
"Deg..." mata keduanya membulat sempurna.
"Karin !" Ucap Rafa.
"Rafa!" Ucap Karin.
Tersadar dari rasa terkejutnya garis bibir Rafa tertarik membuat senyuman yang khas dia miliki.Karin , wanita yang selama ini menghilang entah kemana kini ada tepat di depannya.Rafa tidak menyangka ini adalah hari ketika bisa bertemu lagi dengan wanita yang selama ini dia cari.
Sementara Karin saking kaget nya dia mundur beberapa langkah dari Rafa sehingga badan ya mentok ke tembok.
Rafa yang selama ini dia berusaha untuk hindari kini ada di hadapanya.Mata Karin tak lepas dari menatap Rafa.Dia tak percaya sosok Rafa kini ada tepat di harapannya.
Rafa mendekat ke arah Karin.Tangan ya terulur ingin menjabat tangan Karin.Tetapi Karin masih diam dengan seribu bahasa.
"Hey...Karin Anastasya, Assalamualaikum."Ucap Rafa membuyarkan kekagetan Karin.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Karin.
"Kamu apa kabar Rin, aku senang bisa bertemu kamu lagi." Ucap Rafa apa adanya.
Rasanya ini adalah hari terindah nya.
"A...aku." Karin jadi gelagapan sendiri denger ucapan ya Rafa.
"Rin?" Rafa awas dengan sikap Karin yang masih syok.
Karin menarik napas panjang berusaha menetralkan hati yang tak karuan dan jantungnya juga berdetak kencang seolah habis lari maraton saja.
Setelah menguasai pikirannya kembali Karin bersikap ala Karin sang pemilik perusahaan.
"Hay...Raf apa kabar?" Tanya Karin.
Rafa tersenyum pada Karin."Kamu tanya kabar aku Rin? yang jelas kabar aku selalu galau mencari kamu tapi kamu nya menghilang entah kemana." Jawab Rafa apa adanya.
Beda dengan Karin mendengar jawaban Rafa sukses membuat jantung Karin berdebar lagi.
Dengan susah payah Karin menormalkan jantungnya yang dag dig dug.
"Kamu Raf, bisa saja kalau menjawab.Ternyata waktu telah merubah seorang Rafa jadi raja drama ya."
Mendengar jawaban dari Karin dahi Rafa mengkerut."Raja drama? maksudnya apa Rin? aku beneran cari keberadaan kamu."Tegas Rafa.
Karin terkekeh tak ingin terlalu berharap pada harapan palsu lagi Karin mengalihkan topik pembicaraannya.
"Jadi sekarang kamu jadi Dokter yang sangat hebat ya? selamat ya." Ucap Karin.
"Terimakasih, tapi asal kamu tahu, aku sekarang bisa gini juga karena kamu, jadi ucapan selamat nya aku kembalikan sama kamu Rin, selamat ya Karin kamu sudah sukses membuat aku jadi orang yang berhasil seperti ini."Ucapan Rafa mampu mengerutkan kening Karin.
Tetapi Karin memilih kembali bersikap tak ingin tahu lebih lanjut dengan ucapan Rafa barusan.
Karin memilih untuk tidak ambil rasa dengan ucapannya Rafa dia ga mau mendapatkan harapan palsu lagi.
__ADS_1
"Kamu Raf , ada ada saja ." Karin bersikap datar.
Rafa semakin mendekati Karin.
"Rin apa kamu masih sendiri, maaf maksud aku apa kamu belum mempunyai pacar atau suami?" Tiba tiba saja Rafa bertanya seperti itu.
Karin langsung menatap Rafa ."Maksudnya apa coba tanya seperti itu ,apa dia mau bilang kalau dia sudah berkeluarga?" pikiran Karin menerawang.
Sementara Rafa menunggu jawaban Karin sambil harap harap cemas."Semoga kamu memang menungguku ." pikiran Rafa melayang.
"Rin jawab dong?" Rafa kembali meminta jawaban.
"Aku___."Belum sempat Karin menjawab pertanyaan dari Rafa, petugas yang tadi datang setengah berlari.
"Dokter Rafa maaf, neng ini tadi memaksa mau cari Dokter.Dia pasien nomor 120 yang tadi Dokter tunggu."
Mendengar ucapan petugas barusan Rafa baru sadar kalau Karin tadi memanggilnya dengan Dokter Rafa berarti Karin tidak tahu kalau itu dirinya.Sejenak dia beralih pandang pada Karin.
"Kamu sakit Rin?" Tanya cemas.
Karin hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus tadi kamu cari aku buat siapa?"Tanya Rafa.
"Buat Ibu Raf." Jawab Karin.
"Apa? jadi Ibu ada disini? Dia sakit?Terlihat rasa cemas di wajah Rafa.
Rafa setengah berlari menuju kearah Ibu Karin duduk.
"Neng ayo." Kaget si petugas pada Karin.
"Eh ia ...ia." Akhirnya Karin berjalan mengikuti Rafa.
Rafa melihat wanita paruh baya yang wajahnya tak asing baginya lagi duduk sendiri.Bergegas Rafa menghampiri nya.
"Assalamualaikum Ibu."Ucap Rafa begitu sampai di depan Ibunya Karin.
"Wa'alaikumsalam."Jawab Ibunya Karin sambil menatap wajah Rafa yang Ibu Karin rasa pernah melihatnya.
Melihat itu Rafa tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Ibunya Karin , Rafa mencium tangan Ibunya Karin dengan takzim.
"Ibu apa kabar, aku Rafa Bu."
"Rafa? Rafa temannya Karin waktu SMA? teriak Ibunya Karin.
"Ia Bu , ini aku."
"Subhanallah, kamu cakep banget, Ibu sampai pangling."Ibu meneliti penampilan Rafa yang berbeda.
"Nak Rafa Dokter?"Ibu melihat pakaian yang dipakai Rafa.
__ADS_1
"Ia Bu."Jawab Rafa sambil tersenyum.
"Jadi Dokter muda dan terkenal itu ' nak Rafa? Subhanallah." Ucap Ibunya Karin memuji.
"Alhamdulillah Bu, tetapi Ibu terlalu memuji berlebih."Rafa terlihat malu.
"Oh ia Ibu sakit apa?"Wajah Rafa kembali cemas.Dia meraba kepala Ibunya Karin yang tak panas.
"Ayo Bu Rafa periksa dulu di dalam."
Rafa menggandeng Ibunya Karin dengan kasih sayang menuju ke ruangan nya.
Karin yang melihat itu dari belakang tersenyum ada rasa sejuk melihat kedekatan Ibunya dan Rafa terlebih perlakuan Rafa pada Ibunya yang sangat baik membuat Karin galau kembali.
Akhirnya tanpa berani mengganggu Karin mengekor Ibunya dan Rafa dari belakang.
Tiba tiba langkah Ibunya Karin terhenti.Dia menengok ke arah belakang.
"Rin ko kamu di belakang 'sih, sini jalanya di samping Ibu."
Akhirnya Karin mendekat dan menggandeng Ibu di sebelahnya.
Ibu Karin tersenyum."Nah kalau gini 'kan enak berasa di perhatikan sama anak dan menantu."Tiba tiba Ibunya Karin menyeletuk tak jelas.
"Ibu apa 'sih!" Karin merasa ga enak hati.
"Aamiin." Rafa malah menjawab seperti itu sontak pandangan Karin tertuju pada Rafa.Rafa membalas pandangan Karin dengan senyuman.Sementara Karin langsung menundukkan kepalanya.
"Bu, emangnya Karin belum punya pacar atau suami gitu, pasal nya Karin 'kan cantik pintar, siapa coba yang bisa melawan pesonanya."
Tiba tiba Rafa bertanya seperti itu.
"Ga tahu nak Rafa, entah seperti apa pria yang Karin cari , semuanya di tolak terus." jujur Ibu sukses membuat Rafa tersenyum.
"Bu, mau curhat atau mau periksa 'nih ." Karin mendadak tidak nyaman.
"Kan belum juga sampai ke ruangan Rin?" Alibi Rafa.
"Makanya jalannya jangan sambil ngobrol."Karin memasang wajah jutek menutupi hati yang galau.
Rafa dan Ibu terkekeh melihat muka Karin seperti itu."Ih kamu jutek makin asyik."
"Rafa !" teriak Karin.
Begitu sampai ke ruangan Ibu menceritakan keluhan ya pada Rafa.
Rafa dengan teliti memeriksa Ibunya Karin.
Dua kali mengulang Rafa memeriksa Ibunya Karin.Rafa takut jika diagnosanya salah.Tapi hasil dari yang kedua juga tetap sama.
"Ibu..." Rafa menatap Ibunya Karin.
__ADS_1
Ibu salah tingkah.