Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Eposide 97


__ADS_3

Setiap tiga langkah Karin anak itu selalu kembali saling bergantian memberikan setangkai bunga untuk Karin.


Setiap kali Karin bertanya anak itu selalu pergi tanpa menjawab hanya dengan senyuman manis.


Karin mengerutkan keningnya tak kala ditangannya kini sudah memegang banyak tangkai bunga mawar di tangannya.


Karin berjalan mendekati Rafa. Terlihat Rafa malah anteng anteng saja di sana.


Karin terdiam sambil melihat bunga yang dia pegang. Ada rasa was was kalau Rafa tahu ada orang memberikan dirinya bunga dengan begitu banyaknya.


Kaki Karin melangkah sangat pelan.


Sementara Rafa sebenarnya sudah menyadari keberadaan Karin. Tetapi Rafa pura pura tidak tahu.


"Raf...." Suara Karin terdengar lirih.


Dia berdiri di belakang Rafa sambil salah tingkah sendiri dengan bunga bunga di tangannya itu.


"Ia..." Rafa berbalik menghadap ke arah Karin.


"Hehe..." Karin tertawa sambil mengacungkan bunga di tangannya itu.


Kening Rafa berkerut. Tetapi belum juga Rafa berbicara Karin malah mendahului berbicara.


"Raf...maaf ya aku beneran tidak tahu. Siapa yang memberikan bunga bunga ini pada aku."


"Hmm....kamu suka?"


Karin terdiam kalau dia bilang tidak suka sama saja dia bohong.


"Maaf Raf...tapi jujur aku suka bunga nya. Karin berucap dengan hati agak was was sendiri.


Rafa tersenyum.


"Kenapa kamu malah senyum Raf? kamu ga marah ?"


"Tentu saja aku ga akan marah, aku bahkan mau menambahkan lagi ini buat kamu." Rafa memberikan bunga mawar yang paling cantik untuk Karin.


"Rafa...." Karin berucap kegirangan.


"Jadi kamu ya...yang memberikan bunga bunga ini sama aku. Ya Allah so sweet banget sih." Karin jujur merasa terharu sekaligus merasa senang banget.


"Rasanya aku sudah lama ga memberikan kamu bunga Rin, banyak waktu aku yang tersita karena kerjaan padahal kita kan pengantin baru. Harusnya waktu kita bersama tuh lagi banyak banyaknya.Maaf ya..." Rafa mengungkapkan rasa bersalahnya pada Karin.


"Ih ko main maaf sih, ga apa apa kali. Soal kerjaan kamu aku ngerti banget malah. Itu wajib, tugas kamu menolong orang itu tugas mulia Raf." Karin tersenyum pada Rafa.


"Terima kasih istriku. Tapi insyaallah habis kita resepsi nanti, aku rencananya mau ambil liburan seminggu full.Kita bisa bulan madu kemanapun yang kamu mau Rin."


"Insyaallah...mudah mudahan di lancarkan segala sesuatunya. Aamiin."


"Aamiin."


"Ayo kita lihat lihat ke taman. Sekaligus minta izin buat ngadain pesta di sini."


"Ayo..."


Karin dan Rafa berjalan saling bergandengan tangan. Sesekali saling melempar senyuman.


Kedua insan itu seperti orang yang lagi berpacaran. Mereka mengelilingi taman. Karin dengan senang hati menunjukan tempat tempat favorit nya di taman itu. Sementara Rafa meneliti setiap sudut agar resepsi nanti konsepnya pas.


Lama mereka berkeliling. "Raf istirahat dulu yu di sana." Karin menunjukan bangku taman yang berhadapan dengan air mancur yang berada di area bunga bunga yang cantik dan warna warni.

__ADS_1


"Ayo..." Mereka menuju bangku itu.


Rafa mengeluarkan air mineral yang sengaja dia bawa di tasnya.


"Ini Rin...minum dulu pasti setelah keliling keliling kamu haus." Ucap Rafa sambil menyodorkan air mineral pada Karin.


"Terima kasih, tahu aja kalau aku ingin minum." Karin menerima air mineral itu dengan senang hati.


Tanpa aba aba lagi Karin yang memang merasa haus langsung meminum air yang diberikan Rafa sampai abis setengahnya.


"Alhamdulillah...seger ..."ucap Karin sambil mengelap mulutnya bekas minum tadi.


"Haus banget ya...minumnya saja seperti itu."


"Hehe..."


"Rin...indah ya taman nya. Rencananya aku ingin bagian taman ini yang jadi tempat untuk pelaminan nantinya. Menurut kamu gimana?"


"Aku terserah kamu saja Rin...semua konsepnya nuansanya, aku ngikut kamu. Kan kemauan aku sudah kamu turutin.Ngadain resepsi di taman ini."


"Segitu bahagianya istriku ini, boleh dong pulang dari sini aku dapat hadiah plus."


"Ih...kamu Raf..apa sih." Karin mencubit sayang perut Rafa.


"Aww...sakit Rin. Masa di cubit sih. Harusnya di sayang."


"Sudah ah malu..."


"Malu sama siapa ? ga ada orang." Rafa melihat ke sekeliling.


"Malu sama bunga..."Jawab Karin.


"Bunga bunga itu tersenyum lo Rin mendengar gombalan aku."


"Ia..ia udah tapi jadi ya..." Kedipan mata nakal Rafa membumbui senyumannya.


Karin mengerlingkan matanya ke arah lain. Rasa rasanya meskipun sudah pernah melakukannya tetapi buat Karin masih saja malu kalau membahas tentang hal seperti itu.


"Rin...pulang yu..."


Ajakan Rafa sontak membuat Karin melirik.


"Kenapa pulang kita kan belum bilang kalau taman ini akan kita pakai buat resepsi."


"Aku pingin pulang cepat Rin...lagian aku sudah memutari semua taman ini. Jadi aku sudah paham konsep yang akan aku pakai nanti. Kalau soal perizinan aku nanti suruh orang aku saja. Yang penting kamu tahu beres saja." Jawab Rafa panjang lebar menjelaskan pada Karin seolah ga ingin ada bantahan dari istrinya itu.


"Astagfirullah...ko jadi sesimpel itu ya..."


"Tenang sayang semua aman. Semua akan seperti yang kamu ingin kan."


"Yakin?"


"Yakin seratus persen."


"Ya sudah deh kalau begitu. Aku ikut maunya kamu Raf."


"Gitu dong. Istriku ini penurut banget sih. Jadi pingin cepat cepat pulang. Ayo." Rafa langsung menarik tangan Karin.


Karin cuma tertawa geli dengan sikap Rafa.


Rasanya sesuatu banget mempunyai seorang suami itu.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil. Baru juga Karin dan Rafa duduk Karin menatap Rafa.


"Kenapa sayang ko menatap aku seperti itu?"Tanya Rafa merasa ada yang berbeda.


"Hehe...aku lapar Raf. Boleh ya makan malam dulu sebelum pulang." Ucap Karin sambil nyengir kuda.


"Astagfirullah ...saking semangat pulang aku sampai lupa kita belum makan malam ya. Maaf sayangku." Sesal Rafa.


"Ga apa apa Raf."


"Ngomong ngomong mau makan malam apa? mau dimana?"


"Kita makan yang di kaki lima saja Raf...ga usah di restoran ya."


p


"Ok...mau makan apa?"


"Maunya nasi goreng ga apa apa kan?"


"Ok..kita otw "


Setelah lima belas menit melakukan mobilnya barulah mereka menemukan pedagang nasi goreng yang membuat Karin tertarik.


"Raf...lihat di sana sepertinya nasi goreng nya enak ." Karin menunjuk ke arah pedagang nasi goreng yang banyak pembelinya.


"Ngantri Rin.."


"Ga apa apa, justru aku penasaran ko bisa ngantri gitu yang belinya."


"Apa maunya istriku aku ikutin deh."


"Terima kasih."


"Kamu tunggu saja di sini Rin..kita makan di mobil saja. Lagian tempat duduknya penuh masa kita mau berdiri."


"Ia deh terserah."


"Aku pesan dulu ya...mau pedes apa engga...?"


"Pedes kayanya enak "


"Ok...tunggu ya."


Rafa keluar dari mobil dan memesan dua porsi nasi goreng.


Tak lama nasi goreng diantarkan.


Karin dan Rafa menikmatinya dengan lahap. Maklum jam makan malam memang sudah lewat.


Selesai makan Rafa membayar nasi goreng nya. Dan bersiap untuk pergi pulang.


"Kita pulang Rin.."


Karin mengangguk.


"Tenaga sudah full nih...kamu sudah siap kan?"


Pertanyaan Rafa membuat Karin geli sendiri.


Karin tidak menjawab dia hanya melempar senyuman saja.

__ADS_1


Sementara Rafa malah semakin gencar menggoda istrinya itu.


__ADS_2