja.


"Ini aku peka bukti nya aku suami mu sekarang." Jawab Rafa sambil mengelus kepalanya Karin.


"Tapi kenapa kalau pas sama aku ngomongnya pacaran terus, ga ngomong mau nikah."


"Ih kamu saja Rin yang main teka teki sama aku.Aku kan harus memecahkan teka teki darimu dulu, coba saja kalau kamu langsung bilang mau nikah, ya pasti aku sangat bahagia sekali." Jawab Rafa ,Dia juga lagi mengeluarkan beban hatinya.


"Masa aku harus bilang gitu 'sih? malu kali." Karin berbalik kembali menatap Rafa.

__ADS_1


"Ya sudah yang penting kita bisa bersatu sekarang, jangan main salah salahan , ga lucu kali pengantin baru berantem." Kekeh Rafa.


Karin mengangguk dengan senyum menghiasi wajah nya.


"Rin...jawab dulu kamu bahagia 'kan menikah denganku?"Rafa kembali mengulang pertanyaan nya tadi.


"Ia Raf aku bahagia sekali, andai aku tahu kamu adalah calon suamiku aku ingin pernikahan kita mewah dan besar."


"Alhamdulillah..aku senang Rin dengan jawaban kamu, kamu harus tahu aku sangat mencintaimu." Ucap Rafa penuh ketulusan.


Karin yang mendengar ucapannya Rafa hanya tersenyum senang.


Rafa mendekat ke arah Karin dia mengikis jarak antara keduanya.


Wajah Karin terasa memanas ketika wajah Rafa mendekat ke arahnya.


Tinggal satu jengkal lagi Rafa berhasil mencium bibir Karin tapi tangan Karin menahan dadanya Rafa.


"Kenapa hmmm...? kita sudah halal Rin ." Tanya Rafa.


"Maaf...aku " Karin terlihat merasa bersalah.


"Tak apa kamu belum siap untuk aku sentuh ya?" senyum Rafa pada Karin.


"Bukan begitu Raf, aku aku___"Ucapan Karin menggantung.


"Ih...ko digantung 'sih ucapannya.Bicara saja aku ga marah ko." Ucap Rafa dengan lembut.


"Boleh ga aku meminta hadiah pernikahan pada mu?" Tanya Karin agak ragu.


"Hadiah pernikahan? kamu mau apa Rin, seandainya aku mampu insyaallah aku akan mengabulkan ya."


"Aku ingin kita pacaran dulu ."


"Apa ?" Teriak Rafa.


"Ih jangan teriak."


"Kamu aneh aneh Rin,minta hadiah pernikahan ko ngajak pacaran 'sih, apa ga minta yang lain saja misal honeymoon kemana gitu!"Ucap Rafa agak merayu.


"Sungguh Raf aku ingin merasakan rasanya pacaran." Karin menatap Rafa sayu.


Tatapan mata Karin membuat Rafa tak mampu untuk berkata kata lagi dia melihat betul keinginan istrinya itu begitu besar.


Dengan terlebih dulu menarik napas dalam akhirnya Rafa menyetujuinya.


"Baiklah aku menyetujuinya, kita pacaran, tapi berapa lama kita pacarannya?"


"Satu bulan."Ucap Karin.


"Apa?" Rafa kembali berteriak.


"Ih pelanin suaranya."


"Ia Rin aku pelanin, tapi , ia kali satu bulan lama banget." Rafa sedikit merajuk.


"Dua minggu." Tawar Karin.


"Dua hari." Jawab Rafa.


Kali ini Karin yang menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah satu minggu , ga bisa di tawar lagi." Tegas Rafa.


Mendengar hal itu Karin mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2