
Ibu mendekati Karin, membelai surai rambut Karin.
"Putuskan 'lah apa yang Karin akan lakukan dengan hati yang tenang."
"Jangan lupa berdoa agar apa 'pun yang Karin putuskan membawa kebaikan untuk semuanya."
"Ia Bu." Lirih Karin.
Karin menatap ibu dengan lekat sekali.Manik mata ibu yang selalu memberi ketenangan dalam hidupnya.
"Kenapa Rin ? kenapa liatin terus ibu, ada ' kah yang salah dengan ucapan ibu tadi?"
Karin menggelengkan kepalanya .
"Ga Bu, Karin hanya bersyukur punya Ibu yang selalu menyayangi Karin, yang selalu ada buat Karin."
"Karin sayang sama Ibu !"
"Karin, Karin kirain ada apa." Ibu mencubit pelan hidung Karin.
"Bu, tapi ko bisa sama ya?"
"Sama apanya Rin ?"
" Rafa juga bilang begitu sama Karin, Rafa bilang kalau Karin harus memutuskan apa yang Karin mau dengan kepala tenang."
Mendengar itu ibu hanya senyum, senyuman yang penuh arti di dalamnya.
"Ih..ko Ibu malah senyum 'sih."
"Kamu dan Rafa sekarang ada dalam proses belajar mengenal diri sendiri Rin."
" Menjadi dewasa itu ga semudah yang dibayangkan ."
"Baik buruknya kita tergantung kita melewati proses ini Rin."
"Makanya ibu saranin Karin banyak banyak baca , biar wawasan Karin makin jauh."
"Ya sudah ya, ibu mau beresin lagi bunga bunganya."Ibu beranjak dari samping Karin, dia melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Karin sendiri masuk kedalam kamarnya.
Karin menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur.
Matanya terpejam terlintas dipikiran Karin wajah bundanya Adit.
"Ya Allah...apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Merasakan dirinya yang terus gelisah Karin beranjak dari kasurnya, dia mengambil wudhu kemudian menunaikan solat duha.
Dalam doanya Karin memohon kebaikan untuk semuanya.
Bayangan wajah ibunya, wajah Rafa ,dan wajah bundanya Adit terus menyertai pikiran Karin.
Setelah menyelesaikan solat akhirnya Karin telah memutuskan apa yang akan dia jawab ke bundanya Adit.
Dering telepon berbunyi, Rafa yang beres menjemur baju melirik ke ponselnya yang ada meja.
Rafa tersenyum melihat nama Karin di layar benda pipih itu.
"Assalamualaikum."Ucap Rafa ketika sambungan telepon itu diangkatnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Raf."
"Ada apa Rin?udah teleponin aku lagi, kangen ya ?" Tanya Rafa asal.
"Ih kebiasaan deh, ga Raf aku mau bilang ke kamu kalau aku sudah mutusin apa yang akan aku jawab nanti ke bundanya Adit."
"Oh...ya, ko secepat itu sih Rin, apa ga terlalu terburu buru?" Tergambar dari ucapan Rafa kekhawatiran yang begitu jelas.
"Ga 'lah Raf, aku rasa makin cepat makin baik ." Ucap Karin yakin.
"Ya sudah , kalau itu kata kamu aku siap mendukung kamu."
"Ih..."Nada suara Karin terlihat kesal di sebrang telepon.
"Kenapa lagi 'sih?" manja amat Karinya aku." Rafa terkekeh mendengar Karin merajuk.
"Kamu ga nanya ke aku , kalau aku mau jawab apa nanti ke bundanya Adit, emangnya kamu ga perduli gitu?"
"Ih...jadi sensi 'sih , bukan ga perduli Karin, tapi aku akan selalu mendukung kamu apa 'pun yang akan kamu lakukan, karena aku percaya kamu bakalan memutuskan itu pasti yang terbaik."
"Yakin kamu Raf, dengan ucapan kamu barusan.'
"Yakin 'lah kamu lupa ya kita 'kan tadi di taman sudah komitmen."
"Hehe...ga lupa ko Raf, cuma aku ingin saja dapat perhatian dari kamu." Karin mendadak keceplosan.
"Tuh ' kan ketahuan modusnya ."
"Hehe..."Karin tertawa manja.
"Ya sudah aku tutup dulu ya, sampai jumpa besok di sekolah."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menelpon Rafa Karin 'pun menemui ibu .
Karin kembali meminta pendapatnya pada ibunya dengan keputusan yang akan Karin ambil.
"Kamu yakin Rin?" Ibu meyakinkan balik Karin.
"Ia Bu, Karin merasa itu yang terbaik."
"Ya sudah kalau itu keputusan Karin, tapi ibu ingin Karin selalu terbuka sama ibu nantinya, kalau ada masalah berat Karin harus cerita !" Instruksi ibu pada Karin.
"Ia Bu."
Siang sudah berganti dengan malam.
Sang rembulan 'pun sudah menunjukan cahayanya.
Karin sedang duduk di meja belajarnya menatap benda pipih itu yang tertera nama bundanya Adit di layarnya.
Lama Karin hanya melihatnya hingga dia dikagetkan dengan dering panggilan dari benda itu.
Orang yang tadi ingi Karin hubungi ternyata saat ini sedang memanggilnya.
"Assalamualaikum..." Ucap Karin.
"Wa'alaikumsalam,maaf ya ' nak Karin bunda malem malem mengganggu.'
"Nak Karin sudah tidur?" Bundanya Adit terdengar basa basi.
__ADS_1
"Ga ko Bun, Karin belum tidur tadinya juga Karin mau telepon bunda." Jawab Karin jujur.
"Oh ya, berarti Karin sudah memutuskan dong bisa ga nya bantuin bunda?"
"Ia Bun, Karin sudah memutuskannya ."
"Lalu apa keputusan Karin?" Bundanya Adit terdengar harap harap cemas di sebrang sana.
"Karin mau bantuin bunda, tapi___."Karin menarik nafas dalam dalam.
"Tapi apa 'nak Karin?"
"Tapi Karin ada syaratnya Bun !"
"Apa itu 'nak Karin ?"
"Pertama kalau Karin nemenin Adit konsul Karin ga mau berdua saja sama Adit, Bunda harus ikut !"
"Kedua Karin ga mau Adit salah paham ke Karin , maksudnya Bunda harus jelasin ke Adit kalau Karin benar benar ga ada rasa lagi ke Adit selain rasa sebagai teman, Karin ga mau kalau nantinya Adit mikir yang aneh aneh ke Karin !" Ucapan Karin terdengar penuh penekanan.
"Itu syaratnya Rin?" Bundanya Adit terdengar sendu.
Dia merasakan betul sekarang Karin sudah ga memiliki rasa pada anaknya lagi.
Rasa sedihnya kembali menguasai hatinya ketika mengigat kalau Adit begitu berharap bisa kembali pada Karin.
"Ia Bun, cuma itu ."
"Sebenarnya Karin ga berhak lagi memasuki kehidupan Adit , semua pilihan hidup Adit, mau putih mau hitam jalan yang Adit pilih adalah tanggungjawab Adit sendiri."
"Tapi hati Karin terusik karena bunda."Karin mengeluarkan isi hatinya pada bundanya Adit.
"Karena bunda?" Tanya balik bundanya Adit.
"Ia Bun, Karin ga tega melihat bunda segitu menghawatirkan Adit, kasih sayang bunda terhadap Adit adalah anugrah buat Adit, untuk menghargai kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya Karin mau melakukan ini !" Jawaban Karin begitu tegas di telinga bundanya Adit.
"Makasih ya 'nak Karin, bunda ga tahu lagi harus berkata kata apa lagi."
"Semoga langkah yang bunda sekarang ambil membawa perubahan pada Adit." Harapan bundanya Adit begitu tulus di dengar Karin.
"Aamiin Bun."
"Jadi kapan Bun, mulai konsulnya?"
"Nanti bunda kabari ya."
"Ia Bun,tapi kalau bisa jangan hari Senin sampai Rabu soalnya Karin ada pemantapan di sekolah buat ke lulusan."
"Ia 'nak Karin nanti bunda atur jadwalnya."
"Kalau begitu bunda tutup dulu ya, sekali lagi terima kasih buat bantuannya ."
"Sama sama Bun."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menutup telepon Karin baru bernapas lega.
"Ya Allah semoga ini memang jalannya yang terbaik."
__ADS_1