
Karin dan Rafa hanya saling lempar senyum dengan sikap Sifa.
Setelah Sifa pergi kini tinggal Rafa dan Karin di cafe bintang.
"Rin kamu sudah pesan makanan ?"
"Belum Rafa aku nungguin kamu. Kamu mau pesan apa?"
"Coba lihat menunya ?"
Karin menyerah kan buku menu pada Rafa.
"Aku sama ini saja Rin.." Rafa menunjuk menu yang dia mau.
Karin memanggil pelayan dan memesan dua menu yang sama buat mereka.
Karin dan Rafa menikmati makan siang mereka.
"Rin...sudah selesai ?"
"Sudah Rafa..."
Karin dan Rafa menuju keluar cafe hendak menuju mobil tiba tiba sebuah suara mengangetkan keduanya.
"Assalamualaikum..."
Karin dan Rafa melirik ke sumber suara dan tepat di belakang keduanya Adit sudah berdiri.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Karin dan Rafa.
Rafa menjadi awas sendiri dia benar benar siaga sekarang.
"Hai ...Rafa apa kabar kamu sekarang ?" Adit mengulurkan tangannya menyapa Rafa.
"Aku baik.." Rafa menerima uluran tangan Adit.
"Hai...Rin....kita bertemu lagi." Adit menyapa Karin.
Karin tidak menjawab apa pun. Dia hanya merasa cemas karena melihat Rafa yang sudah bersikap tak biasa.
"Kamu tahu Raf...aku dan Karin sekarang lagi kerja sama lo." Adit basa basi.
"Oh...maaf aku kembali tegaskan bukan kamu dan Karin yang kerja sama tetapi perusahaan yang dipegang kamu dan Karin yang melakukan kerja sama." Jawab Rafa dengan nada sinis.
"Haha...kamu memang pandai. Benar Raf...perusahaan kita sekarang lagi kerja sama dan saya harap kamu tidak khawatir."
"Kenapa meski khawatir....ga ada yang harus dikhawatirkan. Ia kan istriku." Rafa menekankan kata istriku saat berbicara.
"Istriku ? apa kalian sudah ?"
"Ya...kami sudah menikah." Rafa mengangkat tangan Karin dan tangannya menunjukan cincin pernikahan mereka.
Adit terdiam.
"Kamu ga ingin mengucapkan selamat pada kita ?" Rafa mengagetkan Adit.
__ADS_1
"Oh...ia ....selamat ya."
"Terima kasih." Ucap Rafa sinis.
"Sebenarnya aku ingin kita punya waktu untuk berbicara...apa kalian ada waktu ?" Tanya Adit pada Rafa dan Karin.
Karin dan Rafa saling pandang." Sepertinya kalau sekarang kami sibuk karena kami akan melakukan persiapan untuk resepsi pernikahan kami. Mungkin lain kali. " Tolak halus Rafa.
"Oh...begitu ya...kalau seperti itu saya tunggu sampai kamu dan Karin ada waktu luang. Sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian. Saya permisi dulu." Pamit Adit.
Adit berlalu pergi meninggalkan Karin dan Rafa diparkiran.
"Kamu lihat kan Rin..seperti yang aku bilang dia nyariin kamu sampai sini. Karena ga mungkin juga kan dia mendadak makan di cafe ini setelah selesai makan di cafe yang tadi."
"Ia ...Raf...tapi mungkin dia memang ada yang ingin disampaikan, mungkin penting ."
Rafa melirik Karin dengan tatapan ga suka.
"Rin...kamu masih terus bela dia ? setelah semua yang terjadi sama hubungan kita dulu kamu masih percaya dia ?"
"Raf...ga seperti itu juga persepsinya. Kamu salah menilai."
"Tahu ah.. jangan jangan memang kamu masih ada rasa ya sama dia, secara dia cinta pertamanya kamu."
"Astagfirullah...Rafa, kamu ko ngomongnya jadi kemana mana sih. Aku ga suka !" Karin berlalu pergi menuju mobil duluan dan masuk tanpa menunggu Rafa membukakan pintu mobil seperti biasanya.
"Astagfirullah...kenapa jadi aku dan Karin yang berantem sih." Rafa mengusap muka kasar. Lalu segera menyusul Karin.
Di dalam mobil Rafa melirik ke arah Karin yang malah mendengarkan musik.
Karin tidak menjawab malah memalingkan mukanya sendiri. Menahan air mata yang sebenarnya sudah ingin menetes.
"Rin.."
Karin malah mengeraskan suara musik.
"Rin...kamu kenapa sih ?" Rafa mematikan musik yang si putar Karin.
Karin hanya melihat sekilas tanpa protes apa apa. Dia diam saja dengan pandangan lurus ke depan.
"Rin..." Belum juga Rafa selesai bicara dering telepon miliknya sudah berbunyi. Karin hanya melirik sepintas saja.
"Assalamualaikum..." Rafa menjawab telepon miliknya.
"Wa'alaikumsalam...maaf Dok, pasien pasien anda sudah antri menunggu Dok."
"Ia tunggu, sebentar lagi saya ke sana. Assalamualaikum." Rafa menutup telepon ya.
Rafa melirik Karin.
"Kerja saja Raf...aku ga apa apa ko . Turunin saja di sini nanti aku suruh orang kantor buat jemput lagian posisi kantor sama tempat ini deket juga."
"Aku antar kamu dulu. Maaf ya aku harus kerja dulu. Kamu jangan ngambek terus." Bujuk Rafa pada Karin.
"Ia....Raf..."
__ADS_1
Rafa melajukan mobilnya sampai perusahaan milik Karin. Tak ingin lama lama Karin langsung turun ketika Rafa baru saja turun untuk membukakan pintu mobil untuk Karin.
Rafa menatap Karin .
"Rin.."
"Maaf Raf ..aku ada meeting. Aku duluan masuk ya." Karin meraih tangan Rafa lalu menciumnya kemudian pergi berlalu sebelum Rafa berucap apa apa.
"Assalamualaikum..." Karin berpamitan lalu pergi.
"Wa'alaikumsalam..."Jawab Rafa dengan perasaan hampa. Menatap kepergian Karin dari hadapannya.
Andai dia tidak terikat dengan tanggung jawab dia pasti sudah mengejar Karin. Tetapi Ada pasien pasien nya yang menunggu di sana. Membuat Rafa berlalu dari depan perusahaan Karin.
Walau dengan perasaan was was.
Sementara setelah Rafa pergi Karin kembali ke luar. Tak selang berapa lama mobil yang di pinta Karin sudah di depan lobby.
"Bu...silahkan.." Ucap ramah OB.
"Ia...terima kasih ya."
Setelah itu Karin pergi tujuan dirinya adalah taman cinta.
Setelah Karin sampai ke taman cinta dia segera memarkirkan mobilnya. Bergegas menuju tempat favorit nya.
Karin memandangi bunga bunga yang bergoyang di barengi dengan air mancur yang berbentuk love. Sejenak hati merasa tenang cukup lama dia terdiam di taman tak terasa waktu sudah pukul empat sore lagi.
"Hmmm..." Suara itu mengagetkan Karin.
Dia melirik dan ternyata Rafa sudah berdiri di sampingnya.
"Sudah puas Rin...menghilangnya ?" Ucap Rafa datar.
Mendengar ucapan Rafa ,Karin baru sadar dia sebelum pergi mematikan ponselnya.
"Kamu mencari cari aku ?"
"Haruskah pertanyaan seperti itu kamu tanyakan padaku ? aku setengah panik mencari kamu Rin." Rafa memeluk Karin. Terdengar Rafa mengeluarkan napas leganya.
"Maaf Raf...tadi aku hanya mau sendiri dulu." Jujur Karin menarik napas dalam.
Karin masih saja terlihat cuek meskipun mulutnya mengatakan kata maaf.
Hatinya terlalu merasa kecewa karena ucapan Rafa tadi di cafe.
"Rin...pandang aku..." Pinta Rafa. Menarik dagu Karin untuk melihat ke arahnya.
Kedua mata itu saling bertemu. Keduanya saling terdiam . Seolah mulut mereka seperti terkunci.
Cukup lama posisi mereka seperti itu sampai Rafa memulai untuk membujuk Karin.
"Rin...aku tahu ko...aku sudah keterlaluan , maafkan aku. Aku ga pernah bisa menganggap sepele kalau masalah Adit. Dia terlalu membekaskan luka yang dalam." Ucap Adit.
Bukanya mengerti mendengar ucapan Rafa malah membuat Karin semakin kecewa.
__ADS_1