Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Sama sama belajar


__ADS_3

Tak lama dia mengirimkan foto tersebut pada seseorang.


Seseorang itu adalah Adit.


Adit yang tahu kalau Karin ketemuan sama bundanya di taman langsung meminta temannya untuk mengawasi.


Tangan Adit terkepal melihat foto yang temannya kirim.


Terlihat sekali garis wajah Karin menggambarkan kebahagian di sana.


"Aku tahu orang ini 'lah penyebabnya kamu ga mau kembali lagi padaku."


"Kamu lihat Karin, aku akan membuat kamu kembali lagi sama aku."


Adit membanting ponselnya ke atas kasur.


Sementara Rafa dan Karin yang sudah selesai sarapan bubur masih berada di tempat si abang bubur.


Mereka tak langsung beranjak dari sana.


Sedikit istriraha dulu untuk menurunkan isi perut.


"Rin kamu udah ijin ' kan sama ibu kalau mau ada grup belajar, belajarnya ditempat kamu?'


"Udah ko Raf aku udah bilang, ibu juga sudah mengijinkan."


"Cuma___"


"Cuma apa Rin?"


"Ibu lihat aku dan kamu waktu kemarin sun tangan," ucap Karin setengah berbisik sama Rafa.


"Haha..." Rafa malah tertawa.


"Ih kenapa tertawa? ga ada yang lucu tahu !"


Karin terlihat merenggut.


" Aku ga mau lagi ah, sun tangan lagi sama kamu."


"Aku langsung di ceramahin tahu!"


" Alhamdulillah dong."


"Maksud kamu apa ?" Karin malah ga ngerti sama jawaban Rafa.


"Harusnya 'kan kamu khawatir?"


"Karin, harusnya Karin bersyukur punya ibu yang perhatian."


"Lagian ya, aku merasa tenang karena kamu sun tangan aku tanda kamu tuh__"


Rafa menjeda ucapannya.


"Tanda apa Raf?"


"Tanda sayangnya kamu ke aku, bukan karena nafsu yang ingin meminta yang lebih ."


"Rin coba kamu cerita sama aku ,ibu ceramahin kamu kemarin seperti apa?"Tanya Rafa terlihat penasaran.


"Ibu minta aku jangan terlalu terbawa sama perasaan dan mencari tahu gimana cara pacaran menurut Islam."


Rafa manggut-manggut seolah dia mengerti maksud ibu Karin.


"Ih kamu ko cuma manggut-manggut aja sih?'


"Komen dong..!"


"Aku sih ngerti ya maksud pembicaraan ibu kamu, insyaallah kalau udah saatnya dan Allah mengijinkan aku akan datang untuk itu."


"Hah...maksudnya apa?" Karin mengerutkan keningnya.


"Udah 'lah ga usah di pikirkan."

__ADS_1


" Tapi ada baiknya juga sih kamu sering baca baca tuh tentang pacaran secara Islam."


"Aku juga mau belajar." Rafa terlihat begitu yakin dengan ucapannya.


"Tapi dalam Islam 'kan berdua dua kaya gini 'pun ga boleh Raf ?"


"Tau sih ga boleh, makanya aku bilang kita sama sama belajar, apa apa butuh proses , Karin!"


"Yang penting sekarang kita jangan buat pikiran kita dikuasai nafsu aja dulu."


Karin tersenyum lembut pada Rafa.


"Jangan menggoda iman Rin?"


"Maksudnya." Karin tidak mengerti.


" Itu kamu senyum seperti itu sama aku, bikin aku ___."


Karin menundukkan kepalanya karena malu.


" Maaf."


"Haha...kamu sensi amat." Rafa menggoda Karin.


"Ih...kamu Raf." Karin kembali mencubit pinggang Rafa.


"Awww...kamu tuh hobinya cubit pinggang aku." Rafa protes manja pada Karin .


Karin hanya terkekeh.


"Makasih ya Raf, makasih untuk setiap kata yang terucap , makasih kamu selalu bisa mengerti aku ,keadaan aku ."Ucap Karin sungguh sungguh.


"Sama sama Karin, kita sama sama belajar untuk saling mengerti."


"Kamu beda Raf, dari cowok cowok diluar sana." Karin menatap Rafa.


"Ya ia 'lah beda, makanya kamu sampai nembak aku ' kan? "


" Ih...kamu jangan bikin aku malu dong !"


"Kamu bisa aja Raf." Karin tersipu malu.


"Udah yu ah pulang !" Ajak Karin mengalihkan pembicaraan.


"Ayo ! ibu takut nungguin lama juga."


Setelah membayar bekas makan bubur akhirnya Rafa dan Karin ' pun pulang.


Di rumah terlihat ibu lagi membereskan pot pot bunga kesayangannya.


Melihat Karin dan Rafa datang ibu menyambutnya dengan senyum di bibirnya.


Setelah mengucap salam Rafa langsung mencium tangan ibu.


"Makasih ' nak Rafa udah ibu ngerepotin tadi."


"Ga apa apa ko Bu, Rafa malah senang di repotin sama ibu." Rafa menjawab Ibu dengan senyuman khasnya.


"Ah 'nak Rafa bisa aja kalau menjawab." Ibu terkekeh dengan jawaban Rafa.


"Ayo masuk , pasti capek !" ajak ibu ke Rafa.


"Ga Bu, Rafa langsung pamit aja."


"Lo ko, buru buru amat ?"


"Ia Bu, Rafa belum cuci baju, sepatu."


"Oh...Rafa cuci sendiri?" Ibu terlihat penasaran akan sosok Rafa.


"Ia Bu, belajar mandiri, 'kan bentar lagi mau kuliah pasti jauh dari orang tua, lagian cuma sedikit , kasih loudry juga tanggung." Jawab Rafa apa adanya.


"Hebat ' lah anak cowok mau nyuci sendiri." Ibu mengacungkan jempolnya pada Rafa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih pujiannya."


Rafa kembali berpamitan pada Karin dan Ibu, kemudian dia pulang.


Ibu melihat ke arah Karin.


"Duduk Rin..!" instruksi ibu kepada Karin.


Karin menurut duduk di kursi.Menunggu apa yang akan ibu katakan sehingga seserius itu.


"Karin jadi ketemu bundanya Adit ?"


" "Jadi Bu."


"Dia tadi bicarakan apa sama Karin?" Ibu terlihat sangat sangat khawatir.


"Bundanya Adit minta Karin buat__." Karin menatap ibu dengan perasaan was-was.


"Buat apa Rin ? kamu kalau ngomong yang jelas dong jangan dipotong potong gitu !"


Ibu terlihat menyorot Karin.


"Ibu jangan marah?"


"Kamu cepat cerita dulu , biar ibu ga cemas."


"Itu Bu, bundanya Adit minta Karin untuk bantuin Adit konsul."


"Konsul , konsul apa ?"


Karin menggaruk kepalanya yang ga gatal.


Dia bingung harus cerita dari mana dulu ke ibu.


"Rin, kamu malah diam sih ! "


"Ia Bu, konsul buat menghilangkan kebiasaan buruk Bu."


"Maksud kebiasaan buruk seperti apa?"


"Kata bundanya Adit semenjak Adit diputusin Karin , Adit sering mabuk mabukan Bu, terus sekarang Adit susah banget kalau di kasih tahu."


" Bundanya Adit takut kalau Adit mengenal obat obat terlarang Bu."


"Maksudnya___"


"Mungkin seperti itu Bu, tapi bundanya Adit tidak yakin juga, makanya Adit di ajak konsul buat mengurangi kecanduan sama minuman dulu dan kalau terdeteksi Adit mengenal obat obatan itu bisa langsung ditangani."


Ibu menarik napas dalam.


"Terus Karin tadi jawab apa ?"


"Karin belum jawab apa apa sama bundanya Adit, tadi keburu ada Rafa yang menghampiri waktu kami lagi berbicara." Jawab Kari apa adanya.


"Syukurlah." Ibu menarik nafas lega.


Karin melihat ke arah ibunya.


" Ibu ga boleh ya kalau Karin bantuin Adit ?" Karin memincingkan matanya, mencari tahu kebenaran hati ibunya.


"Bukanya ga boleh Rin , tap ibu ga mau kamu menolong Adit karena kamu merasa terpaksa."


"Maksud ibu apa?"


"Ibu ga mau Rin, kamu merasa bersalah karena kelakuan Adit sekarang ini."


"Kelakuan Adit adalah pilihan hidup dia sendiri."


"Dimana setiap orang bisa memilih dan mempunyai hak atas apa yang akan mereka pilih."


"Adit sendiri yang udah memilih jalan seperti itu dan ibu harap Karin tidak menyalahkan diri Karin akan jalan yang telah diputuskan Adit."


Ibu terlihat tajam menatap Karin

__ADS_1


"Lalu Karin sekarang harus apa ?"


__ADS_2