
Hari hari telah berlalu kini acara resepsi pernikahan Karin dan Rafa akan berlangsung . Terlihat sejak pagi orang orang yang bertugas sebagai panitia sudah hilir mudik memastikan acara akan tersusun sempurna sesuai keinginan sang mempelai.
Para tamu undangan mulai berdatangan. Keluarga dan, keluarga Karin terlihat sangat sibuk menyambut para tamu undangan yang begitu banyak mengingat kerabat, saudara dan relasi begitu banyak membuat mereka terlibat langsung dalam penyambutan itu.
Acara sudah di mulai sementara di kamar pengantin terlihat Rafa yang malah tak mau pergi dia terus menatap Karin yang lagi dihias.
"Raf...kamu dulu yang keluar aku belum selesai nih...kasihan para tamu sudah menunggu kita." Tutur Karin.
"Ish...mana ada ceritanya aku duluan aku nungguin kamu lah." Rajuk Rafa.
"Mbak...belum selesai juga emangnya mau tambah apa lagi sih...istri saya jangan terlalu di poles sempurna segini saja rasanya aku tak rela bawa dia keluar menjadi tontonan semua orang." Ucap Rafa pada MUA.
"Haha...Dokter Rafa...bisa saja. Ini kan acara sekali seumur hidup bersejarah lagi. Masa harus tampil biasa biasa saja sih Dok...harus pangling dong."
"Ia...segitu juga sudah pangling banget kali." Protes Rafa.
MUA itu hanya tersenyum.
"Ga usah dengerin dia Mbak...terkadang sikap posesifnya suka keluar ga tepat waktu." Ucap Karin sambil tersenyum.
"Kamu bilang apa Rin...?" Rafa merotasi mata jengkel.
"Hehe... maaf." Karin menyatukan kedua tangannya.
"Mbak...sudah selesai kan ?"
"Sudah Dok..."
"Ya sudah tolong keluar dulu." Pinta Rafa pada MUA itu.
__ADS_1
Setelah MUA itu keluar Karin memicingkan mata melihat Rafa yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Astagfirullah...kamu mau apa Raf..?" Karin was was.
"Mau hukum kamu !"
"Raf...jangan macem macem nanti riasan aku jadi kacau."
"Sedikit....hehe...aku ga tahan melihat kecantikan kamu."
Sementara diluar Bunda berjalan menuju ke kamar pengantin niatnya memanggil kedua mempelai yang ga keluar keluar dari tadi.
"Mbak...mana Karin...ko mbak ada di sini ? " Tanya Bunda pada MUA.
"Anu...Bun...Karin..." MUA melirik ke arah kamar.
"Astagfirullah..." Ucap Bunda memalingkan muka merahnya.
Karin refleks mendorong Rafa.
"Bunda Rafa..."
Rafa melirik ke arah pintu.
"Bunda kalau masuk ketuk pintu dulu dong." Keluh Rafa.
"Dasar anak nakal...ga ada lagi waktu memangnya...di luar para tamu sudah menunggu." Bunda menjewer telinga Rafa.
"Sakit Bun...masa pengantin di jewer sih Bun."
__ADS_1
"Habisnya kamu masih saja modus...tahu waktu sudah mepet."
Karin tak bisa menahan tawa akan tingkah mertuanya dan Rafa.
"Kamu Rin...bukannya belain suaminya malah tertawa seperti itu, kamu senang ya..."
"Maaf Raf...habisnya kamu memang ngeselin."
"Oh...jadi gitu...ya...ya sudah kalau begitu." Rafa merajuk.
"Maaf sayang...." Karin berdiri mendekati Rafa kemudian membisikan sesuatu.
Bisikan Karin yang di dengar oleh Rafa sontak membuat mata Rafa berbinar bahagia.
"Kamu serius ?"
"Ia..." Karin menganggukkan kepalanya.
"Ayo..cepat para tamu sudah menunggu. Kalian sudah beres kan urusannya."
"Ia Bun...kami langsung nyusul sedikit merapihkan penampilanku sebentar. "Pinta Karin.
"Ok...langsung ya ga pake lama."
"Ia Bun.." Karin memastikan.
Setelah merasa penampilan dirinya sudah ok...Karin dan Rafa bergandengan keluar menuju tempat resepsi.
Semua mata tamu tertuju pada kedua mempelai yang malam itu begitu memukau.
__ADS_1