
"Yang penting Rafa tahu batasan ya, fokus juga sama pelajaran." Nenek berpesan kepada Rafa.
"Insyaallah dong Nek, buat Rafa belajar adalah nomor wahid."
Nenek melirik ke arah cucu kesayangannya dan dia mengacungkan kedua jempol ya.
"Nek, Bun , Rafa mandi dulu yah , gerah 'nih."
Rafa mengipas- gipas badannya dengan tangan.
Rafa masuk ke kamar dengan langkah yang sangat ceria.
Setelah beres mandi dan solat , Rafa kembali mengulang pelajaran yang tadi siang.
Tak terasa waktu terus berputar dan kini sudah setengah sembilan malam.
Rafa yang hendak tidur, melirik ke ponselnya.
Diambil ' lah ponsel itu dan dia menekan nama Karin di sana.
"Tut ..tut.." suara telepon yang belum terangkat nyaring di telinga Rafa.
"Tumben diangkatnya lama , apa Karin sudah tidur ?"
Setelah dua kali panggilan belum juga diangkat, Rafa menyudahi menghubungi Karin.
Dia memilih berkirim pesan pada Karin.
"Assalamualaikum, wanita solehah ku, selamat tidur dan mimpi indah."
Setelah mengirim pesan Rafa membaringkan tubuhnya ,kemudian tak selang berapa lama lama dia sudah terlelap .
Sementara Karin, habis mengulang pelajaran tadi langsung keluar kamar tuk makan malam.
Meluangkan waktu bersenda gurau dengan ibu.
Ketika melihat jam ternyata udah jam sembilan malem lagi .
"Bu, Karin mau tidur yah , dah ngantuk."
Karin masuk ke kamar mengecek ponselnya .
Terdapat dua panggilan tak terjawab dari Rafa, dan satu pesan juga dari Rafa.
Netra Karin membaca pesan yang di berikan sama Rafa, garis bibirnya terangkat ketika membaca pesan itu.
Tak selang berapa lama dia juga mengirim pesan balasan pada Karin.
"Wa'alaikumsalam, pria soleh ku makasih buat doanya yah."
Mendapatkan pesan yang belum juga terbaca, Karin berpikir mungkin Rafa sudah tidur.
Sebelum tidur Karin kembali membaca baca tentang pacaran dalam islam itu seperti apa.
Sampai dia merasa lelah membaca, tak terasa Karin tertidur begitu saja dengan ponsel ditangannya .
Hari ini hari Minggu , mungkin hari ini harus jadi hari santainya Karin.
Tapi Karin sudah membuat janji dengan bundanya Adit untuk ketemuan di taman sambil lari pagi.
Karin bersiap memakai pakaian olahraga nya tak lupa sepatu sport kesayangannya.
Setelah melihat pantulan dirinya di cermin sudah sempurna dia keluar mencari ibu.
Karin mendapatkan ibu yang lagi beres beres di dapur.
Karin melangkah mendekati ibu.
"Bu, Karin pamit pergi dulu ya, mau lari pagi."
Ibu melirik ke arah Karin .
"Cantiknya anak Ibu ." Ucap ibu apa adanya.
" Mana Sifa nya , dia ko belum datang?" Ibu melihat keluar mendapatkan Karin yang sendiri.
"Aku lari pagi sendiri Bu," ucap Karin.
"Tumben biasanya kalau mau lari pagi suka sama Sifa ?"
__ADS_1
Ibu merasa curiga.
" Hehe..." Karin menggaruk kepalanya yang ga gatal.
"Kamu sama siapa larinya Rin ?"
Ibu menatap curiga Karin. Ibu yang awas menangkap gelagat aneh dari Karin .
"Itu Bu, Karin sudah janjian sama bundanya Adit."
"Bunda Adit ?" Ibu mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Bunda Adit ? Adit yang mantan kamu itu ?"
Ibu balik bertanya.
"Ia Bu."
"Ada apa?"
"Ga ....tahu Bu, kemarin Karin di telepon , bunda Adit ngajak Karin ketemuan."
"Katanya ada yang mau dibicarakan."
"Ada apa yah ....?"Bunda terlihat berpikir.
" Jadi boleh pergi ga 'nih Bu ?"
" Ya sudah boleh, tapi hati hati ya!"
Karin menggangukan kepalanya.
Setelah mencium tangan ibu Karin pun pergi ke taman itu.
Ibu terlihat gelisah setelah kepergian Karin.
Ibu menghubungi Sifa tapi tidak diangkat , "pasti masih tidur " guman ibu .
Sejenak ibu berpikir, "minta tolong siapa ya ?" pikirnya menerawang.
"Apa telepon Rafa aja?" Entah kenapa Ibu bahkan merasa kalau Rafa bisa menjaga Karin.
"Kring...kring..."
Rafa yang lagi santai di kamarnya melirik ke arah ponsel.
Dia beranjak melihat panggilan dari siapa sepagi ini.
"Ibu Karin ? tumben."
"Assalamualaikum...ia Bu, ada apa tumben nelepon Rafa sepagi ini?"
"Wa'alaikumsalam...'nak Rafa maaf ya ibu ganggu sepagi ini, " ucap ibu dari sebrang telepon.
"Ga Bu, buat Rafa ibu mau nelepon kapan aja Rafa pasti senang."
"Tapi aneh aja ibu telepon Rafa, biasanya kalau ibu ada perlu suka suruh Karin yang nelepon , ga ada apa apa ' kan Bu?" Rafa merasa khawatir.
"Ga ada apa apa sih, tapi ibu mau minta tolong sama ' nak Rafa ."
"Tolong apa Bu?"
"Bisa ga susulin Karin ke taman ?"
"Soalnya tadi Karin pergi sendiri."
Ibu tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
" Oh...itu toh Bu, kirain ada apa."
"Siap Bu , Rafa akan berangkat sekarang."
"Terimakasih ya ' nak Rafa."
"Sama sama Bu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menutup telepon dari ibu, Rafa pamit sama bunda .
__ADS_1
Setelah mendapatkan ijin dari bunda Rafa langsung bergegas pergi ke taman.
Rafa melajukan motornya dengan tempo yang agak cepat.
Hatinya agak merasa resah karena tumben tumbenan ibu menelpon dirinya hanya untuk minta temenin Karin yang sendiri pergi ke taman.
" Jangan jangan ada sesuatu." Pikiran Rafa menerawang jauh.
Karin yang sudah sampai taman mendapatkan Bunda Adit yang sudah menunggu dirinya di kursi taman .
Karin mendekat dan duduk di samping bunda Adit.
"Assalamualaikum Bun." Karin mencium tangan bunda Adit sebagai tanda hormatnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf ya 'nak Arin ,bunda gangguin waktunya," ucap bundanya Adit basa basi.
"Ga ko Bun,cuma Karin penasaran aja bunda mau bicara apa sama Karin?" jawab Karin jujur.
Bundanya Adit menarik napas kemudian menghempaskan nya kasar.
"Bunda udah bingung 'nak Karin!"
Karin menatap lekat manik wanita paruh baya itu .
" Bingung kenapa Bun ?"
"Bunda bingung sama kelakuan Adit akhir akhir ini ."
" Semakin kesini Adit semakin susah ibu atur."
"Dia___"
Bunda menggantung ceritanya, bunda menatap lekat Karin.
"Adit kenapa Bun ?"
"Dia sekarang sering mabuk mabukan Rin, sekarang dia juga sering gonta ganti pacar Rin."
" Bunda takut Adit akan salah jalan nantinya."
"Maksud bunda apa?" Karin menajamkan matanya.
Kalau mabuk mabukan Karin sudah tahu dan soal Adit yang sering gonta ganti pacar pun Karin sudah tahu.
Tapi Karin menangkap maksud lain dari raut wajah bunda.
Ibu takut Rin, Adit mencoba obat obatan terlarang ," ungkap bunda jujur.
Karin yang mendengar ucapan bundanya Adit menutup mulutnya, karena merasa kaget.
" Sejauh itu 'kah ?"
"Bunda ga terlalu yakin Rin, tapi bunda harus jaga jaga."
"Melihat kelakuan Adit yang makin kesini makin ga terarah."
"Bunda harus waspada dengan setiap kemungkinan."
" Makanya bunda kemarin sengaja konsul sama ahlinya."
"Oh jadi waktu Karin bertemu bunda kemarin itu , bunda abis konsul masalah Adit?"
" Ia. Rin," jawab bunda jujur.
"Terus sekarang bunda panggil Karin kesini adakah hubungannya dengan masalah Adit ?"
"Sebenarnya bunda mau minta tolong sama Karin."
Bunda merasa was-was sendiri.
Apakah pantas atau tidak dia melibatkan Karin dalam urusan ini.
Tapi bunda pun harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.
Karin menatap bunda .
"Bunda mau minta tolong apa?"
__ADS_1