Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Persiapan


__ADS_3

"Alhamdulillah..." Ucap Rafa matanya berbinar kebahagiaan.


"Tapi gimana ceritanya anak Bunda ini bisa kepikiran dengan ta'aruf?"


Rafa tersenyum lalu dia menjelaskan semuanya kepada Bundanya.


Termasuk kejadian saat dia SMA dulu.


"Apa ? kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari Bunda selama ini?" Bunda terlihat setengah kaget mendengar penjelasan Rafa.


"Pantas saja selama ini kamu selalu menutup diri dari gadis gadis?" Cibir Nenek.


Mendengar omelan dari kedua wanita yang sangat berarti untuknya itu Rafa hanya tersenyum.


Rafa mempunyai alasan sendiri kenapa dia menyembunyikan rahasia sebesar itu dari keluarganya.


"Ya sudah , Bunda telepon Ayah kamu dulu ya, jadi maunya kapan kami menemui keluarga Karin?" Bunda menatap Rafa.


"Kalau bisa malam ini." Rafa berbicara sambil nyengir kuda.


"Astagfirullah...Rafa kamu sadar dong, ga bisa mendadak seperti ini juga kali." Ucap Bunda menatap Rafa penuh rasa gemas.


"Ga baik Bun, menunda hal baik."Rafa menjawab Bunda dengan wajah tampa dosa.


"Kamu ya Raf___"


Bunda tidak melanjutkan omongannya karena Nenek memotong ucapannya.


"Kalau menurut Nenek Rafa benar ga usah di tunda tunda kalau ada hal baik, kasihan juga anak kamu , dia sudah kebelet kawin." Ucap Nenek sambil menggoda cucunya.


"Tapi 'kan Bu, banyak yang harus di siap 'kan ga enak juga kalau datang ke sana tanpa___"


Omongan Bunda kembali di potong sama Nenek.


"Semua persiapan bisa belakangan itu soal gampang, yang penting sekarang kita ke sana dulu, nanti Karin di ambil orang kita nyesek lagi." Nenek agak tegas dalam mengeluarkan pendapatnya.


"Ya sudah kalau gitu , aku ikut Ibu saja, aku kabarin ayah Rafa dulu ya Bu."


Selagi Bunda menelepon Ayah Rafa.Rafa menghampiri Neneknya.


"Terimakasih Nek, Nenek adalah Nenek terhebat di dunia." Rafa memeluk Nenek.


"Kamu sudah mau melangkah ke arah sebuah pernikahan, asal kamu tahu Raf, pernikahan itu ga selamanya indah, akan ada badai di dalamnya.Tetapi Nenek minta jadilah imam yang selalu berusaha untuk sempurna untuk istrimu kelak." Nenek mengelus gelus kepalanya Rafa dengan sayang.


"Ia Nek, Rafa akan mengingat selalu ucapan Nenek."


"Kamu cucu kesayangan Nenek, Nenek doakan semoga Rafa selalu bahagia." Mata Nenek setengah berkaca kaca menatap Rafa.


"Aamiin, terima kasih untuk selalu mendoakan kebaikan untuk Rafa.Rafa menangis haru memeluk sang Nenek.


"Awww..."Rafa meringis.


"Kenapa di cubit 'sih Nek?"


"Nenek ga mau lihat kamu nangis!"


"Ah Nenek." Rafa semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin, Nenek sesak."

__ADS_1


Rafa terkekeh mendengar ucapan Neneknya.


Bunda datang menghampiri Rafa dan Nenek.


"Raf, siap siap sore ini kita berangkat, kata ayah kamu langsung ketemuan di kota A saja.Untuk persiapannya sudah Ayah persiapkan di sana."


"Terima kasih Bunda."Rafa mengedipkan mata nakalnya.


Bunda dan Nenek pergi ke kamarnya mempersiapkan keperluan yang harus dibawa nanti sore.


Sementara tinggal Rafa sendiri di ruang keluarga.Dia tengah senyum senyum sendiri, bayangan indahnya kini menguasai pikirannya sekarang.


Sementara di kota A Karin hanya bisa menyibukkan dirinya sendiri.Dia berusaha untuk melupakan Rafa dengan kesibukannya itu.


"Sif kita keluar dulu yu." Ajak Karin pada Sifa.


"Baik Bu."


Karin mengajak Sifa makan siang.Disela makanya Sifa meneliti Karin yang terlihat ga bersemangat beberapa minggu ini.


"Bu...boleh kita berbicara seperti sahabat di sini?"Sifa masih formal karena masih di jam kerja.


"Ia Sif boleh, lagian aku hari ini lagi ingin curhat."


"Kamu ada masalah Rin?"


"Sif, aku ga ingin terus terusan memikirkan Rafa, aku ingin bisa melupakannya, tetapi aku ga tahu caranya Sif?"


"Rin sepertinya Rafa memang cinta sejati mu 'deh soalnya dia selalu menghantui pikiran mu sejak SMA."


"Kenapa kamu ga terima Rafa saat dia meminta kamu jadi pacarnya lagi?" Sifa menyelidik karena jujur Sifa tidak mengerti kalau Karin tidak menerima Rafa sementara Sifa tahu jelas selama ini Karin tidak pernah memiliki hubungan dengan pria mana pun.


"Maksud kamu apa Rin, aku semakin ga ngerti dengan ucapan kamu ini."


"Sudah 'lah Sif, aku pusing aku capek."


Mata Karin menatap ke depan kosong.


"Sif aku mau pulang dulu ke rumah , aku ingin istirahat.Kamu pulang sendiri ke kantor ya."


"Ia Rin, kamu hati hati ya!"


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah itu Karin pergi melesat ke rumahnya.


Sampai di rumah Ibu melihat Karin beliau menyambut Karin dengan senyuman.


"Tumben sudah pulang Rin jam segini?"


"Ia Bu, aku ingin istirahat."


"Kamu sakit sayang?" Ibu meraba kening Karin.


"Ga Bun Karin hanya merasa ingin istirahat saja."


Karin sedikit berbohong dia ga mungkin menceritakan pada Bundanya kalau Karin merasa hatinya dari tadi terus berdebar.Karin tidak mau Ibu menjadi khawatir.

__ADS_1


"Ya sudah istirahat dulu saja ini baru jam setengah dua,nanti ashar Ibu bangunin." Ibu mengintruksikan pada Karin.


"Ia Bu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Karin masuk ke kamarnya.


Tanpa menunggu lama Karin terlelap tidur.


****


Mimpi Karin


Karin tengah duduk di sebuah taman yang sangat indah .Karin sedang asyik melihat sekitarnya banyak burung burung di sana.Burung dan kupu kupu hinggap pada bunga yang ada di taman itu. Air mancur sangat jernih di tengah tengah sebuah kolam yang di huni oleh ikan ikan warna warni.


Karin lagi asyik diam di bangku .Kadang sang kupu kupu menghampirinya membuat garis bibir Karin terangkat.


Tiba tiba bahu Karin dipegang oleh seseorang.Karin meliriknya "Ibu?"


"Hai anak Ibu yang cantik dan sholehah" Ibu duduk di sebelah Karin.


"Ibu kenapa ada di sini?"


Mendengar ucapan Karin Ibu tersenyum.


"Ibu mau memberi tahu sesuatu." Bisik Ibu.


"Memberitahu apa Bu?"


"Jodohmu sudah datang !"


"Siapa?"


Ibu menunjukan kearah seseorang yang berdiri tetapi memungungi posisi Karin duduk.


"Ibu suka sama dia ! insyaallah dia akan jadi imam yang baik buat kamu, insyaallah dia akan membimbing mu bersama menuju kebahagian dunia dan akhirat."


Ucap Ibu sambil tersenyum.Tak lupa Ibu mengelus kepala Karin.


****


"Karin sayang bangun!" Ibu membangunkan Karin yang pulas tidur.


"Sayang ayo dong bangun ini mau waktunya sholat asyar!"


Ibu mengelus kepala Karin.


Karin tertarik dari alam mimpinya.Karin setengah membuka matanya posisi Ibu yang lagi mengelusnya seakan sama dengan posisi tadi di mimpi Karin.


Sesaat Karin termenung.


"Maaf ya sayang Ibu menggangu tidur nya kamu mandi dulu biar seger soalnya bentar lagi mau datang waktu sholat asyar."Ucapan Ibu menarik Karin betul betul ke alam sadarnya.


"Oh ia Bu, terima kasih sudah di bangunin."


"Ya sudah Ibu keluar ya."


Setelah Ibu keluar Karin kembali mengingat ingat mimpinya.

__ADS_1


"Apa ini jawaban dari MU ya Robby?


__ADS_2