
Hati ini adalah jadwal konsulnya Adit.
Terlihat Bundanya Adit dan Adit sedang duduk menunggu.
Selang beberapa menit, Karin tiba di sana.Dia langsung bergegas menghampiri mereka.
"Assalamualaikum..." Sapa Karin.
"Wa'alaikumsalam..." Bundanya Adit dan Adit melirik ke Karin sambil tersenyum.
"Maaf Bun, tadi Karin kena macet." Karin merasa ga enak karena telah membuat Bundanya Adit agak menunggu.
"Santai aja Rin,kita baru nyampai ko." Adit menjawab permintaan maaf yang Karin ucapkan untuk Bundanya.
Karin hanya tersenyum malas.
"Ayo kita masuk !" Seru Bundanya Adit.
Mereka 'pun masuk ke ruangan tersebut.
Di dalam Psikiater nya Adit melakukan terapi lagi pada Adit.
Bundanya Adit dan Karin menunggu sambil berharap cemas.
"Bun...gimana Adit setelah pulang dari sini, apakah ada perubahan?" Tanya Karin di sela sela waktu menunggu.
"Ya alhamdulillah , Adit sekarang kayanya agak mengurangi mengkonsumsi minuman kerasnya...soalnya Bunda lihat sekarang dia lebih suka diam di rumah."Jawab Bunda jujur.
"Tapi___" Bunda menjeda ucapannya.
Karin melirik Bunda."Tapi apa Bun?"
"Waktu habis konsul pertama, Adit datang ke rumah dalam keadaan mabuk parah 'nak Rin, ditambah lagi di bajunya Adit banyak darah, tapi anehnya Adit ga terluka ."
"Terus Bun.." Karin terlihat penasaran.
"Waktu itu Bunda sempet berpikir kalau usaha Bunda ga berhasil.Tapi setelah kejadian malam itu Bunda malah melihat Adit lebih sering di rumah.Makanya Bunda agak merasa tenang."
Mendengarkan penuturan Bundanya Adit ,Karin merasa aneh kenapa waktu kondisi Adit yang seperti itu bisa berbarengan dengan kejadian pengeroyokan nya Rafa?
"Apa ada hubungannya yah?"Pikir hati Karin.
Memikirkan itu Karin menjadi gelisah kembali.
"Kenapa ? 'nak Karin kelihatan ga nyaman?" Bundanya Adit memperhatikan gerak gerik Karin.
"Eh itu Bun, lagi mau pipis dulu, Karin permisi ke toilet ya Bun." Karin mencoba tuk menghindar dulu dari rasa was was nya.
Dia takut Bundanya Adit semakin bertanya banyak.
"Ya Tuhan semoga saja semua kejadian yang menimpa Rafa ga ada hubungannya dengan Adit."
Karin duduk di kursi tunggu di luar ruangan.
__ADS_1
Setelah agak lama menetralkan hati yang was was Karin masuk kembali dan mendapatkan Adit yang sudah beres terapi nya.
"Gimana Dok?" Tanya Bundanya Adit.
"Sangat bangus, sekarang Adit ini emosinya mulai stabil, semakin dia tidak merasa cemas semakin mudah untuk kita mulai menghilangkan kebiasaanya itu."
"Kalau dia cemas bagaimana Dok?"
"Ya Bunda sebagai orang terdekatnya harus memberi perhatian lebih tentunya. Agar dia berkurang berlari dari masalah nya."
"Terus Dok gimana dengan hasil tes kemarin ? Apa anak saya?"
"Alhamdulillah Bunda, untuk hasil kemarin negatif.Hanya saja seperti yang saya bilang Adit perlu diperhatikan lebih.Karena dia belum mampu mengontrol emosinya." Ucap Dokter agak menenangkan pikiran Bundanya Adit.
"Untuk ke depannya kita akan bikin terapi khusus agar Adit mudah mengendalikan emosinya." Tutur Dokter yang di sambut dengan anggukan Bundanya Adit.
"Baik Dok, kalau gitu kami permisi." Pamit Bundanya Adit.
"Silahkan." Jawab Dokter.
Setelah keluar ruangan Karin ga banyak bicara, sehingga atensi Adit melirik Karin yang agak berbeda.
"Rin kamu ga apa apa?" Tanya Adit pada Karin.
Karin memandang Bundanya Adit dan Adit bergantian.
Karin mendekati Bundanya Adit.
"Bun maaf apa boleh Karin sampai hari ini saja menemani Adit konsul , soalnya Karin sudah mau ujian kelulusan Bun, banyak banget yang harus Karin perhatikan."Ucap Karin mencoba mencari jalan keluar yang terbaik.
"Ga apa apa 'nak Karin , Bunda sudah sangat terbantu sekali, dan terimakasih 'nak Karin sudah mau membantu Bunda.Semoga apa yang telah Bunda sama 'nak Karin membawa pe-ru-ba-han pada diri Adit.
Bundanya Adit sengaja menekan kata perubahan dengan maksud biar Adit mengerti dan tidak menyia-nyiakan usahanya.
"Terimakasih Bun karena sudah mengerti Karin."
Mendengar itu Bundanya Adit mendekati Karin.
"Semoga kebahagian dan keberkahan selalu menyertai mu 'nak Karin."Terdengar ucapan penuh doa itu sangat tulus.
"Aamiin Bun." Karin memeluk Bundanya Adit.
Ayo Dit, kita anterin Karin pulang!" Seru Bunda pada Adit.
"Bun ..." Adit menghentikan langkah Bundanya dan Karin.
"Apa boleh aku pulang bareng sama Karin hanya berdua saja? soalnya ada hal yang sangat ingin Adit katakan pada Karin." Adit berusaha mencari jalan untuk bisa menekan Karin kembali.
"Maaf Dit, Bunda tidak mengizinkan kamu pulang hanya berduaan saja sama Karin, lagian Bunda mu ini sudah berjanji sama Karin, kamu masih ingat'kan?" Bundanya Adit sengaja mengingatkan Adit dengan syarat dari Karin.
"Tapi Bun..." Adit terlihat ngeyel.
"Engga Adit kata Bunda engga ya engga." Tegas Bunda pada Adit.
__ADS_1
Melihat perdebatan Ibu dan anak itu Karin merasa ga enak hati.
"Ga apa apa Bun, biarkan untuk kali ini Karin pulang bareng Adit.Kebetulan juga aku mau bicara sama Adit." Karin menatap Adit penuh makna.
"Tapi 'nak Karin." Bundanya Adit merasa was was.
"Ga apa Bun, Bunda tenang saja Karin bisa jaga diri 'ko." Tutur Karin menenangkan ke khawatiran Bundanya Adit.
Bundanya Adit melirik ke arah anaknya.
"Kamu jangan membuat ulah ya Dit, kalau sampai kamu bikin ulah awas !" Ancam Bundanya Adit pada Adit.
Adit hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab.
Bibirnya terangkat tersenyum penuh makna.
Bundanya Adit menatap kepergian Kari. dan Adit dengan hati cemas.
Ditengah perjalanan Karin menatap lurus ke depan.Tapi bibirnya mengajak Adit berbicara.
"Apa yang mau kamu bicarakan dengan aku Dit?" Tanya Karin.
Sekilas Adit menatap Karin lalu kembali fokus menyetir.
"Aku mau balikan sama kamu Rin."
Tanpa melirik Karin menjawab."Cukup seperti ini, lebih baik jadi teman saja."
"Kenapa kamu ga mau balikan lagi sama aku Rin, aku akan melakukan apa 'pun, aku akan berubah demi kamu."
"Jangan berubah demi aku Dit, tapi buat diri kamu sendiri." Tekan Karin.
Mendengar ucapan Karin, Adit menghentikan laju mobilnya.
Sontak Karin melirik waspada.
"Kenapa berhenti 'sih Adit?"
Adit tidak menghiraukan Karin dia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.
"Kamu tahu betul motivasi aku berubah hanya untu kamu! "
"Kamu harus balikan lagi sama aku." Ucapan Adit terdengar memaksa.
Karin membuang mata jengah.
"Tenang Karin ...tenang ! menghadapi orang seperti Adit butuh kesabaran." Guman Karin dalam hatinya.Karin teringat dengan ucapan Dokter psikiater Adit tadi.
"Adit, aku ga mau balikan lagi sama kamu, karena rasa itu telah berubah aku hanya bisa menganggap mu sebagai teman.Tentunya teman yang selalu ada kalau kita saling membutuhkan.Contohnya sekarang kamu lagi butuh aku , aku ada buat kamu.Tapi please jangan berharap lebih dari itu." Tutur Karin di buat selembut mungkin.
Adit mendengar itu bukan makin luluh tapi semakin emosi.
"Apa ini karena Rafa? akan ku buat dia sehancur mungkin!" Teriak Adit.
__ADS_1
"Deg...!"