Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Dalang penyerangan.


__ADS_3

Senyuman menghias bibir mungil Karin.Hati Karin teramat bahagia mendengar semua penuturan Rafa.


"Bu...sudah siap untuk berangkat?" Sifa mengalihkan tatapan Karin yang semula memandang layar di ponselnya.


Sejenak Karin menatap Sifa.


"Sifa..." Tiba tiba Karin memeluk sahabatnya itu.


"Aku bahagia banget Sifa..." Teriak Karin.Tentu saja dia berteriak di ruangan nya sendiri tanpa sepengetahuan karyawan yang lain.


Sifa menyipitkan matanya mencoba menerka apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Ga gitu juga kali pandangannya." Karin mendelik pada Sifa.


"Haha....maaf....tapi kalau aku bisa tebak pasti sahabatku ini lagi bucin abis deh." Ledek Sifa pada Karin.


"Sifa...ternyata pacaran setelah halal itu indah ya...sepertinya semua perhatian Rafa hanya milikku." Karin terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Aamiin...aku ikut bahagia untukmu sahabat ku semoga semua kebahagiaan selalu menyertai pernikahan kamu dan Rafa."Sifa menengadahkan tangannya.


"Aamiin...terima kasih untuk doanya." Karin memeluk Sifa.


"Aku doakan kamu juga segera bertemu jodohmu ." Bisik Karin di telinga Sifa.


"Hehe...masih terasa jauh Rin, tapi aku aamiinin deh."


"Gitu dong kalau ada doa baik itu di aamiin kan." Karin mengedipkan matanya menggoda Karin.


"Ia...ia ini juga 'kan aku aamiin 'kan."Sifa tak mau kalah jawab dengan Karin.


"Oh ia Rin...Ayahnya Tuan Hamdan tadi telepon aku katanya dia tadi sudah berangkat menuju ke tempat kita janjian bertemu."


Sifa mengatakan maksud kedatangannya ke ruangan Karin.


"Oh...gitu, ya sudah ayo kita berangkat." Ajak Karin pada Sifa.


Sifa mengangguk tanda setuju.Mereka berjalan beriringan menuju ke mobil yang sudah siap menunggu mereka.


Ayah Tuan Hamdan sudah menunggu Karin.


Karin dan Sifa yang baru datang segera menemuinya.


"Assalamualaikum...maaf Pak sudah lama menunggu kami?" Safa Karin pada Ayah Tuan Hamdan.


"Wa'alaikumsalam...ga Bu Karin , saya juga baru sampai." Jawab Ayahnya Tuan Hamdan santai.


"Silahkan duduk."

__ADS_1


Karin dan Sifa duduk di kursi yang sudah di siapkan.


"Maaf ya Bu Karin saya telah mengganggu waktunya Ibu."Ucap Ayahnya Tuan Hamdan sedikit merasa ga enak hati.


"Tidak Pak, sama sekali saya tidak merasa terganggu.Saya justru senang bisa bertemu lagi dengan Bapak." Jawaban ramah Karin sukses membuat Ayahnya Tuan Hamdan merasa tenang.


"Oh...ia kalau saya boleh tahu ada apa ya Bapak mengajak saya bertemu disini ?" Karin merasa penasaran.


Ayahnya Tuan Hamdan tersenyum pada Karin.


"Apa tidak mau pesan makanan dulu? barangkali sambil makan siang gitu, biar kita bicaranya santai." Tawar Ayahnya Tuan Hamdan.


"Tidak Pak, terima kasih untuk tawarannya , tapi kebetulan saya sudah janjian sama suami saya kalau kami akan makan siang bersama.Tolak halus.Karin.


"Suami?" Ayahnya Tuan Hamdan merasa terkejut.


"Oh ...ia maaf pak saya belum mengadakan resepsi dengan pernikahan saya.Jadi tidak semua orang tahu kalau saya sudah menikah.Tapi Insya'allah nanti saya akan kirim undangannya kalau kami mengadakan resepsi."Ucap Karin sambil tersenyum.


"Oh begitu ya...kalau begitu selamat ya Bu Karin buat pernikahannya." Ayahnya Tuan Hamdan menyalami tangan Karin.


"Terima kasih." Jawab Karin sambil menerima uluran tangan Ayahnya Tuan Hamdan.


"Oh...ia ada apa Bapak ajak saya ketemuan hari ini?"Karin kembali bertanya.


"Sebenarnya saya mau minta maaf atas tingkah laku anak saya terhadap Bu Karin.Jujur saya juga tidak mengerti kenapa Hamdan bisa berbuat seperti itu." Sesal Ayahnya Tuan Hamdan.


"Ia Bu Karin, saya sangat mengerti tetapi sebagai seorang ayah saya merasa harus melakukan sesuatu untuk anak saya."


Mendengar ucapannya Ayahnya Tuan Hamdan Karin mengerutkan keningnya.


"Maaf maksud Bapak apa? saya tidak mengerti?"


"Bu Karin..saya tahu anak saya sudah sangat keterlaluan tetapi saya berjanji akan membuat dia jera untuk tidak lagi mengganggu Bu Karin.Saya mohon berikan kebebasan untuk anak saya."


"Maksudnya apa? saya benar benar tidak mengerti?"


"Hamdan dipenjara Rin." Tuba tiba suara Rafa terdengar oleh Karin.


Sontak Karin melirik ke arah Rafa yang sudah berada di belakangnya.


Karin segera bangkit dan mengulurkan tangan ya untuk salam pada Rafa.


Rafa tersenyum menerima tangan Karin dan membiarkan Karin mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum..Rin..." Safa Rafa pada Karin.


"Wa'alaikumsalam...kamu harus jelasin maksud ucapan kamu barusan Raf." Karin menggandeng tangan Rafa dan menyuruhnya untuk duduk.

__ADS_1


Setelah duduk tatapan Rafa sungguh tajam menatap Ayahnya Tuan Hamdan.


"Hamdan sekarang berada di penjara Rin."Rafa kembali memperjelas ucapannya yang tadi.


"Oh...ia tapi kenapa dia dipenjara ? Dan kenapa Ayahnya Tuan Hamdan meminta saya yang harus membebaskannya? Karin makin merasa ingin tahu.


"Hamdan adalah dalang dibalik penyerangan kita waktu itu." Jawab Rafa sambil menatap sinis kepada ayahnya Tuan Hamdan.


"Apa....?" Karin berteriak seakan tak percaya.


"Aku ga salah dengar 'kan?"Tanya balik Karin pada Rafa.


"Ia Rin...benar Hamdan dalang dari penyerangan kita malam itu, dan aku sudah membuatnya berada dalam penjara sekarang.Dan aku pastikan ga ada yang bisa membebaskannya termasuk Ayahnya sendiri.Hanya kamu Rin yang bisa membebaskannya." Jawab Rafa enteng.


Kini Karin mengerti dengan maksud ayahnya Tuan Hamdan barusan.


Karin menatap ke arah Ayahnya Tuan Hamdan.


"Maaf pak, seperti nya saya ga bisa membantu bapak dalam hal ini." Karin yang terbayang dengan kejadian yang hampir melukai Rafa tidak bisa membebaskan Tuan Hamdan begitu saja.Jujur Karin merasa bersalah banget karena Rafa jadi sasaran kebrutalan Tuan Hamdan.


"Bu Karin...tolong saya maafkan anak saya, saya berjanji akan membuat dia kembali ke jalan yang benar.Dia tidak akan berani lagi menggangu Bu Karin." Pinta Ayahnya Tuan Hamdan terdengar mengiba.


Sejenak Karin terdiam menatap Rafa.


"Aku menyerah kan urusan ini sama kamu Raf.Sekarang terserah kamu saja tetapi kalau boleh aku berpendapat biarkan Tuan Hamdan punya kesempatan untuk berubah."


"Kamu yakin?" Tanya Rafa pada Karin.


"Aku yakin." Jawab Karin sambil memegang tangan Rafa.


"Baiklah, sebenarnya ini aku sudah duga.Karena hati kamu terlalu lembut."


Rafa memegang tangan Karin yang berada ditangannya satu lagi.


Mendengar itu Karin hanya bersemu merah.


Rafa beralih menatap Ayahnya Tuan Hamdan.


"Apa anda bisa menjamin akan kelakuan sikat anak anda kedepannya?" Tanya Rafa pada Ayahnya Tuan Hamdan.


"Karena saya tidak ingin kejadian itu terulang lagi dikemudian hari." Tegas Rafa.


"Sayang yang akan menjaminnya kalau anak saya tidak akan berulah lagi."Jawaban Ayahnya Tuan Hamdan kepada Rafa terlihat menyakinkan.


"Maaf saya tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan anda, saya memerlukan bukti."


"Deg...!"

__ADS_1


__ADS_2