
"Ada apa Raf... sepertinya kamu sangat serius banget?" Karin memperhatikan nada bicara Rafa yang tak seperti biasanya.Karin bertanya setelah Rafa menutup teleponnya.
"Aku 'kan merawat seorang pasien dari awal sampai sekarang dia mau sembuh tetapi saat dia mau sembuh ternyata aku mengetahui ada seseorang yang menginginkan kematian dia dengan pelan.Dia di racun dengan dosis rendah sehingga bertahap dia merasakan sakit."
"Oh ya...terus gimana?" Karin penasaran.
"Aku mau tolong mereka Rin agar mereka mendapatkan hak haknya, soalnya setelah aku selidiki aku mendapatkan fakta kalau mereka adalah pewaris dari keluarga Abraham."
"Keluarga Abraham? " Karin mengerutkan keningnya merasa ga asing dengan nama itu.
"Ia Abraham, pemilik perusahaan Abraham Grup."
"Kasihan Rin, mereka terhempas dari hak mereka karena ketidak tahuan mereka tentang semua itu.Waktu aku menolong mereka, anak pewaris keluarga Abraham lagi sakit, Ayahnya pontang panting mencari rumah sakit tetapi mereka terbentur biaya sementara kondisinya sungguh kritis."
"Astagfirullah...semoga Tuhan memberikan kebaikan untuk kita semua Raf, khususnya untuk niat baik kamu ini semoga di beri kemudahan. Tapi kamu harus hati hati Raf!" Karin merasa cemas.
"Insyaallah Rin, aku akan selalu hati hati apalagi sekarang sudah ada kamu yang selalu menunggu ku."
"Hmmm...masih saja gombal."
"Rin...kamu sudah baikan sekarang? apa jalannya masih sakit?" Tanya Rafa.
"Lumayan ga seperti kemarin, pijatan kamu ternyata ampuh badan aku terasa seger sekarang." Jawab Karin apa adanya.
"Kalau sudah seger boleh dong?"
"Hah...boleh apa?" Karin merasa ga percaya kalau Rafa akan meminta haknya lagi.
"Haha...haha..." Melihat guratan wajah Karin yang kaget Rafa tertawa senang.
"Ga ko Rin...maksudnya boleh dong sekarang kita jalan jalan menikmati udara sore."
"Haha...haha... kirain." Karin tertawa karena geli sendiri dengan pikirannya.
"Mau ga jalan jalan...?"
"Boleh, aku siap siap dulu ya...."
Karin bangkit dari tempat tidur diikuti Rafa yang ikutan siap siap.
"Rin..."
"Apa?"
"Kenapa ya aku melihat kamu sekarang malah tambah cantik." Puji Rafa yang berdiri di belakang Karin yang sedang berias diri.
"Ah masa.... ini pasti ada maunya." Cibir Karin.
"Ih...bener Rin, kamu sekarang makin beraura." Rafa mendrama.
"Alhamdulillah...semoga kamu betah betah ya melihat istrimu ini."
"Insyaallah Rin... selamanya aku selalu merindukan wajah ini "
Rafa dan Karin keluar dari kamar.Mereka berjalan keluar ...udara pegunungan yang terasa segar meskipun di sore hari membuat Karin terlihat bersemangat sekali untuk jalan jalan.
__ADS_1
Kedatangan mereka disambut hangat dengan para pelayan yang sedang membersihkan area sekitar.
"Den...Rafa neng Karin selamat ya atas pernikahannya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan cepat cepat diberikan keturunan yang soleh dan Solehah." Ucap pelayannya Rafa yang usianya sudah paruh baya.
"Terima kasih mang atas doanya...semoga Allah mengabulkan doa mang." Ucap Rafa sambil menepuk bahu mang kebun pelayannya.
"Aamiin terima kasih Pak...atas doanya."Ucap Karin sambil tersenyum ramah.
"Ga usah panggil pak sama saya mah neng Karin, cukup panggil mang Yana saja."
"Oh ia..." Ucap Karin menganggukkan kepalanya.
"Kalau butuh apa apa tinggal panggilan saja neng, saya dua puluh empat jam ada ditempat ini bersama istri saya.Saya sudah bekerja sama keluarnya den Rafa sudah belasan tahun semenjak den Rafa belum lahir." Jelas mang Yana pada Karin.
"Oh ia mang terima kasih.Berarti mang Yana ini adalah pegawai setianya keluarga Rafa dong?"Tanya Karin.
"Mang Yana ini bukan sekedar pegawai tapi sudah seperti saudara Rin." Jawab Rafa sambil menggerakkan tangannya ke tangan Karin.
"Oh...ya...senang saya bisa berkenalan dengan mang Yana." Karin tersenyum ramah.
"Ah neng Karin bisa saja membuat mang malu." Mang Yana tertawa.
"Den Rafa memang pintar memilih seorang istri, neng Karin ini selain cantik ternyata sangat ramah sekali." Puji Mang Yana pada Karin.
"Pasti itu mang , makanya Rafa sampai tergila gila juga." Rafa mengedipkan mata nakalnya pada Karin.
"Apa 'sih Raf."Karin merasa malu.
"Ya sudah mang nanti lagi lanjut ngobrolnya saya mau lanjut jalan jalanya."Ujar Rafa pada Mang Yana.
Setelah berpamitan dari Mang Yana Karin dan Rafa kembali melanjutkan perjalanan menyusuri vila keluarga Rafa.
Rafa dengan senang hati menunjukan beberapa tempat yang jadi favorit keluarganya.
"Itu apa Raff?" Karin menunjuk kesebuah tempat yang agak jauh.
"Oh...itu adalah Peternakan kuda Rin.Keluarga kami juga berbisnis di situ." Jelas Rafa.
"Ada kuda tunggangan nya ga?"Tanya Karin.
"Ada... kenapa-kenapa....kamu mau naik kuda?"
"Hehe...kayanya seru Raf kalau kita keliling kelilingnya pake kuda."
"Ayo....siapa takut."Rafa menggandeng tangan Karin menuju tempat itu.
"Assalamualaikum..."ucap pegawainya Rafa.
Dia segera menghampiri Rafa dan Karin ketika melihat Rafa dan Karin menuju ke tempatnya. Dia menyambut Rafa dan Karin dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam mang..."jawab Rafa dan Karin.
"Den Rafa neng Karin selamat ya atas pernikahannya."
"Ia mang terima kasih." Ucap Rafa.
__ADS_1
"Oh...ia si Jalu apa sudah dimandikan ?" Tanya Rafa.
"Siapa si Jalu Raf?" Tanya Karin.
"Itu nama kuda kesayangannya aku Rin." Jawab Rafa.
"Oh ..."
"Sudah bersih Den...Den Rafa mau jalan jalan pakai kuda?" Tanya pegawainya Rafa.
"Ia Mang...tolong di siapkan ya mang."
"Siap Den ..." Pegawai itu segera pergi menyiapkan kuda yang akan Rafa dan Karin gunakan.
"Raf...kudanya bagus bagus semua...kayanya yang mengurusnya telaten." Puji Karin melihat kudanya terlihat bersih dan sehat sehat.
"Ia kamu bener Rin...semua pegawai di sini sangat bisa diandalkan."
"Ayo Rin pake alat pengaman dulu..." Rafa mengajak Karin untuk memakai alat pengaman saat berkuda.
"Den Ini si Jalu sampai si Manis sudah siap."
"Terima kasih mang."
"Rin kamu bisa naik kuda apa perlu kudanya sambil di tarik sama pegawainya aku?"
"Insyaallah aku bisa ko Raf..." Yakin Karin.
"Ya sudah, kamu pakai ci Jalu ya ....itu kuda kesayangannya aku."
"Ok ..." Karin tersenyum bahagia.
"Hati hati Rin...jangan cepat cepat."
"Ok...Raf...lagian sama kamu juga kan jalan jalanya."
"Ia sih..."
"Ayo ...! Tutur Karin.Setelah membaca doa mereka pergi.
"Hus...hus..." Karin begitu menikmati jalan jalan sore mereka semua penjuru Karin dan Rafa kelilingi dengan kuda yang terlihat sangat jinak.
"Raf...mau lomba balap kuda ga?"
" Jangan macem macem kamu Rin...!" Raf merasa cemas.
"Ih serius..." Jawab Karin.
"Ga usah Rin..." Pinta Rafa.
"Ayo lah ...sambil tes adrenalin..." Bujuk Karin.
"Kamu yakin bisa...?" Tanya Rafa karena melihat Karin yang bersemangat membuat dia tidak tega untuk menolaknya.
"Bisa dong...!"
__ADS_1