Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Episode 101


__ADS_3

"Tolong Raf...ijinkan aku untuk bertanggung jawab atas perusahaan ku. Setelah itu aku akan lebih seleksi lagi dalam melakukan kerja sama."


"Ok....baiklah...semuanya gimana baiknya saja." Walaupun rasanya ga ikhlas tetapi akhirnya Rafa memberikan izinnya pada Karin.


"Terima kasih Raf."


"Hmm..."


"Cup..." Karin mengecup bibir Rafa lembut.


Sensasi yang diberikan Karin terasa agak berbeda membuat Rafa terbengong setelahnya.


"Kamu merayu aku Rin."


"Ga...aku cuma ingin kamu tahu aku adalah istrimu sekarang. Ga akan ada yang bisa merubah kenyataannya, kecuali atas kehendak yang di atas."


"Ngomong ...apa sih kamu Rin. Kamu istriku selamanya."


"Aamiin." Karin melempar senyuman termanisnya.


"Ya sudah anterin aku berangkat yu...makin lama di sini aku makin malas buat pergi."


"Ayo Rafa." Karin mengandeng tangan Rafa.


"Bun , Bu...Rafa pamit ya berangkat dulu." Ucap Rafa sambil mencium tangan Bunda dan Ibu.


"Hati hati ya nak Rafa." Ucap Ibu.


"Kamu cepat pulang ya Rafa..Bunda tunggu."


Rafa tersenyum " Ia Bunda , Ibu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ke tiga perempuan itu mengantar Rafa keluar dari rumah menuju halaman.


Lambaian ketiga perempuan yang sangat berarti itu mengiringi kepergian Rafa.


Setelah mobil Rafa tak terlihat lagi. Bunda melirik ke Karin.


"Hari ini kamu kerja juga?"


"Ia Bun, maaf ya...bukan ga mau santai di rumah masalahnya ada meeting yang ga bisa diwakilkan. Lagian kan Karin harus mengurus urusan di perusahaan agar pas waktu Karin mau ngambil libur panjang ga ada masalah." Ucap Karin merasa ga enak hati karena meninggalkan Orang tuanya di rumah.


"Ya...kita di tinggal lagi deh. Besan gimana kalau hari ini kita ke salon saja." Ajak Bunda pada Ibunya Karin.


"Boleh juga...tapi sebenarnya aku ada rencana buat berkunjung ke suatu tempat, kalau misalnya besan mau ikut ayo...sekalian jalan jalan."


"Kemana besan..?"


"Aku sudah lama ga mengunjungi panti asuhan al hikmah. Rencananya sih ingin main main saja ke sana."


"Oh...kalau begitu cus...kita pergi besan. Biar ga jenuh juga di rumah terus."


"Ya sudah kalau gitu kita berangkat setelah Karin pergi saja."

__ADS_1


"Maaf ya Bu , Bun.."


"Santai sayang, yang fokus saja kerjanya. Lagian nanti malam juga kita makan malam kan ?"


"Insyaallah."


"Ya sudah sana siap siap dulu."


Karin pergi ke kamarnya. Tak selang berapa lama dia sudah rapi. Setelah itu berpamitan pada mertua dan Ibunya.


Tiba di kantor Karin segera meminta Sifa untuk memberikan berkas berkas tentang perusahaan yang Adit wakili. Karin sengaja mengulang membaca berkas berkas itu sampai detail. Semua perjanjian yang ada di surat kontrak itu Karin baca kembali.


Cukup lama Karin mempelajari semuanya hingga waktu untuk meeting telah tiba. Sifa masuk dan memberi tahu kalau perwakilan dari perusahan negara B itu sudah ada.


"Baik..Sifa ayo kita ke sana."


Karin dan Sifa berjalan ke ruangan meeting itu.


Dan benar saja Adit nyatanya sudah berada di sana bersama dua orang rekannya.


"Maaf karena kami membuat semua menunggu."Ucap Sifa basa basi.


"Tidak apa apa Bu Sifa..."


Setelah itu Karin dan Sifa duduk.


Kedua mata itu saling bertemu. Sejenak Adit menatap Karin. Tetapi Karin segera mengalihkan pandangannya.


Beruntung saat meeting Adit tidak menunjukan gelagat yang membuat Karin tidak nyaman.


"Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda." Ucap salah satu perwakilan itu. Mengakhiri meeting semua jabat tangan.


Meeting sudah selesai Karin dan Sifa memutuskan untuk ke cafe untuk makan siang.


"Rin...aku ke toilet dulu ya."Ucap Sifa.


"Ok."


Karin duduk sendirian sambil menunggu pesanan yang mereka sudah pesan.


"Boleh aku ikutan duduk?"


Tiba tiba suara itu mengangetkan Karin yang sedang santai sambil melihat lihat ponselnya.


Karin melirik ke asal suara. Dan ternyata Adit sudah berdiri di sampingnya dengan tersenyum pada dirinya.


"Eh...maaf kirain siapa ?" Karin mendadak agak salah tingkah.


"Boleh saya duduk ?"


Adit kembali mengulang pertanyaannya.


Karin tidak menjawab dia kembali memikirkan perasaan Rafa kalau tahu hari ini dia makan siang sama Adit.


"Hey..kenapa bengong gitu, apa boleh saya duduk?"

__ADS_1


Karin tersenyum melihat senyum Karin Adit menjadi pede sendiri dia mengira Karin memperbolehkan dia untuk duduk makan siang bersama dengannya.


Tetapi baru juga Adit mau duduk Karin berbicara.


"Pak...Adit sebelumnya saya mohon maaf karena kursi ini sudah ditempati asisten saya, kebetulan dia lagi ke toilet."


"Oh...gitu ya...kalau gitu biar saya ambil kursi yang lain." Adit hendak bangkit mau mengambil kursi di sebelahnya.


"Maaf Pak Adit...maaf seribu maaf kebetulan kami akan membahas masalah perusahaan sambil makan siang jadi maaf sekali lagi mungkin lain kali ya Pak..kita bisa bareng makan siangnya." Karin berusaha bersikap baik dan sopan.


"Oh...gitu ya...ya sudah biar saya duduk di bangku lain saja. Tetapi saya sungguh senang bisa bertemu dengan Bu Karin semoga ya kerja sama perusahaan yang kita jalani ini bisa berjalan baik dan lancar."


"Aamiin.Terima kasih pak Adit."


Setelah Adit pergi Karin berasa bernapas lega. Tetapi sialnya Adit malah duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat Karin makan siang.


Tiba tiba Rafa vidio call Karin. Karin segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum Rafa...." Terlihat Rafa sedang duduk di kursi kebesaran miliknya.


"Wa'alaikumsalam...kamu lagi dimana sayang ?" Rafa meneliti tempat Karin berada.


"Aku lagi di cafe nau makan siang Raf...kamu sudah makan siang?"


"Belum Rin...ini mau pesan, tapi pingin vidio call kamu dulu. Sama siapa makan siangnya ?"


"Sama Sifa Raf."


"Mana Sifa nya?"


"Dia lagi ke toilet dulu."


"Oh...ya gimana meeting tadi ? lancar kan? Adit ga macam macam kan ?"


"Alhamdulillah beres Raf...ga ko Raf...dia ga membuat sesuatu yang aku ga nyaman." Karin menenangkan.


"Bener nih ? ga bohong ?"


"Benar sayangku...lagian kenapa harus bohong."


"Ya sudah lanjut deh kalau gitu. Nanti kita bicara lagi kalau sudah di rumah."


"Ia sayang..." Ucap Karin sambil tersenyum.


"Rin...bentar dulu coba zoom kayanya aku lihat wajah seseorang di belakang kamu itu sepertinya aku kenal."


Ucapan Rafa sontak membuat Karin agak was was.


"Yang mana Raf..?" Karin pura pura ga tahu.


"Itu sayang di belakang kamu, kayanya aku kenal coba zoom." Rafa mengulang permintaannya.


Dan akhirnya Karin ga ada alasan untuk menolak maunya Rafa. Meski mungkin Rafa akan menjadi cemas nantinya.


Karin men zoom Adit yang sedang duduk di bangku belakang.

__ADS_1


"Rin...itu kan Adit !"Ucap Rafa setengah berteriak.


__ADS_2