Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Janjian sama bunda Adit


__ADS_3

"Bunda Adit...?"


Kening Karin berkerut, melihat notifikasi di ponselnya yang terus berdering.


Sementara bunda Adit di sebrang sana sebenarnya setengah hati juga menelepon Karin, dirinya merasa ga enak hati kalau harus menceritakan semuanya pada Karin.


Tapi sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya dia pun harus berusaha untuk membantu Adit dari keterpurukannya.


Mungkin kalau Karin tahu Karin bisa membantunya.


"Kenapa ga di angkat angkat ya ?"


Bunda memperhatikan layar ponsel yang masih berdering.


"Bruk..." suara pintu terbuka dengan kasar.


Bunda segera keluar dengan perasaan cemas nya.


Adit berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamarnya.


Sementara pintu di ruang tamu terlihat terbuka lebar menandakan Adit telah menerobosnya begitu saja.


Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ingin rasanya dia menghampiri Adit tapi bunda rasa itu percuma.


Adit dalam keadaan ga bisa dibawa bicara sekarang.


"Assalamualaikum.." suara salam dari dalam telepon mengagetkan bunda yang sedang memperhatikan Adit.


"Wa'alaikumsalam..."bunda segera menjawab salam Karin.


Bunda mundur beberapa langkah dari kamar Adit .


Berharap Adit tidak mendengar percakapannya dengan Karin.


"Maaf ya nak Karin bunda udah ganggu ..."


"Ga...ko bun, Karin lagi santai.Abis bersih bersih ,gerah abis dari rumah sakit" jawab Karin seadanya.


"Ada apa ya ,bunda ko tumben telepon Karin?"


"Ini lo Rin, bunda ingin ketemu Karin besok bisa ga?"


"Ada apa ya bun, kaya nya penting ? soalnya ga biasanya bunda kaya gini."


"Nanti bunda kasih tahu , bisa ga nak Karin ?"bunda kembali bertanya.


"Besok ya ?kalau besok Karin ada pemantapan bun."


"Gimana kalau hari minggu aja soalnya kalau besok takut terlalu sore bun ?"jelas Karin.


"Oh...gitu ya..."


"Ia ga apa hari minggu aja ya, sekalian jalan pagi di taman" bunda memberi idenya.


"Ia bun.."


"Ya udah kalau gitu bunda tutup telepon nya yah"


"Ia bun ...assalamualaikum "


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah beres teleponan sama Karin bunda kembali lagi ke kamar Adit.


Terlihat Adit tidur tengkurep sambil memegang foto Karin.


Tak terasa air mata bunda menetes,menandakan hati seorang ibu yang merasakan luka ketika anaknya ada dalam keterpurukan.


***


Setelah mendapat telepon dari bunda Adit ,Karin merasa gelisah, soalnya tumben tumben dia menelepon dirinya.


Menetralkan hati yang gelisah Karin mengambil wudhu lalu dia menggelar sejarah menunaikan solat isya.


Selesai solat Karin beranjak ke tempat tidur, ingin rasanya dia rebahan santai.

__ADS_1


"Hari ini ternyata cukup drama..." ucap Karin sambil memandang langit langit kamarnya.


Karin memejamkan kedua matanya sejenak. Saking lelahnya dia tertarik ke alam mimpi tapi dering telepon memanggilnya kembali dari alam mimpi yang belum sepenuhnya Karin datangi.


"Ih...siapa coba yang ganggu ?" gerutu Karin.


Tapi mode kesal Karin berubah ketika melihat nama orang yang menelepon nya itu.


"Assalamualaikum..."ucap Karin dengan lengkungan indah di bibirnya .


"Wa'alaikumsalam.." jawab Rafa di seberang sana.


"Ih kamu semangat amat bilang salamnya, pasti lagi nungguin aku telepon ya...?"Rafa menggoda Karin.


"Ih kamu pede nya ga abis abis ya ! "


"Ada apa telepon ?" suara Karin dibikin sejudes mungkin.


"Ko...marah sih, ga baik lo marah marah, nanti cantiknya ilang"


"Ia...Rafaku sayangku ada apa telepon?" sekarang suara Karin dibikin lembut.


"Haha...aku kangen Rin !"


Mendengar itu Karin tersipu malu.


"Ih...ko udah kangen lagi ? kan tadi udah ketemu !"


"Ga tau Rin, tapi yang jelas rasanya aku udah pingin ketemu lagi, boleh tanya ga?"


"Boleh.."


"Kamu punya magnet apa sih, bisa bikin aku kangen terus sama kamu ?"


"Ih kamu Raf, kirain mau nanya apa ?"


"Haha..."


"Udah ya aku mau tidur dulu.." ucap Karin.


"Ih...kamu nanya nya ada jeda" protes Karin.


"Solat dulu sebelum tidur"Rafa perhatian.


"Ia udah ko, tenang aja solat mah nomor satu "


"Alhamdulillah...berarti aku ga salah dong ?"


"Ga salah apa Raf ...? kalau bicara itu yang jelas"


"Ya...ga salah pilih kamu jadi pacar aku, kamu solehah ku, semoga jadi bidadari surgaku."


Karin tersipu malu di balik teleponnya.


"Ih...kamu si paling modus , dasar "


"Ih..bukan gitu jawabnya." Protes Rafa.


"Harus jawab apa atuh ?"


"Aamiin" Rafa memberi contoh .


"Aamiin.."ucap Karin.


"Doa itu Rin."


"Ya udah kalau mau tidur , baca doa dulu ya, kemudian mimpiin aku"


"Haha...ia Raf.."


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam...i miss u. "


"Tut...tut..." Karin segera mematikan telepon, rasanya dia tak tahan terbang terlalu jauh dengan modusnya Rafa.


"Ga...nyangka aku , seorang Rafa bisa seromantis ini " ucap Karin dalam hatinya.

__ADS_1


Kemudian dia membenarkan posisi tubuhnya, menarik selimut dan membaca doa kemudian tak selang berapa lama terdengar dengkuran halus menandakan Karin udah masuk dunia mimpi.


***


Rafa tersenyum melihat telepon yang dimatikan dengan cepat.


"Kamu kenapa bikin aku gemes terus sih Rin."


"Kenapa bisa juga ya, aku berkata itu sama Karin." Rafa berbicara sendiri.


Ya gimana Rafa sendiri tidak mengerti.


Karin adalah cinta pertama untuknya.Tapi kata kata yang keluar dari mulutnya seolah menandakan dia sudah sering jatuh cinta.


Cinta dapat merubah yang ga bisa jadi bisa , yang ga terbiasa jadi terbiasa.


"Ah...Karin namamu selalu ku sebut dalam doaku semoga Tuhan meridhoi nya."


Rafa beranjak ke tempat tidur , membaca doa , tak selang berapa lama dia pun terlelap.


Suara adzan subuh berkumandang, sayup sayup terdengar di telinga Rafa.


Rafa terjaga dan pergi ke kamar mandi membersihkan diri dan mengambil wudhu.


Dia menggelar sajadah.


Tapi tiba tiba dia melihat telepon yang berada di atas nakas.


Pikirannya sekarang teringat ke Karin .


Di ketik nya pesan untuk Karin.


"Assalamualaikum...wanita solehah ku! udah...bangun belum? jangan lupa sholat subuh ya"


Karin yang baru keluar dari kamar mandi , melirik ponselnya yang memberi notifikasi pesan.


Membaca nya dengan senyum di bibirnya" bidadari solehah ku." Guman Karin.


Kemudian Karin memberi pesan balasan dengan foto dirinya sedang memakai mukena.


Rafa baru saja selesai solat melihat pesannya sudah terbalas.


Rafa membuka pesan balasan dari Karin.


"Cantik ya ...ternyata ! siapa yang punya nih ?"


"Baru nyadar ya...kalau cantik , tapi maaf jangan goda goda ya , soalnya nanti yang punya marah ."


Karin merasa geli sendiri dengan pesan balasannya.


Rafa terkekeh dengan balasan dari Karin.


"Asyik..! "


" Rin nanti pemantapan ya...?"


"Ia, kenapa gitu?"


"Kelas aku ga ada pemantapan , jadi aku di suruh bunda buat jagain nenek di rumah sakit."


"Terus..."


"Ya...jadi nanti aku ijin nih, ga bisa anterin kamu pulang?"


"Oh...kirain apa ? ya udah santai aja Raf, aku bisa pulang bareng Sifa."


"Ok...deh.."


"Rin...boleh beri booster pagi ga..?"


"Apa...?"


"I love you..."


"Assalamualaikum.."


Rafa langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2