
Apa 'sih salahku Raf?" Pertanyaan itu selalu terlintas di benaknya Karin.
Pertanyaan yang sulit untuk mendapatkan jawabannya.
Air mata Karin lolos begitu saja , di UKS yang kebetulan ga ada siapa siapa membuat Karin leluasa tuk mengeluarkan rasa pilu nya.
"Ternyata aku salah lagi menilai dirimu Raf, aku gagal lagi dalam memilih orang yang ku cinta."
"Yah ....seharusnya aku jangan terlalu berharap pada manusia, seharunya Tuhan ku adalah satu satunya harapanku." Lirih Karin dalam isak tangisnya.
Dia menangis sejadi jadinya sampai tak terasa saking lelahnya Karin menangis Karin tertidur di sana entah berapa jam Karin tertidur.
Sifa yang merasa cemas datang menghampiri Karin, di dapatnya Karin yang tertidur sambil menunduk di atas meja.
"Rin...Rin..." Sifa membangunkan Karin.
Karin menggeliat memperhatikan sekelilingnya.
"Kamu ok ?"tanya Sifa pada Karin.
Karin hanya menggangukan kepalanya saja.
"Tapi kamu kelihatan lemes banget Rin, mata kamu juga merah ." Sifa meneliti Karin.
"Ga apa apa ko Sif, kamu tenang saja."
"Ayo kita ke kelas !" Ajak Karin.
"Ih tunggu dulu." Sifa menarik tangan Karin.
"Sekarang lagi jam istirahat, lebih baik kamu ke kamar mandi dulu deh, benerin muka kamu yang berantakan setelah itu kita ke kantin." Instruksi Sifa.
Karin hanya mengangguk patuh.Karin agak merias wajahnya sedikit yang terlihat abis menangis, agar tidak terlalu kelihatan, setalah itu dia berjalan menuju kantin sekolah bersama dengan Sifa.
"Sif aku pesan es jeruk saja,"ucap Karin.
"Kamu 'kan belum sarapan ?" Tegur Sifa.
"Aku pesan batagor ya..." Sifa terlihat ngeyel.
"Terserah!"
Karin berjalan ke meja pojok kantin , begitu hampir sampai , netra Karin melebar melihat Rafa yang sudah menempati tempat duduk itu bersama teman temanya.
Karin celingukan melihat kursi yang kosong tapi sayang nya semua penuh hanya tinggal dua kursi di meja Rafa yang tersisa.
Sifa menghampiri Karin dia menyadari semua kursi di kantin penuh, setengah berbisik Sifa berbicara pada Karin.
"Rin kamu harus terbiasa cuek dengan Rafa, kamu 'kan ga lemah Rin."Karin melihat Sifa, pancaran mata Sifa membantu memberi kekuatan pada Karin agar tegar menghadapi kenyataan yang sulit ini.
__ADS_1
Karin menganggukkan kepalanya.
Sifa menghampiri meja itu dan berbasa basi.
"Hai para penggemar boleh ya orang cantik ikutan duduk di sini?"
Sifa 'pun duduk dengan anteng di ikuti Karin di sebelahnya.
Mereka berdua bercanda seolah di tempat itu penghuninya hanyalah mereka berdua saja.
Rafa meyaksikan itu hanya tersenyum simpul, sekilas melihat mata Karin yang terlihat agak merah, kemudian dia menundukkan lagi pandanganya.
"Raf, kamu sudah beres 'kan makanya?" Tanya temen Rafa melihat mangkok Rafa sudah kosong.
"Sudah." jawab Rafa.
"Kalau sudah kita kemon..."
"Kita duluan ya..." Pamit temen Rafa pada Karin dan Sifa.
"Silahkan!" ucap Karin agak mengandung arti dalam ucapannya.
Melihat kepergian Rafa yang tanpa kata mata Karin sudah berkaca kaca lagi.
Melihat itu Sifa langsung memegang tangan Karin.
"Rin...kuat, ok!"
"Ia kamu benar Sif, aku harus terbiasa dengan ini, bantu aku ya agar aku bisa tegar." ucap Karin sendu.
"Pasti dong bestie...kita sahabatan sudah dari dulu 'kan."
Mereka saling berpelukan.
"Aku tahu ko Karin tidak lemah." Semangat Sifa pada Karin.
"Aamiin.Semoga saja aku memang tidak lemah." Ucap Karin.
"Hari ku memang terasa sulit aku lalui setelah kamu memutuskan aku Raf, tapi aku akan bangkit dari kesulitan ini, aku tak mau menjadi seorang Karin yang lemah karena seorang Rafa."
"Masih banyak yang aku harus perjuangkan kelulusan ku, kasih sayang dari orang tuaku yang tentunya lebih berharga dari sekedar rasaku padamu Raf."Ucap batin Karin menyemangati hatinya yang rapuh.
Karin dan Sifa masuk ke kelas setelah bel istirahat.Kini Karin memfokuskan diri lebih besar pada pelajarannya.Dia mencari pelarian untuk kesedihannya dengan fokus pada pelajaran dan kegiatan yang ada di sekolah.
"Akan ku buat lupa tentang perasaan ku padamu Raf, dengan cara yang positif." Tekad Karin dalam hatinya.
Hari berganti hari Karin dan Rafa kini tak lagi bertegur sapa kalau 'pun mereka berpapasan mereka selalu membuang muka masing masing.
Tapi tanpa mereka berdua sadari ternyata satu sama lain masih saling memperhatikan.Mencuri curi pandang saat salah satunya sedang lengah.
__ADS_1
Hanya untuk melihat wajah yang pernah menghiasi hari hari yang indah itu ada dalam keadaan baik baik saja.
"Aku ingin melihatmu seperti ini terus Rin, selalu semangat dan ceria, meskipun nyatanya bukan aku yang membuat hari mu bahagia, tetapi aku cukup bahagia melihat kamu selalu tersenyum dan aman setidaknya tidak sia sia yang telah aku korbankan." Lirih Rafa pelan nyaris tak terdengar ketika dia sedang memperhatikan Karin yang sedang olah raga di lapang basket.
Sepintas Karin melihat Rafa yang melihatnya di lapangan.
Sedikit ide gila muncul di benaknya Karin.
Dia ingin melihat reaksi Rafa selanjutnya.
"Rin tangkap !' ucap salah satu temanya.
Karin dengan sengaja membenturkan bola basket itu ke kepalanya walau agak pelan tapi cukup membuat Karin mundur sempoyongan lalu terjatuh.
"Rin kamu ga apa apa?"Ucap temannya.
Karin melihat ke arah Rafa.Terlihat pergerakan Rafa yang ingin menghampiri nya.
Tapi ada tangan temen Rafa yang mencegahnya , dia menggelengkan kepalanya lalu mengajak Rafa pergi dari situ.
Karin tersenyum kecut melihat itu.
"Kamu ternyata masih perduli sama aku Raf." Pikir Karin dalam hatinya.
Bahagia rasanya meskipun setitik.
Karin menggelengkan kepalanya lagi."Karin berhenti berharap sama orang yang tak bisa diharapkan lagi."
"Move on Karin move on...!"Teriak hati Karin sendiri.
Selesai olahraga adalah jam istirahat ke dua.Waktunya sholat dzuhur.Karin langsung menuju mesjid sendirian karena kebetulan Sifa lagi palang jadi Karin sendiri.
Karin segera mengambil wudhu di tempat wudhu putri setelah itu dia ikut berjamaah dzuhur.
Begitu Karin mau mengangkat tangan mau memulai sholatnya.Terdengar suara khas Rafa.
Karin tersenyum, "hari ini aku kembali jadi makmum kamu lagi Raf." lirih Karin.
Kemudian Karin sholat dengan khusu.
Karin keluar dari mesjid berbarengan dengan Rafa yang keluar dari mesjid juga.
Gaya cool nya Rafa membuat Karin menatapnya lama, entahlah Karin merasa belum bisa sepenuhnya lepas dari cintanya terhadap Rafa.
Sementara Rafa pergi begitu saja tanpa menyapa Karin.
Karin menatap nanar kepergian Rafa yang tak lagi menyapa nya.
" Kini kamu semakin jauh Raf, tapi kenapa jejak mu masih saja di sini."Karin memegangi dadanya yang masih saja berdebar di saat melihat Rafa.Karin mengusap air mata yang menetes di pipinya.
__ADS_1
Rafa yang sudah agak jauh melirik ke belakang terlihat olehnya Karin yang mengusap air mata di pipinya.
"Maaf 'kan aku Rin, semoga kamu bisa tabah dalam cobaan ini."