
"Nama saya Karin Dok, saya temannya Adit." Karin memperkenalkan dirinya.
Dokter Psikiater tersenyum simpul.
"Dok jadi gimana kondisi Adit sebenarnya? " Tanya Bundanya Adit.
"Bun, sepertinya dari hasil pengamatan saya sementara ada kemungkinan anak Bunda mengenal minum minuman keras sejak dia di bangku sekolah, kemungkinan karena lingkungan di sekitarnya yang mengajaknya untuk sekedar mencicipi, di masa itu sepertinya anak Bunda dalam proses pengenalan jati diri dan ketemu sama orang yang salah.Sementar
apa yang di alami anak Bunda sekarang adalah bentuk protes pada dirinya sendiri." Dokter menjeda penjelasannya dia melihat ekspresi wajah Bundanya Adit dan Karin.
Bunda mengerutkan keningnya.
"Maksud Dokter Adit protes pada dirinya adalah apa?" Bundanya Adit terlihat sangat penasaran.
"Ada sebuah kejadian yang membuat dia merasa bersalah, sehingga dia berada di titik putus asa, ketika dia tidak mampu lagi mencari solusi dari masalahnya dia melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri pada minuman keras."
Karin dan Bundanya Adit saling melirik.
"Dok apa kejadian itu sangat berpengaruh banget pada mentalnya anak saya?"
"Ia Bun, sangat berpengaruh sekali !"
"Kalau saya boleh tahu kejadian apa yang membuat anak saya seperti itu Dok?"
Dokter Psikiater Adit tersenyum.
"Sebuah kejadian itu adalah gagalnya Adit dalam menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat berarti untuknya."
Mendengar perkataan dari Dokter Psikiater'nya Adit , Bundanya Adit dan Karin saling melirik kembali."Jangan jangan ...!" dalam hati Karin dan Bundanya Adit saling menduga duga.
"Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk kebaikan dan kesembuhan Adit anak saya Dok? Tanya Bundanya Adit pada Dokter Psikiater'nya Adit.
"Keberadaan Bunda di sini adalah langkah yang sangat tepat yang Bunda lakukan.Kita sama sama mencari solusi untuk kesembuhan Adit."
Ucapan dari Dokter Psikiater'nya Adit dapat membuat Bundanya Adit sedikit tenang.
"Saya lagi melakukan beberapa tes pada Adit, insyaallah kalau Bunda ada jadwal kontrol lagi saya sudah mendapatkan hasilnya."
Bundanya Adit mangut mangut mengerti.
Tiba tiba Dokter melihat ke arah Karin .
"Karin bolehkah saya minta tolong sama kamu?" ucap Dokter Psikiater'nya Adit.
Karin terperanjat karena mendapat sorotan dari Dokter.
"Ia Dok, apa yang bisa saya bantu?"
"Kalau boleh saya meminta, untuk sementara temani dulu Adit untuk konsul ya, sampai dia sendiri menyadari niat dia buat konsul untuk kebaikan dirinya."
"Maksud Dokter apa?" Karin merasa tidak mengerti dengan ucapan sang Dokter Psikiater'nya Adit.
"Maksud saya sampai Adit bisa menerima apa yang dia hadapi sekarang, karena jujur untuk saat ini Adit sangat membutuhkan Karin."
Karin 'pun tertunduk entahlah dia merasa terlalu jauh masuk sekarang .
__ADS_1
"Saya mengerti dengan masalah Karin, makanya saya akan berusaha agar lebih cepat membuat Adit bisa melepas ketergantungannya pada Karin."
Seketika Karin langsung menatap Dokter Psikiater'nya Adit, ada secercah harapan bisa lepas dari beban ini.
"Ia Dok, saya akan berusaha untuk membantu Adit, dan terimakasih untuk pengertian dari Dokter." Lirih Karin terdengar sendu.
Adit yang sudah melakukan tes datang menghampiri orang orang yang lagi membicarakan dirinya.
"Adit duduk sini!" Sapa Dokter Psikiater'nya.
Adit duduk di kursi yang di tunjukan oleh Dokter Psikiater'nya .
"Adit terimakasih untuk kerjasamanya hari ini , saya sangat senang mempunyai pasien seperti anda." Puji Dokter Psikiater'nya Adit.
Tak selang berapa lama mereka sudah keluar ruangan karena untuk sesi pertama konsul Adit sudah selesai.
"Rin kamu pulang sama siapa?" tanya Adit kepada Karin.
"Aku pulang sendiri." Jawab Karin.
"Aku boleh anterin ya ?" tawar Adit pada Karin .
"Ga usah Dit, aku sendiri saja lagian kasihan Bundanya kamu pulang sendiri." Jawab santai Karin.
Mendengar penolakan dari Karin, Adit mendadak kesal.
"Kamu kenapa 'sih menghindar terus dari aku , kalau gitu lebih baik aku____?"
Adit tidak melanjutkan omongannya dia malah memalingkan mukanya.
"Nak Karin , ga apa apa biarkan Bunda dan Adit mengantar 'nak Karin pulang , lagian sudah mau magrib jadi lebih baik 'nak Karin nurut ya.Bunda juga ga enak hati membiarkan ' nak Karin pulang sendiri." Ucap Bundanya Adit menengahi suasana.
"Ia Bun," ucap Karin.
Dalam hati Karin merasa tertolong dengan tawaran dari Bundanya Adit.
Mereka berjalan bertiga menuju parkiran dan pulang bersama.
Tanpa mereka ketahui Rafa ternyata ada di sana. Rafa yang merasakan khawatir atas diri Karin diam diam menguntit tanpa sepengetahuan Karin.Semua ini Rafa lakukan karena hanya ingin memastikan Karin aman tanpa merasa tidak nyaman Karin.
Sejak melihat Adit dan Dini waktu kemarin malem hatinya Rafa tidak lagi percaya pada sosok Adit.
Rafa mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Adit dan Karin dari belakang tentunya dari jarak yang lumayan jauh agar tidak membuat curiga mereka yang ada di dalam mobil itu.
Rafa bernapas lega mendapatkan mobil yang ditumpangi oleh Karin sampai dipekarangan rumah Karin.Dari jauh dia tetap mengawasinya.
Karin turun dari mobilnya di ikuti sama Bundanya Adit dan Adit.
Bundanya Adit terlihat celingukan melihat kesana kesini.
"Bunda cari apa?" Tanya Karin yang awas dengan ekspresi wajah Bundanya Adit.
"Ibu kamu ada di dalem 'nak Karin?"
"Oh kayanya Ibu lagi di mesjid deh Bun, soalnya ini 'kan malem Jumat pasti Ibu lagi pengajian."
__ADS_1
"Bunda mau masuk dulu ?" tawar Karin pada Bundanya Adit.
"Ga usah 'nak Karin kalau Ibu 'nak Karin ga ada mah, kapan kapan aja Bunda mampirnya."
"Makasih ya Bun, sudah nganterin Karin."
"Jangan bilang terima kasih gitu dong,' kan Bunda yang sudah merepotkan 'nak Karin."
"Ah Bunda bisa aja."
Bunda melirik ke arah Adit yang dari tadi hanya menyimak obrolan antara Bundanya dengan Karin.
"Dit ayo kita pulang !"Ajak Bunda pada Adit .
Adit hanya menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum 'nak Karin."Pamit Bundanya Adit pada Karin.
"Wa'alaikumsalam Bun."
Setelah berpamitan Adit dan Bundanya ' pun pergi.
Karin membalikan tubuhnya.Dia hendak mau masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Rafa yang sekarang sudah berada di belakang Karin.
Karin yang merasa ga asing dengan suara itu segera membalikkan badannya.
"Rafa... kamu ko bisa 'sih sudah di sini lagi ?" Karin merasa terheran heran sendiri.
"Aku sengaja ke sini Rin." Rafa sengaja tidak mengatakan kalau dari tadi dia mengikuti Karin.
"Ada hal apa ,penting banget ya? sampai kamu ke sini di jam ini."
Karin merasa aneh karena muka Rafa sangat serius banget.
"Aku hanya ingin tahu saja hasil dari konsulnya Adit."
Karin merasa kaget dengan jawaban Rafa.
"Hanya untuk itu kamu kesini ? "
"Aku hanya khawatir sama kamu !" ucap Rafa jujur.
***
Assalamualaikum terimakasih untuk semua yang sudah membaca novel Takdir cinta terindah.
Pada kesempatan ini author mau mengucapkan beribu ribu maaf karena author sendiri masih pemula dalam menulis dan memilih kata.
Tetapi meskipun novelnya masih pemula dan acak acakan author meminta untuk tetap setia ya ...... dalam mendukung author untuk terus berkarya.
"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI KEPADA SELURUH UMAT ISLAM DI SELURUH DUNIA.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN."
__ADS_1