
"Alhamdulillah...." Guman kecil Rafa. Dia masih membayang kejadian semalam yang bisa membuatnya terbang.
"Kenapa senyum senyum sendiri?" Tegur Karin yang awas melihat Rafa dari sofa.
"Tidak...aku cuma bahagia saja." Jawab Rafa asal.
"Hmmmm...." Karin memicingkan matanya karena tidak percaya dengan ucapannya Rafa.
"Tok... tok..." Suara pintu kamar diketuk.
Karin hendak bangkit tetapi Rafa langsung melarangnya.
"Biarkan aku saja Rin..."
Karin kembali duduk.
Ternyata yang datang pelayan yang membawa sarapan pesanan Rafa.
Rafa membawa sarapan itu pada Karin .
"Ini Rin pesanan kamu sudah datang !" Rafa duduk disebelah Karin.
Karin ingin meraih mangkok bubur ayam yang terlihat sangat lezat itu, tetapi Rafa malah menjauhkannya.
"Tunggu dulu." Ucap Rafa.
"Apa lagi 'sih ?"
"Aku suapin ya..."
"Ga usah aku bisa sendiri."Jawab Karin.
"Aku ingin memanjangkan kamu hari ini , ok!" Tegas Rafa.
"Modus ! aku tahu ada modus lain." Tebak Karin.
"Suudzon...ga boleh gitu." Kekeh Rafa.
"Hmmm...si paling bisa mencari jawaban ." Cibir Karin tapi penuh nada manja.
Karin membuka mulutnya saat Rafa dengan telaten menyuapinya.
Karin melihat mangkok Rafa masih utuh.Dan dia 'pun menyuapi Rafa.
Acara sarapan pagi yang disertai saling suap suapan dibumbui dengan candaan diantara keduanya membuat suasana semakin memancarkan kebahagiaan.
Rafa mengelap bibir Karin lembut dengan tisu.
"Belekotan Rin..."
"Wah...ia ...gitu..."Karin memegang bibirnya.
"Ia tuh masih belekotan." Rafa menunjuk bibir Karin.
"Mana?" Karin mengusap ngusap bibirnya.
"Ini..." Rafa mendekati Karin.
"Mana .....?"
"Sini sini...." Karin mendekatkan wajahnya.
"Cup...." Rafa mencium bibir Karin lembut.
Mata Karin melotot sempurna tak kala Rafa mencium dirinya.
Ciuman yang semula biasa kini membuka akses untuk mereka kembali merasakan surga dunia.
"Raf..." Lirih Karin tak kala Rafa semakin menuntut lebih.
__ADS_1
"Boleh...? " Suara Rafa serak ditelinga Karin.
Karin menganggukkan kepalanya tanda mengizinkannya.
Dia pasrah akan kemauannya Rafa.
Sepasang halal itu menghabiskan waktu mereka sampai Dzuhur mau menjemput.
Kegiatan yang sama entah berapa kali kembali terulang.Membuat semua badan Karin terasa remuk.
Karin bermanja-manja di tangan kekar suaminya.Kini Karin tidak lagi merasa canggung untuk bermain dengan dadanya Rafa yang terlihat kekar.
"Raf..." Manja suara Karin.
"Apa ?" Rafa yang dari tadi membuai surai rambut Karin menatap wanita yang membuat dirinya sangat bahagia.
"Apa aku akan hamil?"
"Kenapa nanyanya seperti itu?"
"Aku belum persiapan jadi aku tidak makan alat kontrasepsi." Jawab Karin takut kalau Rafa belum menginginkan anak.
"Oh ..ya ..kalau gitu Alhamdulillah.Lebih baik kita cepat cepat dikaruniai buah hati Rin.Jujur saja aku tak mau kamu memakai alat kontrasepsi dulu sekarang."
"Kamu sudah siap emangnya jadi seorang ayah?" Tanya Karin penasaran.
"Ketika aku menikahi kamu insyaallah aku siap segalanya.Bukan kah salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan.Sekarang untuk apa kita tunda."
Karin memeluk Rafa.
"Kalau kamu gimana sudah siap?" Tanya balik Rafa pada Karin.
"Insyaallah aku siap, aku ingin melihat anak anak kita besar nantinya.Sepertinya indah rumah kita banyak malaikat malaikat kecil." Jawab Karin penuh semangat.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah siap berarti kita sehati.Aku tidak sabar memiliki keturunan dari wanita yang paling aku sayangi.Jujur ini adalah impian ku Rin..." Rafa mengecup kepala Karin.
"Aamiin." Jawab Rafa.
"Rin..." Serak Rafa.
"Apa?"
"Mau cepat punya baby 'kan?"
Karin menganggukkan kepalanya.
"Kita harus usaha lebih giat lagi dong."
"Ih...maksudnya apa?"
"Satu kali lagi sebelum kita mandi." Bisik Rafa.
"Sudah siang Raf..."Karin mencoba mencari alasan.
"Sekali lagi....!"
Karin pasrah saat kemauannya Rafa tak bisa dia tolak lagi meski badannya terasa remuk jujur dia 'pun menikmati nya.
"Sekarang aku bukannya tambah baik...tapi badan ku tambah remuk tahu." Ucap Karin tak kala Rafa mengendong dirinya ke kamar mandi untuk mandi.
Mendengar omelan Karin Rafa hanya tertawa.
"Remuk ..tapi nagih." Bisik Rafa.
"Ih..." Karin mencubit manja tangan Rafa.
Rafa hanya acuh sambil membersihkan tubuh Karin.
Setelah mandi mereka berjamaah bersama.Selesai itu Karin merengek ingin tidur.
__ADS_1
"Raf...aku mau tidur... ngantuk banget "
"Mau tidur apa mau tidur?"
"Please Raf ..jangan ganggu aku mau tidur...badanku remuk semua." Manja Karin.
"Sini." Dengan ringan Rafa mengendong Karin.Dia membaringkan Karin di kasur lalu dengan telaten dia memijat pijat badan Karin.
Pijatan yang semula terasa geli lama lama terasa enak juga.Rafa selain menguasai ilmu kedokteran dia juga menguasai ilmu pemijatan.
Karin merasa nyaman dengan pijatan sang suami sehingga tak butuh waktu lama dia terlihat tertidur nyenyak.
Melihat Karin yang telah tertidur Rafa 'pun berbaring disampingnya Karin dia memeluk Karin.Tak lama dia 'pun tertidur.
Sekitar empat jam tertidur suara telepon Rafa berdering mengusik tidur nyenyak Karin.
Karin membuka matanya dan mendapatkan Rafa yang tertidur sambil memeluk dirinya.
Karin tersenyum melihat wajah tampan sang suami.
"Terimakasih untuk kebahagiaan ini suamiku." Ucap Karin sambil memandang Rafa.
Suara telepon kembali berbunyi membuat Karin mengalihkan tatapannya.Ada rasa ragu untuk mengangkat telepon Rafa.
Karin terdiam karena telepon itu terus berbunyi karena penasaran ingin tahu siapa yang menelepon Karin mengambilnya.
Dan melihat siapa nama yang menelepon suaminya itu.
"Asistenku...?"
Karin meski tidak tega akhirnya terpaksa membangunkan Rafa.
"Raf...bangun...bangun."
"Ada apa Rin...?" Sayup sayup Rafa membuka mata.
"Maaf aku membangunkan kamu ini dari tadi sudah beberapa kali ada panggilan telepon dari asistenku, takutnya ada hal penting."
Karin menyerahkan telepon Rafa.
Rafa melihat Karin lalu tersenyum.
"Lain kali angkat saja."
"Aku ga berani Raf."Jawab Karin.
"Aku milikmu...apa lagi ponselnya.Aku tak ingin menutup nutupi apa pun dari kamu dalam pernikahan kita.Mulai sekarang kamu berhak atas apa yang ku miliki kamu bebas untuk itu."Tegas Rafa.
"Tapi itu 'kan privasinya kamu " Jawab Karin tak ingin egois.
"Tekankan Rin ..aku dan kamu adalah kita tempat berbagi segala.Makanya kamu jangan ragu lagi untuk mengangkat telepon ku.Mulai sekarang aku izinkan kamu untuk mengangkatnya." Tutur Rafa pada Karin.
Mendengar itu Karin tersenyum bahagia.
"Terimakasih...tapi angkat dulu siapa tahu penting banget sampai beberapa kali menelepon."
Rafa melihat layar ponselnya dan menekan tombol terima.
"Assalamualaikum..."Suara dari asistennya Rafa saat telepon itu diterima.
"Wa'alaikumsalam...." Jawab Rafa.
"Ada apa?" Tanya Rafa.
"Maaf Dok, saudaranya dari pasien bapak yang terkena keracunan kemarin mau datang kesini? Apa Dokter akan menemuinya?"
"Kamu urus saja semuanya seperti yang saya perintahkan kemarin.Saya ingin pasien saya itu mendapat semua hak haknya." Pinta Rafa pada asistennya.
"Baik Dok...!"
__ADS_1