
Karin menghampiri Rafa.
"Sudah lama Raf ?"
"Lumayan 'lah agak lama."
"Tumben biasanya kamu 'kan kasih tahu aku kalau mau pulang bareng? kalau tahu ada yang nungguin aku ga akan telat telat tadi."
"Aku juga ga maksud 'sih tadinya aku mau langsung pulang, tapi___" Rafa menjeda ucapnya.
"Ada apa Raf ?"
"Kita bisa bicara dulu di sana?" Rafa menunjuk ke taman sekolah.
Karin melirik ke arah Sifa."Sif maaf ya kayanya aku ga jadi pulang sama kamu dulu."
"Ok Rin, santai saja. Kalau gitu aku pulang duluan ya." Sifa berlalu dari hadapan Rafa dan Karin.
Rafa dan Karin berjalan menuju ke taman sekolah.Di sana terlihat sudah agak sepi hanya terlihat beberapa siswa saja yang mau mengikuti ekskul yang belum pulang.
Karin dan Rafa duduk di kursi taman.
"Ada apa Raf?" Karin memulai pembicaraannya.
"Rin aku merasa sangat khawatir sama kamu."
"Sama aku?" Karin menunjuk dirinya sendiri.
"Emangnya aku kenapa Raf?"
"Rin, aku semalam habis nganterin saudara pulang, arah rumahnya 'kan melewati penginapan penginapan gitu , 'nah pas aku melewatinya aku melihat Adit dan Dini menuju ke sebuah penginapan."
"Apa !" Karin menutup mulutnya sendiri. Rasanya kalau bukan Rafa yang bilang Karin pasti ga akan percaya.
"Ia Rin, sebenernya aku juga sangat kaget waktu itu, makanya aku sengaja berhenti dulu memastikannya dan benar saja mataku ga salah liat Rin."
"Apa separah itu 'kah kelakuan Adit sekarang ?pantesan bundanya Adit terlihat begitu putus asa."Pikir Karin dalam hatinya.
"Rin aku ga mau nanti terjadi apa apa sama kamu , jujur aku sangat takut dan cemas ."Rafa mengungkapkan ketakutannya.
"Kamu sudah bilang tentang persetujuan kamu mau bantuin Adit ke Bundanya Adit?"
"Sudah Raf !"
"Maaf Rin, seandainya aku tahu kalau kelakuan Adit sudah separah ini aku ga akan biarkan kamu bantuin dia!"
"Aku ga perduli dengan apa yang akan terjadi sama Adit nantinya, daripada aku harus merasakan kecemasan yang terus menerus dengan dirimu yang sekarang akan mulai dekat lagi dengannya."
"Biarlah aku dikatakan egois Rin, karena aku terlalu sayang sama kamu, aku takut kamu dimanfaatin." Rafa terus berkata tanpa jeda , dia mengeluarkan segala kegundahannya sama Karin.
__ADS_1
"Raf...." lirih Karin. Karin sendiri merasakan di setiap kata yang terucap dari mulut Rafa menandakan kecemasan yang sangat luar biasa.
"Kamu harus percaya sama aku Raf, karena keputusan yang telah ku ambil adalah kebaikan dan lebih dari itu ada doa seorang ibu didalamnya. Insyaallah Allah akan menjaga ku."
Karin berusaha mengikis kecemasan Rafa.
Rafa memandang Karin dengan lembut. Karin 'pun memandang Rafa dengan tatapan kasih.
"Kamu harus selalu dukung aku seperti komitmen kita, kita sudah memutuskan ini secara bersama sama, dan kita harus menjalaninya secara bersama sama.Sertai 'lah setiap langkah kita dengan doa." Karin meyakinkan Rafa
Rafa menatap dalam manik mata Karin.
"Insyaallah Rin, kamu bisa percaya sama aku aku akan selalu mendukungmu, dan semoga Allah Ridha akan hal itu."
"Sekarang hapus rasa takutnya kamu itu !"ucap Karin penuh penekanan.
Rafa mendengar ucapan Karin hanya tersenyum kecut."Mana mungkin aku bisa menghilangkan rasa takut ini Rin, sementara kamu akan deket deket dengan orang seperti Adit."Lirih hati Rafa.
"Raf, sudah dong jangan ngelamun gitu!" Karin menggoyangkan tubuh Rafa yang terlihat menatap pada Karin tapi tahapannya kosong.
Rafa tertarik dari lamunannya .
"Ia Rin ...tenang saja kita akan baik baik saja." Ucapan Rafa pada Karin sebenarnya menenangkan dirinya sendiri.
"Aamiin " Karin mengaamiinkan perkataan Rafa.
"Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berdoa, selanjutnya serahkan sama yang di atas , Tuhan pemilik kita."
Rafa mencubit gemas pipi Karin."Dasar kamu Rin, si paling bisa bikin aku tenang ."
"Ok 'lah Bu ustadzah terima kasih buat ceramahnya." Ucap Rafa menggoda balik Karin.
Karin terkekeh."Kalau sudah selesai galaunya boleh dong kita pulang ?"
"Sudah mau pulang ? ga mau pacaran dulu gitu?" Rafa sengaja menggoda Karin.
"Ga boleh haram."Karin menggoda balik Rafa.
Kemudian mereka tertawa bersama.Setelah itu mereka beriringan menuju ke parkiran mau pergi pulang.
"Ehmmm..." Dari arah belakang Karin dan Rafa terdengar orang berdehem.
Sontak Karin dan Rafa menengok ke sumber suara, ternyata Gani ada dibelakang mereka.
Rafa agak menatap Gani dengan tatapan tajam, dia masih mengingat momen di rumah sakit saat Gani caper pada Karin.
"Eh kamu Gan , ko belum pulang ?" Karin merasa ga enak hati karena kedapatan mau pulang sama Rafa, sementara tadi dia menolak Gani yang ngajak pulang bareng.
"Baru mau 'nih abis liat sesuatu dulu ,"ucap Gani asal, sebenarnya dia sedikit menyentil Karin.
__ADS_1
"Ayo Rin ! nanti keburu sore ." Rafa mengajak Karin untuk segera pergi.
Karin mengangguk patuh.
"Aku duluan ya Gan." Karin berlalu dari hadapan Gani, dia mengikuti Rafa yang pergi .
Melihat kepergian Karin , Gani hanya tersenyum kecut.
Kini dia menyadari hatinya Karin telah dimiliki oleh Rafa.Tak mungkin dia harus terus berharap pada hal yang ga mungkin terjadi.
"Hati kamu ikhlas ya menerimanya." Ucap Gani dalam hatinya ,Gani terlihat mengelus gelus dadanya sendiri.
Karin naik ke motor Rafa dan Rafa 'pun menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.
"Raf tadi kamu marah ya?" Tanya Karin pada Rafa di sela perjalannya.
" Ternyata kamu peka juga ya." Suara Rafa masih terdengar agak kesal.
"Peka dong , tapi jujur aku seneng." Suara Karin terdengar manja di telinga Rafa .
"Seneng ! kamu seneng aku galau !"
Ucap Rafa mendrama.
"Hehe .." Karin malah tertawa.
"Kalau kamu di posisi aku kamu mau gimana ?" Rafa melirik Karin lewat kaca spion.
"Ih..." Karin mencubit pinggang Rafa.
"Aww sakit Rin." Protes Rafa.
"Aku sebel 'deh sama kamu, jangan bilang ya kalau kamu punya rencana buat balas aku!" Suara Karin penuh penekanan .
"Haha ....."Rafa tertawa nyaring.
"Kamu mah egois Rin, digituin sama aku ga mau tapi kamu gituin aku seneng." Rafa jelas makin menggoda Karin.
"Awas ya kalau kamu berani !" Tekan balik Karin.
"Ih jadi pingin mencubit kamu , gemes aku liat kamu kaya gitu."Rafa tertawa dibalik helmnya.
"Ga lucu !" Karin masih merajuk.
"Canda atuh Rin, ga akan ada niat buat kamu galau seperti aku." Rayu Rafa pada Karin.
"Jangan pernah berani ya." Suara Karin melembut.
"Ga akan Rin, soalnya aku merasakan sakitnya seperti apa, mana mungkin aku bisa lakukan ituq sama kamu, aku ga mau kamu tersakiti, kalau tidak terpaksa."
__ADS_1
Mendengar ucapan Rafa sontak saja Karin mencubit kencang pinggang Rafa.
"Kalau tidak terpaksa ! maksudnya apa coba ?"